
Extra part 37
Bilar bingung memilih harus apa, ia menatap Keira
dan Bianca bergantian. Melihat Bilar kebingungan, Keira melangkah ke ruang
kerja Rio lalu mengambil tas dan ponselnya.
“Om Rio, aku resign. Suratnya nyusul ya. Bye, om.”
Keira memeluk Rio yang berdiri di depan kantor Alex, menonton keributan di
depan lift. Drama ikan terbang yang sering muncul menguras air mata tapi kali
ini diselesaikan Keira dengan sebuah keputusan tegas.
Keira juga memeluk Melda dan Reva yang cuma bisa
bengong tanpa mengatakan apa-apa. Sementara Alex dan Romi tidak mendengar apa
yang terjadi karena kembali sibuk meeting.
Bilar mencoba menghentikan Keira yang masuk ke lift
lebih dulu. Tapi Keira menendang kaki Bilar sekali lagi, menyuruhnya keluar
dari lift. Bianca dan X juga terbengong-bengong melihat putri Jodi itu pergi
begitu saja tanpa pamit. Bianca sampai lupa harus bersikap bagaimana melihat
ketegasan Keira. Ia jadi berpikir apa mungkin putranya yang sudah berubah
karena gadis itu.
**
Keesokan harinya, Keira pergi ke kampus. Sepulang
dari kantor kemarin, ia langsung pulang ke rumah Jodi dan minta dibuatkan es
krim dan cemilan manis yang banyak sekali. Pak Jang yang sangat senang dengan
kedatangan nona mudanya, membuatkan semua pesanan Keira, lalu menemani nona
mudanya itu mengobrol.
Keira lalu memanggil semua pelayan di rumah Jodi
untuk menemaninya bermain. Ia tidak segan mencoret wajah pelayan yang kalah
dengan lipstik mahal pemberian Katty, mamanya. Mereka bersenang-senang bersama
tanpa melihat perbedaan status sosial. Keira memang sangat mirip dengan Katty
kalau soal bergaul dengan pelayan. Katty tidak pernah membedakan status
kedudukannya sebagai Nyonya di rumah itu dengan pelayan biasa. Semuanya sama di
mata Katty.
Sampai di kampus, Keira langsung bertemu dengan dosen
pembimbingnya dan mendaftar untuk ujian. Ia sangat sibuk memenuhi semua
persyaratan untuk ujian skripsi tiga hari lagi. Keira ingin segera ujian dan
lulus, lalu pergi secepatnya menyusul Reynold.
Dari pagi sampai hampir gelap, Keira baru
menyelesaikan urusannya di kampus. Ia bahkan tidak sempat makan siang karena
mengejar beberapa dosen untuk minta tanda tangan. Setelah mendapatkan surat
rekomendasi untuk ujian, Keira memutuskan untuk pulang ke apartmentnya.
Sampai di apartment, Keira masuk seperti biasanya.
Ia melepas sepatu dan melempar tasnya ke atas sofa. Sedangkan tas yang berisi laptop
dan berkas-berkas untuk syarat ujiannya, ia letakkan dengan hati-hati diatas
sofa.
Keira mendekati pemutar MP3 di dekat TV, ia memutar
musik kesukaannya, lalu mulai bergoyang mengikuti irama musik yang cukup
menghentak itu. Satu persatu pakaian yang dipakai Keira terlepas dari tubuhnya,
menyisakan pakaian dalamnya saja.
Ia tidak kuatir dengan apapun. Tidak ada seorang
pun yang bisa masuk ke apartmentnya kecuali Pak Jang. Tapi pria tua itu hanya
datang seminggu sekali bersama seorang pelayan hanya untuk membersihkan
apartment dan mengisi stock makanan di kulkas Keira.
Goyangan tubuh Keira terhenti sesaat ketika ia
membuka kulkas. Keira bingung memilih makan malamnya. Ayam bakar atau seafood
balado.
