Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Banyak bohong


__ADS_3

DM2 – Banyak bohong


”Tentu kita akan ketemu lagi. Kau


berhutang penjelasan yang sangat panjang, Melda.” X memindai ponsel Melda


dengan cepat. Ia kembali duduk di depan layar CCTV tanpa mengganggu Melda lagi.


Satu jam kemudian, Bianca kembali ke ruang


kerja Alex. Ia menjelaskan hasil meeting tadi pada Melda. “Akhirnya selesai


juga. X, habis ini kita kemana?”tanay Bianca.


“Ny. kita harus jemput tuan muda kecil.


Sudah hampir waktunya.”ujar X.


“Ach, iya. Melda, aku pergi dulu. Sampai


jumpa lagi.”


Melda mengangguk, mengucapkan terima kasih.


Ia tidak menoleh pada X yang berjalan melewatinya. Romi masuk ke ruang kerja


Alex setelah mengantar Bianca dan X sampai lift.


“Melda, sekarang kau ke RS bawa dokumen


yang harus ditandatangani Alex. Dan ambil dokumen yang sudah selesai. Inget cek


lagi. Kemarin aku membawa pulang dokumen yang belum ditandatangani Alex dan aku


harus balik lagi ke RS.”


“Baik, pak. Bapak pulang jam berapa?”tanya


Melda.


“Jam 3. Pesawatku jam 5. Sampai ketemu hari


Selasa.”


Melda mengangguk. Ia sudah mulai terbiasa


menghandle pekerjaan sendiri. Melda belajar dengan cepat dan itu sudah cukup


untuk Romi. “Apa besok ada yang datang, pak?”tanya Melda.


“Bianca akan datang lagi. Dia bilang mau


pinjam ruang meeting untuk kerja. Aku rasa X juga akan datang.”


Melda memutar bola matanya, ia menghela


nafas cepat, sedikit kesal. Romi tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajah


Melda. Ia sudah menumpuk dokumen yang harus dibawa Melda ke RS.


Sambil menarik koper kecil berisi dokumen


yang harus di tandatangani Alex, Melda keluar dari lift. Meskipun masih sedikit


takut setelah kejadian itu, ia sudah bisa tenang karena security mengajaknya


bicara dari intercom di lift ketika Melda masuk ke lift.


Sopir Alex sudah menunggu di lobby kantor,


ia mendekati Melda lalu mengambil alih koper di tangannya. “Pak, kita ke RS


ya.”kata Melda.


Mereka segera masuk ke dalam mobil dan


mobil mulai berjalan menuju RS. Saat itu di RS, Mia sedang memberi buah untuk


Alex. Melda mengetuk pintu kamar rawat inap Alex. Ia membuka pintu setelah


mendengar Mia menyebut kata ‘masuk’.


“Selamat siang, pak Alex, bu Mia. Maaf saya


mengganggu.”sapa Melda.


Mia mengkerutkan keningnya melihat wanita


cantik masuk ke kamar itu. “Siang. Kamu siapa?”tanya Mia.


“Sayang, ini Melda. Sekretarisku yang baru.

__ADS_1


Aku pernah cerita kan?”


“Oh, yang lisptiknya nempel di bajumu,


mas?”tanya Mia mulai cemburu.


Melda merasakan hawa pembunuh dari aura


yang dipancarkan Mia, “Maaf, bu Mia. Waktu itu saya terjatuh. Gak sengaja kena


bajunya bapak.”kata Melda sopan.


“Lain kali jangan pakai sepatu terlalu


tinggi, biar gak jatuh.”kata Mia lagi dengan mata menatap sepatu hak tinggi


Melda.


“Baik, bu. Maaf, pak Alex. Ini dokumen yang


harus di cek dan tanda tangan. Saya bisa taruh dimana?”tanya Melda.


“Bawa sini, Mel. Aku harus selesaikan


memeriksa hari ini juga. Besok aku sudah bisa keluar RS. Kamu bisa tunggu


sebentar?”kata Alex.


Melda melihat jam tangannya. “Baik, pak.


Tapi saya harus segera kembali ke kantor. Pak Romi mau pulang 3.”


“Ini gak lama. Duduk sana. Itu dokumen yang


kemarin.”tunjuk Alex ke meja sofa.


Melda duduk di meja sofa. Ia duduk


menyamping, menutupi rok pendeknya dengan koper yang dibawanya. Melda membuka


koper itu, mengeluarkan isinya dan membawanya ke depan Alex. Mia sudah


meletakkan meja kecil diatas bed Alex.


