4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Taruhan


__ADS_3

Arjuna membuka matanya perlahan saat ia mendengar suara orang berbincang di sekitarnya.


Arjuna terkejut ketika studio tattoo itu mendadak ramai dengan Yusuke dan para wanitanya memadati ruangan.


Mereka bicara dalam bahasa Jepang.


"Hei! Lihat siapa yang baru bangun!" teriak Yusuke yang duduk di sofa panjang bersama para wanitanya.


"Emph, ahh," keluhnya saat mulai merasakan nyeri di leher.


"Sudah selesai, Tuan. Saya, juga telah mencukur rambut Anda. Semoga, Anda suka hasilnya," ucap pria itu sembari menunjukkan hasil cukurannya di cermin.


"Wow!" kejut Arjuna di mana ia ikut kaget karena hasilnya sangat memuaskan.


"Saya berusaha agar serpihan rambut halusnya tak mengenai luka di tattoo Anda. Saya sudah menutupnya rapat dan mengobatinya. Seharunya tadi potong rambut dulu baru di tattoo. Saya ... lupa, maaf," ucap pria itu tak enak hati sembari membungkuk.


Arjuna yang bertelanjang dada itu melihat dari cermin. Apakah ada rambut yang menempel di tubuhnya atau tidak, tapi ternyata tak ada. Tubuhnya bersih dan tercium bau wangi.


"Berterima kasihlah para para gadisku, Juna-kun. Mereka membersihkan tubuhmu dengan tubuh mereka," kekeh Yusuke.


"What?!" pekik Arjuna langsung membuka matanya lebar dan menoleh ke arah Yusuke serta para gadisnya yang malah mengedipkan mata dengan manja.


"Jangan main-main denganku, Yusuke!" tunjuk Arjuna geram, turun dari kursi mendekatinya.


Semua orang tegang seketika.


"Eh, aku hanya bercanda. Itu wangi bedak untuk menghilangkan rambut halus yang mengenai tubuhmu dan agar kau tak gatal. Aku tak senakal itu," jawab Yusuke santai.


Arjuna masih menatap Yusuke tajam. Ia mengambil kemejanya lagi dan segera mengenakannya.


Arjuna pergi begitu saja meninggalkan studio tattoo sembari memegangi lehernya yang sakit. Semua orang terkejut, karena Arjuna berjalan meninggalkan mereka.


"Ish, orang itu benar-benar. Bertindak semaunya. Terima kasih, Yamada!" ucap Yusuke segera mengejar Arjuna yang telah keluar dari Studio.


"Sama-sama, Tuan Tendo!" teriaknya yang diakhiri dengan membungkukkan tubuh.


Arjuna menunggu di dalam mobil sembari melihat lehernya yang mulai terasa nyeri di kaca jendela mobil. Ia ingin menyuntikkan pereda nyeri lagi, tapi ia sudah melakukannya tadi.


Arjuna yang tak begitu menyukai obat-obatan karena teringat masa kecilnya dulu yang menjalani therapi pengobatan, sedikit trauma karena rasa obat yang pahit serta banyaknya obat yang ia konsumsi.


Arjuna memilih untuk menerima rasa sakit di tubuhnya sampai sembuh dengan sendirinya. Tak lama, Biawak Putih dan Yusuke masuk ke dalam mobil dengan tergesa.


"Aku lapar," ucap Arjuna melirik Yusuke sekilas.


"Oke. Aku yakin kau tak mau makan di sini. Baiklah, kita ke restoran sipil saja. Kau ini benar-benar mafia yang aneh," sindir Yusuke lalu memberikan kode pada sopir untuk membawa mereka ke sebuah rumah makan.


Setibanya di rumah makan pilihan Yusuke.

__ADS_1


Yusuke dan Biawak Putih mengedipkan mata saat melihat Arjuna makan dengan lahap bahkan tanpa jeda.


Semua makanan di hadapannya ludes tak bersisa bahkan sake sebagai teman minumnya.


"Hah, aku suka restoran ini, Yusuke. Aku puas!" jawabnya tersenyum senang.


Yusuke mengangguk dengan wajah terheran-heran. Kepuasan Arjuna cukup simpel menurutnya, perut kenyang dengan suasana sunyi.


