
Baru saja Anton,
Jodi dan Guntur asyik mengobrol tentang bisnis perusahaan, Pak Jang sudah
berjalan ke kamar Katty dan masuk ke sana. Jodi hanya melirik sekilas ketika
Pak Jang keluar dari sana dan detik berikutnya, beberapa pelayan masuk ke kamar
Katty sambil membawa sesuatu.
Pak Jang juga ikut
masuk dan pelayan keluar, terus begitu sampai Jodi mulai kepo dan mengintip apa
yang terjadi sebenarnya di dalam kamar.
Jreng! Sprei di
tempat tidur Katty yang tadinya berwarna pink, berubah jadi warna hitam.
Beberapa pelayan tampak menemani Katty bermain kartu. Sisanya ada yang
menyajikan makanan dan minuman, ada yang sedang mengeblow rambut Katty, ada
juga yang melakukan pedicure dan menicure pada Katty dan Anisa.
Pak Jang tetap
mengawasi semua pelayan yang membuat Katty tampak sangat senang. Sampai ia
melihat Jodi di depan pintu, Pak Jang keluar dari kamar Katty.
Jodi : “Pak Jang
ngapain?”
Pak Jang : “Nona
Katty meminta beberapa hal, seperti yang tuan muda lihat sendiri.”
Jodi : “Makanan apa
yang dia minta?”
Pak Jang :
“Beberapa jenis cemilan dan juga buah-buahan, tuan muda.”
Jodi : “Kabari aku
kalau dia minta sesuatu yang aneh ya.”
Pak Jang : “Baik,
tuan muda.”
Jodi : “Kenapa
harus warna hitam?”
Pak Jang : “Tadi
nona Katty sempat muntah-muntah melihat sprei berwarna pink, tuan muda.”
Jodi : “Apa ngidam
separah ini?”
Pak Jang : “Mungkin
bisa jadi lebih parah, tuan muda. Mungkin juga tidak. Tuan muda mau makan
sesuatu?”
Jodi : “Nanti
saja.”
Jodi kembali
mengintip ke dalam kamar, Katty mulai menguap dan meminta semua pelayan keluar
dari kamar itu.
Katty : “Mb
sekalian, kalian boleh kembali kerja. Makasih banyak ya, nanti kita main lagi.”
Satu persatu pelayan membungkuk dan keluar dari kamar itu.
Anisa : “Katty,
baring dulu sana. Kamu gak capek?”
Katty : “Bosan,
tante. Harusnya jam segini aku tuch ya sibuk ng-desain iklan.”
Anisa : “Kamu nich
masih harus istirahat. Dokter kan bilang kehamilanmu masih rentan.”
Katty : “Tapi
bosen, tante. Atau kita pinjem laptop sama pak Jang ya. FD-ku ada di tas.”
Anisa menekan
tombol merah lagi dan Pak Jang masuk ke kamar Katty.
Pak Jang : “Ya,
nona. Ada yang bisa saya bantu?”
Katty : “Pak Jang,
bisa pinjam laptop? Sebentar aja.”
Jodi : “Kamu mau
ngapain?” Jodi ikutan masuk ke kamar Katty.
Katty : “Aku mau
kerja. Bosan, Jodi.”
Jodi : “Bosan? Aku
tau caranya biar kamu gak bosan. Tante Anisa, Pak Jang, bisa keluar dulu?”
Katty mengkerutkan
keningnya, melihat senyuman Jodi. Ketika Pak Jang dan Anisa sudah keluar kamar,
Jodi dengan cepat mengunci pintu kamar dan mulai melepas kemejanya.
Katty : “Kamu mau
ngapain?”
Jodi : “Melakukan
sesuatu biar kamu gak bosan.”
Katty : “Trus
kenapa lepas baju?”
Jodi : “Gerah tau.”
Katty : “Gerah
darimana?”
__ADS_1
Jodi : “Gerah liat
kamu...”
Katty : “Oh,
lagi-lagi...”
Pak Jang dan Anisa
cuma saling pandang ketika pintu ditutup dan terdengar suara dikunci dari dalam
sana. Mereka berjalan mendekati Guntur dan Anton.
Anton : “Dimana
Jodi?”
Pak Jang : “Didalam
kamar dengan nona Katty, tuan besar.”
Anton : “Mereka
ngapain?”
Pak Jang : “Maaf,
tuan. Saya rasa tuan juga tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.”
Guntur dan Anisa
merona mendengar kata-kata Pak Jang.
Guntur : “Pak
Anton, saya harus kembali ke kantor. Sambil mengantar Anisa pulang.”
Anisa : “Saya
permisi pulang dulu, pak Anton. Terima kasih sudah menjaga keponakan saya.”
Anton : “Sudah
tugasku menjaga menantuku. Kalian hati-hati di jalan ya.”
Guntur dan Anisa
segera keluar dari rumah Anton dan masuk ke mobil Jodi. Guntur mengemudikan
mobil itu menuju rumah Anisa.
*****
Riri sedang dirias
untuk foto prawedding-nya dengan Elo. Mereka akan mengambil beberapa foto di
beberapa bagian rumah kakek Michael. Ratna yang sejak tadi memperhatikan MUA
bekerja untuk merias Riri, beranjak keluar dari kamar. Ia berpapasan dengan
Lili yang berjaga di luar.
Ratna : “Lili, kamu
masuk. Awasi di dalam jangan sampai ada kesalahan.”
Lili : “Baik, Ny.
Ratna.”
