
Tiba-tiba saja, BLUARRR!!!
Jonathan dan Cassie terpental gelombang ledakan hingga tubuh mereka menghantam dinding kuat.
Koper-koper yang dibawa mereka ikut terlempar. Cassie dan Jonathan berusaha bangkit untuk melihat siapa biang kerok dari kerusuhan ini.
"Hah, hah, Jo-Jonathan ... Jonathan bangun cepat!" pinta Cassie dengan napas terengah saat ia berhasil bangun, meski tubuhnya luka-luka.
Jonathan yang pusing karena suara ledakan, membuatnya seperti orang linglung. Ia jatuh bangun dan terlihat kesulitan untuk berdiri.
"Agh!" erang Cassie saat rambutnya dijambak kuat hingga wajahnya menantang langit. Seketika, mata gadis cantik itu membulat penuh saat melihat siapa dalang peledakan ini. "Jonathan!" teriak Cassie lantang saat tubuhnya didekap kuat dan CLEB! BRUKK!
Jonathan yang merasakan terpaan angin kuat di atas tubuhnya segera menaikkan pandangan.
Praktis, matanya melotot saat melihat kekasihnya terkulai lemas dalam keadaan tak sadarkan diri.
Cassie dibawa oleh seorang pria yang selama ini menjadi buruan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.
"MILES!" teriak Jonathan marah.
Pemuda itu langsung menarik pistol di balik pinggangnya. Saat ia siap membidik ayah dari Cassie yang masih bergelantungan dengan tali pengait helikopter, Miles mengarahkan moncong pistol di kepala sang anak. Jonathan terkejut dan tangannya gemetar hebat.
"Bawa Vesper padaku. Peperangan ini bukan untuk kau, atau saudara-saudarimu. Serahkan Vesper dalam keadaan hidup dan akan kukembalikan Cassie padamu. Waktumu hanya sampai akhir Desember. Gagal, akan kukirimkan Cassie dalam peti mayat," ucap Miles dengan seringai di akhir kalimat.
"Kau tak mungkin membunuh anakmu! Cassie darah dagingmu!" teriak Jonathan tak percaya dengan ancaman Miles. Namun, DOR! "Cassie!" teriak Jonathan lantang dan langsung menjatuhkan pistolnya.
Napas Jonathan tersengal. Ia seakan kehilangan seluruh kemampuan dan keberaniannya karena Miles tega menembak sang anak di kaki.
Cassie yang tak sadarkan diri tak merasakan sakit itu. Namun, Jonathan bisa melihat paha sang kekasih berdarah hebat karena luka tembak tersebut.
"Ingat kata-kataku, Jonathan! Akhir Desember, atau kau akan melihat akhir dari hidup Cassie. Kau gagal, kematiannya akan menjadi penyesalan seumur hidupmu! Hahahaha!" tawa Miles penuh kemenangan.
Miles dan Cassie ditarik ke pintu helikopter di mana benda terbang itu membawa mereka pergi menjauh.
Jonathan tergolek lemas di atas jalanan gang belakang restoran. Ia terlihat sedih meski kali ini berusaha untuk tak menangis.
"Harghhh! Miles!" teriaknya marah hingga seluruh otot tubuhnya menegang.
Jonathan yang merasa harus bergerak cepat menemukan ibunya, segera menarik tiga koper itu sendirian menuju keluar gang. Ia memberhentikan taksi yang akan mengantarkannya ke rumah sakit.
Namun, tanpa sepengetahuan Jonathan, ada banyak mata yang mengawasi pergerakan mereka sedari tadi di kejauhan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Juragan. Your guess is right. You are great," puji salah seorang pria dengan gelang pemenggal di pergelangan tangan.
Pria itu memuji lelaki berkepala botak di sebelahnya yang sedang meneropong.
"Ya dong, Juragan Eko. Yang kaya gini gampang ketebak. Akhirnya, si Miles nongol juga setelah sekian lama Eko buru. Eko yakin, kalau dia itu ngincer si Jojon," jawabnya mantap sedang mengintai dari sebuah apartemen dekat restoran Jonathan di lantai 10.
