4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Tangan Merah*


__ADS_3

Oktober Minggu Keempat.


Di tempat Jonathan. Usaha legal di Amsterdam yakni sebuah restoran dengan menu dari dua negara. Indonesia-Belanda. Sayangnya, restoran itu tutup dalam waktu yang tak ditentukan karena serangan Miles.


Tentu saja hal ini merugikan Jonathan dalam hal finansial. Ia kini hanya bisa mengandalkan dari sisa uang direkening hasil kerja kerasnya saat bekerja bersama orang-orang ibunya dulu.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Jonathan. Kita sudah menghabiskan banyak uang. Kita bahkan tak bisa menggunakan pesawat pribadi lagi. Jika seperti ini terus, kau akan bangkrut," tegas Click.


Jonathan menggaruk kepalanya tampak frustasi. Ia sadar jika perjalanannya untuk mengamankan pos darurat dari bisnis legalnya menghabiskan uang.


Namun, Jonathan tak ingin tempat-tempat itu dijual karena beberapa diantaranya adalah peninggalan milik William Charles dan Erik Benedict.


Sayangnya, orang-orang yang dulu bekerja untuk dua penguasa itu banyak yang mengundurkan diri semenjak Jonathan yang mengelola tempat tersebut.


Terlebih, usaha legal tersebut dijadikan kedok untuk pos darurat dengan tujuan mengamankan wilayah para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.


Namun, setelah perseteruannya dengan Vesper, para pekerja yang sudah terlibat dalam dunia mafia hanya saja tak terjerumus terlalu jauh, memilih mundur.


Banyak orang-orang yang memihak kepemimpinan Vesper sebelum tempat itu dikelola Jonathan. Orang-orang itu memilih menjadi sipil dan meninggalkan dunia hitam.


Siapa sangka, di bawah kepemimpinan Jonathan, usaha itu merosot drastis karena ia mengerahkan anak buah dari kelompok The Circle bukan tipe pegawai.


Jonathan hanya memanfaatkan jumlah mereka yang banyak, tapi tak memiliki skill dalam mengurusi bisnis.


Selain itu, Jonathan masih terlalu hijau dan belum mampu mengelola sebuah usaha seperti para pendahulunya.


Saat Jonathan mengalami dilema, Clack menemukan sebuah tanda yang masih baru karena basah.



"Hei, lihat ini," panggil Clack yang berdiri di depan tanda tersebut saat mereka berada di gudang belakang gedung.


Jonathan segera mendekat. Ia mengenali tanda itu karena ditemukan di beberapa tempat dari pos darurat yang sudah ia kunjungi di seluruh dunia.


Tiga lelaki itu merasa jika ada kejanggalan saat mereka mendatangi pos darurat dari usaha legal Jonathan.


Mereka menemukan sebuah tanda di beberapa tempat saat berkeliling ke berbagai negara untuk mengamankan tempat-tempat itu.


"Cap tangan siapa ya? Sengaja ditempelin ini," tanya Jonathan yang ikut menempelkan tangan kirinya ke dinding yang memiliki cap tangan dengan tinta merah.


"Entahlah. Apakah bisa kita cek dengan pemindai sidik jari? Namun, untuk menemukan siapa pemilik telapak tangan ini, hanya dengan GIGA. Itu berarti, kita harus menemui Vesper atau Amanda," jawab Clack.


"Ah! Nathan gak mau berurusan sama dua ibu-ibu itu," jawab Jonathan malas.


PLAK!


"Agh!" rintih Jonathan saat kepalanya dipukul oleh Click.


"Jangan membuat kami berdua mencelupkanmu ke kolam lagi, Jonathan. Ini musim gugur, dan kau tahu rasanya air di luar sana. Seperti es," tegas Click kesal.


"Akan tetapi, ada yang aneh dengan tanda ini. Tempat-tempat yang kita datangi, seperti ditandai. Hanya saja sebelumnya, cap tangan itu ada dua. Sedang ini, hanya satu. Apa artinya?" tanya Clack berkerut kening. Click ikut diam dengan gelengan kepala.


