
Keesokan harinya. Para bodyguard Vesper yang mendapatkan tugas dari bos besar mereka pamit untuk kembali ke pos masing-masing.
Vesper tetap berada di kediaman Afro sampai menjelang pernikahan Yuki-Torin di tanggal 17 Maret nanti.
Para penghuni mansion Elios terlihat senang karena tak biasanya Vesper bersedia singgah dalam waktu lama di suatu tempat. Vesper ingin menghabiskan waktunya dengan anak gadisnya yang lama menghilang.
Dua tim yang dikirim ke Sudan dan Chad juga diminta untuk kembali ke Kastil Borka. Namun, 3 wanita berkerudung, Kecebong dan Biri-Biri diminta untuk menemui Eiji. Termasuk anggota pasukan Pria Tampan pemberian Jonathan untuk Sandara. Orang-orang itu menyatakan siap.
Kepulangan Sandara masih dirahasiakan ke seluruh jajaran 13 Demon Heads dan akan menjadi kejutan saat ia menghadiri pesta pernikahan Yuki-Torin nanti.
Kai yang mendapat kabar mengejutkan ini, segera mendatangi mansion Afro karena tak sabar untuk bertemu anak gadisnya.
Sandara memeluk Ayahnya erat saat mereka kembali bertemu. Kai dan Sandara duduk di pinggir kolam renang seraya merendam kaki.
"Papa senang kau baik-baik saja. Papa hanya bisa mengatakan maaf karena tak bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkanmu. Papa merasa sangat buruk sekali dan gagal sebagai orangtua," ucap Kai terlihat sedih.
Sandara tertunduk menatap genangan air yang menenggelamkan kakinya.
"Aku mengerti. Pasti ... mama yang melarang 'kan? Dara tahu. Itu karena Papa sudah tak bisa ditugaskan lagi di lapangan. Sebaiknya, Papa jaga kesehatan dan jaga diri. Aku mendengar dari para Red Ribbon jika Miles mulai berulah. Aku ingin tahu detailnya, Pah. Aku melewatkan banyak hal. Bisa kau memberitahuku?" pinta Dara menatap Ayahnya lekat dan Kai mengangguk pelan dengan senyuman.
Di sisi lain. Perusahaan Han di Hong Kong.
Han juga mampu menjaga rahasia setelah mendapat kabar dari sang isteri dengan berpura-pura tetap mencari keberadaan Sandara.
Ia menugaskan Bala Kurawa milik Arjuna dengan sang anak sebagai pemimpin pasukan, meski pria bertato itu mengomandoi anak buahnya dari jarak jauh.
"Kau ini bagaimana? Masa satu tempat pun tak ditemukan jejak Sandara? Apa yang dikerjakan anak buahmu di luar sana? Jika tak becus, minta mereka berlatih lagi di Camp Militer," tegas Han yang duduk di kursi Presiden Direktur, kantor tempat anaknya bekerja.
Arjuna menghela napas panjang. Tessa menahan senyum di bangkunya. Kini, Arjuna harus duduk di meja Sun karena asisten kepercayaannya itu belum ditemukan.
"Lebih baik, kirim anak buahmu untuk membantu M. Sun, berjasa besar dalam hidupmu. Lihatlah, tanpa Sun, kau seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Beruntung ada Tessa yang setia menemanimu dan sabar dengan semua sikapmu yang menjengkelkan," sambung Han makin gencar menghardik anaknya.
"Kenapa kau cerewet sekali, Ayah? Kau lebih berisik ketimbang mama," sahut Arjuna kesal.
"Memang kenapa? Aku Ayahmu. Aku bebas memarahimu sesukaku. Harusnya kau senang karena Ayahmu ini masih bisa memberikan banyak nasehat kepada anaknya yang keras kepala. Lihat saja saat aku tak ada nanti, kau pasti akan merindukanku bahkan mungkin menangisiku," tegas Han dengan cerutu terapit di antara dua jemarinya terlihat kesal.
Seketika, Arjuna terdiam dan menatap Ayahnya lekat yang terlihat menikmati hisapan cerutunya.
"Memangnya ... mau ke mana?" tanya Arjuna lirih.
"Mana aku tahu. Hal buruk bisa saja terjadi padaku. Ingat, kita mafia. Jika aku tak mati di tangan musuh, ya pastinya di tangan para militer. Kenapa? Kau sedih karena takut kehilanganku? Baguslah, itu pertanda kau menyayangiku," jawab Han menatap anaknya tajam.