"Then ... what should we do next?" tanya salah seorang pria dengan pakaian olah raga berpura-pura sedang berlari di sekitar lokasi kejadian.
Semua pria yang tak bisa berbahasa Indonesia itu menggunakan alat translator di telinga mereka.
Praktis, kawasan itu langsung ramai oleh sipil yang tinggal di sekitar restoran Jonathan karena suara ledakan yang dahsyat.
__ADS_1
"Seperti rencana Juragan Eko. Kita bagi jadi dua tim. Tim A pergi ngawasin si Jojon. Lalu tim B, pergi dengan Eko yang bertugas sebagai pemimpin kalian langsung. Tim B akan menguntit Cassie. Mumpung Miles belum jauh dan masih kelacak sensor kita. Jadi, kita kemon," jawab Eko mantap.
"Yes, Juragan!" jawab kesepuluh dari anggota pasukan pria tampan yang kini menjadi anak buah Eko.
Eko segera masuk ke mobil dan duduk di bangku tengah. Biri-biri memangku sebuah tablet yang terkoneksi dengan pelacak yang terpasang dalam tubuh Cassie.
Diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu, Vesper sudah menugaskan kepada petugas medis yang membantu Cassie melahirkan untuk memasang pelacak di tubuhnya.
Vesper yang sudah hafal tabiat Cassie karena sering menghilang, ditambah gadis itu kini percaya padanya, membuat ibu dari Jonathan terpaksa menandai salah satu keturunan Flame tersebut agar tak kehilangan jejak.
Petugas itu memasang alat tersebut di bagian paha dalam dekat pangkal, saat Cassie sedang dijahit usai melahirkan. Cassie yang dalam keadaan lemah, tak sadar akan hal itu.
Vesper mempercayakan pelacakan itu kepada Amanda karena alat tersebut terkoneksi dengan GIGA SIA.
Amplop merah maroon yang Vesper tuliskan, meminta Eko untuk mengawasi dan melindungi Cassie.
Hanya saja, Vesper sengaja meminta agar Cassie diculik oleh Miles. Tentu saja, Eko terkejut saat mendapatkan tugas itu.
Kini, Eko semakin akrab dengan Q karena kawan Amanda itu dipercaya untuk mengawasi pergerakan Cassie selama ini.
Meskipun terkesan keji karena mengumpankan Cassie, tapi dengan hal itu, markas Miles akan terungkap dan semua petaka yang ditimbulkan olehnya bisa cepat diakhiri.
Amanda dan Vesper sepakat untuk mengakhiri perang dendam yang tak berkesudahan karena hal itu telah merenggut orang-orang yang mereka cintai.
"Untung Eko mafia, jadi hal kejem seperti ini udah biasa walaupun berkesan gak berhati nurani," ucap Eko pada diri sendiri, tapi ucapannya didengar oleh anak buahnya.
"Execuse me, Juragan?" tanya Enceng Gondok menoleh ke arah bosnya.
"He? Siapa yang ngajak ngomong kamu? Kegeeran. Fokus itu liat GPS. Awas aja sampai ilang. Eko jadiin kamu umpan buat mancing Miles lagi," tegas Eko langsung mengaum.
"Jangan ada satu pun dari kita yang boleh ketauan sama si Miles. Pakai semua alat-alat yang kita punya. Jaman udah canggih, gak perlu terjun langsung. Irit nyawa," ucap Eko yang terlihat santai melihat keempat anggota timnya sibuk mengerahkan mini RC, Galundeng, CD, dan juga tikus peninggalan dari didikan Tora.
"Juragan, Miles meninggalkan hanggar. Ada sebuah yacht yang sudah siap membawa mereka. Sepertinya, luka tembak di kaki Cassie sudah diobati selama di helikopter," ucap Ulat Bulu menginformasikan dari tampilan tablet mini RC.
