
DM2 – Banyak bohong
”Tentu kita akan ketemu lagi. Kau
berhutang penjelasan yang sangat panjang, Melda.” X memindai ponsel Melda
dengan cepat. Ia kembali duduk di depan layar CCTV tanpa mengganggu Melda lagi.
Satu jam kemudian, Bianca kembali ke ruang
kerja Alex. Ia menjelaskan hasil meeting tadi pada Melda. “Akhirnya selesai
juga. X, habis ini kita kemana?”tanay Bianca.
“Ny. kita harus jemput tuan muda kecil.
Sudah hampir waktunya.”ujar X.
“Ach, iya. Melda, aku pergi dulu. Sampai
jumpa lagi.”
Melda mengangguk, mengucapkan terima kasih.
Ia tidak menoleh pada X yang berjalan melewatinya. Romi masuk ke ruang kerja
Alex setelah mengantar Bianca dan X sampai lift.
“Melda, sekarang kau ke RS bawa dokumen
yang harus ditandatangani Alex. Dan ambil dokumen yang sudah selesai. Inget cek
lagi. Kemarin aku membawa pulang dokumen yang belum ditandatangani Alex dan aku
harus balik lagi ke RS.”
“Baik, pak. Bapak pulang jam berapa?”tanya
Melda.
“Jam 3. Pesawatku jam 5. Sampai ketemu hari
Selasa.”
Melda mengangguk. Ia sudah mulai terbiasa
menghandle pekerjaan sendiri. Melda belajar dengan cepat dan itu sudah cukup
untuk Romi. “Apa besok ada yang datang, pak?”tanya Melda.
“Bianca akan datang lagi. Dia bilang mau
pinjam ruang meeting untuk kerja. Aku rasa X juga akan datang.”
Melda memutar bola matanya, ia menghela
nafas cepat, sedikit kesal. Romi tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajah
Melda. Ia sudah menumpuk dokumen yang harus dibawa Melda ke RS.
Sambil menarik koper kecil berisi dokumen
yang harus di tandatangani Alex, Melda keluar dari lift. Meskipun masih sedikit
takut setelah kejadian itu, ia sudah bisa tenang karena security mengajaknya
bicara dari intercom di lift ketika Melda masuk ke lift.
Sopir Alex sudah menunggu di lobby kantor,
ia mendekati Melda lalu mengambil alih koper di tangannya. “Pak, kita ke RS
ya.”kata Melda.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan
mobil mulai berjalan menuju RS. Saat itu di RS, Mia sedang memberi buah untuk
Alex. Melda mengetuk pintu kamar rawat inap Alex. Ia membuka pintu setelah
mendengar Mia menyebut kata ‘masuk’.
“Selamat siang, pak Alex, bu Mia. Maaf saya
mengganggu.”sapa Melda.
Mia mengkerutkan keningnya melihat wanita
cantik masuk ke kamar itu. “Siang. Kamu siapa?”tanya Mia.
“Sayang, ini Melda. Sekretarisku yang baru.
__ADS_1
Aku pernah cerita kan?”
“Oh, yang lisptiknya nempel di bajumu,
mas?”tanya Mia mulai cemburu.
Melda merasakan hawa pembunuh dari aura
yang dipancarkan Mia, “Maaf, bu Mia. Waktu itu saya terjatuh. Gak sengaja kena
bajunya bapak.”kata Melda sopan.
“Lain kali jangan pakai sepatu terlalu
tinggi, biar gak jatuh.”kata Mia lagi dengan mata menatap sepatu hak tinggi
Melda.
“Baik, bu. Maaf, pak Alex. Ini dokumen yang
harus di cek dan tanda tangan. Saya bisa taruh dimana?”tanya Melda.
“Bawa sini, Mel. Aku harus selesaikan
memeriksa hari ini juga. Besok aku sudah bisa keluar RS. Kamu bisa tunggu
sebentar?”kata Alex.
Melda melihat jam tangannya. “Baik, pak.
Tapi saya harus segera kembali ke kantor. Pak Romi mau pulang 3.”
“Ini gak lama. Duduk sana. Itu dokumen yang
kemarin.”tunjuk Alex ke meja sofa.
Melda duduk di meja sofa. Ia duduk
menyamping, menutupi rok pendeknya dengan koper yang dibawanya. Melda membuka
koper itu, mengeluarkan isinya dan membawanya ke depan Alex. Mia sudah
meletakkan meja kecil diatas bed Alex.
