Duren Manis

Duren Manis
Ulah Elena


__ADS_3

Keesokan harinya,


Rio terbangun dari tidurnya. Ia mengambil ponselnya dan melihat sudah jam 7


pagi waktu setempat. Rio mengucek matanya, ia duduk di sofa dan melihat kearah


ranjangnya. Kaori tampak masih tidur disana, Rio berjalan mendekati Kaori dan


duduk di sampingnya.


Rio melihat Kaori


tidur sangat pulas dan ingin mengisenginya lagi. Ia berbaring di samping Kaori


setelah melepaskan kaosnya. Diarahkannya kamera selfie dan ia mengambil


foto-foto mereka yang tampak mesra dibawah selimut.


Rio : “Kaori...


bangun...” Rio menoel-noel pipi Kaori.


Kaori : “Mmmhh...”


Kaori menggeliat sebentar dan berbalik tidur lagi.


Rio yang gemas


melihat Kaori susah dibangunkan, mencium gadis itu sambil memencet hidungnya.


Kaori langsung terbangun karena kesulitan bernafas.


Kaori : “Siapa


sich??!! Ganggu orang lagi tidur...!”


Kaori melihat


sekeliling kamar, ia kebingungan melihat kamarnya berbeda. Ia menepuk


keningnya,


Kaori : “Oh, iya.


Aku kan lagi liburan. Kamu ngapain disini??!!”


Kaori baru sadar


kalau dia sedang berlibur dan lupa dengan kejadian semalam tentang dirinya yang


pura-pura mabuk. Ia juga lupa kalau semalam Rio membawanya ke kamarnya.


Kaori : “Bajuku


mana?? Kamu... kita...!!”


Kaori sudah hampir


menangis mengira sesuatu sudah terjadi diantara mereka semalam. Rio menahan


senyumnya melihat reaksi Kaori yang sedikit berlebihan.


Rio : “Kamu yang


maksa aku, akukan cuma pasrah aja.”


Kaori : “Harusnya


kamu...”


Kaori tidak


melanjutkan ucapannya, ia ingat kalau semalam tidak terjadi apa-apa. Tubuhnya


juga baik-baik saja, ia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.


Rio : “Kenapa


diam?”


Kaori menatap Rio, ia


langsung menoleh menatap sofa yang masih berantakan dengan bantal dan selimut


menumpuk di sudutnya. Kaori menekan dadanya yang berdegup kencang, ia


meyakinkan dirinya kalau Rio tidak akan mengambil mahkotanya tanpa ia sadari.


Kaori : “Kamu gak


berbuat itu, kan?”


Rio : “Berbuat apa


maksudmu?”


Kaori : “Itu...”


Kaori menunduk


malu, ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut, tapi Rio dengan cepat


menarik selimutnya.


Rio : “Aku memang


tidak bisa menahannya setiap berdekatan denganmu, tapi aku tidak akan


melakukannya saat kau tidak sadar. Apalagi mengambil kesempatan saat kau mabuk.


Cepat bilang, minum apa kamu semalam?”


Kaori : “Aku gak


tau, aku cuma mau minum air putih waktu kamu pergi. Gak taunya jadi mabuk.”


Kaori menatap Rio


dengan mata cantiknya yang bersinar cemerlang, ia meminta maaf pada Rio dalam


hati karena sudah membohonginya.


Rio : “Lain kali


kau harus waspada. Untung kau mengikutiku, kalau kau ditemukan laki-laki lain


gimana?”


Kaori : “Maaf. Aku


salah.”


Rio : “Udah tau


salah, cepat cium aku.”


Kaori : “Apa?


Nggak!!”


Rio : “Kalau gitu


kembalikan kaosku.”


Kaori : “Rio!!”


Kaori berteriak dengan putus asa. Ternyata sifat mesum Rio masih ada saat Kaori


sadar.


Rio : “Sampai kapan


kamu mau disini? Balik ke kamarmu sana.”


Kaori : “Kamu


keluar dulu sana. Aku mau pakai gaunku lagi. Semalam kamu ngapain sich nglepas


gaunku?”


Rio : “Dari mana


kamu tahu aku yang lepas gaunmu?”


Kaori : “Yaa... kan


cuma kamu yang ada disini?”


