4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Terperangkap*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST



----- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


Amanda dan timnya menyusuri jalan rahasia yang diyakini digunakan oleh Venelope beserta anak buahnya untuk melarikan diri.


"Tetap siaga dan waspada," tegas Pion Darion memimpin di depan.


Semua anggota yang mengikuti di belakang Darion secara beriritan mengangguk paham dengan senjata dalam genggaman.


Cukup jauh mereka menyusuri jalan berliku tersebut yang entah menuju kemana. Lorong itu terus menurun dan memiliki banyak tangga. Sinyal radio bahkan GIGA SIA tak tertangkap dari jam tangan Amanda.


"Sial. Tempat ini pasti sangat jauh di dalam hingga satelitku tak bisa menangkap sinyalku," geram Amanda.


"Atau bisa jadi, ada penghalang sinyal di tempat ini," sahut Pion Dexter dan orang-orang mengangguk setuju.


Hingga akhirnya, setelah 10 menit berjalan dengan langkah cepat, mereka menemukan persimpangan. Orang-orang itu saling melirik.


"Kita harus berpencar," ucap Darius dan Amanda mengangguk.


Dua tim terbagi. Sisi kanan diambil oleh Pion Darion, Darius, Damian, Jordan dan Mix. Sisi kiri diambil oleh Dexter, Darwin, Amanda dan Match.


Merekapun segera berpisah dan menyusuri dua sisi lorong itu.


"Hati-hati. Aku khawatir jika ada je ...."


KLEK!


Langkah semua orang di kubu Manda terhenti seketika. Amanda menginjak sebuah ubin dari batu yang membuat kaki kanannya tersangkut di dalamnya.


"Oh!" pekiknya kaget karena kakinya terus tenggelam dan tak bisa ditarik.


"Mam!" pekik Match panik dan langsung memegangi perut Amanda karena kakinya terus tertarik ke dalam lantai dengan kuat.


"Aaaaa! Ada benda yang mencengkeram kuat pergelangan kakiku!" teriaknya histeris dan kini ia ambruk karena kaki kirinya tetap berada di atas lantai.


"Pasti ada jebakan! Aku mendengar seperti ada suara mesin di balik lantai ini!" pekik Pion Darwin yang menempelkan salah satu telinganya ke lantai batu.


"Match! Match!" pekik Amanda panik karena kaki kanannya terus tertarik ke dalam dan kini sudah setinggi lutut.


Match berusaha sekuat tenaga menarik tubuh Amanda ke atas. Dexter dan Darwin terlihat panik. Mereka bingung harus melakukan apa karena tak tahu, benda yang menarik kaki Amanda tersebut.


"Hiks, aku akan mati, Match," ucapnya sedih dan sudah lemas, terlihat pasrah dengan takdirnya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, Nyonya! Saya masih ada di sini untuk menyelamatkanmu. Arrghhh!" jawab Match dengan erangan, berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan Nyonya Besarnya.


"Ledakkan lantai ini!" pekik Darwin mengusulkan.


"What? Sangat beresiko. Kau ingin menimbun kita hidup-hidup?" sahut Dexter menolak.


"Lantai ini terbuat dari batu! Atau kau ingin memotong kaki Nyonya Manda, ha?!" balas Darwin.


Sontak, mata semua orang melebar. Amanda ketakutan dan semakin panik ketika kaki kanannya sudah tenggelam setinggi paha.


"Pergilah. Tak ada gunanya lagi bertahan," ucap Amanda sudah putus harapan.


"NO!" teriak Match lantang di mana tubuhnya kini sudah ikut roboh di lantai. Memegangi perut Amanda erat dan terus berusaha menariknya ke atas.


"Mom!" teriak Jordan tiba-tiba yang berlari mendatangi Amanda dengan semua anggota timnya terlihat panik.


"Kenapa kalian kemari?" tanya Match menatap Mix yang menghampirinya.


"Jalan buntu," jawabnya cepat.

__ADS_1


Darwin dan Dexter segera menyingkir. Mix membantu memegangi tubuh Amanda dan menariknya ke atas, tapi tarikan mesin tersebut lebih kuat.


Jordan memasukkan moncong sebuah senjata laras panjang ke celah kaki Amanda seperti membidik sesuatu saat ia ikut tengkurap.


Seketika, DOR! KLEK! CESS ....


