
Arjuna pucat seketika. Ia tak menyangka jika Ayahnya akan separah ini demi mencari dirinya dan Sandara.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk!"
"Ayah!" pekik Arjuna saat Han mengambil tisu dan ada bekas darah di sana.
Bola mata Arjuna bergerak tak beraturan. Ia melihat sang Ayah seperti mengalami sesak nafas. Arjuna yang awalnya menyenderkan ponsel itu kini memegangnya dengan erat.
"Ayah harap, kita bisa bertemu lagi, Juna. Cepat temukan Sandara dan pulanglah. Hah, Ayah letih dan ingin istirahat. Jika kau butuh sesuatu, mintalah pada ibumu. Hati-hati, jangan sampai terluka. Ayah menyayangimu," ucap Han dengan suara lirih terlihat begitu kesakitan.
Arjuna mengangguk cepat dan wajahnya begitu serius. "Juna janji, Yah. Juna akan segera pulang bersama Dara," ucapnya mantap.
Han mengangguk dan melambaikan tangan. Ia mematikan sambungan video call itu. Arjuna masih menatap layar hitam di depannya dengan perasaan berkecamuk.
Ia sangat takut kehilangan sang ayah yang sudah dianggap sebagai segalanya, melebihi rasa sayangnya kepada Vesper-ibunya.
Arjuna yang sejak kecil menghabiskan lebih banyak waktu dengan Han, membuatnya sedikit tak mengenal sang ibu.
Di sisi lain tempat Han berada.
"Oh, acting yang sangat bagus, Kak Han. Awas saja jika kau memainkan dramamu padaku," tegas Vesper melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah masam.
Han tak menjawab dan membaringkan tubuhnya terlihat letih. Vesper mendekati suami tertuanya dan menatap wajahnya seksama.
"Aku sudah siap."
"Hem?"
"Aku sudah siap melepaskan perbanku. Aku merasa terhimpit, Lily. Aku harus membiasakan diri dengan tatapan orang-orang saat melihat diriku yang baru," ucapnya lirih seraya membuka mata perlahan memandangi langit-langit.
"Oke," jawab Vesper pelan sembari mengelus kepala suaminya lembut.
Vesper memanggil tim medis. Black Armys level M yang ditugaskan selama di kediaman Dania, Lebanon, segera mengerjakan perintah Tuannya.
Vesper menunggu di ruangan terlihat tegang. Han duduk di pinggir ranjang saat perban yang menutupi sebagian wajah dan tubuhnya di lepas.
Seketika, kening Vesper berkerut. Sosok asli Han yang hanya dilihat oleh para tenaga medis membuat sang Ratu melebarkan mata.
Para medis masih berada di sekitarnya untuk mengecek kondisi kulit Han yang mengelupas seperti ular.
"Ya, ini bagus. Kulit lama Anda akan mengelupas dengan sendirinya. Salep ini akan membantu meredakan nyeri, gatal, dan membuatnya tetap kering. Anda tak perlu memakai perban lagi," ucap seorang petugas dan Han mengangguk pelan.
Salah satu petugas mendekati Vesper seperti membicarakan sesuatu. Vesper mengangguk pelan dengan senyuman dan berterima kasih.
Vesper yang memiliki nama alias Lily, mendekati suami tertuanya dengan senyuman. Han tertunduk terlihat murung.
"Bagaimana? Sudah tak terhimpit lagi?" tanya Vesper berjongkok sembari memegang kedua tangan Han lembut.
"Apa aku tampak mengerikan?" tanyanya terlihat sedih.
__ADS_1
Vesper tersenyum. "Sebuah kejujuran atau sudut pandang?" Han terdiam. "Sudah kubilang. Aku menerimamu apa adanya, Kak Han. Aku tak akan meninggalkanmu dan menjadi pelindungmu," ucap Vesper seraya merangkul tengkuk lelaki yang dirundung kesedihan.
Keduanya saling mengantukkan dahi dengan mata terpejam.
"Aku sangat mencintaimu, Lily. Tetaplah di sisiku," pintanya dengan sangat.
"Ya, tanpa kau minta aku akan melakukannya, tapi kau ingat 'kan dengan jadwal jatah Kai?"
Praktis, Han langsung melepaskan pelukannya. Wajahnya yang seram bertambah mengerikan. Vesper mematung.
"Oleskan salep," pintanya seraya berpaling dan memposisikan tubuhnya miring di atas kasur.
Vesper tersenyum. Ia mengoleskan salep itu perlahan dan memberikan bonus kecupan lembut di tubuh sang suami.
Perlahan, senyum Han terukir. Amarahnya reda. Ia meminta Vesper untuk menemaninya tidur saling berhadapan.
"Dua suamimu sudah tak setangguh dulu, Lily. Aku tahu, berat bagimu untuk membagi waktu, perhatian, dan cintamu. Kau harus bertahan demi kami, Sayang. Kau sangat hebat melakukannya, kau yang terbaik," ucap Han menggenggam tangan Vesper erat.
Sang Ratu mengangguk pelan dengan senyuman.
Tiba-tiba, ponsel Vesper berdering. Vesper beranjak dan mengambilnya. Senyum tipis terukir di wajahnya. Han diam memperhatikan saat Vesper memintanya diam.
"Hallo, Sayang. Apa kabarmu?"
Han berwajah masam seketika.
"Isteri Sutejo?" tanya Vesper mengulang.
Han awalnya berpikir jika itu telepon dari Kai, tapi ternyata sang anak. Arjuna menjelaskan misinya dan langkah yang akan ia ambil. Vesper tersenyum.
