
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Click, Clack, sebaiknya kalian segera menyusul Jonathan ke Tunisia. Kemarahan Smiley membuatku khawatir. Aku takut dia melakukan hal jahat pada anakku," ucap Vesper sembari mendatangi dua bodyguard Jonathan yang berdiri gagah di ruang tamu.
"Izinkan aku ikut, Nyonya Vesper. Setidaknya, jika ada aku, Smiley tak bisa macam-macam. Dia berhutang terlalu banyak padaku," pinta Sierra sembari mendatangi Vesper dengan kursi roda elektriknya.
Semua orang menatap Sierra seksama.
"Aku juga ikut. Aku ingin bertemu Lysa. Javier membawa calon isteriku," tegas Tobias sudah siap dengan setelan ekslusifnya.
Vesper terlihat bingung seketika.
"Hei, hei! Aduh, kalian berdua ini, benar-benar ingin membuatku mati berdiri ya? Tak bisakah kalian bersabar? Semua itu butuh proses. Tak ada cinta yang instan!" pekik Vesper sembari memegangi kepalanya.
"Aku tak mau Lysa kembali ke pelukan Javier lagi. Aku tak segan merebut Lysa dan akan kubunuh Sultan itu. Aku bukan orang penyabar," tegas Tobias mendatangi Ibu angkatnya.
"See? Kau tak sadar yang kau ucapkan? Kau bilang sendiri kau bukan orang penyabar. Dengan sikap seperti ini, tempramental dan egois, kau pikir Lysa akan luluh padamu? Apa bedanya kau dengan Javier. Dia juga mencintai Lysa. Dan satu hal mutlak yang membuatmu sangat sulit bersama Lysa, Toby ... kau tak beragama sepertiku, sedang Lysa?" ucap Vesper tegas menyindir.
Tobias terdiam. Vesper lalu mengalihkan pandangan ke arah Sierra. Terlihat, gadis cantik itu gugup.
"Kau boleh ikut, tapi ingat Sierra, aku tak bisa membantumu. Kau harus berjuang sendiri mendapatkan hati Jonathan. Jika kau mendapatkan sakit hati dari anakku nanti, itu bukan salahmu atau dia. Namun, jika pada akhirnya kau berencana membalas dendam pada anakku, aku tak segan membunuhmu. Kau paham, Sierra Flame?" tegas Vesper penuh penekanan.
Sierra mengangguk terlihat siap dengan resiko yang akan diterimanya nanti.
Vesper lalu pamit pulang bersama orang-orangnya meninggalkan kediaman Sierra.
Anak buah Sierra juga bergegas menyiapkan keperluan Nona Mudanya yang akan terbang meninggalkan rumah yang melindunginya selama ini demi mendapatkan cinta Jonathan.
Click and Clack sengaja tak menginformasikan kepada Jonathan jika kedatangan mereka disertai Sierra.
Malam itu, mereka terbang meninggalkan Perancis menuju Tunisia. Anak buah Javier siap untuk melakukan penjemputan di Bandar Udara Internasional Tunis-Carthage.
Penerbangan selama dua jam itupun berakhir. Para penjemput terkejut ketika mendapati sosok gadis muda yang ikut bersama Click and Clack.
"Maaf. Dia siapa? Lalu ... orang-orang ini?" tanya Yusuf, ketua tim penjemput curiga.
"Aku Sierra Flame, No Face, The Circle."
Sontak, para lelaki dari pasukan jihad itu terkejut. Mereka langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke tubuh Sierra begitupula sebaliknya dari kubu gadis cantik itu.
"Hei, hei, kalian tak ingat. The Circle sudah bergabung bersama dengan 13 Demon Heads. Kita tak bermusuhan lagi. Jonathan pemimpinnya," sahut Clack mengingatkan dan berdiri di tengah-tengah dua kubu yang bersitegang itu.
Yusuf melirik ke arah anak buahnya dan ia memberi kode dengan matanya untuk menurunkan senjata.
Sierra menjentikkan jari dan keempat lelaki berjas di belakangnya ikut menurunkan pistol.
"Aku ingin menemui Jonathan. Ada hal penting yang harus kami bicarakan. Untuk ... kelangsungan kedamaian The Circle dan 13 Demon Heads. Apa kalian ingin kami kembali bertikai?" tegas Sierra dan orang-orang dari kubu Javier mengangguk paham.
