
Di tempat Sandara berada.
Gadis cantik berparas Asia itu mulai bisa mengikuti ritme dari pelatihan yang diberikan oleh Mr. White.
Sandara tak pernah bangun terlambat dan selalu menyelesaikan tugas yang diberikan sebelum waktu habis.
Namun, hari itu. Mr. White meninggalkan pulau menggunakan helikopter. Sandara berdiri dengan Afro si kaki empat menatap kepergian benda terbang tersebut.
Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.
"Jangan pikir kau bisa kabur, Sandara. Kalaupun bisa, kau akan tenggelam di laut atau di makan hewan buas di luar kawasan ini," tegas pria yang dipanggil Romeo oleh kawan-kawannya.
Sandara diam tak menggubris. Ia kembali ke Pondok karena telah selesai mengerjakan tugas pertamanya untuk mengecet semua sepeda yang ada di garasi.
Sandara membersihkan dirinya di bawah guyuran shower air hangat. Ia melihat sekeliling dalam kamar mandi seperti mencari sesuatu meski tak menyentuhnya.
Matanya mendarat ke sebuah mesin pemanas air yang menempel pada dinding. Sandara diam dan memepetkan tubuhnya ke tembok hingga tak terkena tetesan air tersebut.
"Sudah kuduga," ucapnya dalam hati saat ia mendongak dan melihat sebuah kamera mini di balik box pemanas air.
Sandara kembali bersikap wajar dan tenang. Ia menyelesaikan mandinya dan segera membungkus tubuhnya dengan jubah handuk.
Sandara berjalan keluar menaiki tangga perlahan dan melirik ke sebuah jam dinding yang dipasang tinggi, jauh dari jangkauan tangannya.
Sandara kembali memepetkan tubuhnya ke dinding dan mendongak. Tak lama, ia kembali menaiki tangga dan berjalan menuju kamar.
"Sudah dua. Di mana sisanya?" ucapnya dalam hati seraya mendekati lemari dan mengambil pakaian serupa yakni, seragam latihan berwarna putih.
Sandara melihat jam dinding yang dicurigainya mengarah ke lantai dasar. Ia berasumsi, cakupan pantauan kamera tersebut sampai ke pintu masuk Pondok, tapi tidak jika ia berada tepat di bawah kamera tersebut.
"Kamera itu satu arah. Jarak pandangnya pun terbatas. Aku yakin jika kamera itu tak bisa bergerak. Aku harus cari celah," ucapnya dalam hati seraya memakai baju latihan di ruang kerja.
Sandara melihat laptop yang selalu terbuka dan menyala. Perlahan, gadis cantik itu duduk dan menatap kamera pada bingkai layar sebagai fasilitas benda tersebut.
"Ah, kenapa tak terpikirkan. Ketemu, kamera ketiga. Hem, terkoneksi dari laptop itu sendiri," ucapnya lagi dalam hati. "Yang ini, bisa aku akali," imbuhnya yakin meski wajahnya datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Sandara kembali ke kamar untuk merebahkan diri. Ia sarapan cukup banyak dan masih kenyang.
Puteri tunggal Kai tersebut menoleh ke arah jam weker dan melihat, ia masih memiliki banyak waktu sampai tugas berikutnya.
Sandara memunggungi benda-benda di sisi kanannya dan menghadap ke kiri. Ia memilih terlihat dari dinding kaca meskipun tubuhnya tertutupi selimut.
"Sepeda-sepeda itu. Aku cukup yakin jika sepeda yang kucet adalah kendaraan yang dipakai oleh anggota The Mask saat di Guatemala. Laporan dari kak Yena kala itu mengatakan, jika transportasi mereka adalah sepeda klasik setiap harinya," ucap Sandara dalam hati dengan mata terpejam, pura-pura tidur.
Dalam diamnya, otak Sandara berpikir keras mengingat semua berkas yang pernah ia baca baik dari database GIGA ataupun laporan fisik yang masuk ke meja kerja ibunya, Vesper.
"Mr. White mengangkut sepeda pertama berjumlah 30 dengan sebuah truk. Sisanya masih ada 30 lagi di garasi belum ia angkut karena cet basah. Truk itu pasti menuju ke dermaga atau hanggar pesawat," batinnya lagi. "Jika 60 sepeda, berarti jumlah anggota The Mask ada 60 orang."
Sandara terus memikirkan semua hal yang ia lakukan selama terkurung di tempat itu dan mulai meruntut satu persatu.
"Mengelilingi kawasan saat aku ditemani Afro untuk mengantar persediaan, dibutuhkan sekitar 4 jam dengan jalan santai. Aku bisa mendengar deru ombak saat berada di belokan. Ada banyak pohon kelapa berderet di kejauhan. Pasti dekat dengan laut. Jika aku keluar dari jalur dan mencari tebing, bisa menghabiskan waktu 6 jam dengan jalan kaki," batinnya lagi yang disertai hembusan nafas panjang meski matanya terpejam. "Fisikku tak sekuat itu. Benar kata Romeo, aku akan mati saat berusaha kabur," ucapnya sedih dalam hati.
