Duren Manis

Duren Manis
Minta cium


__ADS_3

Elo menatap Riri yang masih asyik membaca, ia melirik jam tangannya dan melihat sudah hampir jam 6 sore.


Posisi mereka masih sama seperti tadi. Elo duduk bersandar sementara Riri duduk bersandar di dada Elo.


Elo : "Ri, bukannya aku ngusir. Tapi kamu mau pulang sekarang?"


Riri : "Hmm... Nanggung, kak. Lagi dikit aja nich bukunya."


Elo : "Oh, gitu. Kamu bisa bawa pulang, kok kalo mau pinjem."


Riri : "Aku mau habiskan disini, kak. Sama kakak."


Elo : "Ok. Aku mau mandi dulu ya. Kamu mau mandi disini?"


Riri : "Nggak!"


Riri menjawab dengan cepat sambil memeluk buku yang dibacanya.


Elo : "Idih, jangan histeris gitu kali, Ri. Aku gak ada maksud apa-apa. Kalau kamu mau mandi disini, ada handuk bersih kok."


Riri : "Hehe, kirain..."


Elo : "Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang aku?"


Riri : "Kakak baik. Sopan. Uda mapan juga."


Elo : "Maksudku, sejak aku membawamu kesini, kamu agak aneh. Pake menjauh lagi. Aku bukan lelaki brengsek, kali Ri."


Riri : "Aku cuma berusaha jaga diri, kak."


Elo : "Iya, aku tahu. Aku mau mandi dulu ya."


Elo bangkit dari samping Riri dan berjalan masuk ke kamar mandi. Ia keluar lagi sambil nyengir, membuka lemarinya dan mengambil baju ganti.


Riri tersenyum malu, ia menggeser posisi duduknya membelakangi kamar mandi. Dadanya berdebar kencang mengetahui Elo sedang mandi di belakang sana.


Berada di rumah pacar berdua saja, ternyata tidak baik bagi kesehatan jantung dan pikiran. Riri menggelengkan kepalanya, ia ingin mengusir bayangan aneh yang hinggap di kepalanya.


Ceklek! Bau wangi, menguar memenuhi kamar apartment Elo. Riri mengingat bau ini bukan bau sabun tapi bau parfum Elo.


Riri tidak mendengar langkah kaki Elo mendekatinya. Ia menoleh perlahan, dan melihat Elo berdiri di depan kulkasnya mengambil minuman dingin.


Rambut Elo masih basah, menutupi dahinya dan kacamatanya entah dimana. Pipi Riri merona melihat perut sixpack Elo, dada bidangnya dan lehernya yang masih basah.


Elo membelakangi Riri, membuat Riri menahan nafasnya melihat punggung lebar Elo. Elo menggosok rambutnya yang basah dan dengan cepat memakai kaosnya.


Ia berbalik menatap Riri yang gelagapan karena ketahuan ngintip. Dih, malu banget Ririnya.


Elo : "Ri, kamu mau makan disini atau kita sekalian makan diluar?"


Riri : "Kakak mau masak lagi?!"


Riri terdengar antusias mendengar Elo mau masak lagi.


Elo : "Ya, gitu dech. Jadi mau makan disini atau diluar?"


Riri : "Mau dong masakan kakak lagi."


Elo : "Ok. Mau spageti?"


Riri : "Boleh, kak."


Riri meletakkan buku yang hampir habis dibacanya. Ia memberi tanda dengan selipan kartu yang biasa digunakan Elo menandai kapan halaman terakhir dia membaca buku itu.


Elo mulai menghidupkan kompor dan meletakkan panci berisi air diatasnya. Ia mengeluarkan bumbu bolognese dan juga daging cincang.


Saat air di dalam panci mulai mendidih, Elo memasukkan spageti ke dalamnya. Sambil menunggu spageti direbus, Elo memanaskan panci satu lagi yang berisi bollonese dan daging cincang.

__ADS_1


Riri menonton pertunjukan demo masak Elo dari meja bar. Elo terlihat sangat cekatan bergerak di dapur.


Elo : "Coba cicipin. Uda pas belum?"


Elo menyodorkan sendok berisi bolognese pada Riri. Riri meniup saus itu dan memakannya. Rasa daging sapi langsung lumer di lidah Riri.


Riri : "Enak banget, kak."


Elo : "Oh ya? Gak keasinan?"


Riri : "Nggak. Ini pas banget."


Elo : "Kalo gitu, tunggu bentar lagi ya."


Riri : "Kak, kayaknya kalau kakak alih profesi jadi koki, pasti pelanggannya banyak."


Elo : "Jangan dong. Aku gak mau jadi koki buat semua orang. Cuma buat kamu aja, Ri."


