4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kepergian Sang Jenderal


__ADS_3

Sore itu. Saat Kai dan lainnya telah bersiap untuk pergi mendatangi Villa tersebut, panggilan datang padanya. Kai menerima telepon dengan senyum terkembang.


"Ya, Drake."


"Kai. Kabar duka. Jenderal Tio meninggal."


Praktis, senyum Kai sirna. Kai menjawab kabar duka itu dan berjanji akan segera ke sana untuk mengikuti prosesi pemakaman.


"Kenapa, Papa Kai?" tanya Jonathan seraya mendekati suami termuda Vesper.


"Jendral Tio berpulang. Papa akan ke Pemalang. Kau sebaiknya ikut, sebagai penghormatan terakhir," pinta Kai dan Jonathan mengangguk pelan.


"Jadi ... misinya ditunda atau gimana, Om?" tanya Raden yang terlihat kecewa padahal ia sudah siap berangkat.


"Hem, sabar ya. Om hanya sebentar, nanti ke sini lagi. Jenderal Tio berjasa besar pada jajaran Om selama ini," jawab Kai pelan dan Raden memgangguk mengerti.


Sore itu, Kai dan Jonathan pergi ke Pemalang dengan konvoi mobil.


Mereka sengaja tak menggunakan pesawat pribadi karena dipersiapkan untuk keberangkatan selanjutnya.


Setelah dari Yogyakarta mereka akan terbang ke Lebanon, menghadiri pernikahan Zaid dan Yena yang akan di selenggarakan bulan depan.


Malam itu, mereka tiba. Jenazah Jenderal Tio sudah dimandikan dan dikafani. Pemakaman akan dilakukan esok hari setelah sholat subuh.


Sayangnya, Vesper tak bisa hadir dan terpaksa melakukan teleconference bersama anggota Dewan lainnya yang terhubung.


Subuh waktu setempat, sebelum jenazah Jenderal Tio dimasukkan ke liang lahat.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Jenderal Tio adalah orang besar. Dia sangat berjasa padaku dan kita semua. Pengabdiannya sampai akhir hayat, tak akan pernah tergantikan. Saat negara membuangnya, kitalah keluarganya. Jenderal Tio memberikan pelajaran penting bagi kehidupan para mafia, orang yang selalu disalahkan tiap tindak kejahatan terjadi. Namun, dalam hati kecil kita, masih ada jiwa kemanusiaan yang tinggi, peduli, rela berkorban untuk melindungi orang yang kita kasihi, yang kita sebut keluarga. Ingatlah perjuangan Jenderal Tio untuk kita semua sampai nafas terakhirnya. Ia tetap setia pada 13 Demon Heads dan tak pernah sekalipun berkhianat. Semoga, Tuhan masih berbelas kasih memberikan tempat layak disisi-Nya. Aku yakin jika Tuhan tahu, Jenderal Tio ... pantas diberikan tempat terbaik di sana. Amin."


Semua orang mengamini ucapan Vesper tersebut. Jonathan melongo karena sang ibu begitu fasih berbicara bahkan tak membuat catatan untuk pidato pemakamannya sang Jenderal. Jonathan makin kagum dengan sosok Vesper, senyumnya terkembang.


"Jonathan. Ingin mengatakan sesuatu?" tanya Kai dan pemuda itu tertegun seketika.


"Ha? Em ... ya, boleh," jawabnya ragu.


Jonathan melangkah maju dan kini berdiri di samping layar monitor dengan wajah sang Ibu terlihat jelas di sana. Jonathan terlihat gugup.


"Relax. Kau bisa melakukannya," ucap Vesper dari sambungan tersebut dan Jonathan mengangguk pelan. Semua orang menahan senyum karena tahu jika remaja itu grogi.

__ADS_1


"Em, Jenderal Tio ... yah, seperti yang dikatakan Mama Lily eh Vesper kalau beliau orang hebat. Dan Nathan, pengen jadi orang hebat kaya kakek Tio. Semangat!"


Semua orang terkejut, tapi akhirnya bertepuk tangan meski terdengar pelan. Vesper menahan senyum akan pidato singkat dan seperti motivasi untuk diri Jonathan sendiri.


Satu persatu, orang-orang dari perwakilan Divisi yang berada di bawah naungan Jenderal Tio memberikan ucapan terakhir dan salam perpisahan.


Perasaan sedih muncul saat beberapa orang menangis bahkan Eko yang ikut datang sampai tak bisa bicara karena air matanya terus mengalir. Drake mencoba menenangkannya.


"Jenderal Tio itu ... hiks, beliau baik banget. Udah Eko anggep kaya bapak sendiri. Dia itu ... hiks, ngajarin Eko banyak hal. Sabar banget orangnya, dan ucapannya itu buat hati jadi adem. Dia jago banget kasih semangat pas kita lagi loyo. Jenderal Tio selalu bilang, 'Ayo berjuang! Berjuang! Ingat! Kita semua disebut sampah sama orang-orang! Tunjukkin kalau kita adalah sampah yang memberikan keseimbangan! Sampah juga bisa jadi pupuk dan kita harus bangkit dari keterpurukan! Semangat! Semangat!' gitu katanya, hiks," ucap Eko menirukan motivasi penyemangat dari sosok senior dalam jajaran Vesper tersebut.


Orang-orang yang pernah bekerja padanya mengangguk setuju dengan mata berlinang.


