4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Belom Selesai Bagi Warisannya. Sabar ya LAP


__ADS_3

Beny terlihat menikmati makan malam dengan santai. Sedang para mafia yang namanya belum disebut tampak tak sabar menunggu giliran, terlebih Eko. Pria itu seperti orang yang menahan kencing karena gelisah.


"Kamu kena wasir kah, Ko? Bokongmu begindal begindul dari tadi?" tanya Hadi The Kamvret menatap Eko keheranan.


"Ini karena Eko penasaran tau gak. Banyak buanget itu aset mbak Vesper, belom orang-orangnya. Apalagi tadi disebut aset milik isteri pak Sutejo yang berhasil ia klaim bahkan Yudi juga. Beberapa yang berhasil Eko selametin waktu itu ternyata dikumpulin sama bos diem-diem tanpa sepengetahuan Eko," jawabnya sambil duduk bergoyang-goyang.


"Om! Nathan jadi gak napsu makan nih. Om Eko kaya ulet bulu. Keluar aja sana kalau gak ikutan makan," ucap Jonathan sebal.


"Woo, berani ngusir orang tua," sahut Eko langsung melotot, tapi Jonathan terlihat cuek dan melanjutkan makan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Oke. Aku sudah selesai. Kita berkumpul di ruang rapat," ucap Beny seraya mengelap mulutnya dengan serbet.


"Welah. Giliran napsu makan Eko muncul malah udahan. Ya wes, cuz!" sahut Eko mantap lalu meletakkan sendok tak jadi makan. Orang-orang terkekeh karena Eko terlihat tak sabaran.


Di ruang rapat, Beny meminta kepada beberapa orang yang sudah mendapatkan warisan dari Vesper untuk duduk di bangku terpisah.


Orang-orang itu pun menurut, terkecuali empat anak Vesper. Mereka berempat menurut dan tetap duduk di bangku masing-masing termasuk Kai, Han dan Amanda.


Asisten Beny dengan sigap mendekatkan rak besi beroda dengan beberapa map menumpuk di sana.


Ada empat warna map yakni hitam, biru tua, merah maroon dan emas. Mereka penasaran dengan warna emas yang terlihat diantara selipan map-map warna lainnya.


"Oke, selanjutnya," ucap Beny yang membuat semua orang langsung duduk dengan tegap menatapnya lekat. Beny mengambil sebuah map berwarna hitam. Beny melihat para mafia yang duduk memandanginya. Pria itu tampak seperti mencari sosok yang ia cari. "Kau S?" tanya Beny menunjuk salah satu agent Colombia tersebut.


"Yes," jawabnya pelan.


"Ini untuk Naomi. Tolong sampaikan padanya," jawab Beny dan S mengangguk meski terlihat sedikit gugup. Arjuna melirik S lekat seperti ragu akan sesuatu hingga matanya kembali pada Beny. "Green Ruko yang berada di Yogyakarta, tempat tinggal Naomi dulu selama bersekolah dan menjadi bodyguard bayangan Arjuna, kini menjadi miliknya. Vesper memberikan uang senilai 1 miliar rupiah. Meskipun Naomi dan Jordan sudah bercerai, tapi Jordan menginformasikan jika dia akan tetap membiayai kehidupan mantan isteri dan anaknya. Terimalah," ucap Beny yang mengejutkan Arjuna.


"Naomi bercerai dengan Jordan? Jadi ... kabar itu benar?" tanyanya kaget, tapi semua orang memilih diam.


"Itu semua karenaku, Kak Juna," sahut Sandara dengan pandangan tertunduk.


"Bukan, Dara sayang, tapi Miles. Oleh karena itu, Vesper turun tangan untuk menyelesaikannya. Ia tahu kalian bertiga menderita. Dengan membiarkan Miles hidup, petaka dalam jajaran kita tak akan berakhir. Oleh sebab itu, ia nekat bertarung dalam kondisi terapuhnya," ucap Amanda menenangkan.


Semua orang diam. Suasana rapat hening seketika. S menerima map itu dan menyangga dengan dua tangannya.


Saat S menoleh, ia terkejut karena Arjuna menatapnya lekat. S langsung memalingkan pandangan seperti enggan bertatapan dengan pemuda itu.