Arjuna menghela napas seraya memalingkan wajah. Entah kenapa ucapan Ayahnya barusan membuat dadanya sesak.
"Jika kau anak berbakti, ambilkan air hangat untuk merendam kakiku. Pegal sekali. Lalu ... siapkan teh hijau hangat dan juga cemilan tanpa lemak. Dan aku, ingin kau yang melakukannya. Awas saja jika menyuruh orang lain. Cepat," perintah Han mengusir dengan sentakan kepala.
Arjuna menghembuskan napas panjang terlihat malas, tapi ia melakukannya. Arjuna berjalan gontai keluar ruang kerja untuk melakukan apa yang Ayahnya perintahkan.
Tessa terkekeh pelan saat Han mengedipkan salah satu matanya kepada menantunya itu karena berhasil mengerjai anak semata wayangnya.
Taman halaman belakang. Kediaman Afro.
"Afro, satu hal yang harus kautahu tentang perubahan dalam diri Sandara. Sepertinya kali ini, watak dia akan sangat sulit untuk diubah. Jadi aku harap, kau bersabarlah dengan semua sikapnya saat kalian menikah nanti," ucap Vesper seraya mengaduk kopi hitam di cangkir keramik di bangku taman dengan Afro duduk di sebelahnya.
"Apa itu, Nyonya?" tanya Afro penasaran.
"Jika dia mencintai sesuatu, dia akan mempertahankannya mati-matian. Namun, ketika dia sakit hati akan sesuatu, ia akan menjadikannya dendam. Meski terdengar mengerikan, tapi ... semua bisa diakali. Seperti kasus kesepakatan Sandara dengan Sudan. Tentang janin dalam rahimnya," jawab Vesper seraya memangku cangkir kopi dengan tatakan keramik sebagai alasnya.
__ADS_1
"Aku mengerti, Mom. Selain itu, trauma yang dilakukan Yudhi pada Sandara, sepertinya cukup membekas. Aku bisa melihat pergelangan tangannya yang lecet. Dara jujur dengan pengakuannya, tanpa harus menggunakan gas halusinasi. Terkadang, ia juga sering terkejut saat aku menyentuhnya. Dia sering menatapku lekat seperti ingin memastikan jika pria yang di hadapannya sungguh aku," jawab Afro serius.
"Aku hanya khawatir, perubahan sikap dalam diri Sandara, akan membahayakan beberapa pihak. Oleh karena itu, tak perlu tunda lagi. Kalian harus menikah secepatnya. Cukup anggota keluarga saja dan orang-orang kepercayaanku. Legal, itu yang terpenting. Tak perlu mewah karena aku khawatir hal itu malah akan memberikan peluang bagi Miles untuk menyerang," tegas Vesper, dan Afro mengangguk setuju.
Tiba-tiba, Vesper menggenggam tangan Afro erat. Afro menatap Vesper saksama.
"Aku sangat mengharapkanmu, Afro. Aku tak selalu ada untuk Sandara. Kau, adalah masa depannya. Bisakah, aku memberikanmu beban yang sangat sulit ini untuk terus melindungi puteriku?" tanya Vesper penuh harap.
"Aku berjanji, Mom. Aku berjanji," jawab Afro mantap, dan Vesper tersenyum lebar.
Minggu ketiga bulan Maret di kediaman Lysa dan keluarganya, Jerman.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Miles menggunakan senjata Vesper dan Boleslav Industries untuk menghancurkan kediaman para anggota dewan? Begitu maksudmu?" tanya Lysa sampai melebarkan mata karena kaget.
"Ya, begitulah. Aku rasa ... keputusanmu tepat dengan memilih keluar dari dewan, Sayang. Miles memang mengincar Jonathan, bukan aku. Javier membohongiku. Dasar Sultan keparat, lihat saja, akan kubalas," tegasnya gusar.
Para Pion yang kembali berkumpul memilih diam dan menyimak.
"Lalu ... apakah pembunuh Yudhi sudah ditemukan?" tanya Lysa yang terlihat iba karena bagaimanapun, ia memiliki kenangan manis dengan pemuda itu saat masih kecil.
"Di kapal itu hanya ada Yudhi, Sandara dan para wanita berkerudung. Jika bukan Sandara pembunuhnya, pastinya para wanita itu, siapa lagi? Itu hal mudah untuk ditebak. Sandara tak mungkin menembak karena saat diculik, ia tak memiliki senjata apapun," sambung Tobias seraya menyuapi anak perempuannya dengan biskuit cokelat dari toples yang ia pangku.