Padahal bagi Yusuke, rumah makan itu sangat kuno karena makanan yang disajikan hanya khas Jepang. Tempatnya juga tak terlalu bagus dan sepi pengunjung bahkan dekat hutan.


"Oh! Terima kasih, Tuan. Ini sangat banyak," ucap Petugas kasir terkejut karena Arjuna membayar 2 kali lipat dari tagihan.


"Masakanmu enak, Bibi. Aku suka. Aku akan berkunjung lagi lain waktu. Sampai jumpa," jawabnya ramah dan semua pelayan di rumah makan itu membungkuk berterima kasih.


Senyum Arjuna kembali merekah. Saat ia akan masuk ke mobil, ia melihat seorang pelayan membawa kue keranjang ke dalam restoran. Arjuna turun dari mobil dan kembali masuk ke restoran.


"Hei, mau kemana? Hiss, jangan bilang ingin membungkus makanan. Memalukan," kesal Yusuke karena Arjuna suka kabur dari sisinya.


Namun tak lama, Arjuna kembali sembari membawa kotak yang terbungkus kain. Semua orang dibuat terheran-heran ketika ia memangku bungkusan itu dengan senyum terpancar.


"Apa itu?" tanya Yusuke menunjuk kotak kayu dengan motif bunga di atasnya.


"Yang jelas, ini bukan untukmu," jawabnya ketus.


Yusuke tak mau berdebat. Mobil kembali ke kediamannya di Rumoi. Arjuna bahkan langsung merebahkan dirinya di kasur dan tidur. Orang-orang yang tak begitu memahami karakter Arjuna membiarkannya.


Ia terpaksa meminum obat pemberian Biawak Putih atas saran dari seniman tattoo kemarin.


Arjuna berusaha menutupi luka di tattoo-nya karena khawatir jika Naomi akan marah, tapi kali ini, ia yakin jika Naomi akan menyukainya.


Arjuna terlihat sudah tak sabar menunggu kedatangan sekretarisnya di Kastil Yusuke, tapi ternyata, Naomi mengalami keterlambatan datang ke sana karena harus menjemput asisten barunya yang berada di Markas Hashirama, Kyoto, Jepang.


Arjuna mendesah malas setelah membaca pesan di ponselnya. Ia kembali uring-uringan karena bosan menunggu.


Yusuke akhirnya mengajak Arjuna untuk bertemu para penjahat rendahan yang dijanjikan olehnya untuk dijadikan tambahan anggota pasukan Bala Kurawa.


"Ini mereka. Bagaimana? Lumayan 'kan? Setidaknya, mereka sudah mengenal senjata dan bisa bertarung," ucap Yusuke bertolak pinggang.


Arjuna menatap orang-orang itu seksama terlihat malas. Ia mengangguk dan meminta kepada Biawak Putih untuk mengajak para lelaki itu untuk bergabung dengannya.


"Kami tak sudi ikut denganmu! Kau hanya anak ingusan seperti Yusuke Tendo. Kalian bisa berkuasa karena nama orang tua kalian. Kalian tak pantas disebut sebagai pemimpin dan penguasa!" ucap salah satu penjahat di dalam penjara dengan lantang.


"Wow, ucapannya sungguh menyakiti hatiku, Juna-kun. Bagaimana denganmu?" tanya Yusuke mulai menyalakan rokoknya.


"Aku juga demikian. Namun, aku penasaran dengan orang-orang bermulut besar ini. Hem, keluarkan mereka. Aku ingin mengetesnya," ucap Arjuna dengan wajah datar.


"Oh, menantang kami? Boleh juga. Jika kami menang, apa yang kau janjikan?" tanya lelaki yang duduk di lantai bertelanjang dada menatap Arjuna tajam.

__ADS_1


"Kalian boleh menguasai Hokkaido."


"Juna! Jangan sembarangan bicara! Ini wilayahku!" teriak Yusuke marah seketika.


"Kau percaya jika mereka bisa mengalahkanku?" tanya Arjuna menoleh ke arah sepupunya dengan wajah tengil.


