4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Nama Lain*


__ADS_3

Usai pelimpahan pekerjaan, semua orang kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun, Naomi merasa jika sikap Jordan lain dengannya.


Naomi mengikuti Jordan sampai ke kamar dan salah satu putera Boleslav tersebut membiarkan gadis Jepang itu masuk ke kamarnya.


"Jordan. Apa ada yang mengganggumu?" tanya Naomi gugup karena Jordan seperti mengabaikannya sedari kemarin. "Jordan ..."


"Kau masih mengharapkannya."


"Apa maksudmu?" tanya Naomi mendekatinya.


Jordan langsung membalik tubuhnya dan menatap Naomi tajam. Gadis cantik itu terkejut dan mundur sampai terpepet tembok karena Jordan terus melangkah maju.


"Kau bahagia karena Arjuna tak jadi menikah dengan Tessa. Jangan bohong padaku, aku bisa melihatnya," jawabnya tegas dan Naomi langsung tertunduk.


Jordan makin merapatkan tubuhnya hingga Naomi bisa merasakan nafas kekasihnya yang berhembus di kulitnya.


"A-aku ...."


"Apa kau menantikan kedatangannya kembali? Jika ia memintamu untuk menerimanya, apa kau akan mengabulkannya? Kau akan meninggalkanku?" tanya Jordan menatapnya lekat.


Naomi kebingungan. Terlihat jelas, raut wajah kesedihan di paras remaja tampan itu.


"Kau terlalu banyak mengatakan hal baik tentang diriku, Naomi. Tak ada gadis manapun yang bisa menerima keadaanku sebaik kau, bahkan Sandara sekalipun. Akan sangat mengecewakan jika kau harus pergi dari sisiku dan melihatmu bersama pria yang pernah menyakiti hatimu," ucapnya sedih.


Naomi terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat Jordan seperti akan menangis. Naomi menatap mata Jordan dalam.


"Aku sangat menyukaimu, Naomi. Aku tidak mau kau kembali ke pelukan Arjuna apapun alasannya. Aku tak akan mengizinkannya!" ucapnya lantang dengan mata berlinang dan nafas menderu.


Naomi memegang wajah Jordan dengan penuh haru. Ia merasa begitu diinginkan tak seperti tuan mudanya yang menarik ulur perasaannya.


"Aku tak mengatakan apapun, Jordan. Jangan berburuk sangka," jawab Naomi lirih.


"Aku bisa membaca dari mata dan raut wajahmu. Kau masih mencintainya. Bagaimana bisa kau mencintai orang yang sudah menyakiti hatimu? Apa kau tak bisa melihat ketulusanku?"


Tanpa disadari, mulut Naomi menganga mendengar pengakuan Jordan yang bagaikan mimpi.


Naomi tersenyum lebar dan mengecup kening Jordan lembut. Putera Boleslav tersebut diam saat Naomi perlahan memeluknya.


"Jangan meragukanku. Aku minta maaf jika yang kuberikan belum sesuai dengan kemauanmu. Namun percayalah, sakit hatiku pada Arjuna, tak akan membuatku kembali padanya," jawab Naomi pelan seraya mengelus kepala Jordan lembut.


"Kupegang janjimu, Naomi. Jika kau sampai kembali pada Arjuna, jangan salahkan jika aku akan menghajarnya sampai mati dan menyeretmu kembali padaku," ucapnya tegas.


Naomi terkejut, tapi ia tahu jika Jordan serius dengan pernyataannya. Naomi melepaskan pelukan dan tersenyum manis pada kekasihnya.


"Selamat malam, Jordan. Sampai bertemu besok pagi," ucapnya ramah.


KLEK!

__ADS_1


Naomi tersentak. Jordan mengunci pintu kamarnya dan malah menggandeng Naomi ke tempat tidur. Jordan langsung merebahkan diri dan memposisikan tubuhnya seperti ketika Naomi sakit waktu itu. Naomi gugup.


"Kenapa diam saja? Haruskah aku menyeretmu kemari?" tanya Jordan menatapnya tajam.


