
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran. Lima anggota Pria Tampan mengenakan earphone translator.
Yudhi menahan tawa sampai memalingkan wajah karena mendengar nama unik pria tampan di hadapannya.
Dahlia serta lainnya berkumpul dan berdiri berjejer di hadapan Yudhi. Mereka terlihat siap untuk diberikan instruksi.
"Kenapa bengong?" tanya Yudhi heran.
"Kami menunggu perintah," jawab Dahlia mantap. Yudhi mengedipkan mata terlihat bingung.
"Hanya lima?" tanya Sandara melangkah keluar dari rumah mengenakan topeng dan telah mengganti pakaian dengan baju casual.
"Nona Sandara Liu?" tanya Dahlia seperti memastikan. Sandara mengangguk. "Satu pasukan beranggotakan 10 orang, Nona. Hanya saja, baru lima yang dikirimkan oleh Nyonya Vesper. Beliau mengatakan akan menambah jumlah pasukan Pria Tampan yang nantinya akan dilatih oleh paman BinBin," sambungnya, dan Sandara kembali mengangguk. "Selain itu ... ada pesan khusus dari nyonya Vesper."
"Oke, tapi ... tolong bawa masuk Sierra. Lalu setelah itu, temui aku," perintah Sandara.
"Yes, Miss!" jawab lima pria itu mantap.
Yudhi menjadi penunjuk jalan. Sierra terlihat kesakitan dan wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat dan darah terus menetes dari tangan kanannya.
Sierra dimasukkan dalam sebuah ruangan gelap dan hanya bercahaya sinar matahari yang menyelinap dari celah-celah bangunan.
Sierra tergolek di atas ranjang yang terbuat dari kapuk. Ia ditinggalkan begitu saja dengan sebuah kotak medis di meja. Sierra menangis entah apa yang dipikirkannya.
"Ikut aku," ajak Yudhi seraya mengunci pintu ruangan Sierra.
Lima pria itu mengikuti pemuda berkulit sawo matang ke sebuah ruang makan. Albino, Atit, dan Sohee telah duduk dengan borgol telah dilepaskan.
Yudhi mengajak lima pria itu duduk bersama mereka di meja panjang dengan banyak kursi berderet saling berseberangan.
"Kalian sudah aman?" tanya Yudhi menatap tiga orang yang mulai terlihat tenang tak tegang seperti awal datang.
"Ya. Alat penyadap dan pelacak di tubuh kami telah dilepas oleh Sandara. Ia memakaikannya ke patung rancangannya di ruang jahit. Aku tak menyangka, jika kalian berdua malah membuat kostum menarik selama ini. Keren," jawab Albino kagum. Yudhi terlihat bangga.
"Katakan pesan itu," pinta Sandara.
"Baik. Nyonya Vesper meminta agar Anda jangan pulang dahulu. Ia merasa jika No Face sedang merencanakan sesuatu. Malah, Nyonya Vesper meminta Anda agar membongkar semuanya. Bisa dibilang, ini misi rahasia dan terselubung. Dan kami, pasukan Pria Tampan siap membantu Anda," jawab Dahlia menjelaskan.
Semua orang menatap Sandara tajam yang wajahnya tertutup oleh topeng.
"Aku juga merasa demikian. Namun, aku rasa jawaban sebenarnya diketahui oleh Yudhi," jawab Sandara melirik ke arah pemuda di sampingnya.
Yudhi menghela nafas pelan. "Aku tak tahu semuanya. Bisa dibilang, dalam No Face, aku ini hanya anak bawang. Bisa membawa Sandara dalam cengkeramanku, itu sudah sangat luar biasa. Selama ini, aku juga diawasi. Aku tak bisa bebas bergerak. Di sini ada Sierra, tanyakan saja dia."
"Ya, itu benar. Kita interogasi saja Sierra," jawab Albino memberikan usul. Sandara masih diam tak menjawab.
"Nona, Dara. Tuan Muda Jonathan juga diculik oleh No Face. Kami tak tahu keberadaannya hingga saat ini," sambung Dahlia.
"Kak Nathan juga?" Semua orang mengangguk, tapi tidak dengan Sohee yang tak tahu apapun. Sandara melirik Sohee yang terlihat lugu dan duduk diam.
"Banyak kejadian yang Anda lewatkan, Nona, dan dengan senang hati akan kami informasikan pada Anda kejadian-kejadian tersebut," sambung Dahlia.
"Yes, please."
Dahlia memberikan sebuah tablet di mana banyak video rekaman di sana. Sandara tak berekspresi apapun saat melihat tayangan itu. Mulai dari pernikahan Zaid-Yena, Arjuna-Tessa, dan momen indah lainnya.
__ADS_1
"Kamu gak papa? Jangan sedih, sekarang kamu sudah aman. Hanya saja, kita harus tetap sembunyi untuk sementara waktu," ucap Yudhi pelan seraya mengelus punggung Sandara lembut.
