4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Penguasa Pengganti


__ADS_3

Mereka bicara bahasa Spanyol.


"Hem. Mulai saat ini, namaku Andreas Balconi. Tak ada nama Kim Jun Sea. Aku akan menguasai Coxen Hole dan Honduras, menggantikan senior-ku, Dominic Kenner."


"Ka-kau mengenal mafia besar bernama Dominic?" tanya pria berambut cepak.


"Ya. 13 Demon Heads. Dominic salah satu anggota Dewan yang akhirnya memutuskan mundur setelah gempuran militer merenggut kehidupannya di tanah ini. Dominic masih hidup dan kini menjadi orang kepercayaan nomor satu ibuku beserta orang-orang lainnya," jawab Arjuna tenang.


"Ibumu? Siapa? Jangan bilang kau anak dari Vesper," tanya seorang pria menunjuknya dengan mata melotot.


"Hem, sayangnya begitu. Namun, ada banyak hal yang membuatku tak bisa kembali sekarang. Jika kalian bersedia membantuku, akan kubawa semua orang ke jajaran 13 Demon Heads saat waktunya tiba. Namun untuk sekarang, kita akan berdiri sendiri. 13 Demon Heads tak bisa menerima penguasa rendahan seperti Andreas! Kita akan membuat nama Andreas besar seperti Dominic. Nama besar, luasnya kekuasaan, itu yang nantinya akan membawa kita ke 13 Demon Heads! Who's with me?!" teriak Arjuna lantang.


Semua pria langsung mengangkat tangan dengan mantab. Bahkan Samuel, Jose dan Miguel berjalan mendekati Arjuna dengan bertepuk tangan. Arjuna menatap tiga pria yang menyelamatkannya tajam.


"Sudah kuduga, kau bukan anak sembarangan, Sea, ah maaf, maksudku, Tuan Andreas. Baiklah. Sepertinya menarik. Kami akan ikut denganmu, tapi ingat. Seorang pria dipercaya dari ucapannya. Kupegang janjimu," ucap Samuel menunjuknya dan Arjuna memberikan tangannya untuk bersalaman.


Samuel menerima jabat tangan itu dengan mantab. Semua orang terlihat gembira. Mereka menyambut bos baru mereka dengan teriakan kemenangan. Padahal, perjuangan baru dimulai.


Arjuna memasuki rumah barunya dan mendapati dua wanita berkulit cokelat seksi dengan pakaian minim, mempertontonkan buah dadanya yang menyumbul penuh dan riasan tebal di balik wajah polos mereka.


"Biar kutebak. Kalian wanita Andreas?" tanya Arjuna memasukkan kedua tangan di dalam saku celana.


"Ya. Dan karena Anda sekarang penguasa baru di tempat ini, kami menjadi milikmu, Tuan Andreas. Kami sudah mendengar pidatomu yang mengesankan itu," jawab wanita berambut cokelat dengan suara desahannya.


"Kau sakit tenggorokan? Suaramu lebih buruk dari gesekan pedang saat di asah, Nona," ucap Arjuna yang mengejutkan wanita bertubuh sintal itu. "Kau bisa memasak?" tanya Arjuna menunjuk wanita berambut cokelat. Wanita itu mengangguk. "Lalu kau, apa bisa bersih-bersih seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan sejenisnya?" tanya Arjuna menunjuk wanita berambut hitam gelombang. Wanita cantik itupun mengangguk. "Good. Mulai sekarang, kalian berdua akan menjadi pelayan dan mengerjakan apa yang kukatakan tadi. Berani kabur, membelot, aku hadiahkan peluruku tepat di—"


"Agh!" kejut dua wanita tersebut saat Arjuna dengan cepat memasukkan moncong pistol di mulut mereka.


"Hem, tepat di dalam mulut kalian. Paham?" tanya Arjuna menaikkan kedua alis dan menatap dua wanita itu bergantian.


Dua wanita itu memejamkan mata terlihat begitu ketakutan. Keduanya mengangguk paham dengan berlinang air mata.


"Menyingkir dari hadapanku. Enak saja aku diberikan barang bekas. Dan ganti pakaian kalian! Membuatku sakit mata," gerutu Arjuna melotot tajam pada dua wanita yang berlari menjauh darinya.


"Sea, ah maaf. Maksudku, Andreas. Kau ... bukan homo 'kan?" tanya Miguel curiga.


Arjuna terkekeh sembari menyarungkan kedua pistolnya lagi di samping pinggang.


"Aku sudah memiliki calon isteri dan namanya Naomi," jawabnya dengan senyuman. Semua orang mengangguk pelan. "Hanya saja, seperti yang kubilang, aku harus menunjukkan kemampuanku dulu. Jadi, bantulah aku," pinta Arjuna membungkuk seperti orang Jepang yang memberikan hormat.


