
Di sisi lain, Kediaman Darwin, Perancis.
Tobias terlihat pucat karena Lysa sebentar lagi akan melahirkan. Dokter memperkirakan di bulan Agustus.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bagaimana sekarang? Apakah sudah terasa?" tanya Tobias sibuk mondar-mandir terlihat cemas di ruang makan
"Belum, Toby. Apa kau tak bosan menanyakan hal itu setiap hari? Bahkan kau bertanya tiap jam!" tegas Lysa mulai kesal karena suaminya mengusik ketenangannya.
Para Pion dipaksa kembali oleh Tobias karena Lysa akan melahirkan. Rohan pasrah tak berani membantah. Ia mengganti timnya dan kini bekerjasama dengan Yusuke.
Terlihat senyum tipis terukir di wajah Dewi, Obama Otong, King D, dan para Pion karena sikap Tobias yang unik. Terlihat jelas, pria bertato dengan perut buncit itu panik setiap hari sejak memasuki bulan Agustus.
"Aku tak mau seperti kejadian waktu itu. Jika aku mati karena melindungimu, aku rela. Asalkan kau dan bayi kita selamat," ucapnya serius.
"Jangan bicara yang tidak-tidak!" tegas Lysa melotot tajam sampai menghentikan makan malamnya.
Tobias mendengkus keras. Lysa yang menjadi sebal karena suaminya menjadi super posesif, memilih untuk menghabiskan salad buah kesukaannya buatan Dewi.
"Eh, nanti Dewi aja yang beresin, Mbak. Udah, habisin aja makanan lainnya," ucap Dewi saat Lysa berdiri seraya membawa piring kotor.
"Gak papa, Tante Dewi. Mau sekalian cuci tangan," jawab Lysa dengan senyuman.
Tobias ikut berdiri dan menjadi seperti penjaga gawang di belakang sang isteri. Lysa sebal karena sikap Tobias malah membuatnya risih.
"Minggir!" teriak Lysa marah, dan Tobias pun menyingkir memberikan jalan untuk isterinya.
Namun tiba-tiba, Lysa menghentikan langkah seraya menunduk ke arah lantai.
"Oh! Aku tahu air apa itu! Diego, cepat siapkan mobil dan persenjataan! Amankan rute dan hubungi dokter sialan itu!" teriaknya heboh yang membuat semua orang ikut tegang seketika.
"Ketuban?" tanya Dewi seraya beranjak.
Ia mendatangi Lysa dan melihat aliran air mengalir di paha bagian dalam karena Lysa mengenakan dress selutut.
"Sepertinya begitu, Tante," jawab Lysa sembari memegangi perutnya yang besar.
"Yey! King D akan jadi Kakak!" ucap D gembira, dan Otong ikut bertepuk tangan.
Lysa dipapah oleh Tobias menuju ke mobil. Para Pion dibuat sibuk karena bertugas untuk melindungi majikan mereka yang akan melahirkan ke Rumah Sakit.
Dewi segera mengambil tas berisi perlengkapan Lysa usai melahirkan nanti. Segera, Lysa duduk di bangku tengah dengan Tobias menjaganya.
King D, Otong, Jubaedah, dan Dewi berada di mobil lainnya bersama Pion Damian serta Darwin. Sisanya berada di mobil lain untuk menjaga konvoi.
"Jalan, cepat! Cepat!" perintah Tobias tergesa.
Dengan sigap, Pion Diego menginjak gas mobil dan membawa penumpangnya menuju ke Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, dokter dan perawat yang bertugas dibuat panik karena kedatangan pasien yang sampai didampingi oleh banyak orang.
Mereka bicara dalam bahasa Perancis.
"Votre femme ira bien, Monsieur. Fais nous confiance," ucap seorang perawat menenangkan saat Lysa di dudukkan pada kursi roda.
(Istri Anda akan baik-baik saja, Pak. Percayalah pada kami)
__ADS_1
"Awas saja jika sampai anakku cacat, atau isteriku sekarat. Aku yang akan menjadi dokter kalian saat sakit nanti. Ilmu kedokteranku sangat buruk," jawab Tobias mengancam.
Semua petugas medis di sana tercengang akan ucapan Tobias bagaikan preman. Dewi langsung berdiri di depan perawat tersebut mencoba menengahi.
"Mm, do you speak English?" tanya Dewi meringis dan perawat itu mengangguk. Dewi bernafas lega. "Majikan saya hanya merasa panik karena bayinya kali ini adalah perempuan. Ia sangat mendambakannya. Mohon dimaklumi ucapan kasarnya. Dia ... memang seperti itu wataknya."