Rio : “Kalau gitu


harusnya kamu tanya siapa yang lepas gaunmu. Kamu pura-pura mabuk ya?”


Kaori : “Apa?


Nggak, aku beneran mabuk.”


Rio : “Yakin?

__ADS_1


Kepalamu sakit gak?”


Kaori : “Nggak,


biasa aja. Kenapa?”


Rio : “Harusnya


kepalamu sakit kalau beneran mabuk semalam.”


Kaori : “Aku...”


Rio : “Masih ngelak


apalagi?”


Kaori : “Aku mau


balik ke kamar.”


Rio : “Cium dulu.”


Kaori terjatuh lagi


ke atas ranjang ketika Rio menarik tangannya. Rio menahan tubuh Kaori agar


tetap diatasnya. Ia mengamati wajah Kaori yang merona. Saat mereka sedang dalam


posisi yang intim dan bisa membuat salah paham orang yang melihatnya, seseorang


membuka pintu kamar Rio.


Riri : “Rio!”


Kaori cepat-cepat


bangun dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia melihat Riri berjalan


mendekatinya.


Riri : “Kamu gak


pa-pa, kan?”


Kaori : “Aku


baik-baik aja.”


Riri : “Tadi aku ke


kamarmu dan kamu gak ada. Aku pikir kamu uda turun sarapan. Tapi Rebecca bilang


semalam kamu tidur disini.”


Rio : “Dia mabuk


semalam. Aku kan gak tau dimana kamarnya, jadinya aku bawa kesini. Kaori masih


utuh, kok. Aku tidur di sofa semalam.”


Riri : “Ayo, balik


ke kamar. Elo bilang kita sudah ditunggu untuk sarapan. Rio, kamu juga


siap-siap.”


Rio : “Iya.”


Kaori turun dari


ranjang, ia sempat melirik Rio yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Kaori


dan Riri segera kembali ke kamar Kaori untuk bersiap-siap.


*****


Di dalam kamar


Kaori, ia mandi dengan cepat dan segera keluar lagi. Riri menunggunya sambil


menyisir rambut.


Riri : “Kaori,


boleh tanya?”


Kaori : “Tanya apa,


Ri?’


suka tuch pegang-pegang badan, kamu gak risih?”


Kaori : “Ya risih,


Ri.”


Riri : “Trus,


kenapa masih lanjut pacaran?”


Kaori : “Aku udah


terlanjur cinta sich. Tapi untungnya dia sangat bertanggung jawab.”


Riri : “Maksudmu?”


Kaori : “Semalam


aku pura-pura mabuk, waktu kamu dansa sama Pak Elo, aku kan curhat bentar sama


Rebecca. Trus dia bilang uji aja dengan cara pura-pura mabuk. Kita bisa tahu


laki-laki yang sebenarnya saat kita gak sadarkan diri.”


Riri : “Trus


semalam...”


Kaori : “Ya, gak


terjadi apa-apa. Memang Rio yang ganti bajuku sama kaosnya. Tapi gak terjadi


apa-apa, Rio juga tidurnya di sofa.”


Riri : “Yang


kulihat tadi pagi gak gitu tuh.”


Kaori : “Mungkin


paginya dia pindah ke sampingku. Kamu tahu kan Rio suka iseng.”


Riri : “Iya juga


sich.”


Kaori : “Kamu


sendiri, pak Elo gimana? Suka pegang-pegang juga?”


Riri : “Gak sich.


Meskipun berdua aja dalam kamar, dia gak pernah ngambil kesempatan.”


Kaori : “Kamu


beruntung dapetin Pak Elo. Bentar lagi kamu mau nikah dong?”


Riri : “Belum tentu


juga, Ri. Papaku kan belum setuju aku menikah secepat ini.”


Kaori : “Tapi ini


kesempatan bagus jadi menantu orang kaya.”


Riri : “Berat tahu.


Harus bisa semuanya, harus sempurna.”


Kaori : “Tapi kan


ada fasilitas yang menunjang kalau kamu mau belajar. Pak Elo juga kelihatannya


cinta mati sama kamu.”


Riri : “Kamu lupa


kalau masih ada Elena?”


Kaori : “Elena?


Bukannya dia sepupunya pak Elo? Memangnya ada hubungan lain?”