"Aku ... melewatkan banyak hal," jawabnya sedih.
Sandara beranjak dengan membawa tablet itu ke kamarnya. Sandara mengurung diri. Yudhi dan lainnya tak ingin mengusik Sandara dan memberikan waktu padanya untuk menenangkan diri.
"Hei, boleh kutahu? Apa isi sandi rumput kala itu? Sejak kapan kau mempelajarinya?" tanya Albino melirik sahabatnya dengan curiga.
Atit tersenyum seraya meraih segelas air lalu meneguknya. Semua orang menatapnya seksama.
"Oh. Sandara menulis jika dia membutuhkan bantuan kita karena wajahnya hancur akibat pertarungannya kala itu di Mauritania. Dia meminta agar kedatangan kita nantinya tak diketahui jajaran Vesper, dan membawa ...," jawabnya menggantung seraya melirik Sohee sekilas. Beberapa orang terlihat bingung. "Soal sandi rumput," sambungnya cepat.
"Aku mempelajarinya saat tahu jika sandi itu hanya dikuasai oleh Eko dan Vesper. Lalu ... aku mencoba mencari tahu tentang sandi itu dan ternyata bisa dipelajari. Aku menulis tentang kisahku. Lebih seperti buku diary. Namun entah bagaimana, kertas-kertasku hilang seperti ada yang mencurinya. Menyebalkan!" pekiknya kesal.
"Mr. White yang mencurinya. Aku menerjemahkan sandi itu dan setelah tahu isinya, ternyata itu kau, Atit. Awalnya kukira itu tulisan paman Eko karena hampir mirip. Dari sanalah aku berasumsi jika kau menguasai sandi rumput. Aku sudah memikirkan semuanya sejak dalam cengkeraman Mr. White. Aku menunggu sangat lama untuk sebuah peluang. Dan ternyata, kesabaranku membuahkan hasil, meski harus kehilangan wajahku," ucapnya tiba-tiba datang seraya membuka topeng.
"Oh!" pekik Sohee langsung membungkam mulutnya saat melihat wajah dan pundak Sandara dengan luka terlihat merah seperti masih dalam penyembuhan.
Atit dan Albino langsung mendekat. Sandara mengenakan sebuah dress dengan atasan terbuka model kemben terusan rok selutut bermotif bunga Lily putih yang indah.
"Oh. Kau lihat ini, Atit? Lukanya cukup dalam dan pasti akan berbekas," ucap Albino menatap pundak Sandara lekat hingga matanya membulat penuh.
"Sepertinya bisa muncul keloid. Hem, ini akan butuh waktu yang lama untuk penyembuhan," sahut Atit seraya memegang dagu Sandara dan melihat bekas luka yang masih berwarna merah karena cakaran Lion.
"Apakah ... aku bisa kembali cantik?" tanya Sandara sendu.
"Tentu saja, Sayang. Oleh karena itulah, aku dan Alby datang kemari," jawabnya dengan senyuman.
Sandara mengangguk pelan. Albino dan Atit saling berpandangan lalu melirik Sohee yang terlihat takut setelah mengetahui wujud asli Sandara.
"Thailand? Maksudmu ... meninggalkan rumah ini?" tanya Yudhi langsung menyahut.
"Ya, begitulah. Aku tak memintamu ikut," sahut Atit ketus, dan Yudhi mendesis.
"Terus itu Sierra gimana?" tanyanya mengingatkan.
"Kita ... akan bawa dia ke tempat kak Nathan berada sebagai barter. Setuju?" sahut Sandara.
"Hem, ide bagus," jawab Yudhi dengan anggukan. "Oke. Kalau begitu ... abang-abang ganteng, ikut Yudhi. Kita pikirin strategi saat barter nanti. Kita akan datang ke salah satu markas yang memiliki tingkat keamanan cukup tinggi," ajak Yudhi. Dan para pria tampan mengangguk siap.
Sohee diminta oleh Albino untuk menyiapkan makanan dari bahan yang ada. Gadis itu mengangguk.
Dengan sigap, Sohee mengecek isi dalam almari mencari perabotan untuk memasak makan malam bagi para penghuni rumah.
Sandara kembali ke kamar dengan Albino dan Atit untuk mengecek lebih detail luka gadis malang itu.
Yudhi bersama lima anggota Pria Tampan keluar rumah untuk membereskan sisa peperangan. Mayat-mayat itu dimasukkan dalam lubang lalu di bakar.
Yudhi terlihat senang karena ia mendapatkan sebuah helikopter, speed boat, dan otoped milik Sierra.
"Ada yang bisa nerbangin heli gak?" tanya Yudhi menoleh ke para pria dewasa yang sedang sibuk menggotong mayat.
"Saya, Tuan!" jawab seorang pria mengangkat tangan di kejauhan.
"Siapa namamu?"
