
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 29
“Tapi Tuan Endy, saya minta mereka bertemu secara
personal dengan Nyonya Kinanti dan pertemuan itu direkam.” Dokter Debora menyunggingkan
senyum yang mengintervensi Endy.
Pria paruh baya itu mengambil ponselnya, ia
menelpon Ken lagi. Kali ini Ken mengangkat telponnya sedikit berbisik. Endy
mendengar suara orang berbicara di belakang Ken. Pria paruh baya itu menarik
nafas panjang, Endy lupa kalau Ken mungkin sedang meeting.
“Halo, pah. Ada apa?” tanya Ken.
“Ken, kamu masih meeting? Bisa diganggu atau papa
telpon nanti saja?” tanya Endy.
“Bilang saja, pah. Ada apa?” tanya Ken lagi tanpa
mempedulikan stafnya yang sedang bicara.
“Ken, bisa kau atur agar papa dan mama bisa ketemu
Kaori dan Renata?” tanya Endy akhirnya.
Ken terdiam, Endy juga diam menunggu jawaban dari
Ken. Pria itu memikirkan bagaimana cara membawa Kaori dan Renata menemui Endy
dan Kinanti. Tapi Ken ingin tahu dulu alasannya.
“Aku bisa melakukannya, pah. Tapi buat apa?” tanya
Ken.
“Kamu tidak perlu tahu sejauh itu, Ken,” sahut Endy
mulai tidak sabaran.
“Pah, kalau nggak mau kasi tahu alasannya, jangan
harap aku mau nurutin papa,” ancam Ken sama keras kepalanya.
Endy menarik nafas kasar, ia ingin membanting
ponselnya tapi Endy masih perlu membujuk Ken. Akhirnya Endy menutup telponnya
tanpa mengatakan apa-apa pada Ken. Sungguh pria itu jadi penasaran kenapa Endy
dan Kinanti ingin bertemu Kaori dan Renata.
“Apa mungkin ini ada hubungannya dengan penyakit
mama?” gumam Ken.
Tapi sedetik kemudian, ia menggelengkan kepalanya.
Mana mungkin Kaori dan Renata menyebabkan Kinanti sakit. Mereka saja belum
pernah bertemu, bagaimana bisa Kaori dan Renata membuat Kinanti sakit.
**
Beberapa hari kemudian setelah kepulangan keluarga
Alex dari negara A, hasil tes DNA Ken dan Endy akhirnya keluar juga. Rio
menarik nafas lega sekaligus cemas ketika melihat hasil tes DNA itu yang
hasilnya negatif. Apa yang dikatakan Ken memang benar, ia bukan anak kandung
Endy dan Kinanti.
Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati
Rio, terutama saat mengingat kemiripan Ken dengan dirinya. Perhatian Rio
teralihkan saat ia tidak sengaja melihat Kinanti duduk di kursi roda yang
didorong suster. Endy tampak berjalan mengikuti mereka.
Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Kinanti
di rumah sakit itu, Rio mengikuti mereka. Kursi roda berhenti di depan ruangan
dokter psikiater. Kinanti didorong masuk, disusul Endy yang tidak menutup pintu
dengan benar. Rio melihat sekeliling, tidak ada orang di sekitar situ. Akhirnya
Rio memutuskan untuk menguping sebentar.
“Dokter, aku masih belum bisa mempertemukan Kinanti
dengan mereka berdua. Lihat keadaannya kali ini. Ini selalu terjadi kalau kami
kembali kesini. Akhir-akhirnya ini selalu lebih parah. Apa yang harus aku
lakukan, dokter?” tanya Endy kuatir melihat Kinanti yang hanya diam.
“Saya bisa mengobatinya dengan cara lain, tuan
Endy. Tapi kita tidak tahu sampai kapan tubuhnya akan bertahan. Setidaknya
sekali saja, pertemukan Nyonya dengan Kaori dan Renata. Saya berharap cara itu
bisa mempercepat kesembuhannya,” jelas dokter Debora.
Kening Rio berkerut, ia masih ingin menguping, tapi
suara ponselnya menarik perhatian Endy yang sedang serius mendengarkan dokter
Debora. Rio cepat-cepat bersembunyi di balik pintu terdekat dari sana sambil
menonaktifkan ponselnya. Endy yang curiga, membuka pintu ruangan dokter Debora
dengan cepat dan kebetulan ada seorang pria yang berjalan melewatinya sambil
bicara di telpon dengan seseorang.
