Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 1


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 1


Pelajaran tentang hacker mulai dijalani Ken secara


langsung setelah Alan dan Ginara sampai di negara A. Mereka tinggal bersama Ken


di mansion mewah milik Endy. Kebetulan lokasi mansion itu dekat dengan mansion


Steven. Mereka tidak menyadari kalau memiliki mansion yang lokasinya


berdekatan.


Ken merasa senang karena ada yang menemani dia


tinggal di mansion yang cukup sunyi itu. Selama tinggal disana, Ken hanya


ditemani beberapa pelayan dan body guard. Tidak ada remaja seusianya disana.


Belum lagi di sekolah, Ken tidak boleh bergaul dengan sembarangan orang. Ingin


sekali rasanya Ken melarikan diri dari mansion, tapi ia tidak punya keberanian


sebesar itu.


Pagi itu ketika Ginara sedang membuat sarapan di


dapur bersama pelayan di mansion, Ken baru turun dari kamarnya di lantai atas. Ia


duduk di meja makan sambil menonton sesuatu di ponselnya.


“Kak Gina, dimana kak Alan?” tanya Ken yang melihat


Ginara membawakan sarapan ke meja makan.


“Kak Alan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya


mau ke tempat latihan duluan. Kalian ada latihan di puncak bukit kan?” tanya


Ginara dengan senyuman khasnya.


“Oh, kenapa nggak nunggu aku ya?” tanya Ken mulai


memakan sarapannya.


Ginara mengangkat kedua bahunya, Alan mengatakan


akan ada kejutan untuk Ken dan tidak ingin Ken mengetahuinya dulu. Dengan penuh


tanda tanya, Ken menyusul Alan menuju puncak bukit dengan mobil mewah dan


sopirnya. Sampai di puncak bukit, Ken melihat seseorang terikat di kursi yang


sudah tersedia disana.


“Kaori?!” panggil Ken mulai panik.


Ia cepat-cepat turun dari mobil dan hampir berlari


menghampiri gadis yang ia kira Kaori itu.


“Kaori!” teriak Ken memanggil Kaori.


“Ken! Jangan mendekat! Disini ada bom!” teriak


Kaori yang memakai kaca mata hitam menutupi matanya.


“Bom?!” Ken segera waspada melihat sekeliling.


Alan berjalan keluar dari balik pohon besar di


samping Kaori. Ia tampak memegang sesuatu sebesar Ipad. “Ken, kalau kau bisa,


selamatkan dia,” kata Alan sambil mulai mengaktifkan waktu di tubuh Kaori.


“Kak! Ini cuma latihan, kenapa harus ganggu


Kaori?!” jerit Ken kesal.


Ia mengambil Ipad di dalam tasnya lalu mulai


mengaktifkan Ipad itu. Alan mengatakan kalau waktu Ken akan segera habis. Ken


harus bisa mendahului Alan membobol web suatu perusahaan dan mereka


melakukannya live.


“Jangan banyak bicara, Ken. Kalau kau peduli pada


gadis itu, cepat selesaikan tugasmu!” kata Alan memanas-manasi Ken.


Pikiran Ken sempat blank sebentar, ia mengkuatirkan


keselamatan Kaori. Sampai tidak sempat berpikir bagaimana bisa Alan membawa


Kaori ke puncak bukit itu. Alan menghadang semua jalan Ken untuk menembus pertahanan


web perusahaan asing itu.


Ken hampir putus asa saat Kaori memanggil namanya


lagi. Ia menatap gadis malang itu yang masih terikat di kursi. Tinggal sepuluh


menit lagi dan bom itu akan meledak. Ken tidak mau menyerah, tidak untuk Kaori.


Ia sanggup melakukan apa saja untuk gadis itu.


Alan tersenyum saat Ken berhasil mendahuluinya


membobol web perusahaan asing. Simbol milik Ken untuk sesaat memenuhi halaman


web itu sampai tampilan di dalam web kembali seperti semula. Ken melempar


Ipad-nya ke atas tasnya. Ia segera berlari menghampiri Kaori yang tersenyum


padanya.


“Kaori! Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ken sambil

__ADS_1


melepas tali yang mengikat tubuh Kaori.