Sandara merapatkan selimutnya. Ia memilih untuk tidur kali ini dan tak berpikir. Hatinya terlalu sedih untuk berharap bisa kabur dari tempat itu.
Hingga akhirnya, TRINGGG!!!
Sandara menekan tombol di atas weker dan menunggu instruksi dari suara Afro. Sandara memasang wajah datar, duduk di pinggir ranjang.
"Good afternoon, Dara. Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik. Kau juga bersikap manis. Kau memang gadis penurut," ucap Afro. Sandara diam dan ekspresi wajahnya mulai berubah seperti menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah jam weker dan menatap benda itu seksama dalam diam. "Tugas selanjutnya, pergilah ke ruang kerja. Dokumen yang harus kau kerjakan ada dalam folder S. Waktu penyerahan pekerjaan sebelum jam 9 malam. Sampai jumpa besok."
Kening Sandara berkerut. Ucapan kebencian dari jam weker suara Afro tak ada hari ini. Sandara melangkah ke ruang kerja dan duduk di depan leptop.
Ia membuka file pekerjaan yang dimaksud. Seketika, mata Sandara melebar. Ia melihat sandi rumput dalam bentuk salinan.
"Aku mengenali tulisan ini. Om Eko. Apa dia terlibat? Sayangnya, aku tak mempelajari sandi rumput. Aku tak tahu apa tulisannya," ucapnya dalam hati.
Sandara terus men-scroll lembar-lembar dalam bentuk file digital itu. Total semua lembar sebanyak 10. Tak ada lampiran penunjang tentang sandi itu.
Sandara mulai bingung. Ia tak terkoneksi internet, semakin sulit baginya untuk menerjemahkan.
"Mungkin ... kali ini aku akan diam saja tak mengerjakan. Aku ingin tahu hukumanku jika tak menyelesaikan tugas. Hm, masih ada waktu 4 jam. Lebih baik ... aku makan saja," ucapnya dalam hati dengan senyuman.
__ADS_1
Sandara meninggalkan tugasnya. Ia menuruni tangga dan menyiapkan makan malam untuk dirinya. Remaja cantik itu memanjakan dirinya dengan perut kenyang dan makanan lezat buatannya sendiri.
Usai makan, Sandara kembali ke ruang kerja dan mengambil selembar kertas serta pensil. Ia membawa dua benda itu ke kamar dan masuk ke lemari pakaiannya.
Sandara mengurung dirinya di dalam sana. Ia merasa jika tempat itu satu-satunya yang tak memiliki kamera pengawas.
Sandara memanfaatkan waktu selama dua jam untuk menyusun strategi dalam coretan kertasnya. Ia duduk membungkuk dan menjadikan lantai lemari sebagai alas tulisnya.
Berulang kali Sandara melirik jam untuk memastikan waktunya cukup membuat strategi. Ternyata, masih ada sisa waktu 1 jam.
Sandara keluar dari lemari dengan gumpalan kertas yang sudah ia robek kecil-kecil dalam genggaman tangan.
Gadis berambut panjang itu menuruni tangga dan menuju ke kamar mandi. Sandara duduk di toilet berpura-pura sedang buang air.
Ia menyelipkan sobekan kertas di antara pahanya dan mengguyur sedikit demi sedikit robekan kertas tersebut hingga tak bersisa.
Masih ada waktu dan Sandara kembali ke ruang kerja. Ia penasaran dengan sandi rumput tersebut. Sandara menuliskan ulang sandi tersebut dalam selembar kertas dengan pulpen, dan tak terasa waktu mengirimkan tugas tiba.
Sandara terlihat gugup dan terus memandangi layar leptop. Sandara melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Ia melihat sudah lebih dari 10 menit dari batas waktu pengumpulan tugas pukul 9 malam.
Tiba-tiba, BRAKK!
Sandara tertegun dan langsung keluar dari ruang kerja. Ia melihat dari atas tangga, dua pria penjaga masuk ke pondoknya dengan wajah beringas. Sandara menelan ludah, ia terlihat ketakutan dan tubuhnya gemetaran dengan sendirinya.
"Hukuman itu datang. Apa yang akan mereka lakukan?" tanya Sandara dalam hati dengan mata membulat penuh saat dua lelaki berwajah garang mulai menaiki tangga.
***
oia. SIMULATION udah ganti cover nih. doain lele bisa segera up novel tersebut bersamaan dg novel lainnya. kasian tu novel terabaikan sejak th 2019😩
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu dan jangan lupa like audio book lele ya. makasih💋
__ADS_1