Ketegangan mulai mereda. Tiga mobil melaju kencang menuju ke kediaman Javier yang berada di tepi laut.
Tak lama, mereka tiba. Terlihat, tak ada yang menyambut kedatangan mereka malam itu karena Javier dan lainnya berpikir, hanya Click and Clack saja yang hadir.
Sierra terlihat gugup saat ia dibopong lalu didudukkan kembali ke kursi rodanya. Ia merapikan rambutnya saat kursi rodanya di dorong oleh salah satu bodyguard-nya memasuki teras utama rumah megah itu.
Saat Sierra dan rombongan menyusuri koridor, gadis cantik itu menahan laju kursi rodanya.
Matanya terkunci pada sosok lelaki muda yang duduk menyendiri di pinggir tebing, seperti menikmati semilir angin laut di malam berbintang.
__ADS_1
"Tolong tinggalkan kami," pinta Sierra dan orang-orang mengangguk.
Yusuf menatap Sierra seksama saat ia mengemudikan kursi rodanya ke arah Jonathan.
Namun, ia meninggalkannya karena mengantar para tamunya untuk beristirahat di malam yang mulai larut di mana semua penghuni mansion sudah beristirahat di kamar masing-masing.
"Jonathan," panggil Sierra lirih.
Praktis, Jonathan menoleh seketika dengan mata terbelalak lebar. Ia terkejut melihat sosok Sierra di hadapannya.
Jonathan beranjak dari tempatnya duduk dan berdiri dengan wajah masih lebam di beberapa bagian.
"Nathan ...," panggilnya lagi dengan wajah sendu dan menghampirinya perlahan.
"Kau mau apa?!" tanyanya lantang dengan sorot mata tajam.
Sierra menggunakan earphone translator di salah satu telinganya, pemberian dari Clack. Gadis cantik itu tersenyum manis, membuat parasnya seakan bersinar terang seperti bintang di langit.
"Aku mencintaimu, Jonathan," ucapnya pelan.
"Apa? Gak denger!" teriaknya lantang karena jarak mereka yang berjauhan.
Sierra menghela nafas panjang. Ia melajukan kursi rodanya mendekat, tapi Jonathan malah mundur. Sierra kembali menghentikan laju kursi rodanya.
"Aku mencintaimu, Jonathan Benedict!" teriak Sierra lantang.
Jonathan kaget, tapi kembali tenang.
"Oh. Makasih," jawabnya tertunduk sembari mengetukkan ujung sepatu selopnya ke rumput yang dipijak.
"Entahlah," jawabnya menaikkan kedua pundaknya masih enggan melihat gadis cantik di depannya.
Sierra terlihat sedih. Ia menarik nafas dalam seperti berusaha untuk tetap tegar.
"Selama ini, ayahku, Tobias, dia menyembunyikan sosokmu dariku, Jonathan. Hingga kau datang padaku saat itu, ia baru menceritakan semua. Ia menyembunyikan semua hal tentangmu. Katanya, aku sampai mengorbankan banyak hal demi bisa bersamamu. Dia melihat fisikku semakin melemah karena ambisiku agar bisa berjalan lagi. Obat-obatan yang diberikan padaku bertujuan untuk menguatkan otot kakiku, tapi ternyata itu mempengaruhi otakku. Ingatanku menurun dan ayahku ... malah memanfaatkannya dengan menghapusmu dariku. Namun, ayahku kini menyesal. Jadi ... bukan aku bermaksud melupakanmu, Jonathan. Apa kau tak lihat pengorbananku padamu hingga aku bisa menjadi seperti ini?" tanya Sierra berlinang air mata.
Jonathan memalingkan wajah dan diam saja. Sierra terlihat begitu sedih. Ia meneteskan air mata dalam diamnya.
"Aku merasa bahagia saat tahu, ada seorang pria di luar sana yang sangat mencintaiku. Namun, jika kau tak lagi mencintaiku, tak ada gunanya aku bertahan lagi. Aku ini ... cacat dan hanya menjadi beban semua orang," sambung Sierra dengan suara bergetar.
"Entahlah, Sierra. Jangan ungkit lagi. Sebaiknya kamu pu ...."
BYUR!!!
Mata Jonathan melebar seketika saat ia mendengar suara benda jatuh ke dalam air dari atas tebing.