Naomi menghela nafas karena canggung. Ia menarik selimut perlahan seraya meletakkan kepalanya ke lengan Jordan sebagai alas.


"Selamat malam, Cantik."


CUP.


Jordan mengecup kening dan memeluknya erat serasa tak ingin ditinggalkan. Naomi tersenyum tipis. Wajahnya bersemu merah.


Ucapan Jordan praktis membuat debaran jantungnya makin tak karuan. Ia merasa Jordan sungguh mencintainya meski terkadang sikapnya aneh dan sulit ditebak.


"Good nite, Jordan," balas Naomi memejamkan mata dengan senyuman.


Di tempat Arjuna berada.


Putera Han tersebut ikut saja ke mana para nelayan membawanya. Arjuna mulai akrab dengan para penghuni kapal penangkap ikan tersebut meski mereka belum mengetahui namanya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Jadi ... siapa namamu, Anak muda?" tanya pria bertubuh gemuk dengan jambang dan kumis tipis bernama Samuel, pemilik kapal.


"Oh, aku ...," jawab Arjuna menggantung. Ia masih ragu dengan para pria yang ditemuinya di tengah laut itu. "Jun. Kim, Jun, Sea," jawabnya kaku dan diakhiri dengan senyum paksa.


"Sea," jawabnya kikuk.


"Oke, Sea. Bisa kau jelaskan bagaimana kau berada di lautan sendirian malam kemarin?" tanya pria yang memperkenalkan dirinya bernama Jose.


"Well ... aku ... sebenarnya adalah pekerja di sebuah kapal pesiar," jawabnya mulai mengarang secara spontan. Jose dan awak kapal lainnya serius menyimak. Arjuna gugup. "Lalu ... aku membuat kesalahan dan dilempar dari atas kapal."


"What?! Kejam sekali. Namun kuakui, kau sungguh hebat, Sea. Kau bisa bertahan dan beruntung tak ada hewan laut memakanmu," pekik Miguel.


Arjuna tersenyum sungkan sembari menggaruk kepala.


"Jujur, Sea. Kami belum pernah berbicara akrab seperti ini dengan orang Asia. Jangan menertawai kami," ucap Samuel.


"Kalian bisa menanyaiku apapun. Aku tak keberatan. Yah, anggap saja sebagai pengalaman baru bisa berbicara dengan orang dari jenisku, Asia," jawabnya sembari menggosokkan telapak tangan di depan tong yang digunakan sebagai api unggun di atas kapal.


"Kau tinggal di mana? Kau tahu 'kan jika kami tak bisa mengantarkanmu sampai batas negara. Kami tak memiliki wewenang itu," tanya Greco, anak buah kapal yang lain.


"Aku akan ikut kalian saja saat berlabuh nanti. Aku ... tak terburu-buru," jawabnya sungkan.


"Dari cara bicara dan sikapmu, aku cukup yakin jika kau anak dari orang berada. Alasanmu yang mengatakan kau seorang pelayan di kapal pesiar rasanya tak sesuai dengan gayamu. Pasti kau playboy, bad boy, mengganggu seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, lalu pria yang memergokimu marah dan melemparkanmu ke laut. Benar begitu 'kan?" tebak Samuel, tapi hal itu membuat Arjuna tertawa terbahak.


Jose dan lainnya ikut tertawa karena bagi mereka alasan tersebut sangat konyol. Arjuna tak menjawab dan membiarkan semua orang berpikir demikian.

__ADS_1


"Apa kau punya orang tua?" tanya Greco dan Arjuna mengangguk.


"Aku punya telepon satelit. Kau bisa menelepon mereka. Tak baik membuat orang tua cemas. Kau punya rumah, pulanglah," tawar Samuel.


Arjuna diam sejenak dengan pandangan tertunduk. Suka cita berubah menjadi keheningan karena sikap Arjuna.


"Ceritakan tentang ibumu. Ibuku sudah tiada, aku ingin tahu kisah dari orang lain tentang ibunya," pinta Jose dan Arjuna menghela nafas panjang.