"Oh! Berhenti, Jordan. Mesinnya berhenti!" ucap Amanda dengan wajah berbinar meski kakinya masih tersangkut.


Jordan menarik moncong senapan peleleh logam dan Damian memasukkan sebuah Galundeng ke dalam celah itu.


Pion Darion membuka tablet dan terlihat, sebuah mesin penjepit yang memperangkap kaki Amanda.


"Jordan. Ada rongga di dalam. Sayangnya, moncong senjata kita tak bisa berbelok. Bagaimana cara kita melepaskan alat yang menjepit kaki Ibumu?" tanya Darius.


Semua orang terlihat tegang seketika. Darius kembali berdiri. Ia berjalan perlahan menuju ke arah lorong yang belum dijelajahinya itu.


Namun tiba-tiba, KLEK!


Mata semua orang kini tertuju pada Darius yang menginjak ubin serupa. Mata Darius melebar dan ia langsung menarik kakinya ke atas.


Seketika, BLANG! BLANG!


"Watch out!" pekik Jordan lantang ketika sebuah dinding batu muncul dari samping kanan kiri dan menutup jalan.


"Darius" teriak Darwin panik karena sebuah dinding menghalangi dan memisahkan mereka.


Darwin menggebrak dinding batu yang memperangkap kawannya hingga sosoknya tak terlihat.


Darion ikut panik, saat jalan tempat mereka masuk tadi ditutup oleh dinding batu. Mereka terperangkap dalam lorong dengan dua dinding batu menghalangi. Semua orang pucat seketika.


Darwin melangkah mundur dan bersiap untuk mengeluarkan granat, bermaksud untuk menjebol dinding penghalang itu. Suasana tegang seketika.


Saat Darwin mengambil jarak aman untuk melemparkan granat, lagi-lagi ....


KLEK!


Mata semua orang kembali terpaku pada sebuah ubin yang diinjak oleh Darwin dekat dinding.


Seketika, KRAKK!


BYURRR!!


"Arrghhh!" rintih orang-orang yang tertimbun atap dari lorong yang runtuh begitu saja.


Dan mendadak, dari lubang atap, terjangan luapan air segera membanjiri lorong tersebut.


"Hah! Hah!" Nafas Amanda tersengal saat wajahnya ia dongakkan ke atas karena tubuhnya tenggelam lebih dahulu.


Kaki Amanda masih tersangkut, begitupula para Pion yang tertindih puing dari atap lorong dan perlahan tenggelam karena tubuh mereka terlentang di atas lantai.


"Hah, Jordan! Pergilah. Kembali ke atas. Kau masih bisa selamat. Maaf, jika Mommy harus pergi dengan cara seperti ini. Relakan Mommy. Teruslah hidup, kenanglah Mommy dan daddy selalu," ucap Amanda menangis.


"NO! AKU TAK AKAN PERGI KEMANAPUN!" jawabnya menangis dengan tubuh sudah basah kuyup karena air terus mengguyur bagaikan air terjun dari atap lorong.


"Jordan ...."


"DIAM! KITA PASTI BISA KELUAR DARI SINI DENGAN SELAMAT!" jawabnya menolak untuk menyerah.


Mix and Match saling berpandangan. Mereka setuju akan ucapan Jordan. Anak Amanda melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.


"Bagaimana?" tanya Mix terlihat mulai lelah karena sedari tadi memegangi tubuh Amanda.


Nafas Jordan menderu. Ia melihat orang-orang yang berada dalam timnya mulai tak bisa bertahan.


Mulut Amanda bahkan dimasukkan sebuah tabung agar tetap bisa bernafas karena wajahnya mulai tenggelam.


"Jordan! Apa yang akan kau lakukan?" pekik Damian saat Match membantu para Pion menyingkirkan puing yang menimpa mereka.


"Runtuhkan saja. Tak ada jalan keluar," jawabnya dengan wajah dingin.

__ADS_1


"What? Kau gila!" teriak Dexter yang sudah basah kuyup, mulai berdiri dengan berpegangan pada dinding lorong.


"Maaf. Otakku buntu. Ini pilihanku. Jadi, terimalah. Siapkan diri kalian karena aku tak tahu, apa yang akan terjadi setelah ini," jawabnya dengan wajah sendu, mengeluarkan granat mini dari tas ransel yang digendong oleh Mix.