Riri : "Ach, kakak bisa aja."


Elo : "Kamu yakin gak mau mandi dulu?"


Riri : "Nggak, kak. Ntar aja sekalian di rumah. Aku banyak ritual sebelum mandi."


Elo : "Oh ya? Apa memangnya?"


Riri : "Iih, kakak kepo. Gak boleh tau."


Elo : "Ya udah. Kalau aku jadi suamimu nanti, juga aku bisa lihat sendiri ritualnya."


Riri : "Kak Elo!"


Elo : "Apa sich? Bener kan? Kalau uda sah boleh ngeliat."


Wajah Riri merona mendengar kata-kata Elo. Sebuah pernikahan masih jauh dari pikiran Riri saat ini.


Riri menggosok tangannya siap untuk makan. Elo memberikan garpu dan sendok untuk Riri.


Riri : "Kak, aku boleh foto spagetinya kan?"


Elo : "Boleh. Tapi jangan tag aku ya. Tag catering mamaku."


Riri : "Kenapa gak boleh tag kakak? Aku kan mau semua orang tahu pacarku bisa masak."


Elo : "Aku gak mau orang lain tahu aku bisa masak, Ri. Cuma kamu yang boleh makan masakanku."


Riri : "Emang selama ini gak ada cewek lain yang makan masakan kakak?"


Elo : "Belum ada. Entah kenapa aku cuma rela masak demi kamu aja."


Riri : "Gombal."


Elo mengambil tisu, mengelap sudut bibir Riri yang belepotan saos spageti.


Elo : "Kamu nich makan kok belepotan gitu sich."


Riri : "Habisnya enak, kak."


Elo : "Ri... Boleh nanya gak?"


Riri : "Apa kak?"


Elo : "Kenapa aku gak boleh nyium kamu?"


Riri : "...Itu... Emangnya kakak ngajak aku pacaran cuma buat dicium doang?"


Elo : "Gak gitu... Anggap aja aku gak pernah nanya ya."

__ADS_1


Elo jadi salah tingkah dan memilih diam. Riri meletakkan sendok dan garpunya, ia mengambil minum sebelum mulai bicara lagi.


Riri : "Kak, aku bukannya gak mau dicium kakak. Aku cuma takut."


Elo : "Takut apa?"


Riri : "Takut kakak nuntut lebih dari sekedar ciuman."


Elo : "Maksudnya?"


Riri : "Ya, kakak tahu kan gaya pacaran jaman sekarang. Makanya aku takut pacaran sebenarnya, kak."


Elo : "Trus kenapa kamu mau pacaran sama aku?"


Riri : "Itu, karena aku sayang sama kakak. Bisa dibilang kakak cinta pertamaku."


Elo : "Masa sich?"


Elo tersenyum bangga, ia senang menjadi cinta pertama Riri.


Riri : "Aku juga mau ngrasain ciuman, kak. Tapinya itu, takut kebablasan."


Elo : "Iya juga ya."


Riri : "Kakak mau aku cium?"


Elo : "Iya, mau."


Riri : "Hihi... Semangat banget sich, kak."


Elo menggaruk kepalanya, malu sendiri. Ia menyendok spagetinya lagi dan pura-pura sibuk makan.


Riri menyodorkan sesendok spageti pada Elo, yang membuka mulutnya mengira Riri akan menyuapinya.


Riri terus menarik sendoknya pelan-pelan sampai wajah mereka berhadapan sangat dekat. Tiba-tiba, cup! Riri mencium bibir Elo.


Ia hanya menempelkan bibirnya ke bibir Elo dan kembali menegakkan tubuhnya. Tindakan Riri yang berani, membuat wajah Elo merona. Ia melongo menerima perlakuan manis Riri.


Elo : "Boleh sekali lagi?"


Riri : "Ntar ach, kak. Mulutku bau spageti."


Elo : "Kan enak jadinya. Sekali lagi ya?"


Riri : "Kak..."


Elo berdiri di depan Riri yang ingin menghindar darinya. Elo memegang pinggang Riri, membuat Riri mendongak menatapnya.


Perlahan Elo menunduk, hanya pelan saja sampai bibir mereka hampir bersentuhan. Riri memejamkan matanya dan Elo menganggapnya sebagai persetujuan.


Ciuman mereka berlangsung lama tanpa adanya nafsu yang mengendalikan tubuh mereka. Untuk sesaat Riri tersenyum dalam ciumannya dengan Elo.


Setelah puas mencium Riri, Elo mengantarnya pulang. Ia tidak mau membuat keluarga Riri tidak mempercayainya lagi. Dan Riri tidak boleh bersamanya.


Riri tentu saja tidak melewatkan kesempatan meminjam buku dari koleksi Elo.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2