“Ach, kemarin udah ayam. Sekarang seafood. Sayurnya
__ADS_1
yang ini aja,” gumam Keira sambil mengambil daun ubi rebus dan sambal hijau.
Keira menghangatkan daun ubi rebus dan sambal hijau
didalam kukusan, sementara seafood balado ia masukkan ke microwave. Sambil
menunggu makanan mulai hangat, Keira baru ingat kalau ia tidak punya nasi.
Sedikit menggerutu, Keira membuka tutup magic com dan melotot melihat nasi
putih mengepul dari dalam sana.
Keira menelan salivanya, ia melihat sekeliling
apartment yang sepi. Ada seseorang yang masuk ke apartmentnya untuk memasak
nasi. Keira mengkerutkan keningnya menyadari alasan orang itu masuk ke
apartmentnya.
“Hei! Keluar lo!” teriak Keira di dalam
apartmentnya. “Keluar lo atau gue
panggil polisi!” teriak Keira lagi. Jujur, ia sedikit takut pada siapapun yang
masuk ke apartmentnya dengan diam-diam itu. Tapi kalau alasannya untuk memasak
nasi, mungkin orang itu sedang lapar.
Tidak melihat siapapun keluar dari
persembunyiannya, Keira melangkah mendekati sofa. Ia harus menelpon Pak Jang
untuk memeriksa apartmentnya. Tapi saat Keira hampir meraih ponselnya,
seseorang memeluknya dari belakang.
“Arrgghh...!!!” jerit Keira. Ia meronta berusaha
memukul orang yang memeluknya.
“Kei, ini aku,” kata Bilar.
“Lo!! Lepasin! Lo sakit jiwa! Ngapain lagi lo
kesini?! Keluar!” usir Keira setelah melihat siapa yang memeluknya.
Bilar tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh
Keira. Pria berkacamata itu mengendus aroma parfum di belakang telinga Keira.
“Ach!” desahan lolos dari mulut Keira. Ia tidak
tahan kalau bagian itu ditiup. Tubuh Keira sampai merinding dibuatnya. “Bi—lar,
ach, jangan... berhenti,” desis Keira masih mempertahankan kesadarannya.
membuat Keira belingsatan, tetap melanjutkan apa yang sedang dilakukannya. Ia
sangat menyukai wangi parfum yang dipakai Keira dan masih ingin mengendusnya. Keira
terus berusaha meronta ingin melepaskan diri dari Bilar, sampai keduanya
terjatuh diatas sofa dengan Keira duduk di pangkuan Bilar.
“Bilar! Stop!! Hah! Hah!” Keira mendongakkan
kepalanya bersandar di dada bidang Bilar. Nafasnya terdengar berat dan cepat.
Bilar baru saja membuat Keira melayang ke langit hanya dengan mengendus telinga
gadis itu.
“Kei, kamu harum banget,” bisik Bilar.
Keira membuka matanya, ia bangkit dengan cepat dari
pangkuan Bilar. Sebelum masuk ke kamarnya, Keira menoleh menatap Bilar dengan
wajah merona merah yang terlihat sangat cantik di mata pria itu. Brak! Pintu
kamar Keira tertutup dengan keras.
Gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur
lalu menendang-nendang ke segala arah saking kesalnya. “Bilar, kenapa sich lo
harus buat gue jatuh cinta gini?! Sekarang lo nggak mau pergi! Anak mami
sialan!” gerutu Keira.
Tok, tok, tok. Pintu kamar Keira terbuka, Bilar
melongok ke dalam dan melihat pemandangan indah di depannya. Bokong semok Keira
menungging menghadap ke pintu.
“Kei, makan dulu. Makanannya sudah siap,” kata
Bilar.
Keira melempar pria itu dengan bantal, lalu
mengusirnya keluar. “Keluar lo! Mama lo nggak ngasih tahu kalau nggak boleh
masuk ke kamar cewek!” Bilar menutup pintu kamar Keira lagi.
