4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Gelap Mata


__ADS_3

Praktis, semua orang yang mendatangi kamar mandi pria tersebut shock seketika. Lysa dan bayi Fara yang masih duduk di bangku penonton tak mengetahui tragedi ini.


Dexter yang saat itu mencurigai seorang pria karena dua kali melewati kamar mandi yang sedang digunakan oleh Tobias dan King D, langsung mengejarnya.


Dexter yang fokus untuk mencari tahu, membuat dirinya meninggalkan penjagaan. Namun, para Pion yang menyaksikan teater di bangku penonton merasakan hal aneh karena tiga orang itu pergi cukup lama.


Damian dan Darwin berinisiatif untuk melihat keadaan, di sanalah mereka menemukan Tobias dan King D di lantai kamar mandi.


"Tobias!" seru Damian langsung berlari dengan panik mendatangi tubuh pria bertato yang sudah terbujur kaku dan dingin tersebut.


King D masih menangis terisak dengan tangan Tobias dalam genggamannya. Tak lama, Dexter kembali setelah usahanya gagal mencari tahu siapa pria yang kabur darinya itu.


"Hah? Toby?" engah Dexter dengan napas tersengal. Tiga Pion tersebut terlihat shock.


Darwin langsung mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya. Ia berbisik kepada Dexter dan pria itu mengangguk paham. Dexter segera meninggalkan kamar mandi.


"Damian! Damian! Kita harus segera pergi dari sini. Ayo!" pinta Darwin seraya mendekati King D yang nampak begitu sedih hingga sesenggukan.


Damian menahan kesedihan dan air matanya. Ia mengangguk paham. Tangan Tobias yang menjadi kaku dilepaskan perlahan oleh Darwin.


King D diminta berdiri meski tubuh anak lelaki itu gemetaran karena kejadian tragis menimpa ayah tirinya tepat di depan mata.


Darwin mencuci tangan King D yang berlumuran darah di wastafel dengan segera. Damian memakaikan kembali jas Tobias yang dijatuhkan di lantai oleh pria yang membunuhnya kala itu dengan tergesa.


Damian menggendong jasad Tobias di punggung dengan susah payah. King D berjalan mengikuti Pion tersebut yang kini dibantu oleh Darwin karena tubuh Tobias yang berat.


Di tempat Lysa berada.


"Ada apa?" tanya Lysa bingung karena pundaknya ditepuk oleh Pion Dakota yang terlihat tegang.


"Kita harus pulang sekarang. Akan aku jelaskan di rumah. Ayo," ajak Dakota dan Lysa mengangguk siap.


Lysa menggendong bayi Fara dan segera meninggalkan tempat pertunjukan tersebut. Para Pion melindungi isteri dari mendiang bos mereka.


Pion Diego telah berada di lobi dengan mobil siap meninggalkan lokasi. Lysa dengan sigap masuk ke dalam, tapi ia heran karena Tobias dan King D tak ikut serta.


"Mana Toby dan King D?" tanya Lysa cemas.


"Mereka sudah jalan lebih dulu dengan Darion. Ayo," ajak Dakota dan Lysa mengangguk paham.

__ADS_1


Dua buah mobil melaju kencang meninggalkan gedung teater kembali ke apartemen Marlena. Meski Lysa belum mengetahui kejadian sebenarnya, tapi Pion Dexter dengan sigap menghubungi Vesper.


Praktis, mata Vesper melebar seketika. Ia segera terbang meninggalkan mansion Han di Amerika menuju ke Jerman ditemani Han dan Alex. Para bodyguard Vesper diminta untuk berkumpul oleh sang Ratu.


Javier tak luput diberikan kabar oleh Han. Ternyata, kabar itu juga ikut mengejutkannya. Javier dengan sigap meninggalkan Oman untuk menyusul sang anak yang kini sedang dirundung kesedihan karena kematian ayah tirinya.


"Sultan," panggil Habib yang duduk berhadapan dengan Tuannya di bangku kabin pesawat.


"Dia sudah melakukannya. Aku sudah menduga hal ini. Ya Allah, King D," ucap Javier terlihat shock seraya mengusap mulutnya.


Sesampainya di rumah, Lysa segera merebahkan puteri kecilnya yang telah tertidur lelap selama perjalanan pulang di pangkuannya.


Lysa yang masih mengenakan gaun, merasakan keanehan dengan sikap para Pion yang berkumpul di ruang tengah terlihat sedih. Lysa berjalan mendekat dan menatap wajah para pria itu satu persatu.


"Ada apa ini?" tanya Lysa curiga.


Pion Darwin membuka pintu kamar King D tak menjawab pertanyaan Lysa. Anak pertama Vesper terlihat bingung saat ia mendengar ada suara tangis di dalam kamar.


"Hiks, Pipi ...."


Langkah Lysa terhenti. Ia melihat King D menangis di samping tubuh Tobias yang sudah tak berbusana. Tobias hanya dipakaikan celana kain panjang dari setelannya.


