
Di tempat Arjuna berada. Hong Kong. China. Perusahaan Konstruksi.
Mereka bicara dalam bahasa Mandarin.
"Apa?! Polisi Jepang bergabung dengan polisi China untuk memanggilku dan berencana menangkapku? Maksudmu ... aku akan dipenjara?" tanya Arjuna memekik.
"Ya, Tuan. Nama Anda dan tuan Yusuke kini menjadi bahasan utama di media. Ini karena kasus ledakan yang melukai 10 konsumen meski tak ada korban tewas di usaha kedai teh Sendai, Jepang. Namun, dari laporan anak buah Yusuke, nona Lysa penyebab utama kekacauan ini. Dia sengaja melakukannya," jawab Simon melaporkan.
"Apa?! Lysa? Lysa kakakku? Dasar gila! Apa yang dia inginkan? Cari mati," gerutu Arjuna sampai matanya melotot lebar.
Saat suasana tegang terjadi, suara ramai terdengar di luar ruangan kerja Arjuna.
CEKLEK!
Praktis, mata Arjuna melebar saat melihat polisi memasuki ruangannya.
"Tuan Kim Arjuna. Anda diminta untuk ke kantor polisi segera. Ini surat penangkapan Anda," ucap salah seorang polisi seraya mendekat.
Mata Tessa membulat penuh. Bahkan, ada polisi khusus penanggulangan ter*risme ikut bergabung.
Arjuna menanggapi panggilan itu dengan tenang. Ia beranjak dari dudukkan seraya mengancingkan jasnya.
"Telepon semua pengacaraku. Minta mereka datang ke kantor polisi tempatku dipanggil," ucapnya menatap Simon tajam.
"Yes, Bos," jawab pria itu mantap.
Mata Tessa berkaca seperti akan menangis. Arjuna mendekati isterinya dan tersenyum tipis.
"Aku akan baik-baik saja. Itu hanya penjara. Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari itu. Jaga calon bayi kita baik-baik. Jangan biarkan musuh memanfaatkan kondisi ini. Kau mengerti, Sayang?" tanya Arjuna menatap Tessa lekat.
Tessa mengangguk menahan air mata kesedihannya. Tampak jelas jika wanita itu khawatir.
Arjuna mengecup kening Tessa lembut dan pergi bersama polisi didampingi oleh Greco serta Jose.
Semua karyawan di perusahaan tersebut dibuat cemas dengan nasib mereka karena menggantungkan hidup pada Arjuna.
Tessa menarik napas dalam dan memberikan pengumuman secara lisan melalui pengeras suara yang terdengar di seluruh ruang kerja karyawan.
"Harap tenang semua. Kami telah mengambil jalur hukum untuk mengusut hal ini. Kalian harus percaya pada Kim Arjuna dan tuan Kim Han Bong jika mereka tak bersalah. Ada pihak-pihak yang iri dengan kesuksesan kita. Hal ini biasa terjadi dalam dunia bisnis. Namun, pesaing kita menggunakan cara kotor dengan alasan ter*risme. Kalian mengenal baik tuan Han dan Arjuna. Jangan mudah terhasut dengan kabar yang diberitakan oleh media. Mereka tak mengenal siapa bos kita," ucap Tessa tegas.
Para karyawan mengangguk setuju dengan ucapan isteri dari bos mereka tersebut.
"Jadi, tetap dukung perusahaan dan bekerjalah seperti biasa. Kami akan melakukan yang terbaik karena kita profesional di bidangnya. Selamat sore dan selamat menikmati akhir pekan," sambung Tessa ramah dan tetap tenang.
"Kerja bagus, Nyonya Tessa," puji Tulio dan Tessa tersenyum tipis, meski terlihat jelas dia gugup.
Para karyawan yang awalnya panik akhirnya bernapas lega. Dewan Direksi segera bertindak di bawah arahan Tessa menyikapi hal ini. Sayangnya, Han tak bisa dihubungi.
__ADS_1
Ayah dari Kim Arjuna itu menghilang begitu saja seperti ditelan bumi. Tessa was-was karena Sun, dan dua BIAWAK juga tak ada kabar sama sekali setelah kepergian mereka dari perusahaan.
"Ke mana mereka? Apakah ... Miles menculik lalu menyekap mereka? Ya Tuhan, semoga dugaanku salah," ucap Tessa khawatir.
Wanita cantik yang tengah mengandung itu memegang ponselnya erat setelah gagal menghubungi orang-orang tersebut.
Tanpa sepengetahuan Lysa dan Arjuna. Han yang mengawasi diam-diam pergerakan anak-anak Vesper mengambil tindakan dengan mengutus orang-orang kepercayaannya.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Aku mengerti, Tuan Han. Sudah tugasku seperti yang diamanatkan oleh nyonya Vesper," ucap Seif mantap dan Han mengangguk pelan.
Seif segera pergi dari rumah tempat Han bersembunyi selama ini bersama orang-orang yang telah dipilih oleh Vesper.
Saat Han memejamkan mata mencoba menenangkan hati dan pikiran di usia mulai senja, Kai muncul dengan wajah serius membuka pintu kayu tersebut.
"Han," panggilnya.
