
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 1
Pelajaran tentang hacker mulai dijalani Ken secara
langsung setelah Alan dan Ginara sampai di negara A. Mereka tinggal bersama Ken
di mansion mewah milik Endy. Kebetulan lokasi mansion itu dekat dengan mansion
Steven. Mereka tidak menyadari kalau memiliki mansion yang lokasinya
berdekatan.
Ken merasa senang karena ada yang menemani dia
tinggal di mansion yang cukup sunyi itu. Selama tinggal disana, Ken hanya
ditemani beberapa pelayan dan body guard. Tidak ada remaja seusianya disana.
Belum lagi di sekolah, Ken tidak boleh bergaul dengan sembarangan orang. Ingin
sekali rasanya Ken melarikan diri dari mansion, tapi ia tidak punya keberanian
sebesar itu.
Pagi itu ketika Ginara sedang membuat sarapan di
dapur bersama pelayan di mansion, Ken baru turun dari kamarnya di lantai atas. Ia
duduk di meja makan sambil menonton sesuatu di ponselnya.
“Kak Gina, dimana kak Alan?” tanya Ken yang melihat
Ginara membawakan sarapan ke meja makan.
“Kak Alan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya
mau ke tempat latihan duluan. Kalian ada latihan di puncak bukit kan?” tanya
Ginara dengan senyuman khasnya.
“Oh, kenapa nggak nunggu aku ya?” tanya Ken mulai
memakan sarapannya.
Ginara mengangkat kedua bahunya, Alan mengatakan
akan ada kejutan untuk Ken dan tidak ingin Ken mengetahuinya dulu. Dengan penuh
tanda tanya, Ken menyusul Alan menuju puncak bukit dengan mobil mewah dan
sopirnya. Sampai di puncak bukit, Ken melihat seseorang terikat di kursi yang
sudah tersedia disana.
“Kaori?!” panggil Ken mulai panik.
Ia cepat-cepat turun dari mobil dan hampir berlari
menghampiri gadis yang ia kira Kaori itu.
“Kaori!” teriak Ken memanggil Kaori.
“Ken! Jangan mendekat! Disini ada bom!” teriak
Kaori yang memakai kaca mata hitam menutupi matanya.
“Bom?!” Ken segera waspada melihat sekeliling.
Alan berjalan keluar dari balik pohon besar di
samping Kaori. Ia tampak memegang sesuatu sebesar Ipad. “Ken, kalau kau bisa,
selamatkan dia,” kata Alan sambil mulai mengaktifkan waktu di tubuh Kaori.
“Kak! Ini cuma latihan, kenapa harus ganggu
Kaori?!” jerit Ken kesal.
Ia mengambil Ipad di dalam tasnya lalu mulai
mengaktifkan Ipad itu. Alan mengatakan kalau waktu Ken akan segera habis. Ken
harus bisa mendahului Alan membobol web suatu perusahaan dan mereka
melakukannya live.
“Jangan banyak bicara, Ken. Kalau kau peduli pada
gadis itu, cepat selesaikan tugasmu!” kata Alan memanas-manasi Ken.
Pikiran Ken sempat blank sebentar, ia mengkuatirkan
keselamatan Kaori. Sampai tidak sempat berpikir bagaimana bisa Alan membawa
Kaori ke puncak bukit itu. Alan menghadang semua jalan Ken untuk menembus pertahanan
web perusahaan asing itu.
Ken hampir putus asa saat Kaori memanggil namanya
lagi. Ia menatap gadis malang itu yang masih terikat di kursi. Tinggal sepuluh
menit lagi dan bom itu akan meledak. Ken tidak mau menyerah, tidak untuk Kaori.
Ia sanggup melakukan apa saja untuk gadis itu.
Alan tersenyum saat Ken berhasil mendahuluinya
membobol web perusahaan asing. Simbol milik Ken untuk sesaat memenuhi halaman
web itu sampai tampilan di dalam web kembali seperti semula. Ken melempar
Ipad-nya ke atas tasnya. Ia segera berlari menghampiri Kaori yang tersenyum
padanya.
“Kaori! Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ken sambil
__ADS_1
melepas tali yang mengikat tubuh Kaori.
