4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Singgah*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE/boatinternational.com



----- back to Story :


Yacht Tobias, Porto Cervo, Costa Smeralda, Sardinia, Italia.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Toby, gawat. Lysa mulai menunjukkan gejala kembalinya daya ingat," ucap Damian melaporkan saat Tobias dan timnya kembali ke kapal.


Tobias segera masuk ke dalam kamar dan ia melihat Lysa seperti orang panik, memegangi kepalanya dengan wajah pucat. Tobias menatap Lysa tajam dari balik pintu.


"Akan kuatasi. Jangan masuk," tegasnya dan semua orang mengangguk.


Para pion berjaga di luar kamar untuk mengamankan sekitar. Tobias mendekati Lysa dengan senyum terkembang sembari melepaskan kancing di lengan kemeja putihnya.


"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Tobias terlihat tetap tenang sembari memegang pinggul wanita pujaannya itu.


"Kepalaku ... sakit," jawabnya dengan kening berkerut.


"Hem. Aku tahu. Sebaiknya kau tidur saja," pinta Tobias sembari merebahkan Lysa di ranjang. "Better?" tanya Tobias sembari memijat kepala Lysa lembut.


Lysa menggeleng dan memeluk Tobias erat. Tobias menarik nafas dalam. Ia terlihat ragu saat menatap koper yang berisi banyak pil pemberian dari Tessa.


"Sakit sekali, Toby," rintih Lysa meremat kepalanya kuat hingga rambutnya berantakan.


Tobias diam menatap Lysa seksama yang memejamkan matanya erat.


"Kita akan cari obatnya, Sayang. Bertahanlah," jawab Tobias memegang wajah Lysa dan menatapnya sendu.


"Aku kenapa, Toby? Apakah aku sakit?" tanya Lysa sedih dengan mata berlinang.


"No, sakit apa? Kau baik-baik saja," jawabnya menyangkal.


"Biasanya Daido memberikanku vitamin. Berikan aku vitamin itu, aku selalu merasa lebih baik jika meminumnya. Apakah vitamin itu sudah habis? Tak bisakah kita membelinya? Ataukah harus dengan resep khusus dari dokter?"


Lysa diam seketika saat Tobias menciumnya lekat hingga matanya terpejam. Lysa menatap Tobias dalam yang mengusap bibirnya lembut dengan ibu jarinya.


"Percaya padaku. Kau akan baik-baik saja. Aku akan menemanimu," ucap Tobias tersenyum dan Lysa mengangguk pelan.


Namun, Lysa tak kunjung tidur. Ia semakin merintih karena merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Tobias kebingungan meski tetap mencoba untuk tenang.


Akhirnya, Tobias mendatangi koper berisi obat pemberian dari Venelope. Namun, ia hanya memegangi botol itu. Tobias terlihat ragu ketika akan membuka penutup botol tersebut.


"Oh! Kau mendapatkannya? Berikan padaku, Toby. Kepalaku sakit sekali," pinta Lysa saat melihat Tobias memegang botol kaca berisi banyak pil.


Namun, Tobias menyembunyikannya di balik tubuh dengan satu tangan. Mata Lysa melebar, ia tak percaya jika Tobias tak mau memberikan obat itu untuknya.


"Toby! Apa kau tak lihat aku kesakitan? Kau ingin membunuhku?" tanya Lysa masih memegangi kepalanya dengan satu tangan dan kening berkerut.


"Ini ... ini bukan obat itu. Ini lain," jawabnya gugup.


"Apa itu bisa menyembuhkan sakit kepalaku? Jika ya, berikan Toby. Please ... ini sangat menyakitkan," pinta Lysa dengan sangat seperti akan menangis.


Toby menggeleng cepat. Ia malah memasukkan botol itu kembali ke koper dan menutupnya. Lysa terkejut. Tobias membuka pintu dan melemparkan koper tersebut.

__ADS_1


Pion Darion yang berada di luar terkejut saat Lysa terlihat berantakan seperti berusaha untuk mengambil koper di lantai.


"NO! Kau tak boleh meminumnya!" teriak Tobias menahan tubuh Lysa dari belakang yang berusaha keluar untuk mengambil koper.


Para pion bingung saat Lysa sampai jatuh dan merangkak untuk mengambil koper yang tergeletak di lantai, samping kaki Daido.


"Singkirkan koper itu, Daido! Jangan biarkan Lysa meminumnya!" teriak Tobias memegangi tubuh Lysa erat yang berusaha merayap keluar ruangan.


Daido segera mengambil koper itu dan membawanya pergi entah kemana.


"NO! Berikan padaku, Daido! Berikan padaku!" teriak Lysa meronta dengan air mata menetes.


Tobias memegangi Lysa erat, tapi Lysa malah memukulinya, berusaha melepaskan dekapan kuat Tobias di tubuhnya.


"Kau jahat sekali, Toby. Hiks, kau sengaja membiarkanku mati. Kau kejam," tangis Lysa yang kini duduk di pangkuan Tobias, saling berhadapan.


"Tidak, Sayang. Jika kau meminumnya, kau malah akan mati. Orang itu tak membuat vitamin lagi untukmu. Obat untuk sakit kepalamu sudah tak ada," jawabnya sedih.


Lysa menangis. Tobias memeluk Lysa erat terlihat begitu kecewa.


"Jangan khawatir, masih ada satu tempat yang bisa menyembuhkanmu. Namun, berjanjilah padaku. Kau tetap mencintaiku jika sembuh nanti. Oke?" pinta Tobias dan Lysa mengangguk cepat.


Tobias tersenyum dan mencium bibir Lysa sangat lama terlihat seperti akan kehilangannya.


