4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dugaan Vesper


__ADS_3

Keesokan harinya, mansion Han, Hong Kong.


Vesper sudah terlihat sibuk dengan ponsel dalam genggaman seperti mencari sesuatu. Han yang baru bangun langsung mendapati sang isteri berwajah serius.


"Hem, ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Han meletakkan kepalanya ke paha sang isteri menjadikan bantal.


"Kau lihat sendiri 'kan rekaman yang dikirimkan Zaid semalam, dari acara pembukaan butik dan salon Sandara di Paris?" jawab Vesper menatap wajah suaminya yang masih memejamkan mata.


"Hem, lalu?" jawab Han malas dan kini memiringkan tubuhnya memeluk perut sang isteri.


"Selama ini, Sierra bersembunyi dari kita, Kak Han. Jonathan bahkan mencarinya selama bertahun-tahun lamanya. Sosok Sierra saja tak ditemukan oleh GIGA. Namun, Sierra menunjukkan diri di depan publik saat pembukaan toko Sandara," jawab Vesper menatap wajah suaminya lekat yang malah menyembunyikan parasnya.


Namun, Han tak menjawab.


"Ih, Kak Han! Jangan mengabaikanku! Aku sedang serius!" keluh Vesper kesal dan langsung mendorong kepala serta tubuh suaminya sampai bergulung di atas kasur.


"Agh, kasar sekali!" protes Han, tapi wajah Vesper yang mendesis malah membuat Han menelan ludah.


"Aku dengar yang kau katakan. Aku tak mengabaikanmu, hanya saja, aku tak paham dengan maksud ucapanmu, Sayang. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Jangan marah," rayu Han kembali mendekati isterinya yang berwajah masam.


"Lupakan saja. Aku akan sampaikan hal ini pada Kai," jawabnya sebal, tapi membuat mata Han melotot lebar.


"Hei, hei. Ada aku kenapa harus melibatkan si lembek itu? Coba jelaskan sekali lagi," tegasnya langsung mendekap tubuh Vesper dari belakang yang akan beranjak dari kasur.


Vesper menghembuskan nafas panjang. Han bermanja-manja dengan meletakkan dagunya di bahu sang isteri. Amarah Vesper mereda.


"Sederhananya, Sierra mengorbankan dirinya. Ia muncul di depan publik di mana selama ini gadis cantik keturunan Flame itu menyembunyikan diri dari para musuhnya, Kak Han. Sierra dalam bahaya dan aku yakin jika Jonathan akan ikut diincar oleh para musuh No Face selama ini," jawab Vesper menegaskan.


Han terlihat serius seketika.


"Lalu ... siapa musuh No Face? Bukankah ... The Circle kini sudah berdamai dengan 13 Demon Heads? Sierra saja malah berkeinginan bisa menikah dengan Jonathan untuk menjaga kesatuan. Tessa juga demikian, hanya saja dia belum ditemukan. Dan satu lagi, Venelope. Kita belum tahu apapun tentang wanita itu. Namun bagiku, para pemimpin No Face yang tersisa siap berdamai dan bergabung dengan kita. Tinggal Tobias saja yang ... hah, entahlah. Anak angkat tak resmimu itu, aku masih belum bisa menerima kehadirannya," sahut Han mengutarakan pendapat.


Vesper menoleh dan menatap wajah suami tertuanya seksama terlihat berpikir keras.


"Smiley? Orang itu menurut Sierra adalah ancaman. Bisa jadi dia yang merencanakan semua ini. Dia saja terang-terangan mencelakai Jonathan di hadapan para anggota The Circle. Lalu beberapa waktu lalu, Jonathan ditembak. Sampai Jonathan belum menghembuskan nafas terakhir, hidupnya terancam, Kak Han. Aku tak ingin kehilangan anakku," ucap Vesper sedih seperti akan menangis.


Han langsung memeluk istrinya erat. Ia ikut mencemaskan keadaan Jonathan mengingat akhir-akhir ini banyak serangan datang padanya dengan tujuan untuk membunuh anak mendiang Erik Benedict.


Han melepaskan pelukannya perlahan. Vesper menatap wajah suaminya lekat. Han tersenyum sembari mengusap wajah sang isteri lembut.


"Aku akan menghubungi Click and Clack. Dan bagaimana jika ... kita nikahkan saja Jonathan dan Sierra segera. Aku rasa, itu bisa menyelamatkan nyawa mereka, karena musuh-musuh akan berpikir. Mengusik The Circle, akan berurusan dengan 13 Demon Heads, begitupula sebaliknya. Kita bisa menyelamatkan keduanya," ucap Han antusias.


Kening Vesper berkerut terlihat serius memikirkan ucapan suaminya. Vesper berguman sendirian seperti melakukan analisis akan kemunculan Sierra kemarin.


Vesper yang duduk berhadapan dengan sang suami, membuat Han kembali bermanja-manja dengannya.

__ADS_1


Namun, Vesper mengabaikannya. Ia kembali membuka ponselnya mencari berita di internet tentang kemunculan Sierra atau peresmian brand Sandara Style.


"Kak Han," keluh Vesper saat kedua tangan kekar sang Suami mulai menjamah dan menyelinap di balik rok dress tidurnya.


Vesper yang sibuk mencari berita atas penilaian publik akan dua gadis cantik melalui internet di ponselnya, mulai tak bisa menahan gairah karena tangan jail Han sudah menyelinap sampai ke atas dan malah melepaskan pakaiannya.


"Kak Han!" teriak Vesper saat ia menyadari perbuatan mesum sang suami yang kini mendekapnya kuat dari belakang.


