Duren Manis

Duren Manis
Extra part 50 Alan & Ginara


__ADS_3

Extra part 50


Katty mencengkeram taplak meja berwarna putih yang


bersih dan licin hingga kusut. Jodi memang pernah keluar kota sebelum mereka


menikah. Katty tidak ingat berapa lama Jodi pergi, tapi sepertinya memang


beberapa hari.


Setelah melihat ekspresi wajah Katty yang berubah


sedih, Alan agak mengendurkan tekanannya pada wanita itu. Ia memberi jeda pada


Katty untuk menenangkan diri. Alan juga tidak mau mengambil resiko kalau Katty


akan mengamuk dan menhajarnya di restaurant itu.


“Aku sudah melakukan test DNA, tante. Sebelum ini,


aku sempat bertemu papa Jodi secara tidak sengaja dan mendapatkan sampel


rambutnya. Ini hasilnya,” kata Alan sambil mengeluarkan amplop coklat.


Katty melihat hasil test DNA itu dan berharap


hasilnya negatif. Tapi tetap saja hasil test itu menunjukkan kalau Alan memang


anak kandung Jodi. Katty meletakkan hasil test itu di atas meja. Ia tidak bisa


berpikir dengan jernih saat ini. Jus jeruk di atas meja langsung tandas diminum


Katty yang mulai gelisah.


“Aku rasa hasil test ini salah. Kita harus lakukan


lagi test-nya. Kamu dan Jodi harus melakukan test ini lagi,” kata Katty.


Alan hanya mengangguk dan meminta Katty


memberitahunya dia harus kemana untuk melakukan test itu. Melihat sikap tenang


Alan, Katty semakin kuatir kalau Alan memang benar anak kandung Jodi. Alih-alih


memikirkan perasaannya yang sudah mulai hancur, Katty memikirkan perasaan Keira


dan Jordan. Bagaimana tanggapan anak-anaknya nanti kalau tahu papanya punya


anak lain di luar sana?


Apa yang harus dilakukan Katty? Katty benar-benar


sakit kepala membayangkan wajah sedih Keira dan Jordan. Tapi kalau membiarkan


Alan begitu saja, Katty juga merasa kasihan pada anak itu.


“Kamu tinggal dimana?” tanya Katty sambil menatap Alan.


“Aku tinggal sama mama di dekat sini, tante. Kami


hidup sederhana karena mama hanya pegawai swasta biasa. Aku hanya ingin meminta


hakku sebagai putra papa Jodi, tante. Wajar kan?” kata Alan tenang.


“Kamu perlu uang berapa?” tanya Katty tanpa


ekspresi.


“Aku nggak perlu uang, tante. Aku hanya minta hakku


sebagai anak. Tante ngerti kan?” kata Alan lagi.


Katty berpikir tentang uang sekolah, uang saku,


uang pakaian, uang makan, semuanya tentang uang pada akhirnya.


“Tetap saja apa yang kamu minta itu berhubungan


dengan uang. Kamu perlu berapa tiap bulan?” tanya Katty yang mulai kesal karena


Alan terus berputar-putar.


Alan tidak mau menyebutkan nominal sampai Katty


berkesimpulan kalau Alan ingin hak sebagai anak Jodi. Tinggal di rumah Jodi bersama


Keira dan Jordan. Katty menggeleng, anak-anaknya akan hancur kalau mengetahui


tentang keberadaan Alan.


“Aku harus bicarakan dengan anak-anak dulu. Mereka


tidak akan menerima kamu dengan mudah. Tapi kalau kamu sampai berbohong tentang


asal usulmu, aku akan pastikan sendiri kamu dan keluargamu tidak akan hidup


tenang,” ancam Katty sebelum meninggalkan Alan sendirian.


Sepeninggalan Katty, Alan membuka laptopnya yang


sudah terhubung dengan Jodi.


“Om, istri om sadis ya. Ancamannya nggak main-main.


Om masih tanggung jawab kan?” tanya Alan pada Jodi.


‘Iya, kamu tenang aja. Kerjamu bagus. Nggak minat


kerja sama om? Gajinya bagus loh. Bisalah nego dikit,” tawar Jodi.


