
Keesokan harinya,
Rio terbangun dari tidurnya. Ia mengambil ponselnya dan melihat sudah jam 7
pagi waktu setempat. Rio mengucek matanya, ia duduk di sofa dan melihat kearah
ranjangnya. Kaori tampak masih tidur disana, Rio berjalan mendekati Kaori dan
duduk di sampingnya.
Rio melihat Kaori
tidur sangat pulas dan ingin mengisenginya lagi. Ia berbaring di samping Kaori
setelah melepaskan kaosnya. Diarahkannya kamera selfie dan ia mengambil
foto-foto mereka yang tampak mesra dibawah selimut.
Rio : “Kaori...
bangun...” Rio menoel-noel pipi Kaori.
Kaori : “Mmmhh...”
Kaori menggeliat sebentar dan berbalik tidur lagi.
Rio yang gemas
melihat Kaori susah dibangunkan, mencium gadis itu sambil memencet hidungnya.
Kaori langsung terbangun karena kesulitan bernafas.
Kaori : “Siapa
sich??!! Ganggu orang lagi tidur...!”
Kaori melihat
sekeliling kamar, ia kebingungan melihat kamarnya berbeda. Ia menepuk
keningnya,
Kaori : “Oh, iya.
Aku kan lagi liburan. Kamu ngapain disini??!!”
Kaori baru sadar
kalau dia sedang berlibur dan lupa dengan kejadian semalam tentang dirinya yang
pura-pura mabuk. Ia juga lupa kalau semalam Rio membawanya ke kamarnya.
Kaori : “Bajuku
mana?? Kamu... kita...!!”
Kaori sudah hampir
menangis mengira sesuatu sudah terjadi diantara mereka semalam. Rio menahan
senyumnya melihat reaksi Kaori yang sedikit berlebihan.
Rio : “Kamu yang
maksa aku, akukan cuma pasrah aja.”
Kaori : “Harusnya
kamu...”
Kaori tidak
melanjutkan ucapannya, ia ingat kalau semalam tidak terjadi apa-apa. Tubuhnya
juga baik-baik saja, ia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.
Rio : “Kenapa
diam?”
Kaori menatap Rio, ia
langsung menoleh menatap sofa yang masih berantakan dengan bantal dan selimut
menumpuk di sudutnya. Kaori menekan dadanya yang berdegup kencang, ia
meyakinkan dirinya kalau Rio tidak akan mengambil mahkotanya tanpa ia sadari.
Kaori : “Kamu gak
berbuat itu, kan?”
Rio : “Berbuat apa
maksudmu?”
Kaori : “Itu...”
Kaori menunduk
malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut, tapi Rio dengan cepat
menarik selimutnya.
Rio : “Aku memang
tidak bisa menahannya setiap berdekatan denganmu, tapi aku tidak akan
melakukannya saat kau tidak sadar. Apalagi mengambil kesempatan saat kau mabuk.
Cepat bilang, minum apa kamu semalam?”
Kaori : “Aku gak
tau, aku cuma mau minum air putih waktu kamu pergi. Gak taunya jadi mabuk.”
Kaori menatap Rio
dengan mata cantiknya yang bersinar cemerlang, ia meminta maaf pada Rio dalam
hati karena sudah membohonginya.
Rio : “Lain kali
kau harus waspada. Untung kau mengikutiku, kalau kau ditemukan laki-laki lain
gimana?”
Kaori : “Maaf. Aku
salah.”
Rio : “Udah tau
salah, cepat cium aku.”
Kaori : “Apa?
Nggak!!”
Rio : “Kalau gitu
kembalikan kaosku.”
Kaori : “Rio!!”
Kaori berteriak dengan putus asa. Ternyata sifat mesum Rio masih ada saat Kaori
sadar.
Rio : “Sampai kapan
kamu mau disini? Balik ke kamarmu sana.”
Kaori : “Kamu
keluar dulu sana. Aku mau pakai gaunku lagi. Semalam kamu ngapain sich nglepas
gaunku?”
Rio : “Dari mana
kamu tahu aku yang lepas gaunmu?”
Kaori : “Yaa... kan
cuma kamu yang ada disini?”