Dada suaminya terbalut perban. Lysa berjalan dengan langkah kaku mendekati sang anak yang kini menoleh ke arahnya.


Tak ada ucapan. Tak ada teriakan. Hanya setetes air mengalir dari mata indah wanita cantik itu saat ia berdiri mematung di samping jasad suaminya usai mendengar kabar yang menghantam jiwanya.


"Toby?" panggil Lysa sedih jatuh berlutut di samping ranjang. "Hiks, Toby?" panggil Lysa kedua kalinya seraya memegang wajah suaminya yang sudah pucat dan terasa dingin.


Para Pion memasuki kamar satu persatu. Akhirnya, air mata yang mereka tahan selama ini sudah tak terbendung lagi. Para lelaki tangguh itu sudah tak peduli jika terlihat rapuh dan lemah.


Lysa seperti tak percaya jika suami yang dicintainya telah pergi untuk selamanya. Perlahan, tangis King D reda setelah ia menyuarakan kesedihannya saat sang ayah pergi.


"Mimi ...," panggil King D karena Lysa menangis terisak seperti tak rela kehilangan pria yang meninggalkan sejuta kesan di hidupnya.


"Mimi ...," panggil King D lagi karena Ibunya mulai mengatakan hal gila seperti meminta Tobias bangun lagi.


"Toby! Jangan bercanda! Ini sungguh tidak lucu! Aku tak suka kejutan. Cepat bangun!" seru Lysa lantang seraya memegangi wajah suaminya erat dengan kedua tangan dan terus digoyangkan.


Namun, raga Tobias sudah kehilangan ruhnya. Pria itu diam saja sudah menyerah dengan takdirnya.

__ADS_1


Hati para Pion semakin pilu. Darwin tak sanggup melihat hal ini dan memilih untuk keluar kamar. Sedang King D menatap Ibunya saksama.


"Mimi ... Pipi udah meninggal. Mimi harus ikhlas. Pipi 'kan cuma titipan Allah," ucap King D menasehati, tapi Lysa malah melotot tajam ke arah anak lelakinya dan hal itu, membuat King D terkejut termasuk para Pion.


"Hanya? Hanya titipan? Oh, Mimi tahu. Kaupasti sangat bahagia 'kan karena Tobias mati? Mimi tahu kau membencinya seperti Babamu. Kalian pasti sudah bersekongkol!" pekik Lysa penuh amarah hingga wajahnya memerah.


King D tertegun bahkan sampai terperanjat karena ucapan sang Ibu yang tak ia sangka. Damian segera mendatangi King D yang terlihat shock.


Damian segera membawa King D keluar kamar. Para Pion terkejut karena Lysa sampai berkata demikian seperti kehilangan akal sehatnya.


Dexter menghampiri Lysa yang pandangannya masih terpaku ke arah King D duduk tadi.


"Lysa ...."


"Kau di mana?" tanyanya langsung berdiri dan melotot tajam pada pria berkulit hitam itu. Para Pion yang masih berada di dalam kamar ikut berkerut kening karena sikap Lysa.


"Kau seharusnya menjaga Tobias! Bagaimana bisa dia dibunuh?! Apa yang kaulakukan?! Kau tak becus menjaga Tuanmu!"


BRUK!


"Oh!" seru Dexter terkejut karena dadanya didorong hingga ia hampir terjatuh.


Para Pion menatap Lysa tajam. Napas Lysa menderu, air matanya sudah mengering, tapi wanita cantik itu seperti gelap mata karena kehilangan suami yang dicintainya.


"Kau sebaiknya tenangkan diri dulu. Kami ada di luar jika kau membutuhkan kami," ucap Dakota.


"Ya, pergilah. Karena hanya itu yang bisa kalian lakukan. Tanpa Tobias, kalian bukan apa-apa," jawabnya ketus.


Para Pion terlihat tak menyukai ucapan Lysa yang menyakiti hati mereka. Seakan, hanya dia saja yang berduka atas kematian pria bertato itu. Para pria itu pergi meninggalkan Lysa sendirian di kamar dan menutup pintu.


Saat kamar kembali sepi, Lysa kembali menangis. Ia mendatangi mayat Tobias yang sudah dibersihkan selama perjalanan agar Lysa tak shock jika melihat banyaknya darah yang keluar dari lukanya.


Namun, dengan jasad yang sudah bersih pun, Lysa tetap tak bisa merelakannya.


"Hiks, Toby ...," ucapnya kembali menangis sedih seraya memeluk suaminya yang sudah terbujur kaku di atas ranjang.


Lysa seakan dibutakan oleh kesedihan. Ia lupa dengan tuntunan ajarannya jika mayat harus segera dimandikan, disholatkan dan dikebumikan.


***

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya. lele crazy up hampir 10 eps di simulation biar cepet tamat nopelnya. lele mau rehat lagi. serangan pasukan merah mulai meruntuhkan pertahananku. good nite❤️


__ADS_2