__ADS_1
Rio mengintip keluar, Endy kembali masuk ke ruangan
dokter Debora dan Rio segera pergi dari sana. Ternyata Gadis yang menelpon Rio.
Istrinya itu penasaran dengan hasil tes DNA yang sudah diambil Rio.
“Hasilnya negatif. Tapi aku mendapatkan sesuatu
yang lebih menarik. Tunggu ya, aku otw pulang,” kata Rio pada Gadis sebelum
menutup telponnya.
Kedatangan Rio ke rumah Alex, tentu saja langsung
disambut Gadis yang sudah tidak sabaran. Gadis langsung menarik Rio ke dalam
kamar mereka. Ia tidak ingin siapapun mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
Rio sedikit salfok karena perlakuan Gadis dan mengira istrinya itu sedang ingin
bermesraan dengannya.
“Sayang, aku mandi dulu ya. Atau kita mandi bareng?
Atau mandinya ntar aja kalo udah selesai?” tanya Rio sambil membuka kancing
kemejanya.
“Eh, kamu ngapain mau buka baju? Kita mau ngobrolin
yang tadi di telpon,” kata Gadis bingung melihat kelakuan Rio.
“Yah, yank. Nanggung udah dibuka juga. Bentar aja
ya,” bujuk Rio semangat sambil membuka celananya.
“T—tapi... Rio! Pintunya dikunci dulu,” ucap Gadis yang
hampir diserang Rio.
Rio mengunci pintu kamarnya dengan cepat, ia
melihat Gadis sudah siap diatas tempat tidur mereka. Tapi ketika Rio hampir
menerjang, Gadis menghentikan Rio tepat waktu. Wanita itu meminta hasil tes DNA
yang dimasukkan Rio ke dalam saku celananya.
Ketika Rio mencari-cari kertas tes DNA itu, Gadis
sudah mulai melakukan tugasnya membuat Rio merem-melek. Ketika Rio berhenti
mencari kertas tes DNA itu, Gadis juga berhenti bergerak.
“Yank! Kenapa berhenti?!” jerit Rio.
“Kamu juga kenapa berhenti nyari? Mana hasilnya?”
tanya Gadis cuek.
Rio terpaksa mencari di semua kantong celananya, ia
harus membagi perhatiannya antara menikmati pelayanan Gadis atau mencari kerta
yang mulai curiga, menghentikan gerakannya lagi. Rio benar-benar kesal campur
bingung.
“Yank! Bentar! Ada kok kertasnya tadi di celanaku.
Apa jatuh ya? Tapi tolong selesaiin dulu dong. Rasanya nggak enak banget
digantungin gitu,” protes Rio.
“Siapa yang suruh kamu juga gantungin aku tadi ditelpon,”
sahut Gadis dengan kerlingan menggoda.
Rio menelan salivanya, ia menepuk pipinya, lalu mulai
mencari dibawah pakaiannya dan ketemu. Gadis menyambar kertas itu dan membaca
hasilnya memang negatif. Perasaan lega menyelimuti Gadis, hubungan Kaori dan
Ken tidak salah sama sekali. Tapi kelegaannya harus berakhir karena Gadis harus
menghadapi Rio yang menuntut dipuaskan segera.
“Kyaa!! Sabar, yank! Aduch! Pelan-pelan!” jerit
Gadis saat Rio memulai aksinya.
“Siapa suruh kamu nakal, hayo, masih berani?” tanya
Rio lalu mencium Gadis dengan ganas.
Keduanya asyik bermain sampai Gadis teringat
sesuatu yang tadi ingin dikatakan Rio. Gadis mengajak Rio bicara, padahal pria
itu sedang konsetrasi meraih kenikmatan dalam pertempuran mereka.
“Rio, tadi kamu bilang ada sesuatu yang menarik.
Apaan?” tanya Gadis.
“Tunggu, yank. Kamu lebih menarik sekarang. Bentar
lagi...,” kata Rio hampir mencapai tujuannya.
Gadis tidak menyerah begitu saja, ia membantu Rio
mempercepat gerakannya dan keduanya terkulai lemas berdampingan. Rio mengecup
pipi Gadis, membisikkan kata-kata cinta padanya sebelum mengatakan apa yang ia
lihat di rumah sakit.
“Aku lihat Kinanti sama Endy di rumah sakit. Mereka
ketemu dengan psikiater,” ucap Rio.
“Ngapain mereka kesana? Siapa yang sakit?” tanya
__ADS_1
Gadis sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
“Aku nggak jelas juga. Aku lihat Kinanti di dorong
pakai kursi roda. Yang aku sempat dengar, Kinanti harus ketemu dengan Kaori dan
Renata untuk kesembuhannya. Apa menurutmu ini agak aneh?” tanya Rio sambil
memeluk Gadis dari belakang.