Beny lalu mengambil sebuah map warna biru tua lagi. Kali ini, orang-orang yang masuk dalam grup tampak gugup. Mereka saling memandang karena penasaran nama siapa yang akan dipanggil.


"Biawak Kuning," panggil Beny, dan Kuning langsung menunjukkan senyuman. Beny melirik pria itu sekilas lalu membuka map tersebut. "Kau mendapatkan rumah di Suriname peninggalan dari isteri pak Sutejo yang bernama Parinten. Kau juga mendapatkan uang senilai 1 miliar untuk mendirikan usaha. Bijaklah," ucap Beny yang membuat senyum lelaki itu merekah.


"Terima kasih, Nyonya Vesper," ucapnya saat memegang map bertuliskan namanya pada sampul menggunakan tinta emas.


"Selamat, Bro!" ucap Biawak Hijau senang dan Kuning membalasnya dengan anggukan.


"Dan kau gendut," tunjuk Beny yang membuat suami dari Salma tersebut kaget.


"Saya? Ya, ya, gimana?" jawabnya seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Vesper memberikanmu uang 2 miliar karena sudah beristeri. Kau juga mendapatkan rumah di Peru peninggalan pak Sutejo untuk isterinya bernama Markonah. Jaga aset itu. Vesper percaya padamu," tegas Beny.

__ADS_1


Biawak Hijau langsung memberikan hormat dengan mantap. Bahkan, ia mendatangi Beny untuk mengambil map itu sendiri layaknya petugas pengibar bendara upacara. Orang-orang terkekeh, tapi Beny melihat pria itu keheranan.


"Selanjutnya Biawak Cokelat," panggil Beny seraya menunjukkan sampul dari map warna biru ke hadapan para mafia.


"Nama Cokelat disebut, Kang!" seru pria itu saat menepuk lengan Biawak Hijau dengan semangat.


"Biasa aja, gak usah lebay. Jangan keliatan kalau ngarep banget. Malu-maluin," sahutnya. Biawak Cokelat langsung berubah sikap sok jantan.


"Yes. Gimana, Mas Beny?" tanya Cokelat duduk dengan tegap.


Orang-orang menahan senyum, tapi wajah Beny berubah masam seketika.


"Bagaimana bisa Vesper tahan hidup dengan orang-orang aneh seperti kalian?" tanyanya terlihat bingung. "Oke. Kau mendapatkan rumah di Panama milik pak Sutejo yang dulunya diberikan untuk isterinya bernama Ajeng Maharani. Kau juga mendapatkan uang senilai 1 miliar untuk mendirikan usaha di negara tersebut. Terimalah," sambung Beny.


Biawak Cokelat mendatangi Beny dengan gembira dan memeluk kepalanya gemas. Beny terkejut dan tampak shock saat melihat pria bertato itu berjalan sambil berjoget membawa map warisannya.


"Selamat ya. Makanya, manut sama Eko. Daripada berkhianat mending ngabdi sama mbak Vesper. Noh, kecipratan hartanya 'kan? Coba inget pas kalian dulu jambak-jambakan rebutan aset pak Tejo. Sekarang dikasih cuma-cuma sama mbak Vesper, ditambah pesangon pula," sahut Eko.


Empat Biawak mengangguk cepat menunjukkan wajah riang.


"Iya. Nyesel kalo inget jaman itu. Kita yang gak tahan idup dalam kemepetan nekat lakuin hal keji. Kayaknya kita kesurupan waktu itu," sahut Biawak Cokelat, tapi membuat mantan anak buah pak Sutejo terkekeh.


"Oke. Cukup bicara dalam bahasa alien. Kita lanjutkan," ucap Beny yang membuat semua orang kembali bersiap. Kai dan Han tersenyum tipis melihat orang-orang dalam jajaran Vesper mulai menyadari kesalahan di masa lalu. "Lucy dan Yohanes," panggil Beny.


Lucy dan kakaknya mengangkat tangan dari tempat mereka duduk. Beny mengangguk pelan seraya menunjukkan map warna hitam yang bertuliskan nama mereka berdua sekaligus.