"Jenderal Tio gak pernah marah. Eko selalu malu kalau sambat (mengeluh) sama beliau. Jenderal Tio udah sepuh, tapi gak pernah gresulo (ngedumel). Beliau selalu senyum, kasih arahan ke para Black Armys, kasih dukungan mental biar gak loyo semangatnya biar mereka bisa naik level. Pokoknya, Jenderal Tio is the best! Jasamu udah kaya Pahlawan Kemerdekaan RI. Semoga, Jenderal Tio bangga punya murid kaya kita-kita yang selalu nyusahin dia. Amin," ucap Eko menutup pidatonya dengan mata sembab dan masih berusaha menahan air mata.


Semua orang mengamini doa Eko tersebut. Akhirnya, jenazah Jenderal Tio dikuburkan. Prosesi pemakaman begitu khidmat.


Eko bahkan membacakan Yasin dan doa-doa untuk jenazah. Semua orang tak menyangka jika Eko cukup religius dalam kondisi tertentu.


Orang-orang menaburkan bunga di sekeliling makam dan mencium nisan Jenderal Tio sebagai tanda hormat.


Makam Jenderal Tio berada di lahan khusus yang Vesper beli di dekat pabrik garmen sebagai pemakaman orang-orang yang telah tewas dalam misi.


Vesper menghargai setiap jerih payah dan kesetiaan mereka dengan memberikan penghormatan terakhir ketika mereka tiada.


Usai pemakaman. Di Markas Bawah Tanah, Pabrik Garmen Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia.


Teleconference dilakukan oleh Vesper, Han, Sun, Biawak Putih dan beberapa orang yang berada di Pemalang.


"Baiklah. Selidiki tempat yang dikatakan oleh Raden. Lalu, tetap awasi gerak-gerik Adipura. Jika ia terbukti bersalah, jujur, aku sudah malas berurusan dengannya. Kau saja yang urus, mau kau apakan ayahmu itu, Kai," jawab Vesper terlihat sebal.


"Ya, aku tahu," jawab Kai ikut terlihat tertekan karena ayahnya kembali berulah.


"Eko udah terlanjur di sini. Jadi ya to, Eko wajib dan kudu ikut misi," pintanya mantab.


"Tak perlu meminta, kau tetap dilibatkan," tegas Kai dan Eko mengedipkan mata karena tak tahu hal tersebut. Semua orang menahan senyum.


"Baiklah. Itu saja dariku. Terus berikan laporan perkembangan misi. Terima kasih dan hati-hati," ucap Vesper lalu menutup panggilannya.


"Maaf ya, kami tak bisa ikut," ucap Drake lesu dan Kai tak mempermasalahkan.


Hari itu, Kai menginap sehari di rumah Vesper sebelum kembali ke Yogyakarta keesokan harinya.

__ADS_1


Kai membawa tim baru bersamanya yang bertugas untuk mengintai pergerakan kediaman Adipura selama timnya mengusut Villa di Kaliurang.


Setibanya di Yogyakarta. Menjelang sore hari pukul 15.30 WIB.


Raden mengantarkan Kai dan timnya ke Villa yang dicurigai adalah tempat berkumpulnya orang-orang Adipura dengan kelompok baru entah dari golongan mafia atau bukan. Kai bertugas untuk menyelidikinya.


"Raden. Kau nanti tetap di mobil bersama Om. Jangan panik dan tetap tenang, oke?" ucap Kai sembari memakai earphone di salah satu telinga.


Raden mengangguk pelan, tapi matanya teralih ketika mendapati Jonathan terlihat siap seperti akan bertempur dengan seragam khusus berwarna hitam dan terlihat keren.


Namun seketika, mata Raden melebar saat melihat Jonathan mengecek amunisi di pistol dalam genggaman.


"I-itu ... i-i ...," jawabnya tergagap menunjuk senjata api tersebut.


"Ikan? Apa sih?" tanya Jonathan bingung menatap saudara barunya yang terlihat panik.


"Hem, sepertinya Satria belum mengatakan apapun tentang kami ya. Wah, kita ketahuan, Nathan," sahut Kai dari dudukan depan samping sopir.


"Hehe. Kita ini ... pasukan khusus. Keren 'kan?" jawab Jonathan sembari menaik-turunkan alisnya.


"Polisi?" tanya Raden memastikan.


Kai dan semua orang di dalam mobil tak menjawab. Mereka hanya tersenyum dan sibuk menyiapkan persenjataan.


Tiga mobil SUV hitam melaju kencang membelah jalanan aspal daerah Kaliurang ke kawasan yang jauh dari pemukiman sipil.


"Oke. Kita sudah sampai. Apa benar ini Villa-nya?" tanya Black Armys sebagai navigator dan supir dari misi tersebut.


Para Black Armys yang ikut dalam tim Kai adalah para penjaga Pos Darurat di Kota Yogyakarta, penempatan di Pusat Komando Green House-Naomi.


"Ya, bener, Om. Eh, sepi," jawab Raden seraya mengintip dari dalam jendela.


"Ok. Click, terbangkan CD," perintah Kai.


Mata Raden kembali melebar ketika melihat layar tablet yang diletakkan oleh Kai pada dashboard mobil menampilkan pergerakan timnya.


Raden terlihat kagum saat melihat layar tersebut dibagi menjadi 4 layar kecil dengan tampilan berbeda.


Click and Clack bersama dua orang Black Armys di mobil pertama. Eko dan tiga Black Armys berada di mobil ketiga. Sedang Kai, Jonathan, Raden dan satu anggota Black Armys di mobil kedua.


***

__ADS_1


uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍



__ADS_2