Orang-orang itu bingung, tapi melakukan hal yang sama. Arjuna tersenyum dan meminta kepada salah satu anak buah Andreas untuk menunjukkan seluk-beluk kediaman barunya berikut semua hal tentang Andreas untuk melengkapi kesaksian Ringgo.


Hari itu, Arjuna menjadikan dirinya seorang pria bernama Andreas Balconi, menggantikan penguasa sebelumnya. Arjuna mengakuisisi semua aset milik Andreas dan mengelolanya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Tuan Andreas. Kudengar 13 Demon Heads memiliki pelatihan khusus yang bernama, mm ... sesuatu dengan kata-kata militer, eh perkemahan, am ...."


"Camp militer," tegas Arjuna.

__ADS_1


"Ya, ya, itu. Apakah kau jebolan dari tempat itu?" tanya seorang anak buah Andreas bernama Simon.


"Dia anak dari Vesper, tentu saja dia lulusan sekolah itu. Harusnya kau melihat saat ia membunuh Andreas dan anak buahnya. Sangat kejam," jawab Jose meyakinkan.


"Pantas saja. Anda bisa bicara dengan banyak bahasa. Apakah selain Inggris dan Spanyol, Anda bisa bahasa lainnya?" tanya seorang pria yang memakai topi bernama Max.


"Aku sedang tak tertarik memamerkan kemampuanku. Fokus pada misi yang kuberikan," tegas Arjuna mengetuk sebuah meja besar dengan peta digital di layar. Semua mengangguk sungkan. "Aku cukup yakin anak buah ibuku sedang mencariku. Aku belum berniat untuk kembali. Aku ingin ke Honduras untuk melihat perkembangan di sana. Jadi, akan kukirimkan beberapa orang ke sana untuk menjadi mataku. Aku akan menunggu di tempat 'Dagang' seperti yang Greco katakan."


"Oke," jawab Samuel santai.


"Honduras, tepatnya ke mana?" tanya Ringgo-nahkoda kapal.


"Kediaman Dominic. Aku ingin melihat reruntuhan dari kerajaannya saat ia berkuasa. Ada yang tahu jalan ke sana?" tanya Arjuna melirik semua wajah yang mengelilingi meja.


Seorang pria bertubuh atletis mengangkat tangan. Arjuna menatapnya lekat.


"Mungkin kau tak tahu. Dulu aku salah satu anak buah Dominic yang selamat saat gempuran terjadi. Dan aku tahu siapa namamu sebenarnya. Kau, Kim Arjuna. Anak dari Vesper dan Kim Han Bong. Potong lidahku jika aku salah."


Arjuna tertegun karena pria itu mengenalinya. Mata semua orang kini menatap Arjuna tajam dan pemuda itu hanya tersenyum tipis.


"Oke, aku ketahuan," jawabnya pasrah. "Bawa aku ke sana dan kujanjikan, kau bisa bertemu majikanmu lagi," tawar Arjuna dan pria itu mengajak Arjuna bersalaman sebagai tanda sepakat.


Malam itu, Arjuna beristirahat di rumah barunya. Ia berdiri di balkon menatap indahnya lautan yang terlihat jelas dari lantai dua kamarnya. Wajahnya sendu dan membiarkan angin malam menerpa rambutnya.


"Tunggu aku, Naomi. Aku akan menjemputmu. Bertahanlah dari sikap kejam Jordan. Aku tahu kau wanita tangguh. Aku akan melepaskanmu dari cengkeramannya. Kita akan hidup bahagia di sini," ucapnya lirih. "Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?" tanya Arjuna terlihat frustasi seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Malam itu, Arjuna tidur dengan rasa rindu teramat dalam akan gadis yang dicintainya. Namun di sisi lain, Naomi terlihat bahagia saat menjalani hari-harinya bersama Jordan yang selalu ada di sisinya.


Di balkon teras kamar Jordan.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.


"Naomi, apa menurutmu konyol, jika aku ingin menikah denganmu?"


Praktis, ucapan Jordan membuat mata Naomi melebar seketika. Jordan menatap wajah Naomi dengan wajah datar.


"Am ... i-itu ...."


"Aku tahu. Aku belum cukup umur. Namun entah kenapa, saat aku teringat akan keharmonisan daddy dan mommy, Sia dan William, rasanya hidup mereka lengkap tanpa kekurangan. Memiliki pendamping yang selalu setia, membuat hati nyaman meski kehidupan yang dijalani sulit. Aku ingin merasakan kehidupan seperti itu, Naomi. Maukah kau mewujudkan mimpiku?"


Mulut Naomi menganga lebar. Ucapan remaja tampan di hadapannya seperti bapak-bapak berumur 41 tahun. Naomi mematung.


"Konyol ya? Hem, aku tahu. Aku merasa rambutku mulai beruban. Aku menemukan satu kemarin. Aku sengaja tak mencabutnya dan berharap tumbuh semakin banyak. Seandainya aku lebih tua darimu, pasti kau tak mungkin menolak ajakanku," sambungnya yang makin membuat Naomi diam seribu bahasa.