"Sebaiknya, suami Nyonya Lysa tetap berada di luar saat operasi persalinan berlangsung. Dan, silakan perwakilan dari keluarga untuk mengurus administrasi terlebih dahulu. Nyonya Lysa akan kami bawa ke ruang persalinan," ucap perawat menjelaskan dan Dewi mengangguk paham.
Para Pion, King D, Obama Otong, Jubaedah, Dewi, dan Tobias diminta menunggu di luar. Pion Daido akhirnya yang bertanggungjawab untuk mengurus administrasi ditemani oleh Darion.
"Tenanglah, Toby. Kondisi Lysa lebih baik ketimbang saat ia melahirkan King D," ucap Pion Damian seraya menepuk pundak pemimpinnya yang bertolak pinggang karena marah, tak boleh menemani saat proses melahirkan.
"Itu benar. Hanya saja, rumah kita tak ada yang menjaga. Bagaimana jika aku dan Dexter kembali ke mansion bersama King D, Otong, Jubaedah, dan Dewi?" ucap Pion Diego menyarankan.
Tobias hanya mengangguk. Ia seperti orang sariawan yang enggan berbicara apalagi berkomentar. Terlihat ia begitu serius hingga keningnya berkerut, tapi hal lucu bagi sebagian orang yang melihatnya.
"Pipi. King D mau lihat adik bayi," ucap D enggan pulang ke rumah.
Tobias yang selalu memakai earphone translator di salah satu telinganya, dan tak ada niatan mempelajari bahasa Indonesia itu, menjawab dengan bahasa Inggris.
"Pulanglah. Nanti ketika adikmu sudah lahir, akan Pipi beritahu. Kau harus sekolah, jangan bolos. Kau calon Raja, harus cerdas," ucapnya membungkuk menatap King D tajam.
"Oke," jawab King D menurut meski cemberut. Tobias tersenyum lebar. Ia memegang kepala anak tirinya itu dan mencium keningnya kuat. King D terkekeh.
"Bye, Om Toby," sapa Otong melambaikan tangan seraya menggandeng King D meninggalkan ruang tunggu.
Tobias balas melambai tanpa ekspresi. Para Pion lainnya berjaga seraya menunggu ruang perawatan tempat Lysa nantinya akan tinggal sementara waktu di Rumah Sakit.
"Lama sekali," gerutu Tobias memecah keheningan.
"Baru 30 menit, Toby. Dokternya saja belum datang, masih dalam perjalanan," jawab Pion Dakota terlihat bersabar dengan tingkah Bosnya.
Para Pion menghembuskan nafas ikut tertekan akan sikap Tobias yang tempramental. Pria bertato itu mondar-mandir di depan ruang tunggu dan membuat semua orang yang melintas tertarik untuk meliriknya.
"Toby, jangan menarik perhatian. Bagaimana jika polisi ...."
Dan benar saja. Dua orang polisi muncul dari lift, menuju ke kumpulan orang-orang yang duduk di depan ruang operasi. Pion Dakota langsung berdiri di depan Tobias menjadi tameng.
"Apa ada masalah, Pak?" tanya Dakota dengan bahasa Perancis.
"Kalian sudah dikepung. Jangan mencoba untuk melawan," jawabnya tenang.
"Oh, benarkah? Kalian akan menangkap kami di tempat ini?" tanya Tobias menyahut.
"Kami tahu urusan kalian di tempat ini. Kami berikan kebijakan yang jarang sekali terjadi. Kami masih memiliki sisi kemanusiaan meski kalian adalah penjahat," ucap salah seorang Polisi berambut pirang.
"Kami pastikan isterimu akan melahirkan dengan selamat, begitupula bayimu. Asalkan, kau ikut dengan kami. Sayangnya, kau tak bisa pulang ke rumah dalam waktu yang tak bisa ditentukan," ucap Polisi berambut cokelat.
Wajah para Pion serius seketika. Mata dua Polisi itu saling bertatapan tajam dengan Tobias serta para Pion D yang berdiri dalam diam.
"Ini sudah malam. Selamat tidur," ucap Tobias tiba-tiba dengan senyum liciknya.
Dua Polisi itu berkerut kening. Seketika, SHOOT! SHOOT! CLEB! CLEB! BRUKK!