Sejak beberapa
kejadian di rumah kakek yang bersangkutan dengan Elena dan tante Dewi, Riri dan
Elo mendapat penjagaan dan pengawasan yang lebih ketat dari Pak Kim. Dimanapun
mereka berada di rumah itu, pasti selalu ada yang mengawasi keduanya.
dijaga oleh Lili, pengawal pribadi Elo tampak menjaganya dari balik korden.
Elo : “Kenapa kau
selalu sembunyi di balik korden?”
Elo sedang berganti
baju dengan pakaian yang sudah dipilih untuk konsep foto praweddingnya dengan
Riri. Pengawal pribadi Elo melongok sedikit dan berjalan mendekati Elo, ia
membantu Elo memakai dasinya.
Dion : “Bukan
kebiasaanku berbaur.”
Elo : “Karena bekas
lukamu? Tidak ada alasan lain?”
Dion : “Siapa juga
yang mau melihat wajah yang mengerikan seperti ini.”
Elo : “Bagiku tidak
seburuk itu. Ayo.”
Dion : “Kemana?”
Elo : “Kau harus
bertemu calon istriku.”
Dion : “Aku sudah
tahu tentang Riri. Buat apa dia harus tahu tentangku?”
Elo : “Kau harus
mengenalnya. Dia juga harus mengenalmu.”
Dion : “Dia akan
ketakutan melihat wajahku.”
Elo : “Berani
taruhan?”
Dion : “Kau selalu
kalah.”
Elo : “Kali ini
tidak akan. Kau takut?”
Dion : “Heh. Ayo.
Kalau aku menang, kau harus biarkan aku berjaga di sekitar kamar pengantin
kalian.”
Elo : “Hei, apa
yang akan kau lakukan? Menguping kami bercinta?”
Dion : “Hanya ingin
memastikan kalian memang bercinta atau kau harus menunggunya lulus kuliah.
__ADS_1
Hahahahaha...”
Elo : “Kau
menguping janji kami?”
Dion : “Mana bisa
dikatakan menguping? Sudah tugasku selalu berada dekat denganmu.”
Elo : “Ach, malas
bicara denganmu. Tukang ngeles. Ayo, cepat.”
Mereka berjalan
keluar dari kamar Elo menuju kamar Riri di sebelah kamar Elo. Tok, tok, tok,
Elo mengetuk pintu dan wajah Lili muncul dari dalam.
Lili : “Tuan muda.
Mohon tunggu sebentar.”
Lili melihat Riri
sudah selesai berganti baju dan berdiri menghadapnya. Lili membuka pintu lebih
lebar dan membiarkan Elo masuk bersama Dion. Sekilas Dion dan Lili saling
melirik dan kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Elo : “Riri, sudah
selesai?”
Riri : “Sudah, mas.
Mas ganteng sekali.” Riri tersipu sendiri. Ia tersenyum manis saat Elo berjalan
mendekatinya.
Elo : “Kamu juga
cantik, sayang.”
Riri : “Mas, itu
siapa?” Riri melihat ada seseorang di belakang Elo.
Elo : “Kau mau tahu
pengawal pribadiku? Kenalkan ini Dion.”
Riri menatap Dion
yang sudah membungkuk di depannya. Ia melepas hoodie yang menutup kepalanya dan
memperlihatkan bekas luka bakar di wajahnya. Dion sudah bersiap mendengar
teriakan Riri. Tapi yang berteriak kaget hanya MUA yang masih ada di belakang Riri.
Riri tersentak
kaget mendengar teriakan MUA itu. Ia menoleh menatap keduanya,
Riri : “Kenapa kalian
teriak? Bikin kaget saja.”
Riri menoleh lagi
menghadap Dion, ia menatap intens pada Dion yang mulai merasa risih.
Riri : “Mas, kata
mas pengawal pribadi mas mirip ninja. Kenapa pakaiannya biasa saja?”
Elo : “Memang apa
yang kau bayangkan?”
Riri : “Aku pikir
seperti ninja Hattori gitu. Mendaki gunung, lewati lembah... Eh...”
Elo : “Bukannya Dion
lebih mirip Naruto?”
Elo menahan tawanya
melihat ekspresi Dion yang bingung melihat reaksi Riri yang bahkan tidak takut
melihat wajahnya. Riri mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh
Dion.
Riri : “Senang bisa
ketemu kak Dion. Aku Riri, kak.”
Dion : “Saya juga,
nona Riri.”
Riri : “Bisakah
kakak panggil Riri saja? Aku sudah membujuk Lili untuk memanggil namaku saja,
tapi dia keras kepala sekali.”
Dion menatap Elo
yang mengangguk, dan melepas jabat tangannya.
Dion : “Baik, Riri.”
Riri : “Itu lebih
baik. Mas, bisa kita mulai sekarang?”
Elo : “Hahahahaha...”
Elo ketawa ngakak sambil menepuk bahu Dion, ia sudah tidak bisa menahan
tawanya. Dion tengsin ditertawakan Elo.
Riri : “Mas kenapa
ketawa gitu?”
Elo : “Nanti aku
cerita, ayo turun. Eh, kita foto dimana dulu nich?”
Lili : “Di ruang
baca dulu, tuan muda. Silakan.”
Mereka berjalan
keluar kamar dan Dion menghilang dengan cepat entah kemana.
🌻🌻🌻🌻🌻
Gak Jodi gak Elo
sama-sama hoyang kaya. Author juga pengen sekali-kali bertukar dengan
mereka...#mengkhayalgegaracovid.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).