"Aku sungguh tak tega melihat kau menderita seperti ini, Lysa. Apa yang salah denganku? Padahal dulu ... aku tak peduli kau hidup atau mati," ucapnya sembari meraba wajah wanita yang duduk di pangkuannya dengan berlinang air mata.


"Kenapa begitu?" tanya Lysa sedih.


"Karena kau mencintai orang lain. Aku membencimu. Kau juga membenciku. Kita saling membunuh, tapi ... setelah kau pergi dariku, aku merasa kehilangan. Lalu pada akhirnya, kau membenci pria yang kau cintai itu. Entah kenapa, aku senang mendengarnya. Dan kini, kau ada di sini bersamaku. Aku bahagia," jawab Tobias sembari menghapus air mata di wajah cantik wanita pujaannya.


"Kau bahagia hidup bersamaku?" tanya Lysa lirih menatap wajah Tobias dalam.


Tobias mengangguk. "Aku merasa seperti orang normal ketika bersamamu di mana di luar sana, orang-orang menyebutku gila," jawabnya terlihat sedih.


"Toby, kita mau kemana?" tanya Dakota yang kini berdiri di depan pintu kamar di mana Tobias dan Lysa masih duduk di lantai.


"Filipina," jawabnya lesu.


Dakota mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan. Tobias tersenyum dan Lysa membalasnya dengan senyuman yang sama.


Tobias berdiri dengan Lysa dalam gendongannya. Lysa terkekeh karena tak menyangka jika suaminya cukup kuat menggendongnya dari posisi duduk.


Tobias menutup pintu dan kembali merebahkan Lysa di kasur.


"Aku hanya memiliki obat sakit kepala ringan. Setidaknya, yah mungkin ... ini bisa menolongmu sebentar," ucap Tobias membuka laci samping kasur dan menunjukkan obat tersebut.


"Ya, aku mau. Ini sakit sekali, Toby," jawabnya dengan anggukan.


Tobias segera mengambilkan minum untuk Lysa meminum obat. Meski Lysa masih terlihat kesakitan, tapi ia tak mengerang lagi.


Perlahan, Lysa tertidur lelap. Tobias lega. Ia tak pernah setegang dan sepanik ini sebelumnya bahkan ia terlihat begitu lelah karena menemani Lysa seharian di kamar.


TOK! TOK!


Tobias yang hampir tertidur karena memijat kepala Lysa sedari tadi segera beranjak dan membuka pintu. Pion Darius membawa sebuah nampan berisi makan malam untuknya.


Tobias terlihat letih dan meminta Darius membawanya masuk. Darius melihat Lysa tidur dengan lelap meski terlihat pucat.


"Kau yakin, ingin membawa Lysa padanya?" tanya Darius terlihat serius.

__ADS_1


"Apa kau punya opsi lain? Jika ya, aku sangat membutuhkannya," jawab Tobias.


Darius diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.


"Oh, ada. Aku rasa, dia bisa menolong Lysa," jawab Darius dan kening Tobias berkerut seketika.



Port Marina SMIR, Casablanca, Morocco.


Mereka tiba keesokan harinya. Siang itu, Pion Darius dan Daido terlihat seperti menunggu kedatangan seseorang di dermaga.


Mereka bicara dalam bahasa Mandarin.


"Di mana dia?" tanya gadis berwajah Asia yang datang dengan sebuah helikopter setelah dijemput oleh pion Darwin dan Dexter.


"Di dalam. Hanya saja kami khawatir jika ia mengenalimu," jawab Daido serius.


"Oke. Aku sudah menyiapkannya," jawabnya santai.


Di dalam kapal, kamar yang Lysa tempati bersama Tobias.


"Dokter sudah datang," ucap Pion Darion masuk ke kamar. Tobias mengangguk. Lysa sudah terlihat pucat, berbaring di ranjang.


Gadis Asia itu masuk dengan penyamaran. Tobias tersenyum tipis saat wanita itu menggunakan kacamata, kerudung seperti wanita muslimah dan masker penutup wajah serta sarung tangan karet di kedua tangannya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Salam. Inikah Nona Lysa? Bagaimana keadaan Anda hari ini. Hem, kulihat sepertinya Anda kurang sehat," ucap wanita Asia itu dengan aksen sengaja dibuat seperti orang Timur Tengah.


"Help, please. Kepalaku sakit sekali," jawabnya lesu dengan pandangan sayu.


"Aku mengerti," jawabnya dengan senyuman tak terlihat di balik maskernya.


Tobias diam menatap gerak-gerik wanita Asia itu saat memeriksa kondisi Lysa dengan stetoskop, mengecek tekanan darah, menyenter dalam mulut dan matanya.


"Aku harus mengambil sampel darahnya," ucapnya menyiapkan jarum suntik dan Tobias mengangguk mengizinkan.


Lysa mengerutkan kening saat jarum tajam itu menusuk kulit halusnya di dekat lipatan tangan balik siku.


Wanita itu lalu menyimpan darah Lysa dalam sebuah kotak khusus yang akan ia teliti nantinya.


"Aku hanya bisa memberikan infus dan penetral racun untuk sekarang," bisik wanita itu ke arah Tobias.


"Penetral racun? Tidak bisa," tegasnya.


"Kau ingin kehilangan bayimu?"


"What?"


"Lysa hamil. Namun, baru bisa dipastikan dengan USG atau tes urin. Entah aku harus memberikanmu selamat atau berduka untuk kali ini?" jawab wanita itu menatap Tobias tajam.


Tobias diam seketika terlihat shock dengan penuturan Dokter tersebut.


***


tengkiyuw tipsnya~ lele padamu💋💋💋


__ADS_1


yang belom masuk GC (grup chat) di mangatoon segera ya. Jadwal Update lele selalu share disana dan info lainnya. Trims~



__ADS_2