Duren Manis

Duren Manis
Masih trauma


__ADS_3

Masih trauma


Gadis : “Telur orak-arik. Tapi...”


Gadis melirik Rio, ia ingin makan masakan Rio tapi gak


mau mengatakannya pada Rio. Rio yang juga melirik Gadis, berdiri sambil melipat


bed cover.


Rio : “Ya, aku yang buat. Sana mandi! Jangan


lama-lama.”


Gadis berlalu ke lantai 2, ia tersenyum tipis


sambil mengelus perutnya.


”Untung aja papamu pengertian, kalau gak, udah mama


tinggal.”


Gadis segera mandi dan berganti pakaian di kamar


Riri. Ia pikir Rio masih ada di bawah dan tidak mengunci pintunya. Saat ia baru


selesai memakai pakaian dalam, Rio membuka pintu tanpa mengetuk.


Gadis : “Aarrgghh!! Rio!!”


Rio bukannya menutup pintu lagi, malahan melotot


melihat tubuh Gadis. Gadis melempar bantal yang mengenai wajah Rio.


Gadis : “Ngapain kamu kesini?!! Jangan lihat!!”


Gadis mengambil handuk menutupi tubuhnya. Gadis


melihat Rio berjalan mendekatinya,


Gadis : “Stop disitu!! Ngapain kamu kesini?!”


Rio : “Diem!! Pagi-pagi teriak-teriak.”


Gadis tercekat saat Rio merangsek mendekat memegang


kedua lengannya. Jantungnya berdebar sangat kencang, kilasan kejadian saat Rio


memaksa dirinya, kembali berputar dalam ingatan Gadis. Ia mendorong-dorong


wajah dan tubuh Rio sambil meracau seperti malam itu.


Ia menjerit setiap Rio memegang lengannya karena


khawatir Gadis akan menyakiti dirinya dan bayi yang dikandungnya. Rio tidak


sadar kalau tindakan yang membuat Gadis histeris.


Keributan di lantai 2 membuat Rara dan Mia berlari


ke atas. Mereka melihat Gadis menangis di pojokan kamar dengan Rio berlutut di


depannya.


Mia : “Apa yang terjadi?”


Mia masuk ke kamar dan langsung memeluk Gadis yang


gemetaran. Gadis masih meronta dan berteriak ‘lepaskan’, ‘sakit’. Tapi Mia


berhasil menenangkannya. Rara juga masuk ke kamar Riri dan langsung menjewer


telinga Rio.


Rio : “Adaaooww!! Kak, sakit!”


Rara : “Keluar kamu! Ngapain kamu masuk kesini?


Kamu mau ngapain Gadis lagi?!”


Rara melayangkan pukulan ke pipi Rio dan memintanya


melihat keadaan Gadis yang masih trauma.


Rara : “Kamu liat akibat perbuatanmu!! Lihat


baik-baik wanita itu!”


Rio menatap Gadis yang terus sesenggukan dalam


pelukan Mia. Ia masih menangis sambil memeluk lengan Mia. Kilasan rekaman CCTV


pada malam itu berkelebat lagi dalam ingatannya. Rio terduduk di dekat pintu

__ADS_1


kamar Riri, ia mulai menangis sambil memeluk lututnya.


Rara melepaskan tangannya dari telinga Rio dan


memeluk adiknya itu. Ia menatap Mia dan menggeleng. Keduanya belum bisa


melupakan kejadian malam itu. Trauma masih membekas pada Gadis, sementara Rio


shock melihat yang tersisa dari perbuatannya dulu pada Gadis.


*****


Rio masih berbaring di tempat tidurnya. Mia sudah


membujuknya untuk makan dan minum, tapi Rio tetap diam tak bergeming.


Kondisinya lebih parah dari saat kehilangan Kaori dulu. Rara masuk ke kamar


Rio, ia melihat makanan Rio masih utuh.


Rara : “Rio, kamu gak makan?”


Rio tetap diam tak menjawabnya.


Rara : “Rio, kenapa kamu jadi begini? Kamu lebih


hancur dari saat kehilangan Kaori.”


Rio tetap diam tidak mengatakan apa-apa.


Rara : “Rio, lihat kakak dong.”


Rio masih tetap menatap langit-langit kamarnya.


Rara menghapus air mata yang menetes dari sudut


mata Rio. Rara meninggalkan Rio sendirian lagi. Ia membawa makanan yang sudah


dingin itu kembali ke bawah.              Mia


yang melihat Rara turun, berharap melihat piring kosong di dalam nampan yang Rara


bawa. Tapi makanan itu masih utuh.


Gadis bahkan sudah makan dua kali sejak tadi pagi. Itupun


Mia membujuknya dengan sangat intens. Gadis sedang melamun di ruang keluarga


Mia : “Kalau terus begini, Rio bisa sakit.”