Bom di tubuhnya sudah dijinakkan ketika Ken
berhasil. Ken membawa bom itu menjauh dari Kaori lalu membantu gadis itu
berdiri. Saat Ken memperhatikan wajah Kaori, ia mendorong gadis itu.
“Siapa kau?! Kau bukan Kaori!” tanya Ken bingung.
Gadis itu membuka kacamatanya lalu melepas wig yang
menutupi rambut merahnya. Alan bertepuk tangan sejenak sebelum mengucapkan
selamat pada Ken. Tahap pertama latihannya sudah selesai. Mereka masih punya
sembilan belas tahap lagi sebelum Alan bisa kembali ke negaranya lagi.
“Kak, siapa dia?” tanya Ken sedikit kesal.
“Dia Melisa, kembarannya Kaori. Mirip kan?” tanya
Alan.
Ken melihat Melisa mengusap wajahnya, menghapus
riasannya dengan cepat, mengembalikan wajahnya kembali seperti semula. Jelas
sekali kalau Melisa sama sekali tidak mirip dengan Kaori, tapi ia bisa menyamar
menjadi orang lain dengan sangat mirip.
Alan mengatakan kalau Melisa ahli dalam penyamaran.
Dia akan jadi guru Ken juga untuk berlatih cara menyamar tanpa ketahuan.
“Tuan muda Ken. Aku Melisa, aku akan melatih tuan
muda dalam menyamar. Bagaimana dengan penyamaranku tadi, tuan muda?” tanya
Melisa.
“Darimana kau tahu tentang suara Kaori? Suaramu
sangat berbeda dari dia. Kak Alan, aku nggak suka kalau Kaori dibawa-bawa ya,”
kata Ken sedikit mengancam.
Alan dan Melisa saling pandang dan tersenyum. Alan
tidak menyangka kalau sosok Kaori bisa sangat berpengaruh pada Ken. Tadinya
Alan tidak terlalu menanggapi saat Ginara mengatakan padanya kalau Ken sedang
menyukai seorang gadis. Ginara tidak sengaja memergoki saat Ken sedang bicara
dengan gadis itu di telpon. Gadis yang sangat cantik seiring bertambahnya usia
mereka.
Alan tidak bermaksud memanfaatkan Kaori untuk
satu titik kelemahan Ken dan pelajarannya akan terganggu dengan adanya Kaori. Mereka
segera kembali ke mansion karena sudah hampir waktunya makan siang.
Saat mobil Ken menuruni bukit hampir mendekati
mansion Endy, mereka berpapasan dengan mobil Steven yang membawa Steven dan
Reynold di dalam sana. Mereka berdua sedang berdebat tentang hacker yang baru
saja membobol web perusahaan milik Steven.
Steven tidak bisa mencari tahu siapa hacker itu
karena Alan sudah menghapus jejak Ken setelah berhasil membobol web perusahaan
Steven. Mereka tidak boleh sampai ketahuan atau pelajaran Ken akan sia-sia
saja.
“Lo harus cari tahu siapa hacker itu. Web lo di
bobol di depan mata. Gue masih nunggu tuch hacker masuk ke web gue.” Reynold
menggosok kedua tangannya.
“Gue udah pasang jebakan di web perusahaan lo. Kita
liat aja apa tuch hacker bisa kabur apa nggak. Daripada lo mikirin itu, mending
lo konsen sama rencana lo buat Renata. Tinggal dua tahun lagi dan sampai
sekarang lo belum bisa ngeyakinin Renata buat kuliah disini.” Steven membuka
Ipad-nya.
“Dia udah setuju. Tapi gue harus bantu dia biar
bisa lulus ujian masuk. Lo bantu ya,” kata Reynold.
Steven tidak menjawab Reynold, ia menemukan sesuatu
tentang hacker bernama Alananara. Jejaknya samar terlihat di history
penjelajahan web perusahaannya. Meskipun tidak merusak tampilan web-nya, bagi
Steven, kalau sampai bisa membobol web-nya, hacker itu perlu untuk
diperhitungkan.
**
Di mansion Endy, Ken, Alan, Ginara, dan Melisa
sedang menikmati makan siang mereka. Alan menyikut Ginara untuk menanyakan
__ADS_1
sesuatu pada Ken.
“Ken, kamu suka sama Kaori ya?” tanya Ginara dengan
polosnya.
