4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Menolak Kerjasama


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Lysa tak sadarkan diri. Perlahan, wanita berambut panjang itu membuka mata saat merasakan tubuhnya basah dan dingin.


Lysa melihat titik-titik air membasahi daratan di sekitar dalam derasnya hujan. Lysa berusaha bangun dan menyender pada batang pohon. Napasnya tersengal saat ia mencoba untuk mengembalikan ingatannya sebelum pingsan.


Lysa melihat sekitar dan mendapati bangkai mobil dari sisa peperangan dengan Miles yang sudah tak berkobar dalam panasnya api karena diredakan oleh guyuran hujan. Lysa akhirnya teringat dengan kejadian yang menimpanya.


Lysa panik dan segera mendatangi mobil yang ia yakini Javier, Habib dan Hakim terperangkap di dalam sana. Namun, saat ia melongok ke dalam, tak ada satu pun manusia ia dapati.


Lysa melihat sekeliling dan berulang kali mengusap wajahnya yang basah tersiram air hujan, tapi tak mendapati apa pun. Bahkan, tak ada senjata yang ia temukan dari sisa peperangan.


"Javier! Habib! Sauqi!" teriaknya lantang berlari ke sana kemari mencari keberadaan tiga orang itu, tapi tak mendapati sosok mereka.


Lysa membiarkan dirinya diguyur hujan deras terlihat kebingungan. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke kediaman Tobias.


CEKLEK!


Rumah peninggalan mendiang suaminya sepi tak ada satu pun penghuni yang menghidupkan keceriaan di bangunan besar tersebut.


Namun, Lysa masih bisa melihat sisa dari aktivitas terakhir para The Eyes miliknya sebelum diambil oleh anak buah Miles.


Lysa memasuki satu per satu ruangan di rumah itu yang kini sepi tak terasa kehangatan menyelimuti di dalamnya.


Lysa terlihat sedih ketika teringat kejadian bertahun-tahun silam saat rumah itu ramai orang dengan senyum bertebaran.


Lysa teringat ketika Tobias harus disunat agar sah menikah dengannya. Tobias juga mengucapkan dua kalimat syahadat agar menjadi seorang muslim dan seiman dengan dirinya. Ia juga teringat peran serta Vesper dan orang-orang dalam jajarannya ketika tinggal di sana.


Lysa roboh dalam air mata seraya memeluk lututnya. Ia kembali menangis sedih hingga tubuhnya bergetar. Ia merasa kesepian dan rapuh.


Bayang-bayang Tobias yang melekat kuat dipikirannya seperti menghantuinya. Kejadian bertahun-tahun silam kembali menghampirinya dan membuat Lysa semakin terpuruk.


Hingga tiba-tiba, Lysa mendengar suara lengkingan seperti keledai milik King D. Lysa segera bangkit dari keterpurukannya dan berlari menuju ke halaman belakang.


Ternyata, hewan kesayangan sang anak berada di halaman belakang sedang meringkik.


"Oh, Pony!" panggil Lysa menghampiri keledai tersebut lalu memeluk kepalanya.


Lysa malah membawa keledai itu memasuki rumahnya dan membuat becek lantai, tapi Lysa malah terlihat senang.


Lysa segera masuk ke kamar mandi di kamarnya dan mengganti pakaiannya yang basah. Keledai tersebut dibiarkan begitu saja berkeliaran di dalam rumah bereksplorasi.


Tak lama, Lysa keluar terlihat sudah rapi meski rambutnya masih basah. Ia memasak di dapur ditemani Pony yang ternyata mengikuti ibu dari King D tersebut menjalani aktivitasnya.


Siapa sangka, Lysa menetap di rumah itu cukup lama seperti meninggalkan kehidupan nyata dan terperangkap dalam dunianya sendiri bersama Pony.


Bulan Juni minggu keempat.


Sandara kini menjadi buruan Sudan karena tewasnya sang anak. Para HURI dan juga kolektor ikut mengincarnya.


Mereka menganggap, Sandara adalah musuh karena telah menghancurkan kesepakatan yang terjalin.


Sayangnya, keberadaan Sandara tak diketahui. Gadis itu pintar bersembunyi bahkan semua persiapan yang dilakukan di Turki ikut raib bersama dengan dirinya tak berjejak.


Kediaman Ahmed sepi tak berpenghuni saat kelompok HURI mencarinya ke rumah tersebut dan tak mendapati apa pun di sana. Sudan terlihat kesal hingga akhirnya nekat mendatangi orang terdekat Sandara.

__ADS_1


Sudan mendatangi kediaman Afro dan ia terkejut ketika mengetahui jika suami Sandara tersebut terkena imbas dari perbuatannya.


