Duren Manis

Duren Manis
Extra part 12


__ADS_3

Extra part 12


Mia adalah seorang wanita yang sensitif. Dulu dia sensitif dipanggil tante. Sekarang dia jadi sensitif ketika melihat uban di kepalanya. Setiap rambut putih itu muncul, Mia akan langsung badmood seperti wanita yang sedang PMS dua kali lipat.


Tahu rasanya PMS, kan bagi kaum hawa? Bagaimana tidak nyamannya ketika kita PMS? Nah, hal itu dirasakan Mia dua kali lipat ketika ia melihat selembar rambut berwarna putih di kepalanya. Dan itu akan berakibat bagi seluruh penghuni rumah Alex.


Sekarang masalah uban ini akan mengganggu mood Mia dan bisa-bisa berakhir bertengkar dengan Alex. Alex berusaha menahan ekspresinya agar tidak fokus melihat uban Mia.


“Mas, aku pusing nich. Emang bisa gitu ya?” tanya Mia pusing.


“Aku rasa nggak bisa. Ehem..., maksudku mungkin saja Renata itu putri yang tertukar,” kata Alex serius.


Mia langsung memukuli pundak dan lengan Alex. Apa yang dikatakan Alex sama persis dengan apa yang dikatakan Rio.


“Mas sekongkol sama Rio ya! Bilang aja kalau Ken itu anak mas sama Kinanti!” lengking Mia tiba-tiba.


Alex bengong mendengar kata-kata Mia. Kapan buatnya? Ketemu Kinanti aja dia nggak pernah. Dan lagi kalau Alex pergi ke luar kota untuk perjalanan dinas, ia selalu menjaga dirinya untuk tidak mabuk. Alex selalu waspada saat ia jauh dari keluarganya. Pengalaman dan kejadian mengerikan sebelumnya yang sempat dialaminya dulu, memberi pelajaran yang sangat berharga untuk Alex.


“Kapan aku buatnya sama dia? Ketemu aja nggak pernah. Kamu bisa cek, apa yang aku lakukan waktu sebelum kamu hamil Renata. Aku nggak pernah pergi ke luar negeri atau luar kota. Aku selalu pulang on time. Selalu pergi sama kamu. Tuduhanmu itu nggak masuk akal,” kata Alex menyangkal semua tuduhan Mia.


Mia cemberut karena apa yang dikatakan Alex memang benar. Alex merengkuh Mia dalam pelukannya.


“Jangan ragukan aku, Mia. Aku cuma setia sama dua wanita di dalam hidupku. Kamu dan almarhum Selvi,” kata Alex menaklukkan kemarahan Mia sekali lagi.


“Jadi apa penjelasan untuk hasil tes DNA itu, mas?” tanya Mia keceplosan.


Mia nyengir lebar menatap Alex yang sudah tersenyum mesum. Ia menelan salivanya susah payah. Matilah dia kali ini, entah bagaimana Alex akan menghukumnya nanti.


“Jadi kamu nggak percaya sama aku, trus melakukan tes DNA antara aku sama Ken? Trus hasilnya positif?” tanya Alex.

__ADS_1


Mia mengacungkan empat jempolnya, sambil mengangguk. “Mas cenayang ya? Kok bisa tahu hasilnya positif?”


Alex menepuk keningnya, padahal Mia sendiri yang bilang tadi kalau Ken itu anak Alex dengan Kinanti. Tapi Mia nggak ngeh juga.


“Terus, Ken itu anak siapa?” tanya Mia lagi.


“Coba kamu yang tes DNA sama Ken. Kita berdua deh. Tes sekali lagi. Tapi sampel-nya gimana ya?” gumam Alex bingung.


“Itu... aku udah dapet sampel-nya lagi. Tadi... aku ketemu Ken di bandara dan aku minta sedikit potongan rambutnya. Aku mau tes ulang, mas. Aku berpikir mungkin tes yang pertama itu ada kesalahan,” kata Mia


takut-takut.


“Dia ngasi potongan rambutnya gitu aja? Dan ngapain kamu ke bandara? Ken mau kemana?” tanya Alex bertubi-tubi.


