Duren Manis

Duren Manis
Chapter one - bertemu dengannya lagi


__ADS_3

secercah sinar matahari menembus jendela kamar seorang gadis, ayam berkokok bersaut-sautan. Gadis itu mengerjapkan matanya, ia masih mengumpulkan nyawanya. Dia terduduk diranjang, wajahnya yang nampak sayu mengisyaratkan betapa lelahnya dirinya, dia bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, setelahnya ia menata ranjangnya yang sedikit berantakan. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk melihat ibunya, ia melihat ibunya masih berkutat dengan penggorengan panas.


" selamat pagi bu ". sapa gadis itu, ibunya menghentikan kegiatan memasaknya, dia menghampiri putrinya.


" selamat pagi juga sayang". tak lupa ibunya mencium kening gadis itu, sudah menjadi rutinitasnya.


" sudah sholat?". gadis itu menggeleng


" kan lagi Mens bu".


"oh iya ibu lupa".


" sini bantuin ibu, mengupas bawang ini". gadis segera melaksanakan perintah ibunya.


semua bawang telah terkupas sudah, dia pamit kepada ibunya untuk pergi ke kamar mandi karena dia harus pergi sekolah.


" bu siti mandi dulu ya". nama gadis itu tak lain adalah siti nur hayati, kerap dipanggil siti.


"iya ibu juga mau membangunkan bapak sama adik mu ".


siti segera menyelesaikan mandinya, bersiap-siap pergi kesekolah. ia sarapan bersama keluarganya.


" siti bapak boleh minta tolong?". kata bapak siti, wisman.


"boleh pak"


"tolong anterin adik kamu ya, bapak soalnya ada urusan mendadak, nanti nana biar bapak yang jemput". bapak siti segera menyelesaikan sarapan nya dengan tergesa-gesa, ia mengambil kunci motornya.


" bapak mau kemana?". tanya siti


" bapak kamu ada urusan sama bos nya". balas ibu siti, mirna.


"oh, yaudah pak, nanti siti yang ngaterin nana". mendengar hal itu bapak siti nampak terasa lega.


" makasih ya sit, bapak pergi dulu". siti mengangguk, ia meyalimi bapaknya, sang adik juga. tak lupa bapak siti mencium kening sang istri.


"Assalamualaikum".


" wa'alaikumsalam". balas siti, nana, serta mirna ibunya dengan serempak.


mereka segera menyelesaikan sarapan nya. siti dan nana yang sudah selesai, akhirnya bersiap-siap pergi kesekolah.


" bu siti berangkat dulu ya ". siti berpamitan kepada ibunya.


" nana juga bu". saut nana adik siti yang masih duduk dibangku sd kelas 3.


"yaudah kalian hati-hati ya". mirna mengantarkan kedua putrinya ke teras. siti mengambil sepeda ontel nya di dalam garasi. dia menaiki nya, setelah itu nana duduk dibelakang.


" kami berangkat bu, assalamualaikum ".


" wa'alaikumsalam". siti mulai mengayuh sepedanya. sekolah nana dan siti memang searah. jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh, jadi dia memilih menggunakan sepeda ontel. butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai disekolahnya. Siti selalu berangkat lebih awal agar tidak terlambat datang. Dia juga masih sayang terhadap buminya, dia tidak mau sampai terjadi global warming.

__ADS_1


Siti, dia termasuk gadis yang peduli akan lingkungan. dia memang bukan dari keluarga orang yang berada, ibunya hanya seorang buruh cuci, sedangkan bapaknya seorang kuli bangunan. keluarganya memang bukan berasal dari kota ini, mereka dari desa.


keluarganya memutuskan pindah kesini karena siti mendapatkan beasiswa siswa dikota ini, tak tega meninggalkan siti tinggal dikota sendiri, akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke kota.


siti terus mengayuh sepedanya tanpa rasa lelah, ia sudah terbiasa menggunakan sepeda ontel sejak siti masih SMP. sekolah sang adik sudah terlihat dari kejuahan, siti mengayuh sepedanya dengan sangat cepat, tanpa sadar ada sebuah mobil yang keluar dari sekolah nana, siti sangat terkejut, belum sempat ia mengerem sepeda nya, ia sudah menabrak mobil itu dari samping, nana dan siti terjatuh secara bersamaan, lengan siti tergores aspal jalan, sedangkan nana baik - baik saja.


"aw, shh ". Siti meringis kesakitan, lengannya mengeluarkan darah, nana yang melihat hal itu, terlihat panik.


" kakak nggak papa kan, lengan kakak berdarah". siti masih terduduk dijalan. Seorang pria yang tak lain adalah pemilik mobil itu, ia keluar dari mobilnya, dan ia terkejut melihat lengan siti yang berdarah, ia berniat membantu siti.


"dek, kamu nggak papa kan, lengan kamu berdarah, ayo ikut saya ke rumah sakit". ajak pria itu.


" saya nggak papa kok pak". pria itu membantu siti berdiri, siti menatap pria tersebut, ia terkejut.


"pak rendy". pria itu sama terkejut nya dengan siti.


" siti ". pria itu nampak senang sekaligus sedih karena sudah membuat siti terluka, senang karena bisa bertemu dengan siti lagi.