"Meski yang melakukan adalah anak buah Miles, tapi ... sudah cukup bagiku berurusan dengan Sandara Liu. Kai sudah menyetujuinya jika aku harus berpisah dengan Sandara. Jadi, jika kalian memiliki masalah dengan mantan isteriku, cari dia dan lakukan yang harus dilakukan. Aku tak lagi terlibat," ucap Afro ketus dengan wajah dingin duduk di kursi roda.


Arjuna, Doug, Simon, Max, Bala Kurawa Arjuna dan tiga anggota Red Ribbon yang berkumpul di ruang tamu terlihat serius menanggapi ucapan Afro.


Sudan menarik napas dalam dengan Iskra pemimpin pasukan wanita berkerudung ikut duduk di sampingnya.


"Jadi ... jika aku ingin membunuh Sandara, kau tak keberatan? Nyawa dibalas dengan nyawa," tegas Sudan menyipitkan mata.


Semua orang tertegun dan melirik Afro menunggu jawaban darinya.


"Terserah. Aku tak peduli," jawabnya lalu menggerakkan kursi roda elektriknya meninggalkan ruang tamu.


Doug mengikuti Afro karena sikap pemuda itu telah berubah seutuhnya usai kejadian yang menimpanya.


Arjuna menatap dua tamunya itu tajam dengan sebagian anggota Red Ribbon berkumpul di sana.


"Aku sudah tahu perjanjian kalian sebelumnya. Jadi ... melenyapkan The Circle, hem? Apakah ... isteriku Tessa juga termasuk?" tanya Arjuna serius. Wajah semua orang tegang seketika.


"Yes," jawab Sudan mantap tak terlihat takut.


"Apakah Sandara yang membuat perjanjian itu?" tanya Arjuna tenang.


"Yes."


Arjuna menyipitkan mata. "Oke, cari Sandara. Tapi, jangan bunuh dia," pintanya.


"Apa kau sedang bernegosiasi dengan kami, Kim Arjuna?" tegas Sudan, dan Arjuna mengangguk.


"Sasaran pengganti?" tanya Iskra, dan Arjuna mengangguk.


"Miles adalah satu-satunya keturunan Flame murni yang belum dibasmi. Dia mengambil anak buahku dan juga anak buah dari saudara-saudariku lainnya. Miles akan menghimpun pasukan untuk menghancurkan kita dan menjadi satu-satunya mafia paling berkuasa mengalahkan ibuku, Vesper," ucap Arjuna tenang.


Sudan dan Iskra terlihat serius mendengarkan.


"Membunuhnya sulit. Ia memiliki persenjataan Vesper dan Boleslav Industries. Namun, jangan khawatir. Aku akan membantu dengan mengirimkan pasukan Bala Kurawaku untuk memburunya. Aku akan mempersenjatai kalian. Red Ribbon milik ibuku sudah memetakan beberapa lokasi yang diduga akan diserang oleh Miles. Dia mengincar pasukan, jadi ia akan mendatangi sisa dari pasukan yang dimiliki olehku, Jonathan dan Sandara di berbagai penjuru dunia," sambungnya.


"Kau harus terlibat. Kau harus ikut bertempur. Kami bukan orang suruhanmu," tegas Sudan.


Arjuna terlihat serius seketika.


"Aku seorang pemimpin perusahaan dan aku ingin memastikan anakku lahir dengan selamat," tolaknya halus.


"Pengecut. Kaupikir kau siapa berani memerintah kami? Lupakan saja. Jika hanya pasukan dan persenjataan, kami juga memilikinya," cibir Sudan.


"Karena kami kubu yang berseberangan dengan Miles, kau memanfaatkan keberadaan kami, Kim Arjuna? Tujuan kami melenyapkan sisa keturunan The Circle. Sedang Miles, menyelamatkan sisa kelompok The Circle dan mengumpulkannya. Lalu, setelah kami saling serang dan bunuh hingga tersisa satu pemenang, kau datang sebagai pembasmi terakhir dan menjadi penguasa tunggal? Hah! Lupakan saja, aku bisa membaca ide licikmu!" tegas Iskra menolak.


Napas Arjuna memburu. Iskra dan Sudan menatap Arjuna tajam begitu pula sebaliknya. Tiba-tiba ....


"Bos! Ada kabar dari buruk dari Javier!" pekik Liben Red Ribbon dengan ponsel dalam genggaman.


"Ada apa?" tanya Arjuna langsung berdiri dan mendekati pria asal Padang tersebut.