Bom di tubuhnya sudah dijinakkan ketika Ken


berhasil. Ken membawa bom itu menjauh dari Kaori lalu membantu gadis itu


berdiri. Saat Ken memperhatikan wajah Kaori, ia mendorong gadis itu.


“Siapa kau?! Kau bukan Kaori!” tanya Ken bingung.


Gadis itu membuka kacamatanya lalu melepas wig yang


menutupi rambut merahnya. Alan bertepuk tangan sejenak sebelum mengucapkan


selamat pada Ken. Tahap pertama latihannya sudah selesai. Mereka masih punya


sembilan belas tahap lagi sebelum Alan bisa kembali ke negaranya lagi.


“Kak, siapa dia?” tanya Ken sedikit kesal.


“Dia Melisa, kembarannya Kaori. Mirip kan?” tanya


Alan.


Ken melihat Melisa mengusap wajahnya, menghapus


riasannya dengan cepat, mengembalikan wajahnya kembali seperti semula. Jelas


sekali kalau Melisa sama sekali tidak mirip dengan Kaori, tapi ia bisa menyamar


menjadi orang lain dengan sangat mirip.


Alan mengatakan kalau Melisa ahli dalam penyamaran.


Dia akan jadi guru Ken juga untuk berlatih cara menyamar tanpa ketahuan.


“Tuan muda Ken. Aku Melisa, aku akan melatih tuan


muda dalam menyamar. Bagaimana dengan penyamaranku tadi, tuan muda?” tanya


Melisa.


“Darimana kau tahu tentang suara Kaori? Suaramu


sangat berbeda dari dia. Kak Alan, aku nggak suka kalau Kaori dibawa-bawa ya,”


kata Ken sedikit mengancam.


Alan dan Melisa saling pandang dan tersenyum. Alan


tidak menyangka kalau sosok Kaori bisa sangat berpengaruh pada Ken. Tadinya


Alan tidak terlalu menanggapi saat Ginara mengatakan padanya kalau Ken sedang


menyukai seorang gadis. Ginara tidak sengaja memergoki saat Ken sedang bicara


dengan gadis itu di telpon. Gadis yang sangat cantik seiring bertambahnya usia


mereka.


Alan tidak bermaksud memanfaatkan Kaori untuk


satu titik kelemahan Ken dan pelajarannya akan terganggu dengan adanya Kaori. Mereka


segera kembali ke mansion karena sudah hampir waktunya makan siang.


Saat mobil Ken menuruni bukit hampir mendekati


mansion Endy, mereka berpapasan dengan mobil Steven yang membawa Steven dan


Reynold di dalam sana. Mereka berdua sedang berdebat tentang hacker yang baru


saja membobol web perusahaan milik Steven.


Steven tidak bisa mencari tahu siapa hacker itu


karena Alan sudah menghapus jejak Ken setelah berhasil membobol web perusahaan


Steven. Mereka tidak boleh sampai ketahuan atau pelajaran Ken akan sia-sia


saja.


“Lo harus cari tahu siapa hacker itu. Web lo di


bobol di depan mata. Gue masih nunggu tuch hacker masuk ke web gue.” Reynold


menggosok kedua tangannya.


“Gue udah pasang jebakan di web perusahaan lo. Kita


liat aja apa tuch hacker bisa kabur apa nggak. Daripada lo mikirin itu, mending


lo konsen sama rencana lo buat Renata. Tinggal dua tahun lagi dan sampai


sekarang lo belum bisa ngeyakinin Renata buat kuliah disini.” Steven membuka


Ipad-nya.


“Dia udah setuju. Tapi gue harus bantu dia biar


bisa lulus ujian masuk. Lo bantu ya,” kata Reynold.


Steven tidak menjawab Reynold, ia menemukan sesuatu


tentang hacker bernama Alananara. Jejaknya samar terlihat di history


penjelajahan web perusahaannya. Meskipun tidak merusak tampilan web-nya, bagi


Steven, kalau sampai bisa membobol web-nya, hacker itu perlu untuk


diperhitungkan.


**


Di mansion Endy, Ken, Alan, Ginara, dan Melisa


sedang menikmati makan siang mereka. Alan menyikut Ginara untuk menanyakan

__ADS_1


sesuatu pada Ken.


“Ken, kamu suka sama Kaori ya?” tanya Ginara dengan


polosnya.


