
Sedang di sisi lain. September Minggu Ketiga.
Jonathan bersama Click and Clack sibuk memastikan seluruh markas yang dimiliki oleh putera mendiang Erik tak dipasangi peledak oleh Miles.
Tentu saja, mereka yang hanya bekerja tiga orang saja merasa letih dan lelah karena tak memiliki anak buah. Jumlah markas Jonathan sebanyak 15 buah dan tersebar di seluruh penjuru dunia.
"Haduh, capek. Nathan gak sanggup lagi," ucapnya mengeluh dengan keringat bercucuran saat mereka mendatangi salah satu usaha legal Jonathan di Minsk, Belarus berupa toko souvenir tradisional negara tersebut.
"Kita sudah mendatangi 5 negara dan tak ada tanda-tanda bom itu dipasang, Jonathan. Sayangnya, masih ada lagi 10 tempat yang harus kita datangi. Kita sudah memasang kamera pengawas di markas-markas yang telah dikunjungi dan terkoneksi dengan tablet-mu. Kita juga menutup usaha itu untuk sementara waktu. Seharusnya, ini sudah cukup untuk meminimalisir serangan Miles sampai pria itu ditemukan," ucap Clack menjelaskan yang tak kalah letihnya.
"Sial, aku sampai mual. Kita mendatangi satu tempat ke tempat lain dalam waktu berdekatan. Aku hampir tak tidur karena waktu kita mendesak," sahut Click seperti orang ingin muntah, tapi ia tahan.
"Semangat, yey," ucap Jonathan meski tubuhnya terlentang dan suaranya malas.
Dua pria gundul itu mengabaikan pemuda itu dan tetap duduk menyender pada dinding untuk mengembalikan stamina.
"Kita bermalam di tempat ini dan akan pergi esok hari. Aku sudah siapkan tiket untuk terbang ke Lithuania esok," ucap Clack seraya mengaktifkan ponselnya dan memesan tiket pesawat untuk mereka bertiga.
"Okey," jawab Jonathan yang kini memejamkan mata.
"Hei, tidur di kamarmu sana. Tempat ini lama tak dibersihkan. Banyak debu dan kotoran hewan," ucap Click, dan pemuda itu akhirnya berdiri meski terlihat malas.
"Okey," jawabnya lagi dengan berjalan gontai menaiki tangga di mana toko itu memiliki dua lantai.
Jonathan menaiki tangga dengan malas menuju ke kamarnya. Pemuda itu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur masih berpakaian lengkap.
"Aduh, gak nyaman. Nathan keringetan. Mandi dulu aja," ucapnya lalu segera duduk dan melepaskan sepatu.
Pemuda itu berjalan dengan mata sayu menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya sembari melepaskan pakaiannya.
Jonathan melirik ke arah setumpuk sepatu 'Valenki' yang disusun rapi sebagai stok tokonya.
Sayangnya, sepatu-sepatu indah untuk musim dingin itu belum terjual karena tokonya terpaksa tutup dan musim dingin belum tiba.
Pemuda itu berjalan lesu mendatangi almari untuk mengambil handuk dan juga pakaian ganti yang sengaja ia tinggalkan di sana sebagai stok jika berkunjung.
BRAKK! BRUKK!
__ADS_1
"Agh! Aduh!" keluhnya saat ia malah menyenggol sepatu-sepatu itu hingga ia jatuh terlentang di lantai dan tertimbun alas kaki tersebut.
"Jonathan!" panggil Click yang bergegas menaiki tangga saat mendengar suara barang jatuh berikut rintihan bos mereka. Clack segera mendatangi Jonathan dan membantunya berdiri.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Clack heran.
Jonathan tak menjawab karena itu keteledorannya. Namun, saat ia menyingkirkan sepatu-sepatu karena mencari handuknya, mata Jonathan melebar ketika mendapati sebuah benda berada dalam sepatu itu.
"Ini apa?" tanya Jonathan heran saat mengambil satu buah sepatu dan melihat isi di dalamnya.
Click and Clack mendekat karena penasaran. Seketika, mata mereka melebar.
"Oh!" pekik keduanya langsung merebut sepatu itu dari tangan Jonathan.
Keduanya terlihat kaget akan sesuatu. Jonathan mengedipkan mata melihat dua pria bertubuh besar di hadapannya.
"Benda apa itu?" tanyanya menunjuk.
"Bukankah ...," ucap Click seperti sebuah pertanyaan kepada Clack seraya mengambil benda berwarna hitam dalam sepatu boot itu.
"Ya. Aku tak menyangka jika benda ini berhasil dibuat. Kaulihat tanda di belakang benda ini?" tanya Clack seraya menunjuk bagian belakang benda berbentuk persegi panjang warna hitam itu. "Ini adalah logo Madam. Jangan-jangan, benda ini yang dimaksud oleh Miles sebagai bomnya," jawab Clack yang membuat Jonathan terperanjat seperti menyadari sesuatu.
"Benda itu bom? Maksudnya ... yang kita cari selama ini? Begitu?!" pekik Jonathan menunjuk benda hitam tersebut, dan dua pria gundul itu mengangguk. "Woah! Kita menemukkannya! Pantas saja sulit dicari. Tak terlihat seperti bom!" sahut Jonathan dan mantan dua algojo Madam mengangguk membenarkan.
