Duren Manis

Duren Manis
Baby sister


__ADS_3

Keesokan paginya,


di rumah kakek Elo, mama Ratna sedang memeriksa hadiah yang akan mereka bawa ke


rumah Riri besok. Ia memastikan sendiri hadiah untuk calon menantunya dan


meletakkan  hadiah itu terpisah pada


kotak khusus.


Pelayan yang


membantu mama Ratna, menatap intens hadiah untuk Riri. Satu set perhiasan emas


dengan berlian sebagai batunya. Mama Ratna melirik pelayan itu dan memanggil


Pak Kim.


Mama Ratna : “Pak


Kim, tolong taruh semua hadiah ini di kamar saya. Semuanya tanpa kecuali, saya


tidak mau ada kesalahan besok. Dan kalau sampai terjadi, semua pelayan di rumah


ini harus menanggung akibatnya. Pak Kim sudah mengerti maksud saya.”


Mama Ratna hanya


berkata begitu dan pelayan yang tadi menatap hadiah untuk Riri langsung


menunduk, siap menunggu perintah.


Pak Kim : “Saya


mengerti, nyonya Ratna.”


Pak Kim memanggil


beberapa pelayan lain dan tugas yang diberikan mama Ratna selesai dengan cepat.


Mama Ratna : “Ach,


masih ada yang kurang. Pak Kim, apa Riri sudah memilih konsep pernikahan yang


diinginkannya?”


Pak Kim : “Nona


Riri hanya mengirimkan gaun pengantin dan gaun malam yang ingin nona Riri


pakai. Saya juga sudah tanyakan ke tuan Alex dan nyonya Mia, tapi mereka hanya


menyampaikan agar konsep pernikahannya dibuat sederhana dan simple saja.”


Mama Ratna : “Oh,


sederhana dan simple. Apa kita buat pesta kebun? Bayangkan Pak Kim, kita semua


memakai flatshoes dan berjalan diatas rumput. Papa akan suka ini. Dan bunganya


harus mawar merah dan putih. Mawar merah untuk kamar pengantin dan mawar putih


untuk dekorasi.”


Mama Ratna terus


bicara tentang apa yang diinginkannya untuk pesta pernikahan Elo. Pernikahan


eksklusif yang hanya mengundang beberapa orang penting dan terpandang.


Pak Kim : “Tapi


bagaimana dengan resepsinya? Apa kita adakan di tempat yang sama?”


Mama Ratna : “Tidak,


tidak. Pagi ijab disini setelah itu menyapa para tamu dan foto bersama. Resepsi


malam di hotel terdekat dari sini. Ada kan, Pak Kim?”


Pak Kim : “Ada,


nyonya Ratna. Saya sudah memastikan penthouse kosong saat hari H, jadi tuan Angelo


dan nona Riri bisa menginap setelah resepsi.”


Mama Ratna : “Oh,


bagus sekali. Saya tidak tahu apa Angelo akan berhasil, tapi apa salahnya kita


coba, kan. Atur juga pakaian di lemari mereka. Pak Kim mengerti maksud saya,


kan?”


Pak Kim : “Saya


mengerti, nyonya Ratna. Untuk catering dan juga pengisi acara sudah siap semua.”


Mama Ratna : “Bagus


sekali. Besok kita berangkat pagi, Pak Kim. Tolong siapkan semuanya. By the


way, where’s my son?”


*****


Elo sedang


berkunjung ke rumah Riri, ia membawa beberapa kotak makanan untuk keluarga


Alex. Ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu Riri setiap

__ADS_1


hari. Padahal saat itu Riri sedang ada di dalam kamarnya, ia melakukan


perawatan bersama Kaori.


Riri : “Mas, jangan


masuk dulu. Kami masih perawatan.”


Elo : “Loh, Rio gak


bilang tadi waktu ketemu di bawah.”


Riri : “Rio gak


tahu kita perawatan disini. Mas udah sarapan?”


Elo : “Uda sich


tadi. Ri, keluar bentar dong. Aku kangen nich.”


Kaori tersenyum


menggoda Riri yang wajahnya sudah memerah.


Riri : “Mas, malu


tau. Ada Kaori disini.”


Elo : “Coba udah


sah, mas yang bantu kamu perawatan.”


Riri : “Mas! Mas


tunggu dibawah aja dech. Kita hampir selesai kok.”