Semua orang memejamkan mata. Mereka mengangguk pasrah. Air sudah setinggi pinggang dan mereka akan tenggelam.


Pion Dexter, Darion, Darwin dan Damian, telah siap untuk melemparkan granat mini ke dua sisi dinding yang memperangkap mereka.


Jordan meletakkan peledak detektor di lantai batu. Bermaksud untuk merusak mesin yang masih menjepit kaki sang Ibu.


Jordan berdiri melingkar bersama Mix and Match yang melindungi Amanda dari lontaran puing nanti.


"Hitungan ketiga. Satu ... dua ...."


Mata semua orang terpejam bahkan Amanda. Mereka pasrah dengan takdir, di mana keputusan untuk meledakkan dinding terowongan adalah satu-satunya jalan.


"Tiga."


DUK! BLUARR!!


DOOM! DOOM! DOOM! DOOM!


Dua pintu dinding batu meledak hebat. Pion Darwin dan Damian, melemparkan granat ke dinding batu yang memisahkan mereka dengan Darius.


Pion Darion dan Dexter, melemparkan ke dinding penghalang seperti pintu tempat mereka masuk tadi.


Ledakan hebat terjadi dan meruntuhkan dinding-dinding batu tersebut termasuk lantai lorong.


Gelombang air besar dari ledakan di lantai, membuat tubuh Jordan, Amanda, Mix and Match terdorong hingga ke atap seperti terkena semburan air mancur yang kuat.


Tubuh orang-orang itu terhantam kuat pada atap terowongan dan membuat lubang air semakin besar.


Semua Pion terlontar karena gelombang ledakan. Tubuh mereka menghantam dinding dan lantai yang sudah di banjiri oleh air tersebut.


Namun, air tak menyurut meski dinding penghalang susah jebol. Air terus tumpah dari atap lorong begitu derasnya seperti mengisi sebuah kolam.


"Hah! Ohok!"


Jordan berhasil naik ke permukaan bersama beberapa Pion dan Mix and Match.


"Bagaimana? Kalian baik-baik saja?" tanya Jordan yang terlihat kepalanya saja, menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Jordan! Kita tak bisa kembali. Masih ada dinding penghalang dari jalan masuk kita tadi. Satu-satunya jalan, bergerak terus ke arah Darius terperangkap," jawab Darwin menunjuk ke lorong tujuan akhir mereka.


"Nyonya Manda!" pekik Mix yang mengejutkan semua orang karena Manda tak sadarkan diri, tertindih sebuah batu di perutnya, tenggelam di reruntuhan lantai.


Jordan dan Mix and Match kembali menyelam. Mereka lega karena kaki Amanda berhasil di bebaskan. Mix and Match menarik tubuh Manda yang lunglai.


Dengan sigap, Jordan mengambil pelampung kapsul dari dalam tas Mix.


Jordan, Mix and Match, terlihat sibuk menyelamatkan Amanda yang di masukkan ke dalam kapsul penyelamat.


Sebuah tabung oksigen portabel dan sebuah masker, terikat di mulut serta hidungnya. Pelampung itu mengapung dan dipegangi kuat oleh dua algojo Amanda.


Perlahan, air kembali naik dan siap menenggelamkan mereka lagi.


"Jordan!" panggil Darwin lantang di mana para Pion menyelam untuk melihat lantai yang Jordan ledakkan.


Jordan kembali menyelam. Namun, pemandangan tragis terlihat di bawah air. Rasa sesak semakin menyelimuti hati semua orang.


Darius tewas dengan beberapa besi tajam yang muncul dari bawah lantai, menusuk punggungnya.


"Argghhh!" teriak Damian meluapkan amarah karena kawan seperjuangannya tewas mengenaskan dengan darah mulai menyeruak dari balik tubuhnya.


Mata Jordan melebar saat ia melihat dalam air, satu-satunya jalan adalah melewati mayat Darius dan tajamnya besi yang muncul di sisi kanan kiri dinding lorong. Jantung Jordan berdebar kencang seketika.


***


buruan baca Casanova krn minggu depan mulai di lock loh~ Jangan lupa jalanin misi bwt dapetin koin gratis untuk buka eps ya.

__ADS_1


makasih tipsnya. lele padamu❤️



__ADS_2