4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
After Life-Restu Yang Sulit


__ADS_3

Sun menginformasikan jika Naomi dan Arjuna kini berada di Hong Kong. Keduanya sepakat untuk menetap di sana.


Entah kenapa, Jordan masih terlihat enggan untuk bertemu dengan mantan isteri dan anaknya karena rasa bersalah masih menyelimuti hatinya.


"Bagaimanapun, kita tetap harus menemui mereka, Jordan. Naomi dan kak Juna harus tahu tentang kita," ucap Sandara


Jordan mengangguk pelan seraya merapatkan jasnya di mana hari itu mereka akan mengunjungi rumah sakit yang memiliki laboratorium dan bisa membantu mereka bertiga agar bisa mendapatkan keturunan.


Sun juga terlihat telah bersiap. Ia malah menjadi sopir bagi Jordan dan Sandara di mana calon ayah dari anak yang akan dikandung puteri dari Kai tersebut adalah benih dari putera agent M.


Setibanya di rumah sakit. Mereka menemui dokter ahli. Sun dan Sandara menjalani beberapa pemeriksaan sebelum diputuskan untuk penanaman benih. Jordan menunggu dengan sabar dan mengurus segala administrasi.


Namun ternyata, hal itu disadari oleh Amanda di mana Red mengabarkan jika Sandara berkunjung ke kastil dan keduanya kini sedang berada di Jepang, tapi tak mengatakan memiliki urusan apa.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Rumah sakit?" tanya Amanda.


"Ya. Jordan menggunakan kartu kreditnya," jawab Q seraya menunjukkan laporan yang masuk dari penggunaan dana pada kartu tersebut.


"Bisa kauretas CCTV pada rumah sakit tersebut?" tanya Amanda menatap sahabatnya tajam.


Namun, Q malah memandangi kawannya dengan kening berkerut. "Kaubilang kita sudah pensiun dalam dunia seperti itu? Kenapa? Kau mencurigai anakmu sendiri?" tanya Q yang membuat Amanda malah salah tingkah.


"Hanya mengintip. Aku penasaran dengan yang dilakukan oleh dua anak itu. Cepatlah," pintanya mendesak.


Q mengabulkan permintaan isteri Boleslav meski tampak terpaksa. Amanda terlihat gugup saat GIGA SIA miliknya mampu menyusup ke komputer keamanan rumah sakit.


Ia melihat dari seluruh pantauan CCTV di gedung hanya untuk mencari pasangan muda tersebut.


"Oh! Bukankah itu Sun?" tanya Q di mana GIGA SIA menangkap wajah pemuda itu di mana data seluruh mafia dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle sudah tersimpan.


"Ikuti, Q!" pintanya yang ikut bersemangat.


Q kini antusias untuk ikut mencari tahu. Hingga mereka mendapati kejanggalan ketika Sandara keluar dari sebuah laboratorium dengan seorang suster mendampinginya.


"Mereka melakukan tes lab. Selidiki tentang pemeriksaan tersebut," pinta Amanda lagi.


"Aku bukan dokter! Aku tak tahu apapun tentang membaca hasil diagnosis dan semacamnya!" serunya panik.


"Oh! Bagaimana dengan detail pembayaran? Pasti di sana ada keterangan apa saja rincian dari biaya yang Jordan keluarkan," sahut Amanda sigap.


Kini, Q membidik data dari bagian keuangan terutama kasir. Mereka mencari pembayaran yang dilakukan oleh Jordan dengan mencocokkan pada tagihan kartu kredit.


"Dapat, Mandy!" seru Q lantang yang langsung menunjukkan rincian tagihan tersebut.


Mata keduanya terfokus pada tulisan dalam kertas. Hingga seketika, keduanya memekik histeris.


"Mereka benar-benar sudah gila! Hubungi Sun! Kenapa dia mau terlibat dengan hal ini?!" teriak Amanda yang membuat Q ikut panik dan gugup dalam waktu bersamaan saat mencoba menghubungi Sun.