__ADS_1
Keira yang sudah kelaparan, beranjak ke lemari dan
menarik piyama panjang dari dalam sana. Biasanya Keira memakai piyama itu kalau
ia sedang tidak enak badan.
Keduanya bertatapan lagi ketika Keira keluar dari
kamarnya. Bilar sudah menyiapkan makanan diatas meja. Keira mengambil nasi
duluan, lalu langsung makan tanpa menawari Bilar. Pria itu cuek saja ikut
mengambil nasi dan lauk.
“Aku bisa masuk karena ingat passwordmu waktu pertama
aku kesini,” kata Bilar mencoba membuka pembicaraan.
Keira mengacuhkannya.
“Dikantor sepi banget nggak ada kamu. Kapan kamu
ujian skripsi?” kata Bilar lagi.
Keira tetap diam membisu.
“Kei, kamu marah ya sama mamaku? Mama nggak maksud
gitu. Mama cuma kuatir sama aku,” kata Bilar.
Prak! Suara piring beradu terdengar di meja makan
itu. Keira menatap Bilar, ia menarik nafasnya sebelum mulai bicara.
“Bilar, gue bukan temen yang baik buat lo. Kita
tuch nggak cocok. Dunia lo, dunia gue itu jauh beda. Mama lo bener. Lo harus
dengerin mama lo. Jauhin gue,” pinta Keira tenang.
Entah kenapa hatinya terasa teriris ketika
mengatakan hal seperti itu pada Bilar. Keira mengusap kasar wajahnya, ia tidak
ingin menangis di depan Bilar. Pria itu akan mencari alasan untuk terus
bertanya kenapa Keira menangis.
“Kei, aku suka sama kamu. Bagiku kamu bukan cuma
sekedar teman,” ucap Bilar.
Keira menatap pria di depannya itu, penampilannya
sudah lebih santai dari biasanya. Meskipun kacamata masih bertengger di
hidungnya, Bilar sudah bisa mengikuti gaya anak muda jaman sekarang.
“Gombal receh. Mending lo pulang dech. Anak mami
ntar dicariin. Gue nggak mau apartment gue di grebek bodyguard lo. Lagian gue
harus belajar. Pulang sana,” kata Keira merasa sangat lelah.
Bilar akhirnya mau keluar dari apartment Keira. Gadis
itu masih duduk di meja makan, mengaduk-aduk nasi putih hingga berubah menjadi
nasi merah karena bumbu balado. Keira menyendok sesuap nasi lalu memasukkannya
ke mulutnya.
“Kenapa asin banget?” gumam Keira sambil makan.
Tak terasa air matanya mulai jatuh, baru kali ini
ia merasakan jatuh cinta pada seseorang yang tidak boleh ia miliki. Keira terus
makan dengan air mata mengalir di pipinya. Sedih dan hancur, tapi Keira tidak
bisa berbuat apa-apa lagi.
Setelah menghabiskan makanan diatas meja, Keira
mencuci piring kotor. Malam itu, ia hanya ingin mandi dan tidur saja. Keira
masuk ke kamarnya lalu bergegas mandi. Jam di atas nakas sudah menunjukkan jam sebelas
malam ketika ia keluar dari kamar mandi.
Tring! Tring! Suara ponsel Keira membuat gadis itu
menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari asal suaranya. Ponsel Keira
tergeletak di sofa menampilkan sambungan v-call dari salah satu teman
clubbingnya.
“Woi! Kei, lo
nggak kesini?” tanya si penelpon setelah mereka tersambung.
“Nggak, gue mau ujian skripsi. Libur dulu ya,”
sahut Keira.
“Kalo gitu,
__ADS_1
cowok lo, buat kita-kita ya,” kata si penelpon itu lagi sambil
memperlihatkan seseorang yang tampak tidak asing bagi Keira.