
Sun terbuai dalam romansa percintaan yang baru pertama kali menerjang dirinya. Ia merasakan napasnya memburu dan seperti tergesa ingin menyalurkan sebuah hasrat yang tak dimengerti, tapi ia sadar jika sentuhan lembut Sisca membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan lebih.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Hempf, maafkan aku, Sisca. Aku tak bisa mengendalikannya lagi," ucap Sun dengan napas terengah.
Dengan segera, ia berguling hingga tubuh Sisca yang berada di atasnya kini terlentang di atas kasur empuk itu.
Wajah Sisca ikut memerah saat Sun dengan terburu-buru melucuti pakaiannya sendiri. Gadis cantik itu ikut merasa gerah dengan dirinya sendiri.
Ditambah, matanya kini terfokus pada bentuk yang ia kenal, tapi berbeda dari sebelum-sebelumnya karena terlihat begitu perkasa.
Sisca berubah agresif dan langsung menerkam Sun sebelum pemuda tampan itu ingin menyerangnya.
Mata Sun melebar ketika melihat kekasihnya dengan rakus memanjakan miliknya karena terus menciuminya.
Jantung pria Asia itu serasa ingin meledak karena tak pernah merasakan sensasi luar biasa dalam hidupnya.
Perasaan ini melebihi saat ia harus bermain solo ketika diminta untuk mengeluarkan benihnya demi Sandara kala itu.
"Hah, Sun," engah Sisca yang mulai kehilangan kendali atas dirinya dan ikut menanggalkan seluruh pakaian indah yang menutup tubuh sintalnya.
Sun mematung, tapi ia menikmati pesona dari Sisca saat gadis berambut panjang itu merangkak mendekati lalu jatuh di atas tubuhnya. Namun anehnya, keduanya tak canggung.
Sun seperti lupa jika dia belum berpengalaman dalam hal ini, tapi tubuhnya seperti merespon dengan cepat ajakan menggairahkan itu.
Sisca bahkan dibuat tak berkutik ketika pria berambut cepak seperti potongan tentara itu terus menciumi tubuhnya. Sun tampak tergesa saat ingin menjajal kemampuan dari si tongkat tumpul kebanggaannya.
Gadis berambut pirang itu dengan sendirinya melebarkan kedua kaki karena ikut tak sabar untuk segera disusupi bahkan membiarkan penyerang itu tak berperisai.
"Emph! Sun, pelan-pelan," rintih Sisca saat merasakan miliknya dengan mudah diterjang tanpa susah payah.
"Tidak bisa! Aku tak bisa mengendalikannya," jawab Sun yang malah semakin gencar menerobos.
Sun yang tak sabaran terus mendorong miliknya hingga tertelan sepenuhnya seperti tak memberikan celah bagi udara sekalipun untuk menyelinap.
Tubuh Sisca terhentak bahkan ia sampai memukul-mukul alas kasur karena tak sanggup menahan gejolak di tubuh akibat perlakuan buas calon suaminya yang terbilang perdana itu.
Sun hanya ingin miliknya dipuaskan. Ia bahkan seperti seorang ahli yang dengan sigap menarik tubuh Sisca hingga duduk di pangkuannya.
Gadis cantik itu kembali dibuat tak berdaya saat merasakan sentuhan Sun yang terasa memanjakan dirinya.
Sun memijat tubuh kekasihnya yang terasa tegang dan tak membiarkan miliknya terlepas dari terowongan kenikmatan itu.
__ADS_1
Sisca sampai kesulitan bernapas karena Sun terus menggempurnya tak memberikan jeda.
Pemuda itu bahkan tak segan mengincipi rasa baru dari dua buah bentuk yang tampak menggiurkan dan sangat disayangkan jika tak disantap.
Sisca tak bisa lagi menahan raungan kenikmatan yang telah menjalar di tubuhnya. Rintihan Sisca malah membuat Sun makin membara.
Sun melahap habis dua benjolan menggemaskan itu secara bergantian bahkan tak segan merematnya.
Sisca sampai lemas dan tak mampu bergoyang lagi, tapi Sun malah semakin bersemangat untuk menyalurkan hasrat yang selama ini terkurung.
"Sun, stop! Ah!" erang Sisca berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Sun.
"Tidak!" jawab Sun garang dan malah semakin berambisi untuk melumpuhkan pertahanan sang kekasih.
Sisca roboh dan tak mampu untuk bergerak lagi. Napasnya tersengal hingga bibirnya kering karena terus-terusan menyuarakan rintihan kenikmatan itu.
Sun yang belum puas kini menyerang Sisca dari belakang. Sisca dibuat terkapar karena tak menyangka dengan keagresifan putera dari mendiang agent M tersebut.
Sisca tertegun ketika pinggulnya dipegangi kuat oleh Sun agar miliknya terpuaskan. Sisca sampai memejamkan matanya rapat dan mencengkeram kuat sprei di kasurnya yang sudah terlepas dari sudutnya.
Berulang kali Sisca hampir roboh, tapi Sun menarik tubuhnya lagi hingga gadis cantik itu benar-benar kehilangan energi seperti berlari lapangan sepak bola sebanyak 10 kali.
"Ergh, Su-Sun. Aku tak sanggup lagi," keluhnya dengan rambut sudah berantakan bahkan kepangan dari kekasihnya tadi sudah menutupi wajah cantiknya.
"Hah, masih belum. Bertahanlah," tolak Sun yang kini merobohkan tubuh kekasihnya karena merasa jika kedua lutut Sisca tak mampu menopang tubuhnya lagi.