Mia melirik Melda yang menunjukkan dokumen


yang penting untuk diteliti Alex sebelum ia tanda tangan. Alex menanyakan


beberapa hal dulu sebelum mulai membuka berkas di depannya. Melda menjawabnya


Melda mencatat apa yang harus dikerjakannya


setelah kembali ke kantor. Karena besok hari Jumat dan Romi tidak ada di


kantor. “Tadi Pak Romi bilang kalau Ny.Bianca akan datang lagi besok. Mau


pinjam ruang meeting.”


“Itu bagus, kamu tidak sendiri di kantor.


Aku cek dokumen ini dulu ya.”kata Alex.


Melda mengangguk. Ia kembali duduk di sofa,


menggeser kursinya hingga hampir membelakangi kedua bosnya. Melda mulai


memerika dokumen di depannya.


“Dia cukup sopan.”celetuk Mia sangat kecil


tapi masih bisa di dengar Alex.


“Kamu masih cemburu, sayang?”tanya Alex.


“Mas, masalahnya kamu ini sangat tampan.


Meski sudah tua, tetep aja kamu tuch ganteng.”


Alex melayang menerima pujian dari Mia,


“Kamu muji gini pasti ada maunya.”


Mia mendekati Alex, berbisik nakal pada


suaminya itu. Tangan Alex langsung meluncur ke pusat sasaran. Mendengar desahan


kecil Mia, membuat Alex tersenyum lebar. Ia makin bersemangat, lupa ada Melda


di depan mereka.


Melda sudah pura-pura budeg, padahal ia

__ADS_1


mendengar dengan jelas desahan Mia. Untuk menyadarkan keduanya kalau ia ada di


sana, Melda sengaja berdehem cukup keras. “Ehem..!”


“Kenapa, Mel?”tanya Alex.


“Tidak, pak. Sepertinya agak seret, boleh


saya minta minum?”tanya Melda.


“Ambil aja di meja, Melda.”saut Mia.


“Terima kasih, bu Mia.”


Mia pindah duduk di depan Melda. Ia ingin


melihat lebih dekat sosok wanita itu. Melda tersenyum pada Mia, ia kembali


sibuk memeriksa dokumen di meja tanpa bicara pada Mia.


“Melda, kamu tinggal dimana?”tanya Mia


kepo. “Sudah menikah?”


Melda menyebutkan alamat kost-nya yang


ternyata dekat dengan rumah Alex, tapi Mia tidak mengomentarinya. Ia sedikit


ragu ketika menjawab pertanyaan Mia tentang pacar, tapi memilih menjawab


dirinya sudah bertunangan. Ia sempat membayangkan wajah X yang dingin. ”Untuk


kali ini saja kau harus membantuku.”


“Oh, sudah tunangan. Tunanganmu pasti


ganteng kan? Kamu kan cantik gini.”kata Mia manis. “Kapan kalian menikah?”tanya


Mia lagi.


“Tunggu dia kembali dari tugas di luar


kota, bu. Kami cukup sibuk bekerja sekarang.Sambil nabung juga untuk biayanya.”jelas


Melda asal.


Dia hanya ingin menyelesaikan memeriksa


dokumen itu dan pergi dari sana secepatnya.


“Ach, baguslah. Kau harus cepat menikah


sebelum bertambah tua.”kata Mia senang.


Melda hanya mengangguk. Ia memasukkan


dokumen yang sudah selesai diperiksa kembali ke dalam koper. Untung saja Alex


mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, ia sudah hampir kehabisan jawaban bohong


untuk menyenangkan Mia.


Melda memeriksa dokumen yang sudah dtanda


tangani Alex dan memasukkannya ke koper juga. Ia berpamitan pada kedua bos-nya


itu untuk kembali ke kantor. Mia sempat meminta undangan kalau Melda menikah


nanti dan ia hanya mengiyakannya saja.


Sekembalinya Melda ke kantor, Romi sudah


bersiap pulang. “Kamu lama sekali disana. Sudah selesai semuanya?”tanya Romi.


“Sudah, pak. Besok pak Alex keluar dari


rumah sakit. Jadi tadi semua dokumen yang saya bawa langsung di periksa.”jelas


Melda.


“Oh ya. Hmm, aku akan telpon Alex nanti.


Mana semua dokumen itu?”


Melda mengeluarkan semua dokumen dari dalam


koper. Ia mendengarkan perintah Romi terhadap dokumen-dokumen itu sebelum Romi


pulang. Saat ia sendirian di ruang kerja Romi, seseorang menelpon Melda.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2