Rio : “Kalau gitu
harusnya kamu tanya siapa yang lepas gaunmu. Kamu pura-pura mabuk ya?”
Kaori : “Apa?
Nggak, aku beneran mabuk.”
Rio : “Yakin?
__ADS_1
Kepalamu sakit gak?”
Kaori : “Nggak,
biasa aja. Kenapa?”
Rio : “Harusnya
kepalamu sakit kalau beneran mabuk semalam.”
Kaori : “Aku...”
Rio : “Masih ngelak
apalagi?”
Kaori : “Aku mau
balik ke kamar.”
Rio : “Cium dulu.”
Kaori terjatuh lagi
ke atas ranjang ketika Rio menarik tangannya. Rio menahan tubuh Kaori agar
tetap diatasnya. Ia mengamati wajah Kaori yang merona. Saat mereka sedang dalam
posisi yang intim dan bisa membuat salah paham orang yang melihatnya, seseorang
membuka pintu kamar Rio.
Riri : “Rio!”
Kaori cepat-cepat
bangun dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia melihat Riri berjalan
mendekatinya.
Riri : “Kamu gak
pa-pa, kan?”
Kaori : “Aku
baik-baik aja.”
Riri : “Tadi aku ke
kamarmu dan kamu gak ada. Aku pikir kamu uda turun sarapan. Tapi Rebecca bilang
semalam kamu tidur disini.”
Rio : “Dia mabuk
semalam. Aku kan gak tau dimana kamarnya, jadinya aku bawa kesini. Kaori masih
utuh, kok. Aku tidur di sofa semalam.”
Riri : “Ayo, balik
ke kamar. Elo bilang kita sudah ditunggu untuk sarapan. Rio, kamu juga
siap-siap.”
Rio : “Iya.”
Kaori turun dari
ranjang, ia sempat melirik Rio yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Kaori
dan Riri segera kembali ke kamar Kaori untuk bersiap-siap.
*****
Di dalam kamar
Kaori, ia mandi dengan cepat dan segera keluar lagi. Riri menunggunya sambil
menyisir rambut.
Riri : “Kaori,
boleh tanya?”
Kaori : “Tanya apa,
Ri?’
suka tuch pegang-pegang badan, kamu gak risih?”
Kaori : “Ya risih,
Ri.”
Riri : “Trus,
kenapa masih lanjut pacaran?”
Kaori : “Aku udah
terlanjur cinta sich. Tapi untungnya dia sangat bertanggung jawab.”
Riri : “Maksudmu?”
Kaori : “Semalam
aku pura-pura mabuk, waktu kamu dansa sama Pak Elo, aku kan curhat bentar sama
Rebecca. Trus dia bilang uji aja dengan cara pura-pura mabuk. Kita bisa tahu
laki-laki yang sebenarnya saat kita gak sadarkan diri.”
Riri : “Trus
semalam...”
Kaori : “Ya, gak
terjadi apa-apa. Memang Rio yang ganti bajuku sama kaosnya. Tapi gak terjadi
apa-apa, Rio juga tidurnya di sofa.”
Riri : “Yang
kulihat tadi pagi gak gitu tuh.”
Kaori : “Mungkin
paginya dia pindah ke sampingku. Kamu tahu kan Rio suka iseng.”
Riri : “Iya juga
sich.”
Kaori : “Kamu
sendiri, pak Elo gimana? Suka pegang-pegang juga?”
Riri : “Gak sich.
Meskipun berdua aja dalam kamar, dia gak pernah ngambil kesempatan.”
Kaori : “Kamu
beruntung dapetin Pak Elo. Bentar lagi kamu mau nikah dong?”
Riri : “Belum tentu
juga, Ri. Papaku kan belum setuju aku menikah secepat ini.”
Kaori : “Tapi ini
kesempatan bagus jadi menantu orang kaya.”
Riri : “Berat tahu.
Harus bisa semuanya, harus sempurna.”
Kaori : “Tapi kan
ada fasilitas yang menunjang kalau kamu mau belajar. Pak Elo juga kelihatannya
cinta mati sama kamu.”
Riri : “Kamu lupa
kalau masih ada Elena?”
Kaori : “Elena?
Bukannya dia sepupunya pak Elo? Memangnya ada hubungan lain?”