"Singkirkan, dan minta Vesper untuk mengamankan lokasi ini. Begitu bayiku lahir, kita pergi dari sini," ucap Tobias dengan pandangan tertuju pada dua Polisi yang tergeletak tak sadarkan diri karena ditembak oleh Pion Daido yang datang bersama Darion usai melakukan administrasi.
"Oke," jawab Pion Dakota seraya mengeluarkan ponsel dan berjalan menuju ke jendela untuk melihat keadaan.
__ADS_1
Tobias memberikan kode dan dua Pion yang baru saja datang mengangguk paham. Dua Polisi tersebut mereka seret menuju ke sebuah ruangan tanpa petugas penjaga.
Daido dan Darion melucuti pakaian Polisi tersebut lalu menggunakan seragam mereka.
"Bagaimana?" tanya Tobias terlihat serius masih berdiri di depan ruang operasi dengan pandangan sendu menunggu kelahiran puterinya.
"Ini aneh, Toby. Tak ada pergerakan dari polisi, bahkan mobil patroli tak ada. Apakah ... penyergapan ini tersembunyi?" tanya Pion Damian ikut mengintip dari balik jendela di lantai dua tersebut.
"Periksa sekitar dan cari rute untuk evakuasi," ucap Tobias tenang. Pion Damian dan Darwin segera berpencar untuk mengamankan lokasi.
Di tempat Vesper berada.
"Lysa melahirkan? Hari ini? Oh, calon cucuku dalam bahaya!" ucapnya panik yang langsung meletakkan senjata DOMINO dalam genggamannya ke meja begitu saja.
"Kami sudah meminta Black Armys yang menjaga pos darurat di Butik Sandara segera ke Rumah Sakit," ucap Durriyah SYLPH yang menjadi pendamping Vesper selama di Kastil Hashirama, Kyoto, Jepang.
"Siapkan pengamanan penuh. Minta King D serta lainnya meninggalkan Perancis. Jika para militer itu mengusik mereka, bunuh saja. Aku tak ingin keluargaku terluka karena keinginan mereka mencari promosi jabatan dan nama tenar di hadapan publik!" ucap Vesper geram dan kembali mengambil senjata DOMINO tersebut.
"Yes, Mam!" jawab Durriyah mantap.
Isteri dari Seif tersebut segera menghubungi Yohanes dan Lucy yang bertanggung jawab di Markas Paris untuk mengamankan orang-orang di mansion Darwin. Kakak beradik itu dengan sigap mengubungi kediaman Darwin.
Tentu saja, hal mengejutkan ini membuat Dewi kalang kabut. Ia sibuk mengemasi barang sembari menunggu jemputan pengamanan dari tim Lucy untuk mengevakuasi mereka.
"Kita mau ke mana, Mak?" tanya Otong bingung karena Ibunya menyiapkan koper-koper besar.
"Protokol E!" jawab Dewi melotot. Obama Otong ikut panik dan segera bersiap.
King D yang diberitahu jika mereka harus segera pergi meninggalkan rumah, ikut berkemas.
Namun, King D menyelamatkan semua mainannya terlebih dahulu. Lalu mengamankan dua kuda kesayangannya yang akan ikut diangkut agar tak kena imbas jika diserang.
Saat keadaan sedang genting, suara bel terdengar. Seketika, semua penghuni terdiam karena mereka hampir tak pernah kedatangan tamu.
Pion Dexter dan Diego segera menyiagakan senjata. Dewi menjaga tiga anak itu dan membawa mereka ke ruang kendali, untuk melihat kejadian dari kamera CCTV.
"Dewi, siapa yang datang?" tanya Pion Dexter dengan pistol terarah ke pintu, perlahan melangkah penuh kewaspadaan.
"Wajahnya tidak terlihat. Namun, ada lima orang di depan pintu. Dari gayanya, mereka seperti mafia. Hati-hati, Mas Dexter," jawab Dewi tegang.
Dexter dan Diego yang sudah berada di balik pintu utama saling berpandangan. Keduanya mengangguk terlihat siap dengan serangan yang mungkin akan terjadi.
CEKLEK!
Diego membuka pintu dan membiarkan dirinya tetap tak terlihat. Namun tiba-tiba, KLANG! BUZZ!
"GAS!" teriak Diego lantang dengan mata terbelalak.
Dewi yang melihat serangan itu panik seketika. Ia langsung merangkul King D, Otong dan Jubaedah.
***
tengkiyuw tipsnya mbak aju😘
dubbing sendiri, ngetips sendiri, ucapin makasih sendiri😆 encok melanda gaes.
Banyak nih 1600 kata+ berbahagialah
__ADS_1