KRAUK!
"Good, good. Biarin aja. Biarin Miles lakuin yang dia suka. Gak usah dihalang-halangi. Suka-suka dia, tapi jangan sampai kehilangan jejak. Awas ilang, Eko sunat kalian pakai bambu," ancam Eko seraya menikmati rengginang yang dibawakan oleh Dewi saat ia tahu jika suaminya akan bertugas dalam waktu lama.
"Yes, Juragan!" jawab kelima orang itu serempak.
Eko melihat pergerakan dari hasil pantauan anak buahnya yang menggunakan alat-alat Vesper Industries.
Sebuah layar tablet 14 inch di hadapannya menampilkan pergerakan dari empat kamera alat-alat tersebut.
Eko terlihat santai menjalankan misi dan bergaya layaknya bos besar seraya menikmati cemilan.
Sedang di tempat Jonathan berada.
Pemuda itu tampak kacau. Ia duduk terlihat frustasi saat menunggu Click and Clack yang masih beristirahat di ranjang pasien. Hingga akhirnya, pemuda itu keluar kamar lalu mendatangi meja para perawat bertugas.
"Suster. Jika boleh tahu. Kapan dua paman saya bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Jonathan tampak tergesa.
"Belum bisa dipastikan," jawab Suster tersebut.
"Kenapa tidak bisa dipastikan?! Bukankah mereka sudah diperiksa? Pasti ada perkiraan waktunya! Aku tak punya waktu lama untuk terus-terusan menunggu di sini?!" ucap Jonathan tiba-tiba berteriak terlihat marah.
__ADS_1
"Tuan. Ini rumah sakit, Anda tidak boleh—"
"Aku tidak peduli!" potong Jonathan cepat dan tetap bernada tinggi dalam bicara. Semua suster yang bertugas terlihat marah tak menyukai sikap dari Jonathan. "Aku harus pergi. Jika dua pamanku tak bisa disembuhkan dengan cepat sampai akhir minggu ini, aku akan bawa mereka pergi secara paksa. Aku tak peduli dengan rawat jalan atau semacamnya," tegas Jonathan. Para suster masih diam seperti enggan berdebat dengan pemuda itu. "Kapan dokter datang untuk melakukan pemeriksaan?"
Salah satu suster yang terlihat masih berusaha untuk tetap tenang melihat jadwal di komputernya.
"Hari ini pukul 10 pagi," jawab suster itu pelan, tapi terlihat malas.
Jonathan tak menjawab dan langsung pergi begitu saja dengan langkah gusar. Para suster berbisik seperti membicarakan sikap dari Jonathan yang tak santun itu.
Jonathan mengembuskan napas keras. Ia terlihat tak bisa bersabar karena takut jika Cassie akan disakiti oleh ayahnya. Namun, ia tak menyangka jika Miles menginginkan ibunya sebagai bahan pertukaran.
Jonathan stress, ia tertekan. Ia bingung dengan pilihan sulit yang harus diterimanya. Hingga pikiran gila kembali menghampiri dirinya.
"Mama 'kan sudah tua. Kata Cassie juga mama sudah gak bisa ditolong lagi. Mama gak mungkin berumur panjang. Sedang Cassie, dia harus hidup. Dia ibu dari anakku. Nathan juga gak tahu di mana bayiku sekarang. Satu-satunya jalan dengan menemukan mama. Jika mama tidak mau menyerahkan dirinya untuk menukar Cassie, terpaksa Nathan harus lakukan cara kasar. Mama seharusnya merelakan dirinya ditukar, toh umurnya tak lama lagi. Sudah seharusnya ia nyusul papa Erik," ucap Jonathan dengan pandangan kosong, tapi mulutnya begitu lancar berbicara.
Jonathan sudah memantapkan hatinya. Ia seperti orang yang mengalami depresi. Sikapnya menjadi aneh saat menjaga Click and Clack.
Jonathan menyalakan televisi seraya menikmati cemilan yang ia bawa dari restoran hasil pembelian Cassie untuk persediaan.