Uhuk! Uhuk! Ken tersedak daging steak yang salah


masuk ketika mendengar kata-kata Ginara. Wanita itu sibuk menyodorkan gelas air


putih pada Ken untuk meredakan batuknya.


“Kak Gina ngomong apa sich? Suka sama siapa? Nggak


ada,” kata Ken berkilah. Bisa gawat kalau Ken ketahuan menyukai seorang gadis.


Papanya bisa marah-marah lagi dan mungkin akan mengirimnya ke negara yang lebih


terpencil lagi.


“Pembicaraan kita out of the record kok. Aman, tuan muda. Ngaku saja,” kata Melisa


yang selalu kepo. Mereka baru saja kenal, tapi Melisa langsung berbaur dengan


yang lainnya.


“Melisa, jangan ikut campur. Atau aku bilang sama


papaku,” ancam Ken.


“Bilang saja, tuan muda. Tuan muda harus ingat,


ujian terakhir nanti, tuan muda harus berhadapan dengan tuan besar dan nyonya


besar.” Melisa balik mengancam Ken.


“Apa maksudmu?” tanya Ken bingung.


“Tuan muda harus menyamar dihadapan tuan besar dan


nyonya besar tanpa ketahuan,” kata Melisa dengan senyum liciknya.


“Kak Alan, ini nggak ada yang lain ya? Harus dia?”


tanya Ken sensi.


“Melisa yang terbaik di bidangnya, Ken. Kau harus


bersabar agar lulus pelatihan ini. Ngerti?” kata Alan yang diangguki Ken dengan


kesal.


Ginara yang melihat Melisa dan Ken sedikit memanas,


menawarkan dessert dingin. Ken sangat mudah teralihkan pada dessert, ia sangat


suka makan manis kalau sedang stress. Ginara memotong-motong cake es krim yang


dibuatnya tadi pagi. Selama tinggal di mansion Endy, Ginara yang mempersiapkan makanan


untuk mereka semua. Ginara juga yang membangunkan dan mengingatkan Alan dan Ken


tentang jadwal latihan mereka.


Terkadang kalau kedua pria itu terlalu asyik


berlatih di dalam ruang kerja, Ginara sampai harus menyuapi keduanya makan. Ia


benar-benar bersikap seperti kakak dan istri yang sangat perhatian pada Ken dan


Alan.


“Jadi gimana dengan Kaori? Kamu suka sama dia, Ken?”


kejar Ginara yang masih mengemban misi dari Alan.


Alan dan Melisa saling pandang sejenak lalu


beranjak dari meja makan. Melisa masuk ke kamarnya, sedangkan Alan masuk ke


ruang kerja. Ken celingukan mencari orang lain yang mungkin menguping


pembicaraan mereka. Ginara masih menunggu jawaban Ken dengan sabar.


“Kak, jangan bilang siapa-siapa ya. Aku sebenarnya


suka sama Renata. Dia itu aunty-nya Kaori tapi seumuran.” Ken menceritakan awal


mula ia bertemu Renata saat Rio melihat mobil Ken mogok. Ia mengatakan dengan


malu-malu kalau Ken sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Renata.


Ginara jadi bingung, kalau memang suka dengan


Renata, kenapa jadinya Ken juga suka sama Kaori. Melihat wajah Ginara yang


penuh tanda tanya, Ken tersenyum simpul. Ia sedikit mengenal kalau Ginara sangat


baik tapi juga sangat polos, cenderung bodoh sich.


“Kak, mungkin nggak kalau aku cuma nyaman sama


Kaori. Dia buta, kak. Tapi kalau diajak ngobrol, nyambung banget,” kata Ken


malah curhat.


“Oh, dia buta? Kasihan banget. Jadi kamu suka sama


Kaori karena dia bikin kamu nyaman?” tanya Ginara sambil menopangkan dagunya


dengan kedua tangan.


“Dia cantik juga, kak. Sama cantiknya sama Renata.


Cuma akhir-akhir ini aku lebih sering ngobrol sama Kaori. Renata selalu sibuk sama


kegiatannya dan sepertinya Renata lebih suka ngobrol dengan pria lain,” kata

__ADS_1


Ken lagi.


“Renata sudah punya pacar?” tanya Ginara lagi.


__ADS_2