Di tempat Sun berada.


Pemuda itu ikut melebarkan mata saat ia kaget karena dihubungi oleh Q. Sun melihat sekitar dan mendapati kamera CCTV menyorot ke arah koridor tempat ia duduk.


Sun menghela napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Ia akhirnya menerima panggilan itu.


"Ya, Tuan Q," jawabnya sungkan seraya melambaikan tangan ke arah CCTV.

__ADS_1


"Sun!" sahut Amanda yang membuat putera dari M tersebut tersentak.


"Halo, Nyonya Manda. Apa kabar?" jawabnya canggung.


"Kabar buruk. Apa yang kaupikirkan? Kau bersedia melakukan hal konyol itu untuk mereka berdua?!" tanya Amanda yang membuat wajah Sun tegang seketika, tapi perlahan senyumnya terbit.


"Maaf sebelumnya, Nyonya Manda. Namun, sejak dulu. Aku sudah menduga jika Sandara dan Jordan memang berjodoh. Aku tahu hal ini sangat bertentangan dengan pemikiran kita semua. Hanya saja, aku yakin jika Sandara dan Jordan juga telah memikirkan hal ini dengan serius. Oleh karena itu, aku ingin membantu mereka. Aku juga tak keberatan karena anakku lahir dari rahim puteri nyonya Vesper. Itu ... sebuah kehormatan bagiku sendiri," ucap Sun mengungkapkan perasaannya.


Amanda memejamkan mata sejenak dengan pandangan tertunduk.


"Namun, Sun. Mereka bersaudara. Sandara kususui selama 2 tahun meski Jordan hanya 6 bulan saja," sahut Amanda terlihat sedih. Q diam menatap kawannya saksama.


"Aku mengerti, Nyonya Manda. Namun, jika Anda tak membantu kala itu untuk merawat Sandara, mungkin puteri nyonya Vesper sudah lama tiada. Kita tak akan pernah mengenal Sandara yang tumbuh menjadi gadis cerdas meski nasib buruk selalu menimpanya. Jika aku boleh menyarankan, biarkan mereka merasakan kebahagiaan. Baik Sandara atau Jordan, keduanya cukup lama menderita dan hanya merasakan kebahagiaan hanya sementara. Berikan mereka kesempatan di mana nyonya Vesper sudah berjuang keras menciptakan perdamaian untuk kita semua," ucap Sun penuh perasaan.


Amanda dan Q saling memandang dalam diam. Q tersenyum dan mengangguk pelan.


"Setidaknya, Sandara kini menjadi bagian keluarga kita, Mandy. Hanya Dara yang bisa memahami Jordan, begitupula sebaliknya," ucap Q memberikan nasihat.


Amanda masih terlihat berat untuk memberikan restunya.


"Terima kasih, Sun. Baiklah jika menurutmu demikian, aku hargai pendapatmu. Aku titipkan mereka berdua selama di sana. Bagaimanapun, kau tetap lebih dewasa dari mereka. Jangan sungkan menegur keduanya jika bersikap melenceng."


"Baik, Nyonya Manda. Terima kasih sudah mempercayakan hal ini kepadaku. Sampai jumpa lagi dan semoga Anda sehat selalu," ucap Sun ramah lalu menutup panggilan telepon.


Amanda meminta agar penyelidikan terhadap Sandara dan Jordan dihentikan. Amanda keluar dari pusat kendali dan berjalan lesu kembali ke kamar.


"Untung saja tuan Antony sudah tiada. Jika dia masih hidup, pasti sudah terkena serangan jantung," ucap Q yang kembali melanjutkan pekerjaan sebagai kepala teknisi dan komunikasi di perusahaan telekomunikasi Theresia-New York.


Sandara dan Jordan menetap di Markas Hashirama Jepang selama 2 bulan lamanya.