" loh bukannya bapak pindah ke hongkong ya?". siti mengerutkan keningnya, ia bingung. pak rendy adalah guru agamanya waktu SMP dulu, dan pindah ke hongkong waktu siti masih kelas 2 SMP. kenapa sekarang pria itu tiba - tiba berada disini.


" nanti saja saya ceritakan, sekarang ayo ikut bapak ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka kamu". Pak rendy mendekati nana adik siti, ia membisikkan sesuatu, nana mengangguk setuju.


" kak, nana sekokah dulu ya". nana segera masuk ke sekolah nya.


"sekarang kamu ikut saya". pak rendy menarik lengan siti yang tidak terluka, ia membukakan pintu mobilnya, menyuruh siti untuk masuk, dan siti menurut saja.


" sepeda saya gimana pak".


" Gimana kabar kamu sit?". pak rendy akhirnya membuka suaranya.


" saya baik pak, bapak sendiri gimana?".


"saya sedang nggak baik - baik saja sit". balas pak rendy murung, ia masih memikirkan kejadian 5 bulan lalu setelah ia bercerai dengan sang istri.


siti mengerutkan keningnya," memang nya bapak kenapa?". tanya siti.


pak rendy menggelengkan kepalanya, membuat siti semakin bingung, jujur saja saat bertemu lagi dengan pak rendy, ia sedikit melihat perubahan dalam diri pak rendy. dulu pak rendy yang terlihat gagah, sekarang kurus seperti tak terurus sama sekali, ia bingung apa istrinya tidak merawat pak rendy dengan baik. siti memang sudah tau kalau pak rendy sudah menikah sebelum ia mengajar di SMP nya.


" bapak bilang saja, jangan dipendam sendiri pak. biar hati terasa lega". ujar siti menasehati pak rendy.


pak rendy hanya tersenyum simpul," mungkin lain waktu, bapak bilang ke kamu".


" ngomong-ngomong bapak ngapain di sekolah nana".


" mengantarkan anak saya sekolah". siti terkejut, ternyata pak rendy sudah memiliki anak.


"laki-laki apa perempuan pak". tanya siti antusias.


" anak saya laki-laki". balas rendy


"pasti ganteng seperti bapak". siti membayangkan bagaimana rupa anak pak rendy, pasti lucu. pak rendy hanya tersenyum.

__ADS_1


" nanti kalau ada waktu saya bakal mengenalkan anak saya ke kamu".


" benar ya pak".


"iya". siti terlihat senang


akhirnya mereka sampai di rumah sakit, pak rendy segera membawa siti masuk kesana, ia memanggil suster. Suster membawa mereka ke ruang ICU, dokter masuk, dan segera mengobati luka siti.


" bagaimana lukanya dok?". tanya pak rendy


"lukanya tidak begitu parah, bapak tenang saja. kulit arinya hanya terkelupas sehingga mengeluarkan darah, hanya diberi salep dalam kurun waktu 3 hari lukanya akan mengering". jelas dokter tersebut, ia membalut luka siti yang sudah diberi obat dengan kasa.


"nah, sudah selesai". siti sudah tidak merasa sakit lagi, luka di lengannya terasa dingin.


" saya akan memberi salepnya".


Pak rendy menyuruh siti untuk menuggu diluar. siti duduk dikursi tunggu, ia melihat jam dinding dirumah sakit yang sudah menunjukkan pukul 7 tepat, aduh aku sudah telat.


clek..


pintu ruang ICU terbuka, keluarlah pak rendy di ikuti dengan dokter,


"terima kasih ya pak".


" sama-sama pak rendy". dokter itu pergi, pak rendy menghampiri siti, ia memberikan salep itu kepada siti.


"ini sit salepnya, nanti kamu olesin sehari 2× sampai luka kamu benar benar sembuh". siti meraih salep itu,


"tapi saya nggak punya uang untuk menebus salep ini pak".


" saya yang sudah menebusnya, sebagai tanda permintaan maaf saya". siti terharu, ternyata pak rendy masih sangat baik padanya. ia jadi teringat waktu ia SMP, ia terjatuh dari Sepeda dan pak rendy lah yang menolongnya pertama kali.


" terima kasih banyak pak".


" ayo saya antar kamu pulang". ajak rendy


"tapi saya masih harus sekolah pak". balas siti


" dalam keadaan kamu yang seperti ini, kamu masih ingin sekolah?". siti mengangguk singkat.


pak rendy menghela napas singkat," lebih baik kamu pulang sit, agar kamu cepat sembuh. kamu bisa menghubungi waki kelas kamu, kalau kamu tiba-tiba sakit mendadak. kali ini dengarkan saya siti". pak rendy berubah menjadi tegas pada siti. siti terlihat berpikir, akhirnya mengangguk setuju. siti segera menghubungi wali kelas nya dan mengatakan kalau ia sedang sakit.


" sudah?". siti hanya mengangguk


"ayo, alamat rumah kamu masih sama kan".


" iya pak". pak rendy dulu memang pernah berkunjung ke rumah siti, waktu siti sakit dulu. jadi ia hapal betul alamat rumah siti.


mereka masuk kedalam mobil. diperjalanan mereka bercerita banyak hal, dan berbagi pengalaman mereka masing-masing.


••••••••••••••

__ADS_1


TBC.


__ADS_2