Han tak peduli. Tangan kanannya sudah singgah di segitiga bermuda sang isteri dan malah bermain di sana dengan jemarinya.


Vesper menggeliat dengan ponsel dalam genggaman ketika tangan kiri Han memijat kuat buah dada sang isteri bergantian.


Han menciumi pundak dan tengkuk Vesper dengan lembut yang membuat sang Ratu mulai bergairah.


"Kak Han," rintihannya dalam kenikmatan.


"Hem? Nikmati saja, Sayang," jawab Han tersenyum licik melihat Vesper mulai tak bisa menahan hasratnya. "Aku masukkan ya," bisiknya mesra dan Vesper mengangguk.


Dengan sigap, Han mengangkat pinggul Vesper dan memasukkannya dari belakang secara perlahan.


SLUP!


"Emph, padahal sudah ratusan kali melakukannya, tapi tetap saja milik Kak Han terasa penuh dan sesak di dalam," batin Vesper sembari mencengkeram kuat ponselnya.


Han terlena dengan gelagat sang isteri yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Goyangan pinggul, desahan lirih dan rintihan kenikmatan Vesper, membuatnya semakin kuat menyodokkan miliknya.


"Apa itu?" tanya Han sampai terhenti melakukan aktivitasnya.


"Ponselku ... remuk, Kak Han," rengek Vesper dalam posisi merangkak.


Han tertawa lepas. Ia tak menyangka jika Vesper masih menggenggam ponselnya sedari tadi.


Han mengambil ponsel yang sudah remuk dari genggaman tangan sang isteri dan meletakkan di lantai. Han kembali pada tubuh isterinya yang terlentang dengan wajah sedih.


"Belikan yang baru," rengeknya manja.


"Hem," jawab Han santai dan kembali memasukkan miliknya.


"Dua."


"Ish. Satu. Suami sudah dua. Ponselmu saja sudah ada 5. Tidak, satu saja," tolaknya dengan mata melotot di atas tubuh sang isteri.


"Pelit."


"Kau bilang apa?"

__ADS_1


"Ahh, pelan-pelan," kejut Vesper saat Han mendorong miliknya kuat hingga tubuhnya tersentak.


"Katakan pelit lagi, tak ada ampun bagimu," ucap Han geram yang kini menaikkan kedua kaki Vesper di atas pundaknya dan memeganginya kuat.


Vesper tak bisa berkutik. Ia pasrah dengan apa yang Han lakukan padanya. Keduanya menghabiskan waktu di dalam kamar seharian.


Aktivitas yang dilakukan meliputi makan, tidur, mandi bersama, menonton acara televisi, mengobrol, mengecek email pekerjaan dan bercinta. Hal itu mereka lakukan sampai bertemu matahari pagi.


Sedang di sisi lain. Kediaman Sierra Flame, Colmar, Perancis.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Aku tak apa, Jonathan. Sudah waktunya, aku menunjukkan diri. Tak mungkin aku bersembunyi terus," ucap Sierra menenangkan kekasihnya yang kesal dan mondar-mandir di samping jendela bertolak pinggang.


"Ini semua gara-gara Dara. Sierra udah bantu terlalu jauh. Untung aja orang-orang itu bisa menerima keberadaan Sierra, kalau gak? Nathan gak mau kalau Sierra dihina karena ...."


Jonathan menggantung ucapannya saat melihat sang kekasih duduk di kursi roda menatapnya seksama. Sierra tersenyum.


"Aku sadar jika aku cacat. Aku bisa menerima kenyataan ini. Sudahlah. Anggap saja perbuatanku ini permintaan maaf karena dulu mengambil Afro darinya," ucap Sierra sembari mengarahkan kursi rodanya ke samping ranjang.


Jonathan segera bergegas menggendong Sierra dan mendudukkannya di ranjang perlahan, tapi ....


BRUKK!


"Eh!" pekik keduanya bersamaan ketika malah jatuh di atas kasur karena kaki Jonathan menabrak kursi roda elektrik Sierra.


Sierra tertawa pelan di atas tubuh Jonathan yang menjadi alas jatuhnya. Namun kemudian, keduanya saling bertatapan terlihat canggung, tapi tak ada yang bergerak untuk menyingkir.


Jonathan menyingkirkan rambut indah sang kekasih yang menutupi paras cantiknya. Sierra diam dan membiarkan Jonathan melakukannya.


"Sierra. Mm ... jangan marah ya, tapi ... Nathan udah pengen banget. Nathan udah gak bisa nahan lagi. Boleh gak?" tanyanya gugup, tapi membuat Sierra terkejut.


Jonathan menatap Sierra lekat yang memalingkan pandangan. Jantung Jonathan berdebar kencang dan merasa kesulitan bernafas karena menunggu jawaban kekasihnya. Namun kemudian, Sierra mengangguk pelan.


"Beneran? Boleh? Yey!" jawabnya riang memeluk Sierra erat.


Gadis cantik itu tertawa saat Jonathan berguling bersamanya di atas kasur ke kanan dan ke kiri.


"Mm, terus ... gimana kita memulainya? Nathan belom pernah, Nathan gak tau," jawabnya polos.


Sierra terkekeh meski tak bersuara. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jonathan perlahan.


Jonathan memejamkan mata dan mulai menghayati setiap sentuhan yang Sierra berikan padanya. Jonathan terbuai akan ciuman lembut sang kekasih. Ia kembali bergelora dan mulai mengganas.


***

__ADS_1


kwkwkw lama gak bikin beginian kesemutan jariku. jadwal up dituker dulu ya sama SM. tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍


__ADS_2