
Info dulu. Maaf sebelumnya kalo eps ini sama kaya eps beberapa hari yang lalu. Jebule ya to, lele salah timer waktu itu gaes gegara kalo simpen naskah di Hp dan Web Mangatoon itu gak sinkron. Makanya beberapa waktu lalu pas lele bales komen sempet ngerasa kaya Dejavu. Hahaha. Kok reader udah tau kisah ini sih? Brasa kaya mimpi gitu, eh jebule aku yang khilaf.
Jadi, bantu like aja gak papa deh. Eps ini bonus jadi lele tetep up 2 eps normal ya. Yg eps sebelumnya lele ganti pengumuman ajah biar komen kalian gak ilang meski sama isinya gak nyambung. Kwkwkw. Maafkan diriku yang mulai uzur ini.
----- back to Story :
Tak terasa, seminggu telah berlalu. Pencarian Sandara dan Arjuna belum membuahkan hasil. Para User GIGA dibuat kesal setengah mati karena buruan mereka berhasil menyembunyikan diri dengan baik.
Di tempat Sandara berada, gadis cantik itu dimanjakan bak puteri raja oleh Mr. White. Senyum Sandara selalu merekah tiap bersama Mr. White apapun yang mereka lakukan.
Tessa mengawasi gerak-gerik Sandara saat ia mulai menyadari jika Mr. White jatuh dalam pesona anak dari Kai tersebut.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Mr. White. Ada yang harus kita bicarakan," ucap Tessa sembari berjalan mendekati pria berambut putih yang sedang mengepang rambut Sandara di kursi sofa panjang ruang berkumpul.
Senyum Mr. White sirna. Tessa terlihat gugup meski berusaha menutupinya. Sandara menatap Tessa dengan wajah datar dari tempatnya duduk.
"Kenapa kau selalu merusak kesenanganku?" tanya Mr. White beranjak dari bangkunya dan berjalan mendekati Tessa dengan sorot mata tajam.
"Kau melupakan tujuan kita. Sudah satu minggu kita berlayar dan tak kulihat tanda apapun jika kapal ini menuju ke Italia seperti katamu," jawab Tessa tegas.
Mr. White balas menatap Tessa tajam dan tiba-tiba, ia mencengkeram lengannya kuat keluar dari ruangan tersebut.
Sandara diam menatap perlakuan kasar Mr. White pada mantan kekasih kakaknya itu. Ruangan kembali sepi dan Sandara melihat wajahnya di cermin yang ditutupi make up karena Mr. White selalu meriasnya setiap hari.
Hingga pandangan Sandara beralih ke seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan sebuah topeng dan hanya menunjukkan mata serta rambut pirangnya saja.
Wanita itu melangkah maju, begitupula Sandara yang beranjak dari sofa. Dua perempuan itu melangkah bersamaan dengan kedua mata saling bertatapan tajam hingga keduanya sama-sama menghentikan langkah.
Sandara menekuk kepalanya ke kanan dengan wajah datar, mengikuti gerakan wanita yang berdiri di hadapannya.
Wanita itu terlihat tertarik akan sikap Sandara yang unik menurutnya. Wanita itu berjalan ke samping dan mendekati meja bar, Sandara ikut melakukannya.
Wanita itu menuang Martini sembari memberikan sebuah balok es dan meneguknya.
Sandara melakukan hal yang sama, tapi tanpa gelas, minuman alkohol dan es batu. Ia hanya menirukan gerakan yang dilakukan oleh wanita pirang tersebut.
"Ah, menyegarkan," ucap wanita tersebut saat meneguk minuman dengan membuka bagian bawah topeng yang ternyata bisa dibuka ke samping seperti pintu. Sandara mengikuti yang ia lakukan meski tak bersuara.
"Apa kau akan terus menirukan apa yang kulakukan? Kenapa? Kau tertarik padaku? Mempelajari gerakanku?" tanya wanita itu seraya berpaling dan berjalan melenggang menuju ke sofa.
Sandara bagaikan cermin untuknya. Gadis cantik itu berjalan di seberang wanita pirang dan matanya terus mengawasi.
"Hem, tak mau bicara ya? Aku penasaran, apakah kau bisa melakukan ini?" ucapnya seraya duduk dan kini berhadapan dengan Sandara.
Wanita itu menyilangkan kaki, menunjukkan kakinya yang jenjang dan mulus. Sandara masih diam dan terus mengikuti pergerakan wanita di depannya.
Tiba-tiba, CEKLEK!
__ADS_1
Wanita itu menyipitkan mata ketika gerakannya mampu diikuti Sandara saat ia mengeluarkan pistol dari balik pinggang.