Namun, pria itu juga ikut menyuapi dirinya yang terlihat lapar. Tobias membiarkan Fara bermain di lantai dengan mainan-mainannya. Semua orang duduk di sofa.
"Lalu ... soal Jonathan. Bagaimana?" tanya Lysa khawatir.
"Ia kini tinggal di Black Castle dengan orang-orangnya. Jonathan mengurung diri. Namun, kabar yang kudengar, Sierra hamil anaknya," jawab Dakota.
"APA?!" pekik Tobias lantang yang membuat semua orang terkejut termasuk bayi Fara. "Sierra apa?!" tanyanya sekali lagi dengan mata melotot.
Napas Tobias memburu. Ia meletakkan toplesnya dengan gusar di hadapan anaknya. Tentu saja, makanan lezat itu langsung disantap oleh Fara yang dengan sigap memasukkan tangan mungilnya ke dalam toples.
Lysa mengejar Tobias yang bergegas menelepon Jonathan, tapi tak diangkat oleh pemuda itu.
"Dasar kurang ajar! Dia menghamili Cassie, dan kini, anakku juga harus mengandung bibitnya! Dasar keparat tengik! Aku akan membuat perhitungan dengannya!" teriaknya geram.
"Toby. Jangan gegabah. Kau tahu Black Castle dijaga ketat. Kau bisa menanyainya nanti ketika bertemu Sierra di pernikahan Yuki dan Torin. Mereka diundang, dan kata Yuki, Jonathan sudah mengkonfirmasi kedatangannya. Bersabarlah," ucap Lysa menenangkan.
Tobias menghembuskan napas keras terlihat kesal, tapi ia mengangguk. Pria bertato itu kembali mendekati bayi perempuannya dan menggendongnya dengan satu tangan.
Fara yang asik menikmati biskuit, diam saja saat dibawa oleh Tobias menuju ke kolam renang.
"Toby?" panggil Lysa karena suaminya mulai berlaku tak wajar lagi.
"Aku hanya ingin bermain dengan Fara. Aku ingin mendinginkan kepala dan tubuhku. Kau tak usah ikut bergabung. Ini antara anak dan ayah saja," tegasnya yang membuat Lysa terbengong dengan sikap suaminya.
Namun, Tobias malah melepaskan seluruh pakaiannya dan membiarkan anak perempuannya melihat kejantanan sang ayah, tapi terlihat tak tertarik. Tobias juga melucuti seluruh pakaian Fara hingga dua orang itu sama-sama telanjang.
Lysa yang khawatir, memilih menunggu keduanya di pinggir kolam renang. Sedang para Pion, kembali bertugas karena mereka kini harus bekerja di perusahaan elektronik milik Lysa.
"To-Toby! Ya Tuhan!" pekik Lysa sampai terperanjat karena pria itu malah melepaskan gendongannya di tubuh Fara dan membuat bayi itu tenggelam, tapi kembali muncul karena Tobias mengangkatnya dengan wajah gembira. "Kau bisa membunuh bayi kita! Jangan gila!" teriak Lysa sampai melotot.
"Ohok! Uhuk!" Fara batuk-batuk karena menelan air hingga wajahnya memerah.
"Dia tak akan mati. Fara gadis kuat karena darahku mengalir di tubuhnya. Lagi? Bersiap, hap!"
"Tobias!" seru Lysa langsung berdiri karena anaknya ditenggelamkan lagi.
__ADS_1
Tobias melakukan hal itu berulang kali dan membuat Lysa serasa ingin pingsan. Lysa seperti mengalami serangan jantung karena sikap tak wajar suaminya, tapi perlahan Tobias dan Fara tertawa meski bayi lucu itu batuk-batuk karena menelan air.
Fara memegangi kepala Tobias saat sang ayah berenang dan menjadikan tubuhnya seperti pelampung.
Fara duduk di bahu Tobias dan melangkahkan kedua kaki kecilnya di pundak sang Ayah. Lysa terlihat tegang karena anaknya timbul tenggelam di air, tapi baik-baik saja, meski batuk-batuk.
"Happy?" tanya Tobias saat ia menghadapkan Fara ke wajahnya. Fara mengangguk meski batuk-batuk.
Lysa kasihan pada bayinya, tapi Tobias enggan memberikan anak perempuannya. Lysa benar-benar harus bersabar saat suaminya kembali menggila.
"Aku tak ingin punya anak lagi. Sungguh. Aku bisa mati muda dengan serangan jantung karena kelakuan suamiku," ucap Lysa seraya memijat kepalanya yang mendadak terasa pusing.