Alan cuma nyengir jahil, gaji yang diberikan Endy

__ADS_1


sudah lebih dari cukup untuknya menabung. Ia ingin membelikan rumah yang lebih


besar untuk Melda dan X sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada kedua orang


tuanya itu. Jodi serius dengan kata-katanya dan meminta Alan memikirkan


tawarannya.


Jodi mendapat laporan kalau Katty sudah sampai di


rumahnya lagi. Ia masih duduk di ruang belakang bersama Pak Jang sambil


menunggu seribu balon merah selesai di pompa.


“Pak Jang, coba cek Katty dulu. Bilang aku masih


sibuk di ruang kerja,” pinta Jodi.


Katty benar-benar bad mood, ia kembali


mengacak-ngacak kamarnya ketika Pak Jang mengeceknya ke kamar. Pak Jang


menawarkan cemilan sehat kesukaan Katty, tapi wanita itu ingin semangkuk besar


es krim dan pijat refleksi. Pelayan segera datang membawakan pesanan Katty.


Dua pelayan memijat tubuh Katty yang sudah


berbaring di bed khusus pijat. Pak Jang selalu siap sedia mempersiapkan semua


yang diinginkan bos-nya. Beberapa bekas ciuman Jodi tampak memerah di beberapa


bagian tubuh Katty.


“Pak Jang, aku mau makan yang agak berat. Steak,


iga bakar, dan juga bebek panggang. Jangan lupa sausnya harus pedas. Es krimnya


bawa lagi, ini sudah cair,” pinta Katty.


Pak Jang sibuk melayani permintaan Katty yang


sedikit rewel dari biasanya. Jelas sekali Katty terlihat stress dan sedih. Ia


juga memarahi pelayan yang memijatnya, meminta mereka berpikir kembali sebelum


mempercayai pria manapun.


Pak Jang memberi tanda agar pelayan-pelayan itu


tetap bersikap biasa saja meskipun ingin tertawa melihat tingkah Katty yang


seperti anak kecil. Jodi yang mendapat laporan tentang tingkah Katty juga


tertawa ngakak di ruang kerjanya. Ia berharap acara besok akan berjalan lancar.


**


sudah pergi dari rumah sejak pagi, body guard yang mengikuti Katty melaporkan


kalau wanita itu menghabiskan banyak waktunya di salon langganannya. Makan


siang di restaurant favoritnya dan menghabiskan banyak uang dengan belanja. Hampir


separuh toko di mall dimasuki Katty dan pasti keluar dengan membawa paper bag


di tangannya.


Body guard Katty sampai berlarian di sekitar mall


untuk memastikan keberadaan Katty. Bahkan saat wanita itu kembali ke parkiran,


body guard yang mengikuti Katty sempat terkecoh mengira Katty akan segera


pulang, tapi wanita itu kembali menyusuri toko dan kembali belanja.


Entah berapa banyak notifikasi dari kartu debit yang


masuk ke ponsel Jodi. Pria itu hanya tertawa melihat nominal yang mulai


menguras tabungannya itu. Keira yang sedang dirias, melirik papanya yang


senyum-senyum sendiri.


“Papa kenapa senyum-senyum gitu? Mama dimana, pah?”


tanya Keira.


“Barusan habis belanja di toko pakaian dalam.


Sekarang nggak tahu kemana lagi. Tunggu aja SMS berikutnya,” sahut Jodi santai.


“Emangnya mama udah belanja berapa banyak, pah?”


tanya Keira kepo.


Jodi menyebutkan satu persatu nominal SMS kartu


debit yang mulai masuk ke ponselnya hari ini. Keira ikut menghitung dan melotot


kaget melihat nominal di ponselnya.


“Pah, nggak salah nich, mama belanja hampir


duaratus juta. Dan masih lanjut lagi tuch?” tanya Keira.


“Kei, mamamu itu papa kasih jatah belanja seratus


lima puluh juta tiap bulan. Nggak pernah habis, palingan cuma lima puluh juta


paling banyak. Itupun untuk beliin oleh-oleh waktu kami balik kesini. Jadi

__ADS_1


papamu ini nggak akan jatuh miskin cuma gara-gara mamamu kalap belanja, Kei,”


kata Jodi dengan songongnya.