"Menarik, sangat menarik. Aku penasaran apa isi kepalamu, Sandara. Haruskah ... aku mencongkelnya?" tanya wanita itu sembari meletakkan pistol di atas meja yang berada di sampingnya. Sandara melakukan gerakan yang sama meski tangannya tak memegang pistol.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mr. White muncul dengan Tessa mengikuti di belakang.
"Kenapa? Harusnya aku yang bertanya, Mr. White. Kenapa kapal ini masih berlayar dan belum berlabuh?" tanya wanita itu yang matanya masih menyorot Sandara tajam.
Mr. White melirik Tessa dan wanita cantik itu memalingkan wajah. Pandangan Mr. White kembali pada Sandara yang matanya terkunci pada sosok wanita di depannya. Mr. White tersenyum.
"Kita pergi dari sini, Sayang. Kebetulan, Venelope datang dengan sebuah helikopter," ucap Mr. White mengulurkan tangan dan Sandara menerimanya meski matanya masih tertuju pada wanita yang dipanggil Venelope.
Sandara merangkul lengan Mr. White dan berjalan berdampingan dengannya menaiki tangga di atas yacht mewah menuju ke helipad.
Mr. White duduk di samping Sandara dan gadis cantik itu tersenyum ketika helikopter tersebut lepas landas meninggalkan kapal.
"Dia ancaman, Venelope," ucap Tessa menunjuk Sandara yang sudah terbang mengendarai helikopter.
"Aku tahu. Namun, aku penasaran. Ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengannya. Jika Sandara tak bisa diajak bekerja sama, jalan satu-satunya adalah ... mengendalikannya," jawab Venelope yang menatap dirinya di cermin seperti mengulang gerakannya saat ditirukan oleh Sandara tadi.
"Mengendalikannya? Maksudmu ... mencuci otaknya? Ah, klasik," tanya Tessa tersenyum meledek. "Agh!"
"Arjuna bisa lepas darimu, itu karena kesalahanmu. Jika kau tak gegabah, kita bisa mengendalikannya untuk menyerang kubunya sendiri. Aku ingin sekali melihat, 13 Demon Heads hancur dan tenggelam ke perut bumi seperti yang mereka lakukan pada jajaran kita," ucap Venelope mencengkeram kuat leher Tessa hingga wanita bermata biru itu terlihat mulai kesulitan bernafas.
"Hah! Aku melepaskannya karena aku tak sudi diinjak-injak olehnya. Aku mencintai pria yang salah," jawabnya terengah sembari memegangi lehernya yang sakit karena dicekik oleh Venelope.
Nafas Tessa menderu. Ia tersinggung dengan ucapan Venelope, tapi hanya bisa diam menahan amarahnya. Venelope masuk ke kamar dan menutup pintu. Tessa ditinggal begitu saja sendirian.
"Menyedihkan," ucapnya menertawai diri.
Di helikopter.
Terlihat, Sandara seperti menikmati perjalanannya ditemani Mr. White duduk yang di sampingnya. Pria itu menguncir rambutnya meski bagian depan rambut panjangnya tergerai.
"Kita mau ke mana?" tanya Sandara menatapnya sendu.
"Kau lihat pulau di sana? Apa kau tahu kita berada di mana?" tanya Mr. White menunjuk sebuah pulau yang cukup besar.
Sandara menggeleng. "Aku jarang berpergian. Kau tahu, Mr. White. Aku merasa bebas saat bersamamu. Kau mengajakku bertualang. Selama ini, aku merasa terkurung. Hidup menjadi artis, tak seindah yang kubayangkan," jawab Sandara dengan pandangan tertunduk.
Lelaki berambut putih panjang berkilau itu menatap Sandara seksama yang terlihat murung. Perlahan, ia menyentuh wajahnya dengan kedua tangan.
Wajah Sandara yang kecil, seakan ditangkap oleh dua tangan besar Mr. White dan menenggelamkannya. Sandara terkejut ketika Mr. White mengecup kening dan kedua pipinya bergantian dengan lembut.
"Aku tahu. Aku mengawasimu selama ini, Sandara. Aku melihat semua yang kau lakukan di televisi dari tuntutan dunia hiburan. Aku bisa melihat senyum palsumu saat kamera-kamera itu menyorot wajahmu. Kau ... sangat pintar berakting, seperti saat ini," ucapnya menatap mata Sandara tajam.
Anak terkecil Vesper tersebut balas menatap manik biru Mr. White yang memandanginya tanpa berkedip.
"Di mana kau menyembunyikannya?"