Riri : “Kak Elo


pernah mencintai Elena dulu.”

__ADS_1


Kaori : “Oh, itukan


cuma masa lalu. Kamu harus percaya sama Pak Elo. Ayo, kita sarapan.”


Riri melihat Kaori


sudah selesai bersiap-siap. Mereka keluar dari kamar Kaori dan berjalan


menuruni tangga menuju ruang makan.


*****


Sampai di meja


makan, Riri melihat Elo sudah duduk di samping Elena. Ia mencoba tersenyum


meskipun hatinya terasa sakit melihat Elena melayani Elo dengan sarapannya.


Riri : “Selamat


pagi kakek, mama Ratna, semuanya.”


Kakek : “Selamat


pagi, Riri, Kaori. Silakan duduk.”


Riri duduk di


samping mama Ratna yang mengecup keningnya dengan lembut. Sementara Kaori duduk


di sebelah Riri. Rio muncul dengan tergesa dan duduk di samping Kaori.


Mama Ratna : “Riri,


sayang. Kamu mau sarapan apa?”


Riri : “Sosis dan


telur aja, ma. Kaori mau juga?”


Kaori : “Iya, itu


aja. Rio, kamu mau nasi goreng?”


Rio : “Nasi sama


sosis ya.”


Riri tersenyum


manis pada kakek dan mama Ratna. Ia juga tersenyum pada Elo, tapi segera fokus


pada piring yang diberikan mama Ratna.


Mama Ratna : “Kalian


hari ini ada rencana kemana?”


Riri : “Belum tahu,


ma. Biasanya Rebecca yang ngasih tahu mau kemana.”


Kakek : “Rebecca


masih sibuk di belakang. Sepertinya dia sedang menyiapkan bekal. Apa mungkin


kalian mau piknik?”


Riri : “Piknik?


Wah, pasti menyenangkan sekali.”


Riri mengangguk


bersama Kaori dan Rio yang mulai memakan sarapannya. Sesekali mereka ngobrol,


tidak mempedulikan Elena yang terus saja mencoba menarik perhatian Elo. Elo


yang mulai kesal karena Elena terus mengganggunya, meletakkan garpu dan


pisaunya. Ia bangkit berdiri dan meletakkan serbetnya di atas kursi.


Elo : “Kakek,


Angelo sudah selesai sarapan. Riri, bisa ikut aku sebentar?”


Riri : “Ach, iya


kak. Kakek, mama Ratna, saya ikut kak Elo sebentar ya.”


Elo menarik tangan


Riri berjalan entah menuju kemana. Riri tidak begitu hafal jalan selain ke kamarnya,


kolam renang dan keluar mansion. Mereka sampai di taman samping yang penuh


dengan tanaman bunga.


Riri : “Wow!”


Riri terpukau


melihat banyak bunga yang mekar di taman itu. Elo menarik Riri ke bangunan di


tengah taman yang memiliki pilar tinggi. Ia menyudutkan Riri di salah satu


pilar itu. Saat Elo menatap Riri, ia melihat air mata sudah menetes membasahi


pipi Riri.


Elo : “Kenapa kamu


nangis?”


Riri : “...Aku gak


tahu, mas. Mas kenapa narik aku kesini?”


Elo : “Kamu gak


marah? Tadi dia yang maksa duduk disana. Padahal aku udah bilang berkali-kali


kalau kamu yang akan duduk disamping aku.”


Riri : “Uda


kejadian juga, kan kak. Mereka memang mau kita pisah.”


Elo : “Aku gak mau


pisah sama kamu, Ri. Aku cinta sama kamu.”


Riri : “Aku juga,


mas.”


Elo menunduk


mencium Riri yang sudah berhenti menangis dan tersenyum bahagia. Elena


menghentakkan kakinya dengan kesal, ia sengaja menempel pada Elo pagi itu untuk


mengesalkan Riri dan berharap mereka akan bertengkar.


Tante Dewi : “Strategimu


kurang bagus, Elena sayang. Kita harus pikirkan cara lain yang lebih bagus


untuk memisahkan mereka.”


Elena : “Tenang


aja, mah. Ini baru permulaan. Kita lihat aja nanti malam.”


Elena tersenyum


licik bersama tante Dewi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2