Duren Manis

Duren Manis
Parno


__ADS_3

Arnold menoleh dengan cepat dan melihat Rara berdiri dibelakangnya. Rara terkejut melihat wajah panik Arnold, ia menahan rasa sakit di kepalanya karena terlalu banyak mengeluarkan emosi.


Rara : "Kakak gak pa-pa?"


Arnold meraih Rara dalam pelukannya. Ia memeluk Rara sangat erat sampai Rara kesulitan bernafas. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan sakit.


Rara : "Kak, lepas... aku gak... bisa nafas..."


Arnold : "Kamu akan pergi kalau aku lepas!"


Rara : "Aku disini, kak. Gak kemana-mana."


Arnold menarik tangan Rara dan melangkah cepat kembali ke restauran. Sopir melihat mereka dan segera membuka pintu mobil.


Arnold : "Pak, tolong tunggu diluar sebentar."


Arnold benar-benar kesakitan, ia bertahan untuk tidak pingsan sampai menemukan Rara. Saat mereka berdua saja di dalam mobil, Arnold kembali memeluk Rara.


Ia menghirup aroma tubuh Rara seolah-olah oksigen terakhirnya ada pada Rara, menyudutkan gadis manis itu ke kursi belakang mobil. Belum puas, Arnold menyingkap baju atas Rara dan mulai membenamkan wajahnya ke perut Rara.


Rara : "Kak... geli..."


Rara meronta menahan rasa geli di perutnya, ia bahkan tidak bisa bergerak ditimpa Arnold.


Tak lama, kesadaran Arnold mulai pulih. Ia membuka matanya, mencoba melihat dalam keremangan mobil.


Mata Arnold terbelalak melihat keadaan Rara yang berantakan. Ia segera menarik baju atas Rara menutup dan membantunya duduk.


Arnold : "Ra..."


Rara : "Kakak gak pa-pa? Mau ke rumah sakit."


Arnold bingung saat menyadari tubuhnya terasa lebih segar setelah menghirup aroma tubuh Rara. Kepalanya sudah tidak sakit lagi.


Arnold : "Aku uda baikan. Kita pulang ya."


Rara hanya mengangguk, ia mulai gerah berada di dalam mobil terlalu lama. Arnold memanggil sopir dan mobil mereka mulai berjalan menuju apartment.


-------


Saat mereka berdua saja di dalam apartment, Rara duduk di balkon, ia mengipasi tubuhnya yang gerah. Bagaimanapun Rara juga perempuan normal, kalau diperlakukan begitu ia bisa...


Arnold : "Ra... kamu marah ya. Tadi kamu kemana? Aku mencarimu sekeliling restaurant tapi gak ketemu."


Rara : "Aku melihat nenek-nenek mau nyebrang di depan restaurant. Jadi aku bantu sebentar. Taunya pas balik, kendaraan yang lalu lalang tambah ramai."


Arnold : "Lain kali tunggu aku ya. Ini kota J, bukan kota asalmu. Kalau kamu hilang disini gimana? Aku gak mau kehilangan kamu, Ra."

__ADS_1


Wajah Rara spontan memerah, melihat Arnold berdiri di depannya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Rara : "Kak... Aku boleh nanya sesuatu ?"


Arnold : "Tanya apa?" Arnold duduk di dekat kaki Rara, menggenggam tangannya.


Rara : "Kakak ngrasain apa waktu di mobil tadi?"


Arnold : "Ngrasain apa? Aku..."


Wajah Arnold kini memerah melihat wajah Rara,


Arnold : "Maksud kamu..."


Mereka diam lagi, entah pikiran mereka saling terkoneksi atau tidak. Entah apa pikiran mereka memang sama, keduanya merasa sangat canggung untuk beberapa menit.


Rara : "Kakak tadi agak kebablasan ya. Aku bener-bener kaget waktu baju aku kebuka tadi. Aku malu, kak."


Arnold : "Maaf, Ra. Aku tahu aku sudah melecehkan kamu. Tapi sumpah aku gak punya niat begitu. Ini murni karena penyakit aku."


Rara : "Apa karena ini kakak mau menikahi aku? Karena aku bisa menyembuhkan kakak."


Arnold : "Aku cinta kamu, Ra. Sungguh... Bukan karena kamu bisa nyembuhin aku. Tapi karena..."