Uhuk! Uhuk! Ken tersedak daging steak yang salah
masuk ketika mendengar kata-kata Ginara. Wanita itu sibuk menyodorkan gelas air
putih pada Ken untuk meredakan batuknya.
“Kak Gina ngomong apa sich? Suka sama siapa? Nggak
ada,” kata Ken berkilah. Bisa gawat kalau Ken ketahuan menyukai seorang gadis.
Papanya bisa marah-marah lagi dan mungkin akan mengirimnya ke negara yang lebih
terpencil lagi.
“Pembicaraan kita out of the record kok. Aman, tuan muda. Ngaku saja,” kata Melisa
yang selalu kepo. Mereka baru saja kenal, tapi Melisa langsung berbaur dengan
yang lainnya.
“Melisa, jangan ikut campur. Atau aku bilang sama
papaku,” ancam Ken.
“Bilang saja, tuan muda. Tuan muda harus ingat,
ujian terakhir nanti, tuan muda harus berhadapan dengan tuan besar dan nyonya
besar.” Melisa balik mengancam Ken.
“Apa maksudmu?” tanya Ken bingung.
“Tuan muda harus menyamar dihadapan tuan besar dan
nyonya besar tanpa ketahuan,” kata Melisa dengan senyum liciknya.
“Kak Alan, ini nggak ada yang lain ya? Harus dia?”
tanya Ken sensi.
“Melisa yang terbaik di bidangnya, Ken. Kau harus
bersabar agar lulus pelatihan ini. Ngerti?” kata Alan yang diangguki Ken dengan
kesal.
Ginara yang melihat Melisa dan Ken sedikit memanas,
menawarkan dessert dingin. Ken sangat mudah teralihkan pada dessert, ia sangat
suka makan manis kalau sedang stress. Ginara memotong-motong cake es krim yang
dibuatnya tadi pagi. Selama tinggal di mansion Endy, Ginara yang mempersiapkan makanan
untuk mereka semua. Ginara juga yang membangunkan dan mengingatkan Alan dan Ken
tentang jadwal latihan mereka.
Terkadang kalau kedua pria itu terlalu asyik
berlatih di dalam ruang kerja, Ginara sampai harus menyuapi keduanya makan. Ia
benar-benar bersikap seperti kakak dan istri yang sangat perhatian pada Ken dan
Alan.
“Jadi gimana dengan Kaori? Kamu suka sama dia, Ken?”
kejar Ginara yang masih mengemban misi dari Alan.
Alan dan Melisa saling pandang sejenak lalu
beranjak dari meja makan. Melisa masuk ke kamarnya, sedangkan Alan masuk ke
ruang kerja. Ken celingukan mencari orang lain yang mungkin menguping
pembicaraan mereka. Ginara masih menunggu jawaban Ken dengan sabar.
“Kak, jangan bilang siapa-siapa ya. Aku sebenarnya
suka sama Renata. Dia itu aunty-nya Kaori tapi seumuran.” Ken menceritakan awal
mula ia bertemu Renata saat Rio melihat mobil Ken mogok. Ia mengatakan dengan
malu-malu kalau Ken sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Renata.
Ginara jadi bingung, kalau memang suka dengan
Renata, kenapa jadinya Ken juga suka sama Kaori. Melihat wajah Ginara yang
penuh tanda tanya, Ken tersenyum simpul. Ia sedikit mengenal kalau Ginara sangat
baik tapi juga sangat polos, cenderung bodoh sich.
“Kak, mungkin nggak kalau aku cuma nyaman sama
Kaori. Dia buta, kak. Tapi kalau diajak ngobrol, nyambung banget,” kata Ken
malah curhat.
“Oh, dia buta? Kasihan banget. Jadi kamu suka sama
Kaori karena dia bikin kamu nyaman?” tanya Ginara sambil menopangkan dagunya
dengan kedua tangan.
“Dia cantik juga, kak. Sama cantiknya sama Renata.
Cuma akhir-akhir ini aku lebih sering ngobrol sama Kaori. Renata selalu sibuk sama
kegiatannya dan sepertinya Renata lebih suka ngobrol dengan pria lain,” kata
__ADS_1
Ken lagi.
“Renata sudah punya pacar?” tanya Ginara lagi.