"Vesper tetap mempercayakan pabrik di Meksiko termasuk ladang ganja untukmu, Lucy. Berikut rumah yang ada di sana. Vesper tahu jika kalian berdua tak bisa dipisahkan. Jadi, Vesper percaya pada kalian berdua agar menjaga tiga aset penting ini. Selanjutnya, uang yang dihasilkan dari usaha ini menjadi milik kalian 100%. Tak ada lagi setoran untuk Vesper, tapi untuk kehidupan kalian kelak. Menikah dan berkeluargalah. Vesper sangat menyayangkan hingga akhir hidupnya belum menikahkanmu, Lucy. Aku harap, kau bisa melanjutkan permintaan terakhir Vesper," ucap Beny yang membuat Lucy terlihat sedih.


"Terima kasih, Nyonya Vesper," ucap Lucy tertunduk dengan mata berlinang.


"Aku tak mau ikut berduka karena aku sudah menangis sejak diberikan tugas sulit oleh Vesper dengan mengurus aset-aset peninggalannya," sahut Beny duduk dengan angkuh.


Orang-orang bisa memahami tekanan yang dirasakan pria nyentrik tersebut. Sepertinya Beny ingin menghabiskan semua sisa dari map berwarna biru.


Para mafia melihat setumpuk map warna biru pada rak nomor dua yang dipindahkan ke rak nomor satu oleh asisten Beny yang ikut mengenakan sepatu berhak layaknya wanita, meski tetap mengenakan jas.


"Oke. Sebenarnya, aku cukup kaget karena mereka juga mendapatkan aset ini. Namun, ini bukanlah harta Vesper sesungguhnya. Vesper sudah berkonsultasi dengan Sierra ketika di Lugu Lake. Keturunan Flame tersebut sepakat dan menyetujuinya," ucap Beny yang membuat para mafia terkejut.


Seketika, para Pion D saling memandang terlihat gugup.


"Pion Dakota," panggil Beny yang membuat pria itu langsung duduk tegap. "Tanah di Angola yang dulunya milik Mr. White, kini menjadi milikmu. Tempat itu memang terpencil. Kau ingin menjualnya atau ingin membuat hunian di sana, semua terserah padamu. Selain itu, Vesper memberikan uang senilai 1 miliar untukmu. Terimalah," ucap Beny yang membuat semua orang kembali terkejut bahkan Dakota sendiri.


Dakota menerima map itu terlihat ragu. Ia menatap teman-temannya dan mereka seperti berdiskusi akan sesuatu.


"Mungkin, aku akan menjualnya dan mencari tempat yang lebih beradab," ucap Dakota dan diangguki oleh mafia lain yang sependapat dengannya.


"Terserah, seperti kataku sebelumnya. Lalu selanjutnya. Pion Dexter," panggil Beny seraya membuka map berikutnya. Dexter mengangguk pelan. "Vesper menyerahkan kediaman Dexter Flame untukmu yang berada di Valencia. Sierra meminta agar kau tetap menjaga tempat itu. Vesper juga memberikan uang 1 miliar untukmu jika ingin membuka usaha," tegas Beny.


"Wow. Aku ... aku tak pernah menduga hal ini sebelumnya," ucap Dexter tampak kaget. Dakota mengangguk setuju.


"Berterima kasihlah pada Sierra dan Vesper," tegas Beny.


Dua pion yang sudah mendapatkan warisan itu mengangguk dengan senyuman.

__ADS_1


"Musuh aja dikasih loh sama mbak Vesper. Edian tenan si bos," sahut Bayu.


Mantan anak buah pak Sutejo mengangguk setuju. Para pion yang ikut menggunakan alat translator hanya menahan senyum.


"Berikutnya. Kediaman Damian Flame di Madrid akan diberikan kepada Pion Damian. Memang beberapa bangunan para Flame rusak. Oleh karena itu, kalian diminta untuk memperbaikinya atas saran dari Sierra. Kata gadis cantik itu, jika kalian membutuhkan biaya tambahan untuk melakukan renovasi, hubungi dia. Sierra akan membantu," ucap Beny.


Para Pion terlihat senang dan mengangguk pelan. Beny menyerahkan map itu dan Damian menerimanya dengan ucapan terima kasih.


"Selanjutnya, Pion Darion. Apa kau bisa menebak apa yang diberikan Vesper padamu?" tanya Beny seraya mengambil map biru tua dengan nama pria itu di sampulnya.


"Hem. Markas Darion Flame yang berada di Islandia," tegasnya.