Tobias menghabiskan hari-harinya bersama Fara ketika Lysa harus pergi ke kantor termasuk para Pion lainnya.
Tobias menikmati waktunya menjadi bapak rumah tangga. Pria bertato itu terlihat tak masalah berada di rumah berdua bersama Fara.
Tobias bahkan tak mengizinkan ada baby sitter untuk mengurus buah hatinya. Pelayan yang dipekerjakan untuk membereskan rumah dan memasak, adalah para remaja The Eyes.
Yuki sudah tak tinggal lagi dengan Lysa. Yuki kini tinggal bersama Torin di Amerika dan membantu meneruskan usaha peninggalan Giamoco di mana Nandra tak bisa mengelola semuanya. Yuki tak lagi membantu Lysa sebagai CEO di Perusahaannya.
Lysa paham dengan kehidupan kawan semasa mereka berdua berlatih bersama di Camp Militer. Lysa merelakan kawannya untuk menikmati masa depannya bersama Torin, di mana keduanya sudah yatim piatu.
Hanya anggota The Eyes yang dijadikan bodyguard saat Tobias mengajak Fara keluar dari apartemen untuk berbelanja, makan di luar, atau sekedar berjalan-jalan.
Tobias terlihat tak takut mengajak anak perempuannya di tempat umum, meski mereka berdua menjadi pusat perhatian karena gaya Tobias yang tak lazim.
Pria itu hanya memakai kaos dalam seperti sengaja memperlihatkan tatonya. Ia memakai celana jeans panjang dengan sepatu boots setinggi mata kaki, tapi terlihat jelas, jam tangan bermerek di pergelangan tangan kirinya, ikat pinggang dari kulit buaya asli, kalung emas dan cincin pernikahannya.
Tobias yang tak berpengaman itu, sangat mudah sekali diserang. Hal itu, membuat anak buahnya waspada.
"Ice cream?" tanya Tobias seraya menunjuk sebuah toko yang menyajikan makanan dingin itu kepada puterinya saat melewati trotoar.
"Ehem," jawab Fara imut dengan anggukan.
Fara yang belum pernah mencicipi ice cream sebelumnya dibuat melongo dengan warna-warna indah dari tiap baskom makanan dingin itu.
Tobias memesan ice cream vanilla untuk anak perempuannya, dan pria bertato itu memesan rasa stroberi untuk dirinya.
Kepala Fara langsung bergeleng-geleng saat merasakan sensasi dingin dari ice cream cone di mulutnya.
Tobias terkekeh karena ekspresi lucu anaknya yang terlihat kaget, tapi terus menjilati makanan lembut itu.
Perlahan, Fara mulai terbiasa. Ayah anak itu terlihat gembira saat menikmati ice cream di sebuah toko di kota Cologne di siang terik berdua saja.
Tobias bahkan membiarkan mulut Fara belepotan saat menyantap makanan yang terasa manis itu.
Para anggota The Eyes berjaga di luar toko saat bos mereka menghabiskan waktunya bersama sang buah hati. Tobias, menatap Fara saksama usai menikmati ice cream vanilla-nya.
"Hei, mata bulat. Kau tahu, Daddy sangat menyayangimu. Kau manis seperti ice cream. Kau gendut dan pendek. Meski terkadang, tangisanmu membuat Daddy ingin terjun dari atas apartemen. Kau tahu, kau berisik," ucapnya seraya mentoel-toel pipi gembul anak gadisnya dengan wajah garang.
Fara menatap Tobias lekat dengan mata bulatnya dan tetap asyik menjilati ice cream. Tobias terkekeh melihat tingkah anaknya yang cuek saat diajak bicara.
"Kau mirip denganku, Gendut," ucap Tobias menatap anak gadisnya sendu lalu mencium kepalanya penuh kasih hingga matanya terpejam. "Ingatlah aku, Fara. Semua hal gila yang pernah kulakukan karena aku tak ingin kau sepertiku. Biarlah semua keburukanmu, aku yang menanggungnya. Kau tak akan sedih dan menderita karena semua kesialan yang akan menimpamu nanti, sudah kugantikan," ucapnya sembari meletakkan salah satu pipinya di kepala sang anak. Fara terdiam dan tetap fokus menikmati ice cream-nya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Hari ini up 1 eps aja ya karena brankas koin kosong. kwkwkw😆Puanjang ini epsnya sengaja gak lele pangkas. Tengkiyuw lele padamu😍