
Masih trauma
Gadis : “Telur orak-arik. Tapi...”
Gadis melirik Rio, ia ingin makan masakan Rio tapi gak
mau mengatakannya pada Rio. Rio yang juga melirik Gadis, berdiri sambil melipat
bed cover.
Rio : “Ya, aku yang buat. Sana mandi! Jangan
lama-lama.”
Gadis berlalu ke lantai 2, ia tersenyum tipis
sambil mengelus perutnya.
”Untung aja papamu pengertian, kalau gak, udah mama
tinggal.”
Gadis segera mandi dan berganti pakaian di kamar
Riri. Ia pikir Rio masih ada di bawah dan tidak mengunci pintunya. Saat ia baru
selesai memakai pakaian dalam, Rio membuka pintu tanpa mengetuk.
Gadis : “Aarrgghh!! Rio!!”
Rio bukannya menutup pintu lagi, malahan melotot
melihat tubuh Gadis. Gadis melempar bantal yang mengenai wajah Rio.
Gadis : “Ngapain kamu kesini?!! Jangan lihat!!”
Gadis mengambil handuk menutupi tubuhnya. Gadis
melihat Rio berjalan mendekatinya,
Gadis : “Stop disitu!! Ngapain kamu kesini?!”
Rio : “Diem!! Pagi-pagi teriak-teriak.”
Gadis tercekat saat Rio merangsek mendekat memegang
kedua lengannya. Jantungnya berdebar sangat kencang, kilasan kejadian saat Rio
memaksa dirinya, kembali berputar dalam ingatan Gadis. Ia mendorong-dorong
wajah dan tubuh Rio sambil meracau seperti malam itu.
Ia menjerit setiap Rio memegang lengannya karena
khawatir Gadis akan menyakiti dirinya dan bayi yang dikandungnya. Rio tidak
sadar kalau tindakan yang membuat Gadis histeris.
Keributan di lantai 2 membuat Rara dan Mia berlari
ke atas. Mereka melihat Gadis menangis di pojokan kamar dengan Rio berlutut di
depannya.
Mia : “Apa yang terjadi?”
Mia masuk ke kamar dan langsung memeluk Gadis yang
gemetaran. Gadis masih meronta dan berteriak ‘lepaskan’, ‘sakit’. Tapi Mia
berhasil menenangkannya. Rara juga masuk ke kamar Riri dan langsung menjewer
telinga Rio.
Rio : “Adaaooww!! Kak, sakit!”
Rara : “Keluar kamu! Ngapain kamu masuk kesini?
Kamu mau ngapain Gadis lagi?!”
Rara melayangkan pukulan ke pipi Rio dan memintanya
melihat keadaan Gadis yang masih trauma.
Rara : “Kamu liat akibat perbuatanmu!! Lihat
baik-baik wanita itu!”
Rio menatap Gadis yang terus sesenggukan dalam
pelukan Mia. Ia masih menangis sambil memeluk lengan Mia. Kilasan rekaman CCTV
pada malam itu berkelebat lagi dalam ingatannya. Rio terduduk di dekat pintu
__ADS_1
kamar Riri, ia mulai menangis sambil memeluk lututnya.
Rara melepaskan tangannya dari telinga Rio dan
memeluk adiknya itu. Ia menatap Mia dan menggeleng. Keduanya belum bisa
melupakan kejadian malam itu. Trauma masih membekas pada Gadis, sementara Rio
shock melihat yang tersisa dari perbuatannya dulu pada Gadis.
*****
Rio masih berbaring di tempat tidurnya. Mia sudah
membujuknya untuk makan dan minum, tapi Rio tetap diam tak bergeming.
Kondisinya lebih parah dari saat kehilangan Kaori dulu. Rara masuk ke kamar
Rio, ia melihat makanan Rio masih utuh.
Rara : “Rio, kamu gak makan?”
Rio tetap diam tak menjawabnya.
Rara : “Rio, kenapa kamu jadi begini? Kamu lebih
hancur dari saat kehilangan Kaori.”
Rio tetap diam tidak mengatakan apa-apa.
Rara : “Rio, lihat kakak dong.”
Rio masih tetap menatap langit-langit kamarnya.
Rara menghapus air mata yang menetes dari sudut
mata Rio. Rara meninggalkan Rio sendirian lagi. Ia membawa makanan yang sudah
dingin itu kembali ke bawah. Mia
yang melihat Rara turun, berharap melihat piring kosong di dalam nampan yang Rara
bawa. Tapi makanan itu masih utuh.
Gadis bahkan sudah makan dua kali sejak tadi pagi. Itupun
Mia membujuknya dengan sangat intens. Gadis sedang melamun di ruang keluarga
Mia : “Kalau terus begini, Rio bisa sakit.”