Sun berusaha agar miliknya segera terpuaskan, tapi entah apa yang terjadi, semburan itu tak kunjung datang padahal puteri Bojan sudah tak sanggup dan mengibarkan bendera putih.
"Hah, Sisca," panggil Sun karena gadis cantik itu diam saja tak merespon.
Seketika, gairah Sun lenyap. Ia menyibakkan rambut Sisca yang menutupi paras ayunya. Sun segera melepaskan miliknya yang masih tegang itu untuk melihat yang terjadi.
"Sisca? Sisca!" teriaknya panik karena kekasihnya seperti orang yang hampir pingsan.
Mata Sisca sayup dan tubuhnya lunglai. Sun merasa bersalah dan memeluk kekasihnya erat.
"Aku ... aku tak sanggup lagi," ucap Sisca dengan suara lirih seperti orang berbisik.
"Aku mengerti. Aku minta maaf. Aku minta maaf," ucap Sun mendekap Sisca erat lalu merebahkan perlahan di kasur.
Sun menyelimuti gadis cantik itu yang tampak pucat tak terlihat bergairah lagi seperti tadi. Sun segera beranjak dari kasur dan mengenakan pakaiannya lagi dengan tergesa.
Pikiran buruk langsung menghampirinya. Ia melihat Sisca seperti tertidur usai perbuatan buasnya.
__ADS_1
TUT ....
"Ya, Sun. Ada apa?" jawab Bojan saat menerima panggilan telepon dari calon suami anaknya itu.
"Tu-Tuan Bojan. A-aku minta maaf," jawabnya panik dan berulang kali menoleh ke arah Sisca yang memejamkan mata.
"Kenapa?"
"Mm ... a-aku ... entah bagaimana aku harus mengatakannya. Namun ... sepertinya aku tak bisa menyusul besok. Sisca tampaknya sakit dan harus kubawa ke dokter," jawabnya gugup.
"Sakit? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Bojan terdengar panik.
Sun kebingungan saat menjawab. Ia menggaruk kepalanya berulang kali, tapi pada akhirnya mengaku meski ia yakin jika Bojan akan marah besar jika mengetahui hal itu.
"A-aku ... aku ...."
"Aku apa?!" bentak Bojan yang ikut tak sabaran.
"Aku ... aku melakukannya dengan puterimu, Sisca. Lalu ... aku tak bisa mengendalikan diri. Sepertinya ... aku terlalu bersemangat dan Sisca ... dia ... sepertinya tak bisa mengimbangiku. Jadi ... puterimu ... dia ... sepertinya kelelahan. Aku sungguh minta maaf!" ucap Sun yang berujung teriakan bahkan membungkuk seolah Bojan berada di depannya.
Keheningan langsung terasa. Lama Bojan tak menjawab usai Sun mengakui perbuatannya. Sun masih menempelkan ponsel miliknya di salah satu telinga dengan jantung berdebar kencang. Matanya terpejam erat dan masih membungkuk sebagai penyesalannya.
"Ah, begitu. Kalau demikian ... lakukanlah dengan sedikit lembut. Tak perlu dibawa ke rumah sakit. Sisca hanya perlu istirahat sejenak. Biarkan dia tidur sementara waktu lalu kalian bisa melanjutkannya lagi," jawab Bojan santai, tapi membuat mata Sun langsung terbuka.
"Maaf?" tanya Sun bingung dan kembali berdiri tegap.
"Saat bangun nanti, pastikan Sisca makan-makanan yang bergizi agar tenaganya pulih. Minta pelayan mengantarkan potongan buah-buahan segar, minuman dingin, dan cake kesukaannya. Itu akan membantunya kembali bugar. Kau juga harus makan yang banyak. Ya, aku tak menyalahkanmu jika kau sangat bersemangat untuk menyalurkan hasratmu. Namun, kau harus ingat. Kau itu petarung, sedang Sisca bukan. Tentu saja anakku tak bisa mengimbangimu. Jadi, turunkan sedikit kekuatanmu sehingga Sisca tak perlu sampai terkapar seperti itu," jawab Bojan yang membuat Sun malah mengedipkan mata karena jawaban dari calon mertuanya di luar dugaan.
"Sun?" panggil Bojan karena pemuda itu malah terbengong seperti mencoba menelaah maksud dari ucapannya di mana mantan anggota dewan itu kembali mengintip dari layar laptopnya.
"Ya, aku mengerti. Terima kasih atas nasihat Anda. Jika demikian, aku akan menyusul esok pagi setelah Sisca membaik," jawab Sun gugup.
"Baiklah."
Bojan menutup panggilan telepon usai memberikan pencerahan pada calon menantunya.
Sedang Sun, masih berdiri dengan ponsel dalam genggaman dan wajah lugu akan suatu hal yang masih sulit ia mengerti.
Namun, pemuda itu langsung bergegas keluar kamar dan meminta kepada pelayan untuk menyiapkan makanan seperti yang Bojan sarankan.
Sun kembali ke kamar dan duduk di pinggir ranjang menatap Sisca yang tertidur pulas.
"Aku minta maaf, tapi ... aku senang melakukannya denganmu. Baiklah, untuk selanjutnya, aku akan sedikit lembut. Hem!" ucapnya mantap dengan senyuman seraya memandangi calon isterinya yang tertidur pulas.
__ADS_1
***
tips koinnya next eps aja. gak usah nglunjak minta babak berikutnya. imajinasiin sendiri aja. kwkwkw😆