Dengan sigap, Han segera beranjak dari dudukan dan mengikuti Kai menuju ke sebuah ruangan, di mana telah banyak orang menunggu di sana.
"Kesehatan Vesper semakin menurun. Ini bukan hal baik," ucap Rayya cemas di samping ranjang sang ratu.
"Bagaimana kondisi Jeremy?" tanya Han menatap Roxxane lekat.
"Jangan terlalu mengharapkannya. Jeremy masih sangat lemah dan ia harus didampingi," jawab isteri sang Profesor.
"Nona Vesper sudah melakukan penyuntikan serum secara berkala sesuai jadwal termasuk transfusi darah. Hanya saja, kesehatannya tetap menurun. Aku rasa, pikiran yang mempengaruhinya. Nona Vesper merindukan anak-anaknya. Aku sering mendengar nona Vesper memanggil nama mereka dalam tidurnya," ucap Duriyyah yang membuat para pendengar sedih.
Segera, Han dan Kai keluar dari ruangan tempat Vesper dirawat dalam rumah pondok kayu di Lugu Lake.
Kai menghubungi Jonathan saat itu juga. Terlihat, Kai serius menunggu panggilannya tersambung.
TUT ....
"Halo?"
"Jonathan? Ini aku, Papa Kai."
KLEK! TUT ... TUT ... TUT.
Praktis, mata Kai melebar seketika. Jonathan menutup panggilan teleponnya begitu saja. Kai mencoba untuk menghubungi anak ketiga Vesper lagi, tapi nomornya tidak bisa tersambung.
"Keterlaluan! Jonathan memblokir nomorku! Han!" pekik Kai hingga wajahnya memerah.
Napas Han ikut memburu. Ia segera menelepon Jonathan. Han dan Kai sengaja mengganti nomor ponsel mereka agar tak diketahui oleh siapa pun.
TUT ....
__ADS_1
"Halo. Jonathan. Dengar. Ibumu sakit. Dia ingin—"
"Oh, baguslah. Memang sudah sepantasnya mama mati. Dia jahat kepada semua orang. Ini balasan Tuhan. Sampai jumpa, Ayah Han."
KLEK. TUT ... TUT ... TUT.
KREKK!
Kai terperanjat hingga matanya melotot. Han sampai meremukkan ponselnya dalam satu genggaman.
"Benar-benar. Hempf, benar-benar anak kurang ajar! Jonathan, hmpf ... Jonathan," ucap Han dengan napas menderu, tapi tiba-tiba ia terhuyung memegangi dadanya.
Kai dengan sigap memegangi Han yang menjatuhkan ponselnya dengan pandangan tak menentu.
"Han! Jangan lemah, Pak Tua! Kita harus bertahan! Aku tak akan membiarkanmu mati dan meninggalkan setumpuk tugasmu untuk kukerjakan sendiri. Aku tak sudi!" pekik Kai kesal meski terlihat ia cemas dengan kondisi rival seumur hidupnya.
Han tersenyum miring meski terlihat jelas tubuhnya menegang seperti menahan sakit.
"Help!" teriak Kai lantang.
Segera, orang-orang yang berada di ruangan berhambur keluar. Mereka terkejut melihat Han seperti akan roboh. Dengan sigap, Click and Clack membantu memapah Han ke kamarnya.
"Kita butuh tenaga medis berpengalaman untuk merawat nona Lily dan lainnya. Tarik Yu Jie," ucap Kai menatap Eiji lekat.
Suami dari Monica mengangguk paham dan segera pergi untuk melaksanakan tugasnya sesuai permintaan amplop merah maroon Vesper.
"Kami akan membantu," sahut Clack, tapi Han dan Kai menggeleng.
"Ini bukan tugas kalian. Tetaplah di sini dan tetap waspada. Aku khawatir, Miles akan menemukan tempat ini," jawab Kai menatap dua pria berkepala botak itu tajam.
Click and Clack saling melirik. Mereka mengangguk paham.
Di kejauhan, Cassie melihat kondisi dari kubu Vesper mulai runtuh satu per satu. Cassie berlari ke kamar di mana Venelope dan Sierra sedang bermain dengan bayinya.
"Aku percaya pada kalian berdua. Tolong, jaga anakku. Sudah waktuku untuk muncul. Ini harus diselesaikan," ucapnya menatap dua wanita pirang di depannya.
"Maksudmu ... menghadapi Miles? Menemui Jonathan dan berusaha untuk mengembalikan kewarasannya? Jangan gila, Cassie! Bayimu membutuhkanmu!" pekik Sierra menolak.
"Oleh karena itu, aku percaya padamu. Aku pergi," jawabnya seraya tersenyum dan memegang pundak Sierra erat.
Sierra tampak bingung termasuk Venelope. Namun, Cassie menatap mereka tajam saat ia mengambil sebuah tas besar dalam almari seperti sudah dipersiapkan.
"Aku akan kembali. Tunggu kepulanganku," ucapnya, dan dua wanita cantik itu mengangguk pelan meski terlihat cemas.
***
__ADS_1
uhuy tengkiyuw tipsnya😍 adeh jari tengah lele bengkak gaes gegara kuku keslempit jadi ngetiknya syusah😩 doain cepet sembuh biar bisa crazy up dan tamatin novel ini. amin^^