Jonathan menatap mantan dua bodyguard Madam saksama seperti memikirkan sesuatu.


"Nathan jadi keinget sesuatu. Saat itu kalian tiba-tiba ilang ketika Nathan kecebur dan tau-tau udah di darat. Terus, tau-tau kalian muncul saat Nathan sendirian di rumah. Kalian sungguh mencurigakan. Kalian ini sebenarnya lawan atau kawan? Jangan-jangan, kalian berkomplot dengan mama ya? Mengaku!" tanya Jonathan menunjuk.


"Jika ya, kenapa?" jawab Clack tegas. Jonathan terkejut dan langsung mundur dengan panik sampai terpepet dinding.


"Apa yang kalian inginkan dariku? Apa yang ibuku janjikan pada kalian jika berkomplot dengannya?!" tanya Jonathan memekik.


Dua pria bertubuh besar itu terlihat gemas dengan cara berpikir anak ketiga Vesper tersebut.


Saat Click and Clack mendatangi Jonathan dengan langkah gusar hingga pemuda itu ketakutan, tiba-tiba saja, CEKLEK!

__ADS_1


"Oh!" pekik Jonathan saat pintu restorannya terbuka dan muncul sosok yang ia kenali dari seragam yang dikenakan.


"The Circle!" pekik Clack lantang dan segera berlari menghindar.


Jonathan panik dan ikut bersembunyi dengan tergesa dalam almari kayu. Click segera bersiap dengan pistolnya karena anak buah Jonathan yang membelot muncul di salah satu tempat usahanya.


KLANG! BUZZ!


"Gas buta!" pekik Jonathan lantang karena ia mengenali granat warna hitam yang dilemparkan ke dalam gudang. Segera, Jonathan menyuntikkan serum penawar yang selalu ia sediakan di balik alas sepatunya. "Sial! Bau ******! Kaki Nathan jamuran apa ya? Huek," keluh Jonathan saat menyadari jika sepatunya bau.


Sayangnya, Click and Clack tak memiliki serum itu. Jonathan terkejut dan segera keluar dari almari.


Namun, ia tak bisa membawa dua bodyguard-nya keluar dari gudang karena The Circle berjaga di sana.


Jonathan panik saat dua pria bertubuh besar itu mengerang kesakitan. BRAKK! DOR! DOR! DOR!


Jonathan nekat keluar dari persembunyiannya dan membuat gas hitam pekat itu menyeruak keluar dari gudang karena pintu yang terbuka.


Jonathan menembaki mantan anak buahnya yang telah dicuci otak oleh Miles, dan kini mengincar nyawanya. "Arrghhh!"


DOR! DOR! DOR!


Para anggota The Circle terkejut karena Jonathan menembakkan peluru saat kepulan asap hitam keluar dari gudang.


Sosok Jonathan yang tertutupi, membuat orang-orang itu tak menyadari keberadaannya karena Jonathan mengenakan pakaian serba hitam.


Jonathan terus menembak tak terlihat takut. Ia terus melangkah dan melepaskan peluru-pelurunya ke mantan anak buahnya itu. Serangan tak terduga itu membuat orang-orang The Cirlce tewas dengan cepat.


Jonathan mendekati salah satu mayat dan mengecek perlengkapannya. Beruntung, ia menemukan serum dari gas beracun itu.


Jonathan segera berlari mendatangi Click and Clack yang berhasil keluar dari gudang, tapi mata mereka sudah berdarah.


CLEB! CLEB!


"Kalian akan baik-baik saja. Belum sampai 5 menit," ucap Jonathan panik saat menusukkan jarum dari serum ke leher dua pria bertubuh besar tersebut.


CLEB! CLEB!


Jonathan menyuntikkan serum itu lagi. Ia takut jika Click and Clack buta, atau lebih buruknya lagi, mereka tewas. Jonathan tak peduli dengan dosisnya, ia hanya ingin dua pria itu selamat.