Mia mengatakan kalau Renata dan Kaori ingin mengantar Ken yang pindah keluar negeri. Mereka berangkat subuh dan tiba tempat waktu. Kebetulan Kinanti dan Endy tidak ikut mengantar Ken karena mereka tidak


terlihat disana. Mia tidak tahu kalau Ken menunggu mereka di ruang tunggu biasa, sementara Kinanti, Endy, dan Kenzo sudah ada di VIP lounge.


“Renata yang bantu aku, mas. Itu aku bawa rambutnya Ken di dalam tas. Kita bisa ke rumah sakit dan tes lagi,” kata Mia bersemangat.


Alex tersenyum melihat Mia kembali seperti semula. Istrinya itu kembali hangat dan ceria. Alex melihat sekelilling private kolam itu. Suasana tertutup disana membuat hasrat Alex mulai bangkit lagi. Mia merasakan


tali bikininya terlepas dan Alex langsung menjelajahi tubuhnya tanpa jeda.


“Mas!! Mau ngapain? Jangan nakal!” pekik Mia yang terpojok di sudut kolam.


“Sayang, aku masih penasaran, siapa yang minta kamu tes DNA?” tanya Alex menatap Mia dengan intens.


Mia hanya nyengir lebar, kalau sampai Alex tahu kalau itu semua usulan Rio, habislah putranya itu. Mia memilih diam dan mulai menyerang Alex dengan serangan langsung berharap Alex segera merasa puas dan

__ADS_1


mereka bisa segera pergi dari sana. Tapi sepertinya Alex belum mau pergi dari tempat yang indah itu.


**


“Aku sudah cukup membayarmu. Jaminanmu tidak akan ada kebocoran informasi. Kau hanya perlu mengawasi Ken dan Renata. Tidak becus!” lengking Endy pada dokter di rumah sakit tempat pengecekan DNA.


Endy baru mengetahui kalau Rio melakukan tes DNA terhadap Ken dan Alex dan hasilnya belum sempat dirubah ketika Rio datang mengambil hasil tes itu.


“Terus awasi, mereka akan melakukan tes lagi. Kali ini kau harus sudah siap. Mengerti!” geram Endy penuh kemarahan.


Kinanti yang baru selesai menidurkan Kenzo, menghampiri Endy yang marah-marah di balkon. Mereka sudah sampai di negara A dan sedang menginap di mansion milik ayah Endy.


“Kamu kenapa sich?” tanya Kinanti dengan suara manjanya.


“Nih, dokter nggak becus. Mereka akhirnya tahu kalau Ken, anak kandung Alex,” kata Endy gusar.


“Yah, gimana dong? Mereka nggak boleh ngambil Ken sekarang. Papa belum mewariskan kekayaannya buat kita,” kata Kinanti mulai panik.


Papa dan mama Endy, sangat senang ketika Ken dibawa pulang ke mansion mereka. Papa Endy langsung memberikan surat wasiat kalau Ken akan mewarisi semua kekayaan keluarga Endy di usia duapuluh tahun. Ken harus bersekolah di tempat yang paling elit dan paling mahal. Bergaul hanya dengan orang-orang yang penting untuk masa depannya dan tidak diijinkan memiliki teman dekat.


Ken hidup dalam tekanan dan tanggung jawab untuk keluarga Endy. Kinanti dan Endy mendidik Ken dengan sangat keras tapi tidak menghilangkan kasih sayang mereka untuk anak itu. Mereka hanya sekedar memberikan kasih sayang agar Ken mudah mereka kendalikan.


“Kamu tenang aja, sayang. Sepertinya Mia sudah salah paham dan mereka sempat bertengkar. Kita tunggu saja, mereka pasti akan melakukan tes lagi. Dan itu akan jadi kesempatan kita untuk menjauhkan Ken dari


mereka,” kata Endy sambil merengkuh Kinanti dalam pelukannya.


“Beneran ya? Aku nggak mau kehilangan harta papamu. Inget ya, pengorbananku udah banyak banget. Aku sudah ngasih kamu putri dan putra. Seharusnya aku bisa dapat apa yang aku mau,” kata Kinanti serakah.


Endy mengecup bibir Kinanti yang terus mengomel, ia lebih tertarik menghabiskan malam dengan bergelut diatas tempat tidur mereka.

__ADS_1


**


Belum kapok ya. Karma baikny mau dihabisin di kehidupan ini. Tunggu saja tanggal mainnya.


__ADS_2