__ADS_1
"Menyembunyikan apa?" tanya Sandara lirih.
"Kebohongan. Di bagian mana kau menyembunyikannya? Aku tak bisa menemukannya. Jangan coba-coba mengelabuhiku, Sandara. Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu selama kau kami sekap," tanyanya semakin memegangi wajah Sandara erat.
"Tak ada. Aku mencoba hidup dengan jujur kali ini, Mr. White. Aku lelah. Aku salah memilih mimpi. Apa yang kulihat tak seindah yang kubayangkan. Kau benar, aku berbohong di depan kamera untuk membuat orang-orang bahagia ketika melihatku melakukan apa yang mereka minta. Namun, aku kehilangan kebebasanku. Aku lelah diperintah," jawabnya terlihat sedih meski matanya tetap beradu dengan lelaki berambut putih tersebut.
Mr. White makin menatap Sandara tajam seperti mengorek semua isi di dalamnya, tapi tak menemukan apapun.
Perlahan, Nafas Mr. White menderu. Ia semakin kuat mencengkeram kepala Sandara di atas telinganya hingga membuat mata gadis cantik itu terpejam.
"Apa kau takut denganku?" Sandara mengangguk cepat tak berani menatap wajahnya. Senyum Mr. White terpancar. "Apa menurutmu ... aku tampan?" Sandara kembali mengangguk dengan kening berkerut. "Rambutku ... bagaimana menurutmu?"
Sandara membuka matanya perlahan dan kembali bertatapan dengan Mr. White. "Aku suka rambutmu. Aku tahu ini asli meski aku yakin tak seluruhnya berwarna putih. Apa kau menutupi sebagian ubanmu dengan mengecetnya? Gen? Ras Kaukasoid?"
Mr. White terlihat kaget akan analisis Sandara. Ia perlahan melepaskan cengkeraman di kepalanya.
Mr. White menyisir rambut baru Sandara dengan corak warna lebih terang tak hitam lagi seperti aslinya. Kepangannya terlepas dan kembali tergerai.
"Pilihanku tepat memilihmu, Sandara. Karena ucapanmu membuatku senang, aku akan mengajakmu berjalan-jalan. Kau tahu, bahkan aku cukup yakin, Venelope dan lainnya termasuk Tobias, tak tahu latar belakangku sesungguhnya," ucapnya sembari merangkul pundak Sandara dan kembali duduk dengan tegap.
Sandara diam. Ia melirik Mr. White yang menunjukkan senyum tipisnya meski tak memandanginya. Helikopter mendarat di sebuah pulau, menjauh dari keramaian menuju ke sebuah tempat lebih terpencil.
Sandara melihat dari landasan helipad di atas bukit, terdapat beberapa rumah di tengah-tengah hutan dan perbukitan di sekitarnya, tak cukup jauh dari bibir pantai.
Beberapa pria berkulit hitam yang menjaga tempat itu membuka pintu helikopter untuk Tuannya. Mr. White mengajak Sandara keluar dan gadis cantik itu melihat sekeliling di mana tak ada pemukiman lagi di sekitarnya.
"Kau suka tempat ini?" tanyanya masih merangkul pundak Sandara, berdiri di samping helikopter.
"Ehem. Aku suka. Tempat apa ini? Mirip penginapan untuk para turis," tanya Sandara menoleh ke arah pria yang tubuhnya lebih tinggi darinya.
Mr. White tak menjawab. Ia mengajak Sandara menuruni bukit dan berjalan ke kawasan rumah beratap biru tersebut.
Sandara melihat jika tempat itu bersih, nyaman dan memiliki beberapa fasilitas lengkap meski dari luar terlihat sederhana.
"Ingin tinggal di sini denganku sementara waktu? Aku rasa, kita belum bisa ke Italia sekarang. Pamanku dan Red Ribbon sedang memburu kita," ucapnya yang mengejutkan Sandara.
"Aku ... dicari?" tanya Sandara makin menatapnya lekat.
"Hem. Namun kau ingat, kau kini milikku, Sandara. Kau tak boleh pulang. Kau bukan orang 13 Demon Heads lagi. Kau kini anggota No Face. Terimalah kehidupan barumu," ucapnya membungkuk dan menatap Sandara dengan senyuman. "Kita ke sana," ajaknya lagi yang tak melepaskan rangkulannya di pundak Sandara.
Anak tunggal Kai tersebut terlihat tertekan saat jalan berdampingan dengan Mr. White. Ia melihat sekitar di mana penduduk lokal menjaga sekitar. Sandara memejamkan mata sejenak terlihat tertekan akan hal ini.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1