Duren Manis

Duren Manis
Seperti ninja


__ADS_3

Baru saja Anton,


Jodi dan Guntur asyik mengobrol tentang bisnis perusahaan, Pak Jang sudah


berjalan ke kamar Katty dan masuk ke sana. Jodi hanya melirik sekilas ketika


Pak Jang keluar dari sana dan detik berikutnya, beberapa pelayan masuk ke kamar


Katty sambil membawa sesuatu.


Pak Jang juga ikut


masuk dan pelayan keluar, terus begitu sampai Jodi mulai kepo dan mengintip apa


yang terjadi sebenarnya di dalam kamar.


Jreng! Sprei di


tempat tidur Katty yang tadinya berwarna pink, berubah jadi warna hitam.


Beberapa pelayan tampak menemani Katty bermain kartu. Sisanya ada yang


menyajikan makanan dan minuman, ada yang sedang mengeblow rambut Katty, ada


juga yang melakukan pedicure dan menicure pada Katty dan Anisa.


Pak Jang tetap


mengawasi semua pelayan yang membuat Katty tampak sangat senang. Sampai ia


melihat Jodi di depan pintu, Pak Jang keluar dari kamar Katty.


Jodi : “Pak Jang


ngapain?”


Pak Jang : “Nona


Katty meminta beberapa hal, seperti yang tuan muda lihat sendiri.”


Jodi : “Makanan apa


yang dia minta?”


Pak Jang :


“Beberapa jenis cemilan dan juga buah-buahan, tuan muda.”


Jodi : “Kabari aku


kalau dia minta sesuatu yang aneh ya.”


Pak Jang : “Baik,


tuan muda.”


Jodi : “Kenapa


harus warna hitam?”


Pak Jang : “Tadi


nona Katty sempat muntah-muntah melihat sprei berwarna pink, tuan muda.”


Jodi : “Apa ngidam


separah ini?”


Pak Jang : “Mungkin


bisa jadi lebih parah, tuan muda. Mungkin juga tidak. Tuan muda mau makan


sesuatu?”


Jodi : “Nanti


saja.”


Jodi kembali


mengintip ke dalam kamar, Katty mulai menguap dan meminta semua pelayan keluar


dari kamar itu.


Katty : “Mb


sekalian, kalian boleh kembali kerja. Makasih banyak ya, nanti kita main lagi.”


Satu persatu pelayan membungkuk dan keluar dari kamar itu.


Anisa : “Katty,


baring dulu sana. Kamu gak capek?”


Katty : “Bosan,


tante. Harusnya jam segini aku tuch ya sibuk ng-desain iklan.”


Anisa : “Kamu nich


masih harus istirahat. Dokter kan bilang kehamilanmu masih rentan.”


Katty : “Tapi


bosen, tante. Atau kita pinjem laptop sama pak Jang ya. FD-ku ada di tas.”


Anisa menekan


tombol merah lagi dan Pak Jang masuk ke kamar Katty.


Pak Jang : “Ya,


nona. Ada yang bisa saya bantu?”


Katty : “Pak Jang,


bisa pinjam laptop? Sebentar aja.”


Jodi : “Kamu mau


ngapain?” Jodi ikutan masuk ke kamar Katty.


Katty : “Aku mau


kerja. Bosan, Jodi.”


Jodi : “Bosan? Aku


tau caranya biar kamu gak bosan. Tante Anisa, Pak Jang, bisa keluar dulu?”


Katty mengkerutkan


keningnya, melihat senyuman Jodi. Ketika Pak Jang dan Anisa sudah keluar kamar,


Jodi dengan cepat mengunci pintu kamar dan mulai melepas kemejanya.


Katty : “Kamu mau


ngapain?”


Jodi : “Melakukan


sesuatu biar kamu gak bosan.”


Katty : “Trus


kenapa lepas baju?”


Jodi : “Gerah tau.”


Katty : “Gerah


darimana?”

__ADS_1


Jodi : “Gerah liat


kamu...”


Katty : “Oh,


lagi-lagi...”


Pak Jang dan Anisa


cuma saling pandang ketika pintu ditutup dan terdengar suara dikunci dari dalam


sana. Mereka berjalan mendekati Guntur dan Anton.


Anton : “Dimana


Jodi?”


Pak Jang : “Didalam


kamar dengan nona Katty, tuan besar.”


Anton : “Mereka


ngapain?”


Pak Jang : “Maaf,


tuan. Saya rasa tuan juga tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.”


Guntur dan Anisa


merona mendengar kata-kata Pak Jang.


Guntur : “Pak


Anton, saya harus kembali ke kantor. Sambil mengantar Anisa pulang.”


Anisa : “Saya


permisi pulang dulu, pak Anton. Terima kasih sudah menjaga keponakan saya.”


Anton : “Sudah


tugasku menjaga menantuku. Kalian hati-hati di jalan ya.”


Guntur dan Anisa


segera keluar dari rumah Anton dan masuk ke mobil Jodi. Guntur mengemudikan


mobil itu menuju rumah Anisa.


*****


Riri sedang dirias


untuk foto prawedding-nya dengan Elo. Mereka akan mengambil beberapa foto di


beberapa bagian rumah kakek Michael. Ratna yang sejak tadi memperhatikan MUA


bekerja untuk merias Riri, beranjak keluar dari kamar. Ia berpapasan dengan


Lili yang berjaga di luar.


Ratna : “Lili, kamu


masuk. Awasi di dalam jangan sampai ada kesalahan.”


Lili : “Baik, Ny.


Ratna.”