Jonathan meneteskan air mata di mana ia merasa jika dua lelaki itu adalah hal terakhir yang ia miliki karena keduanya selalu ada untuknya.


"Jangan mati," ucap Jonathan sedih, meski tetap berusaha tegar.


Click and Clack menggelepar di lantai. Jonathan membuka semua pintu dan jendela agar kepulan asap hitam itu terbawa angin.


Jonathan yang panik, segera menyalakan mobil dan membuka pintu tengah. Pemuda itu memapah mereka satu per satu ke dalam mobil.


BROOM!


Jonathan membawa dua orang itu ke rumah sakit terdekat dan langsung mendapat tindakan di UGD.


Dua pria itu tak lagi mengerang, tapi tubuh mereka berkeringat hebat. Dokter dan perawat segera melakukan tindakan, tapi pemuda itu mendapat banyak pertanyaan dari dokter yang bertugas.


"Apa yang terjadi?" tanya Dokter itu menatap Jonathan lekat.


"Mm, a-aku tidak tahu. Saat kami di rumah, tiba-tiba saja ada gas hitam muncul. Dua pamanku ini terkena gas itu lalu menjadi seperti ini. Aku panik dan langsung membawanya kemari. Apakah mereka akan mati?" tanya Jonathan ketakutan hingga tergagap.


"Sepertinya tidak. Hanya saja, matanya. Aku khawatir jika mereka akan mengalami kebutaan. Namun, akan dicoba semampu kami untuk menyembuhkan. Oleh karena itu, dua pria itu harus dirawat di rumah sakit ini," tegas Dokter dan Jonathan mengangguk pelan.


Perawat meminta Jonathan untuk mengurus administrasi. Jonathan yang tak pernah berurusan dengan pembayaran dan pengurusan pendaftaran, dibuat bingung dan kerepotan.


Selama ini, hal sepele itu dikerjakan oleh orang-orangnya. Kini, Jonathan yang sendirian, harus melakukannya dengan usaha sendiri.


"Oke, setelah ini ... aku kembali ke UGD untuk menginformasikan jika dua pasien itu sudah menjadi tanggunganku, lalu ... menunggu dari hasil pemeriksaan dokter untuk tindakan selanjutnya. Begitu?" tanya Jonathan memastikan ke bagian petugas pendataan. Petugas itu mengangguk.

__ADS_1


Jonathan segera berlari ke UGD dan memberikan surat dari pihak pendataan.


"Anda diharapakan menunggu dengan sabar. Kami akan melakukan pemeriksaan di ruang operasi. Jika nanti ada tindakan pembedahan, kami akan menginformasikan. Di sini tertulis, segala bentuk pengobatan dan tindakan, ditanggung oleh Anda, Tuan ... Jonathan Benedict," ucap Suster memastikan dari surat bagian pendataan.


"Ya, itu benar. Tolong sembuhkan mereka," pinta Jonathan dan suster tersebut mengangguk.


Jonathan tak bisa melakukan apa pun. Ia hanya bisa menunggu di luar ruang operasi saat dua pria itu menjalani pemeriksaan.


"Jika ada paman Jeremy ... semua ini pasti mudah. Apa kabarnya ya, orang-orang itu?" guman Jonathan murung saat teringat akan sosok profesor asal Filipina itu berikut orang-orang dalam jajarannya. Cukup lama Jonathan menunggu hingga ia tertidur di kursi.


"Tuan Jonathan," panggil Suster seraya menyenggol lengannya.


Jonathan terperanjat dan segera duduk tegap. Suster itu menatap pemuda itu lekat.