"Good. Kau pintar. Sekarang, ambilah. Kau juga diberikan uang satu miliar. Untuk semua para pion yang masih hidup, Sierra mengatakan jika hubungan persaudaraan Flame harus tetap terjalin, tapi mengakhiri konflik dengan 13 Demon Heads. Kalian harus berpegang teguh pada hal itu. Pertikaian ini sudah berakhir," ucap Beny menekankan.


"Ya. Kami paham hal itu," jawab Pion Darion.


"Selanjutnya, Pion Darwin. Sayangnya, Sierra enggan memberikan rumah di Paris padamu karena tempat itu diwariskan oleh Darwin Flame untuknya, selaku kakek dari Sierra. Oleh karena itu, Vesper dan Sierra sepakat untuk memberikanmu markas Darius Flame yang berada di Hudson Bay. Vesper juga memberikanmu uang 1 miliar jika kau ingin mendirikan sebuah usaha atau membeli rumah," ucap Beny. Darwin mengangguk pelan lalu menerima map itu.


"Semua markas Flame yang dulu pernah kita gempur dibalikin ke para Pion. Mungkin sisanya buat Sierra, Cassie sama Venelope kali ya?" sahut Iwan The Kamvret.


"Kayaknya gitu, Kang. Akan tetapi, itu si algojo Madam ada di sini juga loh. Pasti mereka juga kebagian jatah. Jadi penasaran mereka dikasih apa sama si Sierra bleh bleh bleh itu," sahut Bambang sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Oke, selanjutnya masih dari jajaran Flame," ucap Beny yang kembali mengambil map biru dari rak atas. "Pion Diego. Kau mendapatkan sebuah tanah di Kroasia yang dulunya milik Daido Flame. Karena Daido telah tewas, Sierra mempercayakan padamu. Vesper juga memberikan 1 miliar untukmu sebagai bekal hidup," ucap Beny.


Pion Diego tampak terkejut dengan warisan yang diberikan untuknya, tapi pria berkulit hitam itu menerimanya.


Diego berterima kasih dan membuka map itu di mana terdapat cek yang akan ia cairkan sebagai tabungannya.


Saat Beny istirahat minum, Eko kembali mengangkat tangan. Orang-orang menahan senyum karena mereka tahu apa yang diinginkan oleh pria berkepala gundul itu.


"Bentol! Eko dulu napa? Eko penisirin tingkat dewa ini. Ayolah, jangan diumpetin tar Eko gak bisa bobo dengan hikmad," rengeknya.


"Kenapa kau tak sabaran, Eko?" tanya Seif heran.


"Eko penasaran aja. Eko berusaha ikhlas dan gak berani nebak mau dikasih apa sama Mbak Vesper. Makanya, Eko mau tau. Kalau udah tau Eko tentrem gitu atinya," jawabnya seraya mengelus dada.


"Beny. Beritahu kami pemberian Vesper untuk Eko. Jika tidak, dia akan terus mengoceh dan malah membuat suasana haru ini kacau seketika," pinta Han dengan sangat.


"Iya, bener, Om Ben. Kasih tau aja. Pusing Nathan liat om Eko ribut mulu dari tadi," sahut Jonathan ikut sebal.


Beny mendengkus keras. Ia lalu meminta kepada asistennya untuk mencarikan map milik Eko. Pria berkepala gundul itu terlihat riang dan malah duduk sambil bergoyang-goyang.


"Ini. Kubacakan dan diam!" tegas Beny menunjuk saat memperlihatkan map merah maroon bertuliskan Eko pada sampul.


"Eko siap! Eko siap!" seru Eko semangat yang membuat orang-orang menahan tawa.


"Hanya saja, aku mau kencing dulu. Aku sudah tak tahan. Permisi," ucap Beny yang membuat Eko langsung mengepalkan kedua tangannya menahan marah.


"Hahahaha! Sukurin di kerjain sama Beny!" seru Bejo terlihat bahagia berikut mantan anak buah pak Sutejo lainnya.


***


__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya😍 ya ampun udah 3 eps belom kelar juga cuy😆 jangan2 sampai 5 eps bahas warisan doang ini mah pdhl 1 eps udh 2k kata loh. sabar ya LAP. sabar. kwkwkw😁


__ADS_2