Riri : “Kak Elo
pernah mencintai Elena dulu.”
__ADS_1
Kaori : “Oh, itukan
cuma masa lalu. Kamu harus percaya sama Pak Elo. Ayo, kita sarapan.”
Riri melihat Kaori
sudah selesai bersiap-siap. Mereka keluar dari kamar Kaori dan berjalan
menuruni tangga menuju ruang makan.
*****
Sampai di meja
makan, Riri melihat Elo sudah duduk di samping Elena. Ia mencoba tersenyum
meskipun hatinya terasa sakit melihat Elena melayani Elo dengan sarapannya.
Riri : “Selamat
pagi kakek, mama Ratna, semuanya.”
Kakek : “Selamat
pagi, Riri, Kaori. Silakan duduk.”
Riri duduk di
samping mama Ratna yang mengecup keningnya dengan lembut. Sementara Kaori duduk
di sebelah Riri. Rio muncul dengan tergesa dan duduk di samping Kaori.
Mama Ratna : “Riri,
sayang. Kamu mau sarapan apa?”
Riri : “Sosis dan
telur aja, ma. Kaori mau juga?”
Kaori : “Iya, itu
aja. Rio, kamu mau nasi goreng?”
Rio : “Nasi sama
sosis ya.”
Riri tersenyum
manis pada kakek dan mama Ratna. Ia juga tersenyum pada Elo, tapi segera fokus
pada piring yang diberikan mama Ratna.
Mama Ratna : “Kalian
hari ini ada rencana kemana?”
Riri : “Belum tahu,
ma. Biasanya Rebecca yang ngasih tahu mau kemana.”
Kakek : “Rebecca
masih sibuk di belakang. Sepertinya dia sedang menyiapkan bekal. Apa mungkin
kalian mau piknik?”
Riri : “Piknik?
Wah, pasti menyenangkan sekali.”
Riri mengangguk
bersama Kaori dan Rio yang mulai memakan sarapannya. Sesekali mereka ngobrol,
tidak mempedulikan Elena yang terus saja mencoba menarik perhatian Elo. Elo
yang mulai kesal karena Elena terus mengganggunya, meletakkan garpu dan
pisaunya. Ia bangkit berdiri dan meletakkan serbetnya di atas kursi.
Elo : “Kakek,
Angelo sudah selesai sarapan. Riri, bisa ikut aku sebentar?”
Riri : “Ach, iya
kak. Kakek, mama Ratna, saya ikut kak Elo sebentar ya.”
Elo menarik tangan
Riri berjalan entah menuju kemana. Riri tidak begitu hafal jalan selain ke kamarnya,
kolam renang dan keluar mansion. Mereka sampai di taman samping yang penuh
dengan tanaman bunga.
Riri : “Wow!”
Riri terpukau
melihat banyak bunga yang mekar di taman itu. Elo menarik Riri ke bangunan di
tengah taman yang memiliki pilar tinggi. Ia menyudutkan Riri di salah satu
pilar itu. Saat Elo menatap Riri, ia melihat air mata sudah menetes membasahi
pipi Riri.
Elo : “Kenapa kamu
nangis?”
Riri : “...Aku gak
tahu, mas. Mas kenapa narik aku kesini?”
Elo : “Kamu gak
marah? Tadi dia yang maksa duduk disana. Padahal aku udah bilang berkali-kali
kalau kamu yang akan duduk disamping aku.”
Riri : “Uda
kejadian juga, kan kak. Mereka memang mau kita pisah.”
Elo : “Aku gak mau
pisah sama kamu, Ri. Aku cinta sama kamu.”
Riri : “Aku juga,
mas.”
Elo menunduk
mencium Riri yang sudah berhenti menangis dan tersenyum bahagia. Elena
menghentakkan kakinya dengan kesal, ia sengaja menempel pada Elo pagi itu untuk
mengesalkan Riri dan berharap mereka akan bertengkar.
Tante Dewi : “Strategimu
kurang bagus, Elena sayang. Kita harus pikirkan cara lain yang lebih bagus
untuk memisahkan mereka.”
Elena : “Tenang
aja, mah. Ini baru permulaan. Kita lihat aja nanti malam.”
Elena tersenyum
licik bersama tante Dewi.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1