Jantung Jonathan berdebar kencang seketika saat ia menyadari jika yang jatuh adalah Sierra bersama kursi rodanya.
"SIERRA! HELP! HELP!" teriak Jonathan panik.
Para penjaga segera berlari menuju ke tempat Jonathan dan Sierra tadi berbincang. Jonathan terus berteriak berulang-ulang dan membuat kepanikan seketika.
"Jonathan! Kau tak apa?" tanya Clack saat melihat Jonathan berlinang air mata berjalan tergopoh menuju ke tangga yang mengarah ke laut.
"Sierra! Sierra tercebur dari tebing! Cepat tolong dia!" jawab Jonathan meneteskan air mata.
Click and Clack terkejut seketika. Segera, dua orang itu langsung bergegas menuruni tangga. Jonathan tak bisa menutupi kepanikannya.
__ADS_1
Tak lama, para pasukan Jihad dan anak buah Sierra datang, termasuk Lysa dan Javier karena kehebohan di luar.
"Ada apa, Nathan? Penyerang?" tanya Lysa memegangi pundak Adiknya terlihat waspada, tapi Jonathan menggeleng cepat dengan air mata.
" Hiks, Sierra ... Sierra, Kak Lysa ...," jawabnya menangis sedih.
Orang-orang yang tadinya menyiagakan senjata, segera menurunkan pistolnya saat mendengar jika tak ada ancaman.
Javier ikut mendekat dengan tongkat penyangga di dampingi Habib dan Sauqi di sampingnya.
Tiba-tiba, "Hei! Hei!" panggil Clack di kejauhan terlihat basah kuyup sembari menggendong Sierra yang tergolek lemas tak sadarkan diri.
Mata Jonathan melebar saat melihat dua bodyguard-nya berlari menuju ke dalam mansion dan diikuti para anak buah Sierra.
Tim medis segera bertindak. Jonathan terlihat begitu cemas saat melihat Sierra tak sadarkan diri dan berusaha untuk disadarkan.
"Nathan, apa yang terjadi?" tanya Lysa menatap Adiknya seksama berikut Javier.
Jonathan tak bisa menjawab dan kini berjalan pincang mendatangi tim medis yang berusaha menyasarkan Sierra yang diduga tenggelam.
Semua orang terlihat cemas dan panik. Jonathan melihat Sierra tak bergerak meski sudah dilakukan CPR.
"Kenapa belum sadar juga?" tanya Jonathan yang berdiri di samping kepala Sierra.
"Denyut nadinya sangat lemah. Siapkan alat kejut jantung," perintah salah satu anggota tim medis tersebut.
Jonathan terlihat ketakutan. Ia memegangi wajah Sierra yang dingin dan pucat. Jonathan diminta menyingkir oleh tim medis karena mereka jadi tak bisa melakukan tindakan karena ia menghalangi.
Jonathan bergeser dan menatap orang-orang itu seksama. Namun, Jonathan kembali melakukan CPR saat alat kejut jantung disiapkan. Tiba-tiba ....
"Ohok! Ohok!"
Semua orang terkejut karena Sierra sadar dan memuntahkan air dari dalam mulutnya. Orang-orang langsung bernafas lega.
Jonathan langsung memeluk kepala Sierra dan menangis. Sierra terlihat lesu dengan mata sayu.
"Jonathan," panggil Sierra lirih saat ia menyadari jika orang yang mendekapnya adalah lelaki yang membuatnya nekat menceburkan diri.
"Nathan mau denger lagi kalau kamu cinta aku," ucapnya pelan.
"What?" tanya Sierra bingung karena earphone translator sudah tak terpasang lagi di telinganya.
"Say you love me," pinta Jonathan melepaskan dekapannya perlahan dan kini menatap wajah Sierra lekat.
Sierra tersenyum. "I love you, Jonathan Benedict."
Senyum Jonathan merekah. Semua orang terdiam dan terharu saat Jonathan juga mengatakan ia mencintai Sierra.
***
Aduh upnya kelamaan. Ini nyambi nunggu swab antigen karena lele mau ke Jogja. Semoga negativ, amin~
Jadwal up sedikit kacau nih selama seminggu kedepan ya. Makasih vote koinnya. Kalo ada typo koreksi aja tar lele benerin karena ini lagi mode panik. Lele takut di swab🥺
Lele padamu💋💋💋
__ADS_1