“Aku nggak mau mereka ketemu Kinanti, Rio. Takutnya
Kaori akan kebingungan nanti. Memangnya apa yang aneh?” tanya Gadis belum ngeh.
“Aku juga nggak mau Kaori ketemu Kinanti. Yang aneh
kenapa harus ketemu sama Renata juga? Apa hubungannya Renata dengan Kinanti?
Jelas-jelas Renata kan anak mama Mia sama papa,” jelas Rio mulai mengecup tengkuk
Gadis lagi.
Gadis mengkerutkan keningnya tampak berpikir keras,
ia berusaha mencari kaitan antara Renata dengan sakit yang sedang dialami
Kinanti. Tiba-tiba Gadis berbalik cepat, membuat dadanya menempel di dagu Rio.
Wanita itu mengatakan tentang Kinanti yang memerlukan donor organ tubuh dan
Renata adalah pendonor yang tepat.
Rio sedikit kaget dengan perkataan Gadis tapi ia
sedikit salfok melihat tubuh Gadis yang sangat dekat dengan wajahnya. Pria itu
meminta jatah sekali lagi pada Gadis sebelum menjawab dugaan tidak masuk akal
istrinya itu. Bagaimana bisa memastikan Renata adalah pendonor yang tepat,
sementara mereka belum pernah melakukan tes apapun. Lagipula Kinanti bertemu
dengan psikiater, bukan ahli penyakit dalam.
Gadis mencubit pipi Rio sampai bibir pria itu
dower. Ia sedang serius bicara tentang kemungkinan yang ada, tapi Rio malah
gagal fokus pada tubuh Gadis. Rio berkilah kalau momen seperti ini sangat
jarang bisa mereka lalui tanpa hambatan. Ada saja yang mengganggu kalau bukan
anak-anak mereka yang sibuk bertengkar, Gadis akan sangat sibuk membantu Mia di
dapur.
“Mungkin kamu harus sering-sering pulang jam tiga
sore, sayang. Jam segini, anak-anak lagi tidur siang. Mama juga masih asyik
nonton drakor. Ach! Kamu mau lagi ya,” kata Gadis menggoda Rio.
Rio mencium Gadis, menghangatkan suasana kamar mereka
yang sempat dingin kembali. Mereka tidak berhenti sampai terdengar suara mobil
yang menandakan Alex sudah pulang dari kantor.
Tok, tok, tok. Pintu kamar Rio diketuk seseorang.
Rio memakai boxer-nya sebelum membuka pintu. Wajah Alex muncul di depan pintu
dengan tatapan mata kepo.
“Kamu lagi ngapain, Rio?” tanya Alex ketika melihat
Rio berkeringat seperti habis berolahraga.
“Habis main, pah. Papa ngapain nyari aku?” tanya Rio
sambil menaikturunkan alisnya.
“Mana hasilnya? Udah ada kan?” tanya Alex sambil
bisik-bisik.
“Aku mandi dulu ya, pah. Nanti kita ngobrol di
kamar papa,” sahut Rio sambil menutupi pintu karena Gadis masih berbalut
selimut diatas tempat tidur mereka.
Alex cuma mengangguk, lalu menggelengkan kepalanya.
Kelakukan Rio sama saja dengannya. Nggak siang, nggak malam, kalau ada
kesempatan pasti melakukan itu.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Rio dan Gadis
sudah ada di dalam kamar Alex. Mereka membahas tentang lamaran Ken pada Kaori
dan Alex kembali menanyakan tentang persetujuan Rio.
“Jadi dengan hasil seperti ini, apa kalian menerima
lamaran Ken?” tanya Alex.
“Sebentar, pah. Sebelum itu ada hal yang lebih
penting. Tadi di rumah sakit, aku nggak sengaja ngelihat Kinanti dan Endy. Dan
sepertinya Kinanti sedang sakit,” ucap Rio sambil melirik Gadis yang
mengangguk. “Aku mendengar sesuatu tentang obat untuk kesembuhan Kinanti. Dia
harus ketemu Kaori dan Renata. Kalau Kaori, aku paham karena memang wajar. Tapi
apa hubungannya dengan Renata?” tanya Rio entah pada siapa.
Alex melirik Mia yang tanpa sadar menggenggam lengan
pria paruh baya itu dengan erat. Kebenaran...
__ADS_1