Rara : “Mah, coba telpon papa. Minta papa bujuk
Rio.”
Baru saja Mia mau mengambil ponselnya, Rio turun
dari lantai 2. Ia menatap Gadis yang masih melamun. Saat Gadis tersadar dan
menatap Rio, Rio melihat Gadis ketakutan melihatnya. Rio mengambil kunci
mobilnya, ia berjalan cepat melewati Gadis tanpa bicara apa-apa.
Mia : “Rio, kamu mau kemana?!”
Rio tidak menjawab pertanyaan Mia, ia ingin
menjawabnya tapi Rio tidak bisa bicara saat ini. Ia menghidupkan mobilnya dan
Mia menghadang jalan mobil Rio.
Rio : “Mah, minggir.”
Mia : “Kamu gak boleh pergi kalau gak bilang mau
kemana.”
Rio : “Rio mau ke apartment. Lebih baik Rio tinggal
disana daripada nyakitin Gadis lagi.”
Mia : “Kamu gak bohongin mama, kan?”
Rio : “Rio gak pernah bohong sama mama. Mama tau
itu.”
Mia : “Janji sama mama kamu bakalan jaga kesehatan
kamu. Makan tepat waktu.”
Rio : “Iya, Rio janji. Titip Gadis ya, mah. Kalau
dia mau ke dokter kandungan, nanti Rio yang nganter. Tapi kalau gak mau sama Rio...”
__ADS_1
Mia : “Nanti mama coba bicara sama Gadis ya.”
Rio mengangguk, ia melajukan mobilnya menuju
apartment Alex. Sampai di apartment, Rio langsung mengganti pakaiannya dengan
pakaian kerja dan pergi ke kantor Alex. Ia harus menyibukkan dirinya atau ia
akan teringat dengan wajah takut Gadis.
Romi sempat bingung melihat Rio masuk hari itu. Ia
duduk di meja Gadis dan mulai bekerja menjawab e-mail dan juga telpon. Alex
yang baru selesai meeting, berhenti di depan meja Gadis dan menatap Rio yang
fokus pada laptop di depannya. Alex ingin bicara tapi Rio sudah mengangkat
telpon dari luar.
Sampai jam pulang kantor, Rio hanya melambaikan
tangan pada Alex dan Romi yang akan pulang. Ia masih terlihat sibuk
menyelesaikan semua pekerjaan Gadis hari itu. Sampai jam 8 malam, Rio belum
menunjukkan tanda-tanda selesai dengan pekerjaannya.
Ia bahkan menyiapkan bahan meeting untuk meeting
sampai minggu depan dan menumpuk semua dokumen itu di meja Romi. Sesekali Rio
memegang keningnya yang masih di perban. Jam 10 malam, Rio baru mematikan
laptopnya. Ia mengunci ruangan Alex dan Romi dan mematikan lampu.
Diluar kantor sedang hujan deras saat Rio sampai di
lobby. Tapi ia memarkir mobilnya di parkiran depan. Security menawari memayungi
dirinya, tapi Rio menggeleng. Ia berjalan menuju mobilnya, melewati hujan tanpa
peduli pakaiannya basah.
Rio mengemudikan mobilnya kembali ke apartment. Ia
memeriksa ponselnya yang lowbat saat ia menunggu lift. Ada chat dan panggilan
tak terjawab dari Alex, Mia, dan Rara. Rio membuka chat dari Mia yang menanyakan
‘dimana Rio’, ‘sudah makan?’,’Gadis harus bedrest di rumah sakit karena mengalami
flek dan kram perut’.
Wajah Rio pucat seketika, ia ingin menelpon Mia,
tapi peringatan dari ponselnya menunjukkan ponsel akan mati kalau Rio menelpon.
Rio melihat sekeliling, ada beberapa security di sudut tempat parkir. Ia
mengenali salah satunya dan bermaksud meminjam telpon. Security itu meminjamkan
ponselnya dan Rio memilih menelpon Alex.
Rio : “Halo, pah. Dimana Gadis dirawat?”
Alex : “Rio, di rumah sakit tempat mama melahirkan.
Di kamar yang sama.”
Rio langsung menutup telpon dan mengembalikannya
pada security itu disertai selembar uang 50ribuan. Ia kembali ke mobilnya dan
mengemudi menuju rumah sakit yang dimaksud Alex.
Suasana rumah sakit sangat sepi saat Rio tiba
disana. Ragu-ragu ia ingin mengetuk pintu kamar tempat mamanya dirawat waktu
melahirkan dulu. Bayangan wajah ketakutan Gadis, membuatnya mengurungkan
niatnya. Rio memilih duduk di lantai di depan kamar itu. Ia mengusap wajahnya
dengan kasar dan membenamkan kepalanya diantara lututnya.
Mia : “Rio?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1