Mia melirik Melda yang menunjukkan dokumen
yang penting untuk diteliti Alex sebelum ia tanda tangan. Alex menanyakan
beberapa hal dulu sebelum mulai membuka berkas di depannya. Melda menjawabnya
Melda mencatat apa yang harus dikerjakannya
setelah kembali ke kantor. Karena besok hari Jumat dan Romi tidak ada di
kantor. “Tadi Pak Romi bilang kalau Ny.Bianca akan datang lagi besok. Mau
pinjam ruang meeting.”
“Itu bagus, kamu tidak sendiri di kantor.
Aku cek dokumen ini dulu ya.”kata Alex.
Melda mengangguk. Ia kembali duduk di sofa,
menggeser kursinya hingga hampir membelakangi kedua bosnya. Melda mulai
memerika dokumen di depannya.
“Dia cukup sopan.”celetuk Mia sangat kecil
tapi masih bisa di dengar Alex.
“Kamu masih cemburu, sayang?”tanya Alex.
“Mas, masalahnya kamu ini sangat tampan.
Meski sudah tua, tetep aja kamu tuch ganteng.”
Alex melayang menerima pujian dari Mia,
“Kamu muji gini pasti ada maunya.”
Mia mendekati Alex, berbisik nakal pada
suaminya itu. Tangan Alex langsung meluncur ke pusat sasaran. Mendengar desahan
kecil Mia, membuat Alex tersenyum lebar. Ia makin bersemangat, lupa ada Melda
di depan mereka.
Melda sudah pura-pura budeg, padahal ia
__ADS_1
mendengar dengan jelas desahan Mia. Untuk menyadarkan keduanya kalau ia ada di
sana, Melda sengaja berdehem cukup keras. “Ehem..!”
“Kenapa, Mel?”tanya Alex.
“Tidak, pak. Sepertinya agak seret, boleh
saya minta minum?”tanya Melda.
“Ambil aja di meja, Melda.”saut Mia.
“Terima kasih, bu Mia.”
Mia pindah duduk di depan Melda. Ia ingin
melihat lebih dekat sosok wanita itu. Melda tersenyum pada Mia, ia kembali
sibuk memeriksa dokumen di meja tanpa bicara pada Mia.
“Melda, kamu tinggal dimana?”tanya Mia
kepo. “Sudah menikah?”
Melda menyebutkan alamat kost-nya yang
ternyata dekat dengan rumah Alex, tapi Mia tidak mengomentarinya. Ia sedikit
ragu ketika menjawab pertanyaan Mia tentang pacar, tapi memilih menjawab
dirinya sudah bertunangan. Ia sempat membayangkan wajah X yang dingin. ”Untuk
kali ini saja kau harus membantuku.”
“Oh, sudah tunangan. Tunanganmu pasti
ganteng kan? Kamu kan cantik gini.”kata Mia manis. “Kapan kalian menikah?”tanya
Mia lagi.
“Tunggu dia kembali dari tugas di luar
kota, bu. Kami cukup sibuk bekerja sekarang.Sambil nabung juga untuk biayanya.”jelas
Melda asal.
Dia hanya ingin menyelesaikan memeriksa
dokumen itu dan pergi dari sana secepatnya.
“Ach, baguslah. Kau harus cepat menikah
sebelum bertambah tua.”kata Mia senang.
Melda hanya mengangguk. Ia memasukkan
dokumen yang sudah selesai diperiksa kembali ke dalam koper. Untung saja Alex
mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, ia sudah hampir kehabisan jawaban bohong
untuk menyenangkan Mia.
Melda memeriksa dokumen yang sudah dtanda
tangani Alex dan memasukkannya ke koper juga. Ia berpamitan pada kedua bos-nya
itu untuk kembali ke kantor. Mia sempat meminta undangan kalau Melda menikah
nanti dan ia hanya mengiyakannya saja.
Sekembalinya Melda ke kantor, Romi sudah
bersiap pulang. “Kamu lama sekali disana. Sudah selesai semuanya?”tanya Romi.
“Sudah, pak. Besok pak Alex keluar dari
rumah sakit. Jadi tadi semua dokumen yang saya bawa langsung di periksa.”jelas
Melda.
“Oh ya. Hmm, aku akan telpon Alex nanti.
Mana semua dokumen itu?”
Melda mengeluarkan semua dokumen dari dalam
koper. Ia mendengarkan perintah Romi terhadap dokumen-dokumen itu sebelum Romi
pulang. Saat ia sendirian di ruang kerja Romi, seseorang menelpon Melda.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.