__ADS_1


"Mereka diserang oleh pasukan Miles yang membawa pasukan The Eyes terakhir milik Lysa di Cuba. Habib dan Sauqi tewas di tempat kejadian. Sayangnya, saat Sultan sadarkan diri, ia tak ingat siapa yang menyelamatkannya. Ia sekarang berada di Miami kediaman Lopez. Brian tak tahu siapa yang membawa Javier dan dua jenazah itu ke kawasan rumahnya. Mereka dibawa dengan sebuah kapal dan kendaraan itu ditinggalkan begitu saja di dermaga milik Lopez. Saat diselidiki, mereka menemukan Javier terluka parah di dalam sana. Beruntung, Sultan masih bisa ditolong."


Praktis, semua orang yang mendengar dibuat terkejut dengan kabar barusan. Arjuna melirik Sudan dan Iskra yang saling berpandangan seperti memikirkan sesuatu.


"Seperti kataku, Miles mengincar anak buah The Circle yang tersisa untuk dikumpulkan dan dijadikan pasukannya. Jika kalian memihak 13 Demon Heads, segera lakukan. Jika tidak, pergilah sebelum aku melakukan hal buruk pada kalian," tegas Arjuna menatap dua orang itu tajam.


Sudan dan Iskra segera pergi tanpa berkata apa pun. Arjuna melirik Max memberikan kode padanya dengan kedipan mata.


Pria itu mengangguk pelan dan diam-diam mengikuti pergerakan dua orang itu saat meninggalkan kediaman Afro di Italia.


Arjuna menemui Afro yang mengurung dirinya di kamar. Doug merasa jika kondisi Afro semakin memburuk selain sakit yang masih dideritanya, kini mentalnya ikut terganggu.


"Afro ...," panggil Arjuna lirih seraya membuka pintu.


"Pergi. Aku tak butuh belas kasihmu. Kau datang di saat yang tidak tepat. Kehadiranmu seperti hinaan bagiku. Kau ke mana saat aku membutuhkanmu? Kau selalu terlambat dan menyesal saat semua sudah menjadi petaka. Pergilah, sebelum kau menyesali kebodohanmu. Pastikan isteri dan anakmu lahir dengan selamat. Selamat tinggal, Kim Arjuna. Kau adalah sahabat masa laluku," ucap Afro tanpa melihat Arjuna karena duduk memunggunginya.


Arjuna terlihat sedih, tapi menerima keputusan sahabatnya yang dirundung kekecewaan. Arjuna tak berkata-kata lagi. Ia pergi begitu saja meninggalkan kediaman Afro dengan Bala Kurawa miliknya ditemani oleh Simon.


Doug dan para Red Ribbon diam saja bahkan tak mengantarkan kepergian Arjuna karena pemuda itu juga tak berpamitan dengan mereka.


Tiba-tiba, ponsel Doug berdering. Ia terkejut saat Kai menghubunginya. Doug segera menerimanya.


"Hallo?"


"Berikan ponselmu pada Afro sekarang," pinta Kai yang membuat Doug bingung.


Dengan sigap, Doug memberikan ponsel itu pada pemuda yang terlihat murung karena kondisinya. Afro menerimanya dengan gugup.


"Ya, Tuan Kai."


"Ingat Lugu Lake?"


Afro menelan ludah. "Ya."


"Datanglah kemari. Kami menunggumu. Tak perlu banyak bertanya karena semua pertanyaanmu akan terjawab di sini," ucapnya.


"Baik," jawab Afro cepat lalu memberikan ponsel itu pada Doug.


Entah apa yang Kai katakan, tapi Doug mengangguk seperti memahami suatu hal.


"Aku mengerti. Kau bisa mempercayaiku, Tuan Kai," jawab Doug sopan lalu menutup panggilan telepon. "Pastikan saat aku kembali, kau sudah tak ada di sini, Afro. Hati-hati," ucap Doug seraya mengelus kepala Afro dengan senyuman.


Afro diam saja terlihat sendu. Pemuda itu lalu menatap tiga anggota Red Ribbon yang berdiri di luar pintu kamarnya.


"Om Ucup, Om Liben, dan Om Tukiman ikut Afro. Sisanya, akan tetap di sini bantu paman Doug di Perusahaan. Kalian mengerti?" tegas Afro menunjuk.


"Siap, Mas Afro!" jawab tiga orang itu serempak.


Segera, Tukiman menyiapkan keberangkatan Afro ke China malam itu juga. Afro terbang dengan pesawat komersil.


Meski Afro masih masa penyembuhan, tapi ia nekat pergi karena merasa jika di Lugu Lake hal penting sedang terjadi.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya lele padamu❤️ jangan lupa vote vocer sebelum angus ya~



__ADS_2