"Tau dari mana pager itu jadi bom? Memangnya, pager bisa menerima sinyal dari satelit? Bukannya dari sinyal radio? Apakah ... sudah dikembangkan?" tanya Jonathan bingung.
"Ya! Saat itu, kami berdua memergoki Miles sedang berada di bengkel kediaman Madam di Arizona. Kami semua tahu jika Miles memang ahli dalam memperbaiki atau memodifikasi suatu benda elektronik. Saat Miles meninggalkan bengkel, kami berdua menyelinap ke dalam. Kami melihat dalam buku catatannya dan juga blueprint jika dia ingin membuat sebuah bom jarak jauh dengan memanfaatkan satelit dari perusahaan telekomunikasi milik salah satu Mens untuk .... oh, shitt!" pekik Click yang tiba-tiba memekik dan mengejutkan Jonathan.
"Apa-apa?!" tanya Jonathan antusias.
"Miles akan menggunakan GIGA IGOR dan satelit milik Darwin untuk mengakses benda ini!" seru Clack menyahut dan diangguki oleh Click.
Praktis, mulut Jonathan menganga lebar. "Berapa pager yang berhasil kalian kumpulkan saat itu?" tanya Jonathan dengan mata melotot.
Wajah Click and Clack pucat seketika.
"500.000," jawab keduanya dengan wajah datar.
"Li-lima ratus ribu unit?!" pekiknya dan dua algojo itu mengangguk.
"Itu ... kami dapatkan dari berbagai kota di beberapa negara. Mungkin jika kami lebih tekun lagi bisa mendapatkan lebih. Madam hanya ingin pager yang masih bisa berfungsi, bukan yang sudah rusak," jawab Click dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Untung kalian gak rajin nyarinya. Terus itu ... lima ratus ribu unit bisa ditemuin di mana?!" pekik Jonathan langsung frustasi. Dua pria itu diam terlihat bingung. "Oh! Lalu ... gimana dengan daya ledaknya? Benda itu 'kan kecil, seharusnya, gak begitu besar 'kan saat meledak?" tanya Jonathan.
Click and Clack saling berpandangan. Keduanya memasang wajah malas seperti enggan untuk menjawab.
"Bagaimana dengan kemampuan satu granat mini? Hem, hampir setara. Satu benda ini, bisa membuat kamarmu runtuh, Jonathan," jawab Clack seraya menunjukkan pager hitam tersebut.
Kembali, mulut Jonathan menganga lebar dengan ekspresi terkejut. Tiba-tiba saja, Jonathan mengambil sepatu-sepatu yang berserakan itu dan membaliknya satu per satu. Kening Click and Clack berkerut.
"Jangan diem aja! Siapa tahu benda itu ada di dalam sepatu-sepatu ini!" ucap Jonathan seraya melemparkan sepatu-sepatu yang tak ditemukan pager di dalamnya.
"Tak mungkin Miles meletakkan dalam satu tempat yang sama. Pasti akan acak!" sahut Clack berpendapat.
Jonathan lalu menghentikan aktivitasnya. Ia melihat pager itu lalu matanya beralih ke tumpukan sepatu.
"Oh! Benda itu ada di lantai dua. Bisa jadi, ada yang lainnya di lantai satu! Kita cari di bawah!" serunya cepat dan disetujui oleh dua pria berbadan besar tersebut.
Click and Clack bergegas turun untuk mencari pager dengan logo M di belakangnya. Tiga orang itu terlihat sibuk dan kali ini tak segan mengobrak-abrik isi dari toko karena benda yang mereka cari berukuran kecil.
Diam-diam, Click mengirimkan pesan kepada Kai melalui ponselnya tentang temuan mereka sekaligus memotret pager itu ketika ia beralasan ingin ke kamar mandi.
Tentu saja, kabar mengejutkan itu membuat Kai segera bertindak. Suami termuda Vesper menginformasikan kepada seluruh jajaran untuk mencari sebuah pager di markas dan rumah masing-masing.
Dengan sigap, para mafia itu bergegas untuk menemukan bom tersebut. Kai meminta agar semua pager yang berhasil ditemukan untuk dikumpulkan.
Para mafia memahami hal tersebut dan berjanji akan mengirimkan pager tersebut secara khusus saat berhasil ditemukan.
"Hem, Jonathan. Kerjamu bagus juga. Sayangnya, kapan kau pulang? Aku khawatir, ibumu tak bisa bertahan lebih lama lagi," ucap Kai saat ia mengintip di balik pintu kamar Vesper yang berada di Kastil Hashirama.
Terlihat, sang Ratu memejamkan mata saat menerima transfusi darah dari Han. Kai terlihat iba dan menutup kembali pintu tersebut.
Namun siapa sangka, Vesper menyadari jika Kai tadi mengintipnya. Han yang memejamkan mata seperti tak menyadari jika sang isteri menatapnya lekat.
"Terima kasih, Kak Han. Kau membuatku tetap bertahan sampai saatnya tiba," ucap Vesper lirih menatap Han sendu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya😘Lele padamu😍 Yang lain segera kuy sebelum novelnya tamat😆 Ditunggu tips poinnya juga ya, tengkiyuw💋