Hingga akhirnya, dokter datang untuk melakukan pemeriksaan, tapi ia dan suster terkejut karena tempat itu menjadi kotor penuh dengan bungkusan makanan dan remah-remah di lantai.
"Tuan Jonathan!" panggil Dokter dengan intonasi tinggi.
Jonathan yang merebahkan tubuhnya di sofa panjang menoleh malas. "Oh, sudah datang? Ya sudah, cepat periksa. Aku sudah bilang kepada suster yang bertugas. Akhir minggu ini dua pamanku harus sudah keluar dari rumah sakit. Jika tidak, aku akan membawa mereka pergi. Suka tidak suka, aku memaksa," ucap Jonathan dengan wajah dingin dan masih memegang bungkusan cemilan.
"Sikap Anda— Oh!" kejut Dokter itu langsung mengangkat kedua tangan termasuk suster pendamping.
Wajah dua orang itu pucat seketika saat tiba-tiba saja Jonathan menodongkan pistol ke arah mereka berdua.
"Kau ingin bilang apa, Dokter? Tidak bisa? Hem, kalau begitu aku juga tidak bisa membuatmu bekerja di rumah sakit ini lagi. Kau, tidak kompeten. Kau, tidak profesional. Jadi, kuberikan waktu sampai akhir minggu untuk menyembuhkan dua pamanku. Kau gagal, akan kudatangi keluargamu dan kubunuh mereka satu per satu di depan matamu. Kau paham?" ucap Jonathan yang kini berdiri dengan pistol dalam genggaman tangan kanan di arahkan ke wajah dokter malang itu.
Dokter itu terlihat gugup dan tak menjawab. Jonathan mendatangi dokter tersebut dengan langkah cepat dan tetap mengarahkan pistol. Suster itu ketakutan dan menutup matanya dengan tangan terangkat ke atas.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya Dokter itu panik saat Jonathan mengambil ponsel dari saku celananya.
"Pasti nomor anggota keluargamu ada di ponsel ini 'kan? Jangan macam-macam. Sampai kudengar polisi datang kemari, mencoba menangkapku, atau dua pamanku, kupastikan, saat kau pulang, kau akan melihat kematian di depanmu. Kau mengerti, Dokter?" tegas Jonathan tetap tenang dengan wajah datar.
"A-aku mengerti," jawabnya gugup.
"Kau mengerti, Suster?" tanya Jonathan yang kini mengarahkan ujung pistol ke tubuh wanita malang itu.
"Ya, aku mengerti," jawabnya seraya menahan tangisan.
"Good. Periksa dua pamanku. Jangan coba-coba membuat mereka buta atau terluka semakin parah. Ingat konsekuensinya," tegas Jonathan dan dua orang itu mengangguk dengan tubuh gemetaran.
Dokter dan suster itu segera melakukan pemeriksaan meski terlihat panik. Jonathan mendekati suster dan mengambil ponsel yang juga ia simpan dalam saku roknya.
Suster itu terkejut, tapi tak bisa melakukan perlawanan. Jonathan menyita ponsel dua orang itu sebagai jaminan sampai dua pamannya disembuhkan.
"Password," pinta Jonathan untuk sandi membuka ponsel dokter dan suster itu. Terpaksa, dua petugas itu memberikannya. "Bilang saja ponsel kalian hilang," ucap Jonathan saat dua orang itu akan keluar dari ruang perawatan. Dokter dan suster itu mengangguk lalu menutup pintu. "Menyusahkan saja," gerutu Jonathan lalu kembali merebahkan diri dan melanjutkan menonton televisi.
***
__ADS_1
aduh perutnya nyut2an uyy gegara minum jahe😩 maksud hati biar mualnya ilang malah bikin sakit. ya wes lele rehat dulu. ini lele setor jam12 malem entah upnya jam berapa. tengkiyuw tipsnya lele padamu❤️ epsnya puanjang uyy bonus nih~