
Extra part 50
Katty mencengkeram taplak meja berwarna putih yang
bersih dan licin hingga kusut. Jodi memang pernah keluar kota sebelum mereka
menikah. Katty tidak ingat berapa lama Jodi pergi, tapi sepertinya memang
beberapa hari.
Setelah melihat ekspresi wajah Katty yang berubah
sedih, Alan agak mengendurkan tekanannya pada wanita itu. Ia memberi jeda pada
Katty untuk menenangkan diri. Alan juga tidak mau mengambil resiko kalau Katty
akan mengamuk dan menhajarnya di restaurant itu.
“Aku sudah melakukan test DNA, tante. Sebelum ini,
aku sempat bertemu papa Jodi secara tidak sengaja dan mendapatkan sampel
rambutnya. Ini hasilnya,” kata Alan sambil mengeluarkan amplop coklat.
Katty melihat hasil test DNA itu dan berharap
hasilnya negatif. Tapi tetap saja hasil test itu menunjukkan kalau Alan memang
anak kandung Jodi. Katty meletakkan hasil test itu di atas meja. Ia tidak bisa
berpikir dengan jernih saat ini. Jus jeruk di atas meja langsung tandas diminum
Katty yang mulai gelisah.
“Aku rasa hasil test ini salah. Kita harus lakukan
lagi test-nya. Kamu dan Jodi harus melakukan test ini lagi,” kata Katty.
Alan hanya mengangguk dan meminta Katty
memberitahunya dia harus kemana untuk melakukan test itu. Melihat sikap tenang
Alan, Katty semakin kuatir kalau Alan memang benar anak kandung Jodi. Alih-alih
memikirkan perasaannya yang sudah mulai hancur, Katty memikirkan perasaan Keira
dan Jordan. Bagaimana tanggapan anak-anaknya nanti kalau tahu papanya punya
anak lain di luar sana?
Apa yang harus dilakukan Katty? Katty benar-benar
sakit kepala membayangkan wajah sedih Keira dan Jordan. Tapi kalau membiarkan
Alan begitu saja, Katty juga merasa kasihan pada anak itu.
“Kamu tinggal dimana?” tanya Katty sambil menatap Alan.
“Aku tinggal sama mama di dekat sini, tante. Kami
hidup sederhana karena mama hanya pegawai swasta biasa. Aku hanya ingin meminta
hakku sebagai putra papa Jodi, tante. Wajar kan?” kata Alan tenang.
“Kamu perlu uang berapa?” tanya Katty tanpa
ekspresi.
“Aku nggak perlu uang, tante. Aku hanya minta hakku
sebagai anak. Tante ngerti kan?” kata Alan lagi.
Katty berpikir tentang uang sekolah, uang saku,
uang pakaian, uang makan, semuanya tentang uang pada akhirnya.
“Tetap saja apa yang kamu minta itu berhubungan
dengan uang. Kamu perlu berapa tiap bulan?” tanya Katty yang mulai kesal karena
Alan terus berputar-putar.
Alan tidak mau menyebutkan nominal sampai Katty
berkesimpulan kalau Alan ingin hak sebagai anak Jodi. Tinggal di rumah Jodi bersama
Keira dan Jordan. Katty menggeleng, anak-anaknya akan hancur kalau mengetahui
tentang keberadaan Alan.
“Aku harus bicarakan dengan anak-anak dulu. Mereka
tidak akan menerima kamu dengan mudah. Tapi kalau kamu sampai berbohong tentang
asal usulmu, aku akan pastikan sendiri kamu dan keluargamu tidak akan hidup
tenang,” ancam Katty sebelum meninggalkan Alan sendirian.
Sepeninggalan Katty, Alan membuka laptopnya yang
sudah terhubung dengan Jodi.
“Om, istri om sadis ya. Ancamannya nggak main-main.
Om masih tanggung jawab kan?” tanya Alan pada Jodi.
‘Iya, kamu tenang aja. Kerjamu bagus. Nggak minat
kerja sama om? Gajinya bagus loh. Bisalah nego dikit,” tawar Jodi.