Rara : “Mah, coba telpon papa. Minta papa bujuk


Rio.”


Baru saja Mia mau mengambil ponselnya, Rio turun


dari lantai 2. Ia menatap Gadis yang masih melamun. Saat Gadis tersadar dan


menatap Rio, Rio melihat Gadis ketakutan melihatnya. Rio mengambil kunci


mobilnya, ia berjalan cepat melewati Gadis tanpa bicara apa-apa.


Mia : “Rio, kamu mau kemana?!”


Rio tidak menjawab pertanyaan Mia, ia ingin


menjawabnya tapi Rio tidak bisa bicara saat ini. Ia menghidupkan mobilnya dan


Mia menghadang jalan mobil Rio.


Rio : “Mah, minggir.”


Mia : “Kamu gak boleh pergi kalau gak bilang mau


kemana.”


Rio : “Rio mau ke apartment. Lebih baik Rio tinggal


disana daripada nyakitin Gadis lagi.”


Mia : “Kamu gak bohongin mama, kan?”


Rio : “Rio gak pernah bohong sama mama. Mama tau


itu.”


Mia : “Janji sama mama kamu bakalan jaga kesehatan


kamu. Makan tepat waktu.”


Rio : “Iya, Rio janji. Titip Gadis ya, mah. Kalau


dia mau ke dokter kandungan, nanti Rio yang nganter. Tapi kalau gak mau sama Rio...”

__ADS_1


Mia : “Nanti mama coba bicara sama Gadis ya.”


Rio mengangguk, ia melajukan mobilnya menuju


apartment Alex. Sampai di apartment, Rio langsung mengganti pakaiannya dengan


pakaian kerja dan pergi ke kantor Alex. Ia harus menyibukkan dirinya atau ia


akan teringat dengan wajah takut Gadis.


Romi sempat bingung melihat Rio masuk hari itu. Ia


duduk di meja Gadis dan mulai bekerja menjawab e-mail dan juga telpon. Alex


yang baru selesai meeting, berhenti di depan meja Gadis dan menatap Rio yang


fokus pada laptop di depannya. Alex ingin bicara tapi Rio sudah mengangkat


telpon dari luar.


Sampai jam pulang kantor, Rio hanya melambaikan


tangan pada Alex dan Romi yang akan pulang. Ia masih terlihat sibuk


menyelesaikan semua pekerjaan Gadis hari itu. Sampai jam 8 malam, Rio belum


menunjukkan tanda-tanda selesai dengan pekerjaannya.


Ia bahkan menyiapkan bahan meeting untuk meeting


sampai minggu depan dan menumpuk semua dokumen itu di meja Romi. Sesekali Rio


memegang keningnya yang masih di perban. Jam 10 malam, Rio baru mematikan


laptopnya. Ia mengunci ruangan Alex dan Romi dan mematikan lampu.


Diluar kantor sedang hujan deras saat Rio sampai di


lobby. Tapi ia memarkir mobilnya di parkiran depan. Security menawari memayungi


dirinya, tapi Rio menggeleng. Ia berjalan menuju mobilnya, melewati hujan tanpa


peduli pakaiannya basah.


Rio mengemudikan mobilnya kembali ke apartment. Ia


memeriksa ponselnya yang lowbat saat ia menunggu lift. Ada chat dan panggilan


tak terjawab dari Alex, Mia, dan Rara. Rio membuka chat dari Mia yang menanyakan


‘dimana Rio’, ‘sudah makan?’,’Gadis harus bedrest di rumah sakit karena mengalami


flek dan kram perut’.


Wajah Rio pucat seketika, ia ingin menelpon Mia,


tapi peringatan dari ponselnya menunjukkan ponsel akan mati kalau Rio menelpon.


Rio melihat sekeliling, ada beberapa security di sudut tempat parkir. Ia


mengenali salah satunya dan bermaksud meminjam telpon. Security itu meminjamkan


ponselnya dan Rio memilih menelpon Alex.


Rio : “Halo, pah. Dimana Gadis dirawat?”


Alex : “Rio, di rumah sakit tempat mama melahirkan.


Di kamar yang sama.”


Rio langsung menutup telpon dan mengembalikannya


pada security itu disertai selembar uang 50ribuan. Ia kembali ke mobilnya dan


mengemudi menuju rumah sakit yang dimaksud Alex.


Suasana rumah sakit sangat sepi saat Rio tiba


disana. Ragu-ragu ia ingin mengetuk pintu kamar tempat mamanya dirawat waktu


melahirkan dulu. Bayangan wajah ketakutan Gadis, membuatnya mengurungkan


niatnya. Rio memilih duduk di lantai di depan kamar itu. Ia mengusap wajahnya


dengan kasar dan membenamkan kepalanya diantara lututnya.


Mia : “Rio?”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2