Elo : “Hehe... Iya,


mas turun dulu ya. Jangan lama-lama.”


Elo turun ke bawah


dan melihat Alex dan Mia sedang duduk di ruang keluarga bersama baby twin Rava


dan Reva.


Elo : “Selamat


pagi, om, mama Mia.”


Alex : “Pagi.


Jangan panggil om, panggil papa saja. Sama Mia aja mau manggil mama.”


Mia : “Yang sabar


ya, sayang.” Mia menenangkan Alex yang mulai emosi, tidak suka dipanggil om.


Alex : “Kamu dari


mana?”


Riri, om... eh, papa.”


Alex : “Trus Riri


mana?”


Elo : “Tadi masih


perawatan, katanya mau mandi dulu. Baru turun.”


Alex : “Kamu lihat


Riri lagi perawatan?”


Mia : “Ehem... Mas,


gak usah ditanya detail gitu napa sich? Ntar Elo takut sama mas.”


Elo : “Saya gak


lihat, om... papa. Riri gak kasi saya masuk. Katanya ada Kaori juga lagi


perawatan didalam kamar.”


Rio : “Oh ya?”


Rio yang kebetulan


lewat di dekat mereka, langsung menguping.


Alex : “Rio, duduk.”


Alex sudah tahu apa yang ada dipikiran putranya itu.


Rio : “Apa sich,


pah. Rio mau ke kamar bentar.”


Alex : “Sampai Riri


dan Kaori turun, kamu harus tetap duduk disini.”


Mia : “Rio sayang,


denger kata papa ya.”


Rio : “Ya, mah.”


Alex menatap Rio

__ADS_1


dan Mia bergantian. Rio cuma nurut sama Mia tanpa membantah, sementara dirinya


harus debat dulu dengan Rio. Elo yang memperhatikan interaksi anak dan orang


tua itu, hanya senyam-senyum.


Tak lama, para


gadis turun dari lantai 2 tampak segar dan wangi banget. Riri duduk di samping


Elo dan Kaori duduk di Rio. Rio mengendus rambut Kaori, menempelkan hidungnya


ke rambut Kaori.


Rio : “Wangi...”


Kaori : “Rio, ada


mama papamu tuch. Kamu gak malu kayak gini.”


Rio : “Kan lebih


aman di depan mereka daripada di belakang. Atau kamu mau dibelakang?”


Kaori : “Rio!”


Kaori membungkam


mulut Rio dengan tangannya dan mendorong Rio menjauh darinya. Sementara


pasangan satunya cuma duduk dengan tenang sambil sesekali melirik satu sama


lain dengan malu-malu.


Alex dan Mia saling


pandang,


Mia : “Gak salah


nich, yang masih pacaran lebih agresif dari yang mau nikah.”


Alex : “Ini


pengaruh hormon, sayang. Aku juga bisa jadi agresif.”


Mia : “Mas lupa ya.


Aku masih sakit.”


Alex : “Iya, mas


tau. Tapi nyolek boleh kan?”


Alex mencolek dagu


Mia, membuatnya tersipu. Giliran kedua pasang kekasih di depan mereka yang


bengong melihat kemesraan kedua orang tua itu.


Riri : “Ehem...”


Rio : “Ehem...”


Riri : “Mas, kita


pindah ke kamarku yuk.”


Rio : “Sayang, kita


ke kamarku yuk.”


Alex : “Eits, Rio


dan Kaori tunggu disini. Mama sama papa ada keperluan bentar. Kalian jaga si


kembar ya.”


Rio bengong melihat


Riri dan Elo berjalan menaiki tangga ke lantai 2, sementara Alex dan Mia masuk


ke kamar mereka.


Rio : “Trus kita


ngapain disini?”


Kaori : “Jadi baby


sister. Cepat cek, kayaknya ada bau gak enak nich.”


Rio segera mengecek


popok si kembar dan tidak mendapati apapun di popoknya.


Rio : “Gak ada


nich. Trus bau darimana?”


Kaori : “Sepertinya


dari ketiakmu, kamu belum mandi ya?”


Rio gemas sekali


melihat Kaori meledeknya. Ia menarik Kaori yang terkikik geli melihat ekspresi


wajahnya dan memeluk gadis itu sampai berhenti tertawa.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2