Alan cuma nyengir jahil, gaji yang diberikan Endy
__ADS_1
sudah lebih dari cukup untuknya menabung. Ia ingin membelikan rumah yang lebih
besar untuk Melda dan X sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada kedua orang
tuanya itu. Jodi serius dengan kata-katanya dan meminta Alan memikirkan
tawarannya.
Jodi mendapat laporan kalau Katty sudah sampai di
rumahnya lagi. Ia masih duduk di ruang belakang bersama Pak Jang sambil
menunggu seribu balon merah selesai di pompa.
“Pak Jang, coba cek Katty dulu. Bilang aku masih
sibuk di ruang kerja,” pinta Jodi.
Katty benar-benar bad mood, ia kembali
mengacak-ngacak kamarnya ketika Pak Jang mengeceknya ke kamar. Pak Jang
menawarkan cemilan sehat kesukaan Katty, tapi wanita itu ingin semangkuk besar
es krim dan pijat refleksi. Pelayan segera datang membawakan pesanan Katty.
Dua pelayan memijat tubuh Katty yang sudah
berbaring di bed khusus pijat. Pak Jang selalu siap sedia mempersiapkan semua
yang diinginkan bos-nya. Beberapa bekas ciuman Jodi tampak memerah di beberapa
bagian tubuh Katty.
“Pak Jang, aku mau makan yang agak berat. Steak,
iga bakar, dan juga bebek panggang. Jangan lupa sausnya harus pedas. Es krimnya
bawa lagi, ini sudah cair,” pinta Katty.
Pak Jang sibuk melayani permintaan Katty yang
sedikit rewel dari biasanya. Jelas sekali Katty terlihat stress dan sedih. Ia
juga memarahi pelayan yang memijatnya, meminta mereka berpikir kembali sebelum
mempercayai pria manapun.
Pak Jang memberi tanda agar pelayan-pelayan itu
tetap bersikap biasa saja meskipun ingin tertawa melihat tingkah Katty yang
seperti anak kecil. Jodi yang mendapat laporan tentang tingkah Katty juga
tertawa ngakak di ruang kerjanya. Ia berharap acara besok akan berjalan lancar.
**
sudah pergi dari rumah sejak pagi, body guard yang mengikuti Katty melaporkan
kalau wanita itu menghabiskan banyak waktunya di salon langganannya. Makan
siang di restaurant favoritnya dan menghabiskan banyak uang dengan belanja. Hampir
separuh toko di mall dimasuki Katty dan pasti keluar dengan membawa paper bag
di tangannya.
Body guard Katty sampai berlarian di sekitar mall
untuk memastikan keberadaan Katty. Bahkan saat wanita itu kembali ke parkiran,
body guard yang mengikuti Katty sempat terkecoh mengira Katty akan segera
pulang, tapi wanita itu kembali menyusuri toko dan kembali belanja.
Entah berapa banyak notifikasi dari kartu debit yang
masuk ke ponsel Jodi. Pria itu hanya tertawa melihat nominal yang mulai
menguras tabungannya itu. Keira yang sedang dirias, melirik papanya yang
senyum-senyum sendiri.
“Papa kenapa senyum-senyum gitu? Mama dimana, pah?”
tanya Keira.
“Barusan habis belanja di toko pakaian dalam.
Sekarang nggak tahu kemana lagi. Tunggu aja SMS berikutnya,” sahut Jodi santai.
“Emangnya mama udah belanja berapa banyak, pah?”
tanya Keira kepo.
Jodi menyebutkan satu persatu nominal SMS kartu
debit yang mulai masuk ke ponselnya hari ini. Keira ikut menghitung dan melotot
kaget melihat nominal di ponselnya.
“Pah, nggak salah nich, mama belanja hampir
duaratus juta. Dan masih lanjut lagi tuch?” tanya Keira.
“Kei, mamamu itu papa kasih jatah belanja seratus
lima puluh juta tiap bulan. Nggak pernah habis, palingan cuma lima puluh juta
paling banyak. Itupun untuk beliin oleh-oleh waktu kami balik kesini. Jadi
__ADS_1
papamu ini nggak akan jatuh miskin cuma gara-gara mamamu kalap belanja, Kei,”
kata Jodi dengan songongnya.