"Beruntung, dua pria itu tak perlu menjalani operasi besar. Hanya saja, pendarahan di matanya membutuhkan perawatan. Mereka buta untuk sementara waktu, tapi akan pulih dengan sendirinya. Hanya saja, butuh waktu. Oleh karena itu, dua pamanmu akan dipindah ke ruang perawatan. Anda dipersilakan untuk mengurus pemesanan kamar karena pilihan kelas ditentukan oleh pihak yang menanggung biaya pasien. Dalam hal ini, Anda, Tuan Jonathan," ucap Suster seraya memberikan sebuah kertas rujukan.


"Ya, saya mengerti. Terima kasih, Suster," jawab Jonathan dengan wajah kumal karena ia tak sempat membersihkan diri akibat panik.


Jonathan kembali mengurus untuk kamar yang akan ditempati oleh Click and Clack. Jonathan memilih kamar yang bisa ditempati oleh dua orang.


"Mm, Suster. Apakah aku boleh pulang ke rumah untuk mengambil perlengkapan? Sepertinya, dua pamanku akan lama dirawat di rumah sakit," tanya Jonathan.


Petugas itu mengangguk, tapi ia meminta jaminan jika Jonathan memang menyanggupi untuk melakukan pembayaran.


"Ini kartu kreditku sebagai jaminanku," ucap Jonathan dan petugas itu segera memeriksa kebenaran dari kepemilikan kartu tersebut.


Jonathan kembali menunggu, tapi ia merasa lega karena serum dari Jeremy berhasil menunda kematian dua bodyguard-nya.


"Sudah terkonfirmasi. Anda dipersilakan untuk pulang. Pasien akan diantar ke ruang perawatan begitu dokter sudah menyatakan pasien siap dipindahkan," ucap Petugas.


"Terima kasih, Suster," jawab Jonathan dengan wajah yang tampak lelah.


Pemuda itu kembali ke restoran tempat usahanya. Jonathan terlihat marah saat memandangi mayat-mayat dari anggota The Circle yang tewas di beberapa tempat.


"Argh! Miles sialan!" geramnya marah seraya menginjak dan menendang tubuh orang-orang yang tak bernyawa itu dengan brutal.


Jonathan membiarkan orang-orang itu babak belur karena luapan emosinya. Ia lalu melucuti seluruh atribut mantan anak buahnya itu dengan gelang pemenggal masih terpasang di tangan mereka.


KLEK! KLEK!


Jonathan membuka seluruh gelang dari pergelangan tangan orang-orang itu dan mengumpulkannya termasuk semua atribut yang mereka kenakan.


Jonathan menarik mayat-mayat yang sudah tak berbusana dan hanya mengenakan celana dallam ke dekat tungku tempat biasanya para koki memanggang masakan mereka. Jonathan menyalakan tungku itu hingga api berkobar dengan bara panas membakar.


SRAKK! WHOOM!!


"Pengacau," geram Jonathan melihat orang-orang itu terbakar dalam tungku panas yang ia nyalakan.


Jonathan lalu pergi ke kamarnya dan berbaring di sana. Pemuda itu meneteskan air mata dan terlihat begitu sedih. Ia memeluk gulingnya erat dengan wajah sendu seperti terpuruk.


"Nathan sendirian lagi," ucapnya sedih.


Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai ke dada. Pemuda itu terus meneteskan air mata kesedihan hingga akhirnya, ia memejamkan mata karena lelah.


Entah sudah berapa lama pemuda itu tertidur, ia mulai membuka matanya perlahan saat ia merasakan jika ada sebuah tangan yang menyentuh pipinya. Jonathan membuka mata dan melotot seketika.


"Kau tak apa?" tanya Cassie yang berbaring di depannya dengan senyum tipis.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy tengkiyuw tipsnya😘 panjang nih epsnya. Kwkwkwkw😆 Oia yg masih bingung soal sodara kandung dan tiri, biar alodokter* yg jelasin😁 Jadi bsk kalo lele nulis entah Lysa, Jojon, Junet atau Dara, mereka itu sodara tiri ya krn beda bapak semua walopun emaknya satu. Paham ya, kalo gak paham ya udah😑



__ADS_2