“Kok aku cuma dijatah dua puluh juta, pah? Itupun


include bayar service charge apartment sama cicilan mobil,” sahut Keira protes.


“Kamu tuch masih minta sama papa. Belum punya


penghasilan sendiri. Kalo mamamu sekalinya dapet uang kan lumayan banyak tuch.


Makanya cepetan kerja,” kata Jodi.


“Dih, papa perhitungan banget. Kalo aku udah kerja,


jatah uang sakuku double ya, pah?” tanya Keira nego.


“Nggak dapet lah. Kalo kamu udah kerja, bayar tuch


cicilan mobil sendiri,” kata Jodi kejam.


Keira melengos kesal, ia mengeluh kalau papanya


semakin pelit pada putrinya sendiri. Tipe papa yang kejam, lebih kejam dari


ayah tiri. Jodi bahkan tidak berkomentar apa-apa mendengar omelan Keira.


“Ya, udah. Aku jual aja mobilnya. Kan aku udah punya


calon suami yang bisa nganter jemput. Kalo perlu aku tinggal aja sama Bilar.


Minta dibeliin mobil sama mama Bianca. Biar dikira papa udah bangkrut,” sahut


Keira mencoba memanas-manasi Jodi.


Jodi hampir membalas ancaman Keira ketika notif SMS


di ponselnya kembali menyala. Kali ini Katty belanja cukup banyak di toko pakaian


dan sepatu. Melihat kerutan di kening Jodi, Keira ketawa ngakak.


“Beneran kan pah, udah hampir bangkrut. Makanya jangan


bikin mama marah,” ejek Keira dengan kurang ajar.


“Mamamu ini mau ngilangin stress apa borong isi


mall? Papa harus ngecek dulu, mamamu ada yang bantuin bawa belanjaannya nggak,”


kata Jodi sambil menelpon Pak Jang.


Ternyata Katty sudah memanggil bala bantuan untuk


membawakan belanjaannya. Beberapa body guard Jodi sudah berbaris rapi dengan


membawa paper bag di tangan masing-masing sementara Katty masih asyik belanja. Bahkan


Katty sendiri juga membawa belanjaan di tangannya.


Katty meminta para body guard itu untuk membawa


pulang barang-barang belanjaannya dulu sementara ia pergi ke suatu tempat lagi.


Tentu saja ada mobil lain yang mengikuti Katty.


Kali ini Katty pulang ke rumah orang tuanya. Ia


rutin kesana setiap seminggu sekali setelah kembali dari luar negeri, sehingga


kedua orang tuanya tidak curiga kalau Katty sedang ada masalah dengan Jodi.


Katty menghabiskan waktu bicara dengan papanya yang


terlihat semakin sehat meskipun usianya mulai menginjak kepala delapan.


Keduanya banyak sekali membahas hal-hal kecil yang tidak penting tapi bisa


membuat keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Mama Katty sampai bolak-balik


mengecek tingkat kewarasan  Katty yang


tertawa melebihi batas wajar.


“Sayang, kamu nggak lagi ada masalah, kan?” tanya


mama Katty.


Katty menggeleng, ia beralasan sedikit stress


karena pekerjaan. Bahkan untuk malam ini, Katty ingin menginap di rumah orang


tuanya. Ia lupa kalau hari ini adalah anniversary pernikahannya dengan Jodi. Ketika


Katty menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya, mama Katty nyeletuk


mengatakan tentang anniversary pernikahan Jodi dan Katty.


“Katty, bukannya hari ini kalian anniversary


pernikahan ya? Nggak ngrayain?” tanya mama Katty.


Katty bangkit dari sofa, menatap kedua orang tuanya


sebelum membereskan barang-barangnya dan berpamitan untuk pulang. Jam sudah


menunjukkan pukul delapan malam dan masih perlu waktu setengah jam untuk sampai


di rumah Jodi. Katty mengetuk kepalanya, ia benar-benar lupa dengan hari


anniversary pernikahannya dengan Jodi. Masalah Alan benar-benar mengganggunya

__ADS_1


sampai melupakan hal paling penting.


__ADS_2