“Kok aku cuma dijatah dua puluh juta, pah? Itupun
include bayar service charge apartment sama cicilan mobil,” sahut Keira protes.
“Kamu tuch masih minta sama papa. Belum punya
penghasilan sendiri. Kalo mamamu sekalinya dapet uang kan lumayan banyak tuch.
Makanya cepetan kerja,” kata Jodi.
“Dih, papa perhitungan banget. Kalo aku udah kerja,
jatah uang sakuku double ya, pah?” tanya Keira nego.
“Nggak dapet lah. Kalo kamu udah kerja, bayar tuch
cicilan mobil sendiri,” kata Jodi kejam.
Keira melengos kesal, ia mengeluh kalau papanya
semakin pelit pada putrinya sendiri. Tipe papa yang kejam, lebih kejam dari
ayah tiri. Jodi bahkan tidak berkomentar apa-apa mendengar omelan Keira.
“Ya, udah. Aku jual aja mobilnya. Kan aku udah punya
calon suami yang bisa nganter jemput. Kalo perlu aku tinggal aja sama Bilar.
Minta dibeliin mobil sama mama Bianca. Biar dikira papa udah bangkrut,” sahut
Keira mencoba memanas-manasi Jodi.
Jodi hampir membalas ancaman Keira ketika notif SMS
di ponselnya kembali menyala. Kali ini Katty belanja cukup banyak di toko pakaian
dan sepatu. Melihat kerutan di kening Jodi, Keira ketawa ngakak.
“Beneran kan pah, udah hampir bangkrut. Makanya jangan
bikin mama marah,” ejek Keira dengan kurang ajar.
“Mamamu ini mau ngilangin stress apa borong isi
mall? Papa harus ngecek dulu, mamamu ada yang bantuin bawa belanjaannya nggak,”
kata Jodi sambil menelpon Pak Jang.
Ternyata Katty sudah memanggil bala bantuan untuk
membawakan belanjaannya. Beberapa body guard Jodi sudah berbaris rapi dengan
membawa paper bag di tangan masing-masing sementara Katty masih asyik belanja. Bahkan
Katty sendiri juga membawa belanjaan di tangannya.
Katty meminta para body guard itu untuk membawa
pulang barang-barang belanjaannya dulu sementara ia pergi ke suatu tempat lagi.
Tentu saja ada mobil lain yang mengikuti Katty.
Kali ini Katty pulang ke rumah orang tuanya. Ia
rutin kesana setiap seminggu sekali setelah kembali dari luar negeri, sehingga
kedua orang tuanya tidak curiga kalau Katty sedang ada masalah dengan Jodi.
Katty menghabiskan waktu bicara dengan papanya yang
terlihat semakin sehat meskipun usianya mulai menginjak kepala delapan.
Keduanya banyak sekali membahas hal-hal kecil yang tidak penting tapi bisa
membuat keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Mama Katty sampai bolak-balik
mengecek tingkat kewarasan Katty yang
tertawa melebihi batas wajar.
“Sayang, kamu nggak lagi ada masalah, kan?” tanya
mama Katty.
Katty menggeleng, ia beralasan sedikit stress
karena pekerjaan. Bahkan untuk malam ini, Katty ingin menginap di rumah orang
tuanya. Ia lupa kalau hari ini adalah anniversary pernikahannya dengan Jodi. Ketika
Katty menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya, mama Katty nyeletuk
mengatakan tentang anniversary pernikahan Jodi dan Katty.
“Katty, bukannya hari ini kalian anniversary
pernikahan ya? Nggak ngrayain?” tanya mama Katty.
Katty bangkit dari sofa, menatap kedua orang tuanya
sebelum membereskan barang-barangnya dan berpamitan untuk pulang. Jam sudah
menunjukkan pukul delapan malam dan masih perlu waktu setengah jam untuk sampai
di rumah Jodi. Katty mengetuk kepalanya, ia benar-benar lupa dengan hari
anniversary pernikahannya dengan Jodi. Masalah Alan benar-benar mengganggunya
__ADS_1
sampai melupakan hal paling penting.