Gadis itu memasrahkan perusahaan kepada orang-orang kepercayaan dengan alasan sedang menjalani perawatan medis meski tak diberitahukan secara rinci apa yang dilakukannya di negara tersebut.


Afro juga tak pernah menghubungi Sandara lagi kecuali untuk membahas urusan bisnis, dan itupun Jordan yang membalasnya.


Dikabarkan oleh Doug, jika Afro akan menikahi Venelope saat musim dingin nanti. Sandara terlihat biasa saja ketika mendapat kabar mengejutkan itu meski Doug sempat menyampaikan jika sebenarnya Afro ingin mengajaknya rujuk, tapi Sandara meyakinkan jika ia sudah tak mencintai Afro lagi.


Doug menghormati keputusan itu dan memilih untuk tak ikut campur.


Ternyata, buah dari hasil kesabaran dan cinta kasih Jordan serta Sandara, membuat kebahagiaan mereka sempurna.


Sandara hamil dan janin di rahimnya berkembang dengan baik usai melakukan inseminasi buatan.


"Terima kasih atas bantuanmu, Sun. Kami sangat menghargai pertolonganmu," ucap Jordan saat ia dan Sandara memutuskan untuk kembali ke Italia di mana Jordan sudah menghubungi ibunya untuk tinggal di kediaman Napoli.


"Ya, sama-sama. Jangan lupa hubungi aku saat anakku lahir nanti. Walaupun jujur, aku juga tak tahu cara merawat bayi. Untung saja ada kalian," ucap Sun tampak tegang seraya melihat perut Sandara yang masih rata di mana usia kehamilannya sudah 5 minggu dan diperkirakan akan lahir pada bulan Desember ketika pernikahan Afro-Venelope dilangsungkan.


"Baiklah. Sampai jumpa lagi, Kak Sun. Berkunjunglah ke Italia saat anakmu lahir nanti," ucap Sandara dengan senyum tipis seraya memeluk Sun.


Jordan diam saja saat Sun balas memeluk kekasih hatinya. Sun tersenyum lebar, tapi begitu melihat wajah angker Jordan, senyum itu sirna.


"Pergilah. Aku ... masih ada pekerjaan," ucap Sun berlagak.


Sandara dan Jordan pamit. Mereka diantarkan oleh Black Armys Ninja menuju Bandara karena keduanya akan segera kembali ke Italia.


Kabar Sandara hamil tentu saja mengejutkan semua orang bahkan Kai.


Red Mansion, Filipina.

__ADS_1


"Aku tak peduli! Sandara harus menggugurkan kandungannya! Aku tak mau cucuku terlahir cacat!" seru Kai panik.


"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Yang dikandung Sandara bukan anak dari Jordan, melainkan Sun," sahut Rayya dengan wajah datar ketika mereka berempat berkumpul di ruang makan.


Praktis, amarah Kai reda seketika.


"Ha?" tanyanya bingung.


Roxxane terkekeh karena wajah lugu Kai malah tampak lucu baginya.


"Mm, bisa dibilang sejenis bayi tabung. Namun, yang dilakukan oleh Sandara adalah inseminasi buatan. Dia dan Sun tak perlu melakukan hubungan badan karena spermaa milik Sun ditanamkan pada sel telur Sandara. Kurasa, Jordan juga tak akan membiarkan calon isterinya bercinta dengan pria lain," tegas Roxxane, tapi Kai tetap terlihat frustasi karena memegangi dahinya.


Jeremy terkekeh. "Sudahlah, Kai. Restui saja. Percuma kau memberontak karena puterimu sudah hamil dan sebentar lagi mereka akan menikah. Malah katanya, pernikahan mereka akan dilangsungkan setelah pernikahan Jonathan di musim gugur nanti."


Kai diam dan terlihat lesu dengan pandangan tertunduk. Jeremy saling berpandangan dengan senyum tipis kepada dua isterinya.


"Kau bisa membicarakan ini pada Vesper. Setidaknya, kau bisa meringankan bebanmu. Bukankah, kau sering melakukannya?" saran Rayya.