Rara : "Karena apa, kak? Kalau kakak terpaksa, jangan menikahiku, kak. Aku akan membantu kesembuhanmu tanpa syarat."


Arnold : "Cintaku sama kamu gak punya alasan, Ra. Kita gak tahu cinta datang kapan dan dimana, tapi kalau sampai kita tahu alasan mencintai seseorang, saat alasan itu hilang, maka cinta juga akan hilang."


Deg! Akal sehat Arnold berkurang jadi 75% mendengar kata-kata Rara. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas panjang.


Arnold : "Aku gak bisa, Ra..."


Rara : "Kakak gak cinta sama aku?"


Arnold : "Aku cinta kamu, Ra. Tolong jangan menggodaku lagi."


Rara : "Aku gak keberatan, kak. Aku mau kakak sekarang."


Arnold menelan liurnya, posisi mereka hanya berdua saja di apartment dan Rara terus menggodanya.


Arnold bangkit dari duduknya, ia duduk di sisi ranjang mencoba mengembalikan akal sehatnya. Ia sudah berjanji pada papa Rara untuk menjaga Rara.


Kalau sampai kejadian, papa Rara akan membunuhnya. Terlebih papanya pasti ngamuk dan mamanya akan sedih.


Rara duduk di samping Arnold, ia memegang tangan Arnold yang sedikit terlonjak karena kaget.


Arnold : "Ra, tolong jangan menggodaku. Orang tua kita akan kecewa padaku dan mungkin tidak akan menyetujui pernikahan kita."

__ADS_1


Rara : "Kalau kakak memilikiku sekarang, mereka mau gak mau pasti setuju."


Arnold langsung bangkit menjauh dari Rara, ia mengambil air putih dan meminumnya dengan cepat sampai tersedak.


Arnold : "Uhuk! uhuk! Hah! hah!"


Perasaan Arnold benar-benar kacau sekarang. Ia melihat Rara mendekatinya lagi dan dengan cepat Arnold masuk ke kamar mandi.


Arnold : "Ra, tidur duluan ya. Aku sakit perut."


Arnold membuka pakaiannya dan melihat ketegangan luar biasa pada tubuhnya. Kalau saja tidak terbiasa menahan gejolak emosinya karena terapi, sudah bisa dipastikan Rara akan dibuatnya tidak bisa jalan besok pagi.


Arnold berdiri dibawah shower, ia memejamkan matanya meresapi air dingin yang menyegarkan tubuhnya. Tapi reaksi tubuhnya semakin kuat, Arnold harus menuntaskannya sekarang atau Rara akan berada dalam bahaya.


------


Rara menarik selimut menutupi tubuhnya, wajahnya memerah mengingat kejadian di mobil tadi yang sempat membuatnya bergairah.


Darah mudanya bergejolak menuntut sentuhan yang lebih lagi dari Arnold. Karena itu ia sampai menggoda Arnold tadi.


Sungguh, Rara sangat malu saat ini, tapi ia tidak bisa menahan hasratnya lagi. Tubuhnya terasa nyaman, tubuhnya menerima perlakuan Arnold.


Ceklek! Tubuh Rara menegang saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ia ingin balik badan untuk melihat Arnold, tapi takut.


Ia mulai takut tapi penasaran juga. Rara berpura-pura tidur, ia berbaring diam tak bergerak.


Arnold mengganti bathrobe yang dipakainya dengan kaos dan celana pendek. Ragu-ragu ia berjalan mendekati ranjang.


Arnold : "Ra, kamu uda tidur?"


Tidak ada jawaban dari Rara, Arnold memberanikan diri berbaring di sampingnya. Sekali lagi Arnold menatap punggung Rara yang sedikit terbuka karena piyama tidur yang dipakainya.


Arnold menghela nafas panjang dan berbaring menyamping. Ia tidak ingin menatap Rara lebih lama lagi, malam ini terasa sangat panjang dan melelahkan untuknya.


Ia harus segera tidur atau besok mereka akan terlambat untuk terapi kedua mereka. Kalau hasilnya sebagus hari ini, mereka bisa kembali besok.


Dan artinya jawaban dari Alex akan segera Arnold dapatkan.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


 


__ADS_2