Sejak beberapa


kejadian di rumah kakek yang bersangkutan dengan Elena dan tante Dewi, Riri dan


Elo mendapat penjagaan dan pengawasan yang lebih ketat dari Pak Kim. Dimanapun


mereka berada di rumah itu, pasti selalu ada yang mengawasi keduanya.


dijaga oleh Lili, pengawal pribadi Elo tampak menjaganya dari balik korden.


Elo : “Kenapa kau


selalu sembunyi di balik korden?”


Elo sedang berganti


baju dengan pakaian yang sudah dipilih untuk konsep foto praweddingnya dengan


Riri. Pengawal pribadi Elo melongok sedikit dan berjalan mendekati Elo, ia


membantu Elo memakai dasinya.


Dion : “Bukan


kebiasaanku berbaur.”


Elo : “Karena bekas


lukamu? Tidak ada alasan lain?”


Dion : “Siapa juga


yang mau melihat wajah yang mengerikan seperti ini.”


Elo : “Bagiku tidak


seburuk itu. Ayo.”


Dion : “Kemana?”


Elo : “Kau harus


bertemu calon istriku.”


Dion : “Aku sudah


tahu tentang Riri. Buat apa dia harus tahu tentangku?”


Elo : “Kau harus


mengenalnya. Dia juga harus mengenalmu.”


Dion : “Dia akan


ketakutan melihat wajahku.”


Elo : “Berani


taruhan?”


Dion : “Kau selalu


kalah.”


Elo : “Kali ini


tidak akan. Kau takut?”


Dion : “Heh. Ayo.


Kalau aku menang, kau harus biarkan aku berjaga di sekitar kamar pengantin


kalian.”


Elo : “Hei, apa


yang akan kau lakukan? Menguping kami bercinta?”


Dion : “Hanya ingin


memastikan kalian memang bercinta atau kau harus menunggunya lulus kuliah.

__ADS_1


Hahahahaha...”


Elo : “Kau


menguping janji kami?”


Dion : “Mana bisa


dikatakan menguping? Sudah tugasku selalu berada dekat denganmu.”


Elo : “Ach, malas


bicara denganmu. Tukang ngeles. Ayo, cepat.”


Mereka berjalan


keluar dari kamar Elo menuju kamar Riri di sebelah kamar Elo. Tok, tok, tok,


Elo mengetuk pintu dan wajah Lili muncul dari dalam.


Lili : “Tuan muda.


Mohon tunggu sebentar.”


Lili melihat Riri


sudah selesai berganti baju dan berdiri menghadapnya. Lili membuka pintu lebih


lebar dan membiarkan Elo masuk bersama Dion. Sekilas Dion dan Lili saling


melirik dan kembali fokus pada pekerjaan mereka.


Elo : “Riri, sudah


selesai?”


Riri : “Sudah, mas.


Mas ganteng sekali.” Riri tersipu sendiri. Ia tersenyum manis saat Elo berjalan


mendekatinya.


Elo : “Kamu juga


cantik, sayang.”


Riri : “Mas, itu


siapa?” Riri melihat ada seseorang di belakang Elo.


Elo : “Kau mau tahu


pengawal pribadiku? Kenalkan ini Dion.”


Riri menatap Dion


yang sudah membungkuk di depannya. Ia melepas hoodie yang menutup kepalanya dan


memperlihatkan bekas luka bakar di wajahnya. Dion sudah bersiap mendengar


teriakan Riri. Tapi yang berteriak kaget hanya MUA yang masih ada di belakang Riri.


Riri tersentak


kaget mendengar teriakan MUA itu. Ia menoleh menatap keduanya,


Riri : “Kenapa kalian


teriak? Bikin kaget saja.”


Riri menoleh lagi


menghadap Dion, ia menatap intens pada Dion yang mulai merasa risih.


Riri : “Mas, kata


mas pengawal pribadi mas mirip ninja. Kenapa pakaiannya biasa saja?”


Elo : “Memang apa


yang kau bayangkan?”


Riri : “Aku pikir


seperti ninja Hattori gitu. Mendaki gunung, lewati lembah... Eh...”


Elo : “Bukannya Dion


lebih mirip Naruto?”


Elo menahan tawanya


melihat ekspresi Dion yang bingung melihat reaksi Riri yang bahkan tidak takut


melihat wajahnya. Riri mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh


Dion.


Riri : “Senang bisa


ketemu kak Dion. Aku Riri, kak.”


Dion : “Saya juga,


nona Riri.”


Riri : “Bisakah


kakak panggil Riri saja? Aku sudah membujuk Lili untuk memanggil namaku saja,


tapi dia keras kepala sekali.”


Dion menatap Elo


yang mengangguk, dan melepas jabat tangannya.


Dion : “Baik, Riri.”


Riri : “Itu lebih


baik. Mas, bisa kita mulai sekarang?”


Elo : “Hahahahaha...”


Elo ketawa ngakak sambil menepuk bahu Dion, ia sudah tidak bisa menahan


tawanya. Dion tengsin ditertawakan Elo.


Riri : “Mas kenapa


ketawa gitu?”


Elo : “Nanti aku


cerita, ayo turun. Eh, kita foto dimana dulu nich?”


Lili : “Di ruang


baca dulu, tuan muda. Silakan.”


Mereka berjalan


keluar kamar dan Dion menghilang dengan cepat entah kemana.


🌻🌻🌻🌻🌻


Gak Jodi gak Elo


sama-sama hoyang kaya. Author juga pengen sekali-kali bertukar dengan


mereka...#mengkhayalgegaracovid.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2