"Jika sampai kau kalah, kuambil Naomi darimu," tunjuk Yusuke tegas.


Mata Arjuna melebar seketika. Ia kini menatap Yusuke tajam.


"Apa maksudmu? Kenapa melibatkan Naomi segala?" tanya Arjuna tersulut emosi.


"Naomi aset berhargamu 'kan, sama sepertiku. Hokkaido aset berhargaku. Jika kau gagal, kuambil Naomi darimu. Akan kutemui tuan Han dan nyonya Vesper untuk meminta bantuan mereka melenyapkan para keparat ini, karena apa? Kau, tidak, mampu," ucap Yusuke penuh penekanan sembari berjalan ke arah Arjuna dan balas menatapnya tajam.


Nafas Arjuna menderu. Semua orang terlihat tegang seketika saat dua wajah mafia muda itu saling bertatapan dan hanya berjarak satu centi saja.


"Haha, kalian berselisih. Ini akan sangat seru. Baiklah, kami setuju," ucap lelaki dalam sel yang satu persatu mulai berdiri, siap untuk beradu dengan Arjuna.


Anak ketiga Vesper lalu berjalan begitu saja meninggalkan penjara bawah tanah menuju ke halaman belakang Kastil, tempatnya berduel nanti.


Arjuna akan berduel dengan sepuluh orang penjahat rendahan yang meragukan kemampuannya.


Orang-orang dalam jajaran Yusuke Tendo mengelilingi halaman tersebut membentuk sebuah lingkaran.


Biawak Putih berdiri di samping Arjuna menyiapkan dirinya. Arjuna bersimpuh di depan bodyguard-nya itu menunggu para penantangnya tiba.


"Bos, ini merugikanmu. Luka di tattoo-mu belum sembuh benar. Jangan biarkan musuh pegang lukamu. Kita tutup lagi aja biar gak infeksi atau nanti kamu berakhir di Rumah Sakit dan kehilangan Naomi," ucap Biawak Putih sembari menutup luka tattoo dengan perban.


Arjuna berdiri dan mengangguk paham. Arjuna merapatkan Yukata hitam yang ia kenakan dan mengikat kuat sabuk di pinggangnya.


Yusuke menatap Arjuna tajam di kejauhan terlihat tak percaya dengannya karena kondisinya yang tak memungkinkan.


Salah satu anak buah Yusuke mendatangi Arjuna sembari menunjukkan kertas berisi kesepakatan yang sudah diberikan cap darah dari ibu jari Yusuke.


Arjuna melirik Yusuke tajam di kejauhan. Pada akhirnya, Arjuna juga memberikan cap darahnya di kolom bertuliskan namanya.


"Pertarungan ini adalah sebuah taruhan! Jika Tuan Muda Kim Arjuna berhasil mengalahkan 10 pria tahanan, maka, orang-orang itu bersedia untuk dijadikan anak buahnya dalam pasukan Bala Kurawa jajaran 13 Demon Heads. Namun, jika Kim Arjuna kalah dalam pertarungan, kekuasaan Tendo di Hokkaido, akan diserahkan oleh Yusuke Tendo kepada sepuluh orang tersebut dan Kim Arjuna akan menyerahkan Sekretaris Perusahaan Konstruksi, H&A Constructions yang berpusat di Hong Kong, Naomi. Ketiga pihak, apakah kalian semua sudah jelas dengan kesepakatan ini?" tanya Wasit pada siang hari itu.


Arjuna, Yusuke dan sepuluh penjahat mengangguk mantap dengan sorot mata tajam.


"Baiklah! Peraturan duel. Ini adalah pertarungan tangan kosong,cukup membuat lawan cidera. Sampai lawan tak bisa berdiri lagi, dinyatakan menang! Dilarang menggunakan senjata! Tak boleh membunuh lawan!" ucap Wasit lantang berdiri di tengah-tengah dua kubu yang akan bertarung.


PRITTT!!!


"HARRGHHH!!!"


***

__ADS_1


Utang lele lunas ya kakak2. Besok Up lagi. Hari ini gak jadi crazy up karena vote koinnya macet. Kwkwkw. Ditunggu vote koinnya. Tengkiyuw💋💋💋


__ADS_2