"Kau panas. Apa kau sakit? Kulihat kau sibuk sekali beberapa hari ini. Sebaiknya kau segera tidur," ucap Naomi lembut seraya memegang dahi Jordan dengan telapak tangannya.


Jordan mengajak Naomi tidur bersamanya lagi. Naomi semakin yakin jika Jordan sakit. Ia merasakan nafas Jordan menderu dan tubuhnya panas saat di pelukannya.


Tengah malam, Naomi terbangun karena Jordan seperti mengigau, tubuhnya berkeringat hebat. Remaja itu tak membuka mata padahal Naomi berusaha membangunkannya berulang kali.

__ADS_1


"Jordan, kau tak apa?" tanya Naomi cemas seraya menempelkan kedua tangannya yang sengaja ia basahi di kedua pipinya.


Tiba-tiba, mata Jordan terbuka. Naomi terkejut karena mata kekasihnya merah dan terlihat begitu menakutkan.


"Jo-Jordan," ucap Naomi gugup dan perlahan menjauh dari tubuh kekasihnya yang menatapnya tajam dengan nafas menderu. "Agh!" rintih Naomi saat Jordan tiba-tiba saja menerkamnya.


Tubuh gadis cantik itu tertindih dan Jordan memeluknya erat. Naomi bingung menghadapi hal ini. Jordan tak melakukan hal buruk seperti menyakiti fisiknya, tapi Naomi tahu jika Jordan sedang dalam kondisi gawat.


"Panas, agh ... rasanya aku seperti mau meledak, Naomi," erangnya menggeliat di atas tubuh kekasihnya dan makin memeluk Naomi erat.


Naomi terkejut. Ia berusaha bangun, tapi tenaga Jordan sungguh besar. Naomi mengumpulkan tenaganya dan bergulung ke samping. Pelukan Jordan akhirnya terlepas.


Saat Naomi akan bangun, dress-nya malah robek karena Jordan menariknya kuat. Mata Naomi terbelalak, tapi ia tahu jika Jordan tak sengaja melakukannya. Naomi membiarkan gaunnya rusak dan hanya mengenakan paka*an dalam.


Ia meminta Jordan bangun dari ranjang dan memapahnya ke kamar mandi. Naomi ketakutan karena wajah dan tubuh Jordan sampai memerah. Tubuhnya panas dan nafasnya menderu seperti orang marah.


"Berbaringlah," pinta Naomi memasukkan Jordan ke dalam bath up.


Jordan menurut dan terlihat begitu kesakitan karena terus mengerang. Naomi menyalakan air dan membiarkan tubuh Jordan tenggelam dalam air dingin itu.


Naomi melepaskan kaos kaki dan pakaian Jordan dengan tergesa meski kain-kain itu sudah basah terkena air. Naomi menyisakan boxer-nya saja dan menatap Jordan yang mulai tenang meski wajahnya tegang.


"Hei, hei, bagaimana? Kau kenapa? Apa perlu kupanggil Mix and Match?" tanya Naomi panik, tapi Jordan menggeleng dan memegang tangannya erat.


"Tetap di sini, argh ... jangan pergi," pintanya dengan nafas tersengal.


Naomi mengangguk. Ia duduk di samping bath up menemani Jordan dan terus mengawasi perkembangannya.


"Aku sudah lama tak kambuh. Kenapa terjadi lagi?"


"Maksudmu ... kau pernah mengalami hal ini?" tanya Naomi terkejut dan Jordan mengangguk.


Perlahan nafas Jordan mulai tenang saat tubuhnya sudah terendam. Naomi memegang tubuh Jordan yang mulai dingin tak panas lagi. Naomi bernafas lega. Ia mendiamkan Jordan cukup lama hampir 30 menit.


"Agh, dingin," ucap Jordan mulai menggigil.


Naomi terkejut dan segera menguras air dalam bath up. Naomi baru sadar jika kulit Jordan sampai keriput dan tubuhnya dingin.


Naomi memapah Jordan kembali ke kamar dan merebahkannya. Saat Naomi mendatangi Jordan untuk memberikan handuk, matanya melebar.


Ia baru menyadari jika Jordan melepas boxer-nya dan membiarkan keperkasaannya terekspos. Jordan terlentang di atas ranjang dengan mata terpejam dan tangannya seperti mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Dingin ...," rintihnya hingga keningnya berkerut.


"Oh!" pekik Naomi saat Jordan tak sengaja menarik handuk yang dipegangnya hingga tubuh Naomi malah jatuh dan matanya mendarat tepat di kejantanan Jordan yang tegak menantang. Naomi menelan ludah.


***


uhuy tengkiyuw tipsnya😍 gitu dwong kan lele jadi semangat😆

__ADS_1



__ADS_2