__ADS_1
"Jambu Monyet, Sir!" jawabnya lantang dan mantap dengan hormat.
Yudhi tersenyum paksa sambil menunjukkan jempol. Ia tak berkomentar karena menahan tawa. Pemuda itu mengambil koper yang dibawa oleh Albino dan Atit berisi perlengkapan medis di helikopter.
Yudhi menenteng dua koper itu dan masuk ke kamar Sandara. Segera, dua dokter itu merawat luka anak gadis Kai dengan telaten.
Yudhi duduk di sofa luar kamar menatap Sandara yang terlihat menahan sakit pada lukanya karena ia memaksakan diri untuk beraksi padahal masih masa penyembuhan.
"Aku sudah memberikan salep khusus agar lukamu ini tak meradang. Sebaiknya, kau jangan melakukan hal berat lagi. Luka jahit di pundakmu ini bisa kembali terbuka dan itu akan memperparah jaringan kulitmu nanti," ucap Atit menasehati dan Sandara mengangguk pelan.
"Minum obat pereda nyeri ini. Aku tahu kau pasti menahan sakit karena luka itu pasti terasa perih dan menganggu," sambung Albino seraya meletakkan sebuah botol berisi kapsul berwarna kuning di meja samping ranjang.
"Terima kasih," ucap Sandara pelan lalu meminum obat tersebut.
"Beristirahatlah," ucap Atit penuh perhatian seraya beranjak dari pinggir ranjang bersama Albino. "Kami tinggal untuk makan siang. Aku akan membangunkanmu saat malam nanti," sambung Atit, dan Sandara mengangguk paham.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang secara perlahan. Dua dokter itu keluar dari ruangan dan membiarkan Yudhi menemani Sandara.
"Maaf, Dara. Kau menjadi seperti ini. Semua salah Yudhi yang terlalu takut buat bertindak," ucapnya sedih seraya mendekat.
Sandara menoleh dan diam saja tak menjawab. Yudhi naik ke kasur dan memposisikan tubuhnya miring agar bisa melihat Sandara dengan jelas. Gadis itu terlihat gugup dan memilih untuk menundukkan pandangan.
"Jangan balik sama Afro ya. Temenin Yudhi ya," pintanya terdengar seperti sebuah permohonan. Sandara tersentak saat Yudhi memeluk perutnya seraya membenamkan wajah di pundaknya yang tak sakit. "Kalo Afro sayang sama kamu, pasti dia cari keberadaan Dara. Namun buktinya, sampai sekarang dia gak muncul. Dan ... apakah Afro bisa terima kondisimu yang seperti ini? Yudhi bahkan gak masalah misal Dara gak bisa secantik dulu. Ketulusan seseorang itu bisa terlihat dari cara dia memperlakukanmu dengan baik, Dara," ucapnya yang semakin memeluk Sandara lekat.
Sandara tak menjawab. Matanya kini melebar terlihat gugup akan sikap Yudhi padanya. Cukup lama Yudhi bertahan dengan posisi itu hingga Sandara menyadari suara dengkuran lirih. Ia menoleh perlahan dan mendapati Yudhi tertidur pulas.
Kak Afro. Jangan kaubuat aku menerima ketulusan Yudhi karena tak ada kejelasan darimu hingga saat ini, ucap Sandara sedih dalam hati.
Perlahan, gadis itu memejamkan mata di mana efek dari obat tersebut mulai membuatnya mengantuk.
Di tempat Sierra berada.
"Kami akan mengobati lukamu, tapi dengan syarat," tegas Albino berdiri di kejauhan dengan Atit dan lima pria tampan di belakangnya.
"Katakan," jawabnya dengan wajah pucat dan suara bergetar karena tak bisa mengobati lukanya akibat kedua tangannya terluka.
"Kau akan kami kembalikan ke No Face dengan catatan, ditukar dengan Jonathan," tegas Albino.
"Oke," jawabnya dengan wajah dingin.
SHOOT! CLEB!
BRUKK!
Sierra ambruk tak sadarkan diri usai Enceng Gondok menembakkan sebuah peluru bius dan mengenai dada Sierra. Albino dan Atit mendekat dengan Enceng Gondok dan Lipan melindunginya.
Tiga anggota pria tampan keluar dari ruangan, dan dua dari mereka berjaga di luar pintu. Dahlia dengan sigap mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan.
"Dahlia melapor. Sandara menerima misi tersebut. Kejutan baru, Sierra berhasil ditangkap dan akan barter dengan Jonathan," ucapnya dengan pandangan lurus ke depan. Cukup lama pria itu terdiam seperti menunggu jawaban dari seseorang di balik telepon. "Yes, Mam. Siap laksanakan."
***
tengkiyuw tipsnya. panjang lagi nih epsnya. diluar jatah tips pokokmen. biasa up 2 jadi 1 eps begini nih, kagak bisa direm. kwkwkw
__ADS_1