"Ibuku ... mm, dia memiliki sekolah khusus. Dia memungut mm, maksudku ... dia mengumpulkan orang-orang di jalanan yang tak memiliki rumah, tak punya pekerjaan bahkan ada beberapa dari mereka yang bisa dibilang seperti ... penjahat jalanan," jawab Arjuna gugup sembari mengaduk kopi dengan sendok kecil di cangkir dalam genggamannya.


"Wow. Lalu ... orang-orang itu diapakan olehnya?" tanya Miguel.


"Well. Dia mengajari mereka banyak bahasa. Bisa kau bayangkan, orang-orang itu ber-IQ rendah. Mereka tak suka belajar, tapi ibuku ... berhasil memotivasi mereka dengan cara yang licik," jawab Arjuna seraya menyeruput kopinya sedikit.


"Cara yang licik? Apa yang dia lakukan?" tanya Greco penasaran.


"Dia memberikan hadiah sebagai iming-imingnya. Jika mereka bisa mempelajari bahasa tambahan selain bahasa yang digunakan sehari-hari, ibuku memberikan uang senilai 348 USD (sekitar 5 juta rupiah) dan itu berlaku kelipatannya," jawabnya terkekeh geli.


"Wow! Menurutku itu hebat! Aku juga mau direkrut olehnya," sahut Jose semangat.


"What? 348 USD itu sangat sedikit. Dia sangat kaya, nilai itu tak berarti untuknya. Baginya, seperti memberikan sebuah permen. Lalu herannya, orang-orang itu menyukainya," kekeh Arjuna menertawai sikap ibunya.


Namun, wajah para pria di depannya terlihat masam seperti tak menyukai ucapannya.


"Dengar, Sea. Aku tak tahu apa masalahmu dengan ibumu. Namun yang kutahu, apa yang ibumu lakukan itu sangat menolong orang-orang yang tak memiliki penghasilan, tak berkeluarga dan dianggap sampah bagi masyarakat. Jarang sekali ada manusia baik seperti ibumu," sahut Samuel.


"Ya. Kau akan melihat betapa menderitanya hidup kami di Honduras. Aku yakin, saat kau tiba di rumah kami, kau akan mengerti dan menyadari jika orang-orang yang direkrut oleh ibumu pasti merasa beruntung. Mereka dibina, diberikan tempat tinggal bahkan bonus uang atas apa yang ibumu perjuangkan. Ibumu yang bersusah payah selama ini, tapi ia memberikan hasilnya kepada orang-orang buangan itu. Katakan padaku, Sea. Apa kau tahu apa alasan ibumu melakukan hal yang bagimu merepotkan itu?" tanya Miguel serius.


"Yah. Dia mengatakan ... 'Semakin banyak ilmu yang kalian miliki, nilai guna dari kemampuan akan meningkatkan kualitas dan cara pandang seseorang. Dan yang terpenting, saat aku mati nanti, tanpa diriku pun, kalian bisa melanjutkan hidup karena kalian sudah menjadi manusia yang memiliki nilai plus'," jawab Arjuna mengulang kata-kata ibunya saat mengajar di Camp Militer.


Greco dan semua orang saling memandang dengan senyum tipis saat melihat Arjuna tertunduk menatap lantai kayu yang dipijaknya.


Saat suasana hening karena pembicaraan yang mereka lakukan. Tiba-tiba, datang sebuah yacht mendekat. Jose dan lainnya langsung berdiri dan terlihat gugup.



"Sea. Jangan terlibat. Jika mereka menanyakan kau siapa, katakan saja kau itu ... mm, tukang bersih-bersih kapal. Oke?" ucap Samuel panik dan Arjuna mengangguk pelan.


Arjuna merasa ada hal yang tidak beres dengan pertemuan ini. Ia segera melakukan aksi dramanya dengan mengambil alat pel yang ia temukan di ujung kapal sembari merapikan piring dan cangkir yang mereka gunakan saat duduk mengobrol tadi.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu😍 Yg belom tips segera ya. Lele menunggu😆

__ADS_1



__ADS_2