"Aku mengerti. Aku akan mengirimkan masing-masing 20 orang ke tempat-tempat yang kau sebutkan tadi. Mereka akan memberikanmu laporan setelah tiba di sana. Kirimkan detail lokasi pada Zulfa," tegas Vesper dan Arjuna mengangguk seraya menutup panggilan.
"Sudah mulai menemukan titik terang ya?" tanya Han serius.
Vesper memijat dahinya dengan mata terpejam terlihat pusing. "Hanya setitik, tapi aku melihat sebuah pola di sini. Semoga dugaanku salah," jawabnya pelan.
"Apa itu?" tanya Han menatap isterinya tajam.
"Aku ingin menghubungi Jordan dan Sun," jawabnya sembari melakukan video call.
"Ya, Nyonya Vesper," jawab keduanya bersamaan.
"Jordan, Sun, hai. Kalian tahu 'kan jika aku tak suka basa-basi," jawabnya langsung ke inti.
"Hem. Jelaskan saja. Aku akan meluangkan waktu."
"Terima kasih, Jordan," jawab Vesper dengan senyuman.
Vesper akhirnya menjelaskan temuan Arjuna dan timnya. Sun membenarkan informasi tersebut. Han, Sun, dan Jordan mendengarkan dengan seksama, meski tempat mereka berada berjauhan.
__ADS_1
"Lima isteri. Tak termasuk Yudi, satu-satunya keluarga Siti Fatonah yang selamat. Jika empat keluarganya masih hidup, bisa jadi, nama orang-orang yang memakai nama narkotika itu adalah mereka, anak-anak dari isteri Sutejo. Itu pendapatku," ucap Jordan yakin.
"Hem, aku juga berpikir demikian, Jordan. Namun, jika itu benar, semoga alasan mereka tepat dengan memihak No Face," sahut Vesper.
"Mereka diancam?" tanya Sun menimpali.
"Mungkin. Aku teringat laporan Biawak Putih dan Hijau saat mereka menemukan ponsel Biawak Ungu ketika akan dikubur. Mereka mengatakan jika Ungu membawa emas itu ke Paris. Sejauh ini, Paris adalah kediaman Flame, Sierra dan Darwin. Semua emas Flame yang ada padaku sudah kulebur."
"Ya, aku membaca berkas Emas Bertuan tersebut. Isteri-isteri Sutejo menggunakannya sebagai alat tukar termasuk mendiang Herlambang. Aku merasa, mereka terlibat dengan No Face cukup lama. Aku khawatir, jika anak-anak Sutejo bukan diancam, melainkan, bekerjasama dengan No Face selama ini," sahut Jordan menegaskan.
Tentu saja, dugaan ini membuat Han, Sun, dan Vesper terkejut.
"Kau berpikir demikian?" tekan Vesper.
"Ya. Saya cukup yakin 80% dari pemikiranku. Namun, ini harus dibuktikan dengan tim Arjuna bergerak di lapangan," tekannya.
"Baiklah. Saya akan menyampaikan hal ini pada tim. Ini sangat membantu, Jordan. Terima kasih," ucap Sun tersenyum tipis dan Jordan mengangguk dengan wajah datarnya. Panggilan itupun di putus.
Tempat Arjuna berada, Suriname.
"What?! Anak pak Sutejo bekerjasama dengan No Face? Begitukah maksudmu?" pekik Arjuna dengan mata melotot saat Sun meminta semua orang berkumpul di ruang tengah.
"Ya. Jordan berpikir demikian. Sebelum panggilan berakhir, nyonya Vesper mengatakan ingin memastikan emas No Face kepada Sierra. Kita tunggu saja kabar darinya," jawab Sun tenang dan semua orang mengangguk.
Di kamar Sierra, Kediaman Dania, Lebanon.
"Emas No Face? Mm ... jujur, Mah. Aku tak dilibatkan dalam transaksi emas-emas itu. Mungkin kau bisa mencari tahu dari daddy," jawab Sierra sembari melakukan pengukuran untuk gaun pengantinnya bersama Beny.
Vesper mengangguk paham dan segera menghubungi Tobias.
"Ya begitulah. Emas-emas itu sebagai alat tukar. Aku tak memilikinya karena aku bukan anggota No Face. Hanya saja, apa fungsi sebenarnya dari emas-emas itu, aku tak tahu. Ada yang janggal, dan aku memang tak pernah mencari tahu," jawab Tobias santai sembari memeluk toples berisi kue.
"Janggal?" tanya Vesper menatap Tobias seksama yang baginya makin berisi seperti King D.
"Ya, maksudku. Kenapa emas itu dibuat? Ada uang, kenapa harus emas? Bahkan harus repot-repot membuat cap khusus sebagai identitas dari No Face. Bukankah itu malah meninggalkan jejak? Para pendahulu sungguh aneh. Aku tak tahu, jangan tanya aku," ucap Tobias yang diakhiri dengan wajah sebal.
Vesper menghela nafas pelan termasuk Lysa yang ikut dalam video call. Vesper mengucapkan terima kasih dan menutup panggilan.
"Mereka tak tahu. Mungkin kalian bisa mencari tahu siapa yang bisa memberikan informasi tentang emas No Face selama ini," tulis Vesper dalam pesan elektronik kepada Sun.
Pemuda itu langsung menatap Tuan Mudanya tajam dari tempat ia berdiri dengan ponsel dalam genggaman.
Arjuna yang sibuk membahas misi dengan para anggota tim tak menyadari jika kini ia menjadi target dari salah satu rencana Sun.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya😍 sampai jumat jadwal up agak berantakan ya. kegiatan lele padat dan on going 4 novel itu berat gaes. kalo ada typo koreksi aja. ngetiknya pake hp soalnya😅
__ADS_1