Kai mengangguk pelan. Ia pergi meninggalkan ruang makan karena sudah tak berselera lagi. Ia mendatangi ruangan di mana Vesper kini dipindahkan ke laboratorium baru Jeremy di Filipina.


Nantinya, jenazah Vesper akan dipindahkan kembali di Camp Militer usai tabung buatannya sudah bisa beroperasi seperti yang diharapkan.


PIP!


Kai melangkah masuk ke ruangan khusus di mana Vesper dibaringkan dalam kotak kaca. Kai duduk di samping jasad sang isteri yang terbaring seperti orang tertidur lelap.


Kai menatap wajah Vesper sendu dari balik kaca. "Nona Lily. Aku ... tak tahu harus bagaimana. Namun sepertinya, Sandara memang ditakdirkan untuk hidup bersama Jordan layaknya sepasang suami isteri. Jujur, aku ... aku sebenarnya tidak menyukai hal ini. Bagaimanapun, mereka bersaudara," ucap Kai sedih.


Lama Kai terdiam hingga matanya berlinang. Ia tahu jika Vesper tak bisa memberikannya jawaban.


Kai meneteskan air mata. Ia sangat merindukan sang isteri saat ia berkeluh kesah dan membaringkan kepalanya di paha Vesper.


Wanita cantik itu membelai lembut kepala Kai dan hal tersebut membuat hatinya tenang. Seolah kegundahan hatinya sirna hanya karena sentuhan sang isteri yang bisa memahami kesulitannya.


"Kau tahu apa yang harus kaulakukan, Kai. Bukankah ... kau selalu bisa menyelesaikan semua hal meski tanpa aku terlibat di dalamnya?"


Praktis, mata Kai melebar. Ia teringat ucapan Vesper saat mereka berada di bawah pohon apel Liu di Grey House.


Jantung Kai berdebar kencang. Kenangan itu terasa nyata untuknya. Kai menatap Vesper lekat dan tersenyum tipis.


"Kau benar, Nona Lily. Terima kasih," ucapnya menahan tangis dan mengecup wajah Vesper yang terhalang oleh dinding kaca.


Kai menarik napas dalam dan keluar dari ruang penyimpanan tersebut dengan hati yang mulai tenang.


Ternyata, Jeremy menunggu Kai di luar ruangan dengan kursi roda elektrik. Jeremy menggerakkan benda itu mendekati Kai, dan kakak dari Liu tersebut menatap Jeremy lekat dengan senyum tipis.


"Apa katanya?" tanya Jeremy balas menatap Kai lekat.


"Kau benar, Jeremy. Aku rasa ... tak ada gunanya aku memberontak. Biarkan Sandara memilih kebahagiaannya. Sudah cukup aku menjadi orang tua yang kolot. Aku tak mau kejadian saat ia menikah dengan Afro terulang. Aku tak mau Sandara dicelakai lagi oleh orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Kita tahu Jordan dan dia sangat menyayangi Sandara. Hanya Jordan yang bisa melindungi puteriku bahkan aku sendiri tak sanggup melakukannya. Aku ... akan merestui mereka," ucap Kai yang membuat Jeremy lalu mengajak Kai berjabat tangan. Kai menyambut jabat tangan itu dengan senyuman.


"Memang sangat sulit untuk menjadi seorang pria yang memiliki hati yang besar, tapi kau berhasil melakukannya, Kai. Vesper pasti sangat bangga karena kau kini bisa memahami puterimu," ucap Jeremy ,dan Kai mengangguk dengan senyuman.


"Ayo! Kita harus segera selesaikan pembuatan tabung. Seharusnya, tahun depan sudah bisa diaplikasikan," ajak Kai, dan Jeremy mengangguk mantap.


***


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya. lele padamu mak ben😘 selamat ya bagi para pemenang komentar Love Is Henry❤️ akhirnya novel LIH tamat sesuai jadwal. Alhamdulillah~


__ADS_2