
Extra part 29
Setelah komedi putar itu berhenti bergerak, Ken
membantu Kaori turun. Ketika kakinya memijak lantai, Kaori kehilangan
keseimbangannya. Kakinya terasa lemas karena takut mencoba wahana itu. Ken
dengan sigap menahan tubuh Kaori, memeluk pinggang gadis buta itu.
“Ach, maaf, Ken. Aku sedikit takut,” lirik Kaori.
“Aku disini, jangan takut. Bersandar sama aku ya.
Kita keluar dari sini,” ajak Ken menenangkan Kaori.
Ken membawa Kaori ke bangku dekat sana, lalu
membantu Kaori duduk. Kaori ingin melepaskan tangannya yang digenggam Ken, tapi
laki-laki itu tidak mau melepaskan tangannya.
“Ken, kita udah duduk. Lepasin tanganku dong. Kita
kan nggak lagi mau nyebrang jalan,” ucap Kaori sambil tersenyum manis.
“Nggak mau. Kalo aku lepasin, nanti kamu terbang.
Bidadari kayak kamu harus terus dipegangin biar nggak bisa balik ke kahyangan
sana,” gombal Ken natural. Anak sama bapak kalo udah soal ngerayu cewek emang
paling jago.
Kaori tertawa mendengar gombalan Ken, angin nakal
kembali menyibak rambut Kaori membuat matanya kelilipan rambut. Ken membantu
merapikan rambut Kaori, lalu menyampirkan rambut Kaori ke salah satu pundaknya.
Aroma wangi menguar dari tubuh Kaori saat Ken menyampirkan rambut gadis itu.
“Kaori, kamu harum banget. Pakai parfum apa?” tanya
Ken tidak bisa menahan mulut beracunnya.
“Ken, kamu aneh dech hari ini. Mulutmu manis banget
kayak iced capucino yang kemarin,” kata Kaori sambil meraba keatas ingin
menyentuh pipi Ken.
Dicubitnya perlahan pipi cubby Ken, tapi laki-laki
itu langsung klepek-klepek disamping Kaori. Gadis itu kebingungan dengan reaksi
Ken yang tiba-tiba kejang. Kaori hampir panik dan bingung, tidak tahu harus
berbuat apa.
“Ken! Kamu kenapa?” tanya Kaori kuatir.
“Sakit, Kaori. Hatiku sakit banget,” lirih Ken
sambil menekan tangan Kaori di dadanya.
“Panggil dokter, kamu kenapa?!” Kaori mulai
gelisah, panik dan bingung.
“Hatiku sakit, habis kamu masuk kesitu sich,” goda
Ken menahan tawanya.
Kaori memukul dan mencubiti dada Ken dengan gemas.
Ia sudah kuatir setengah mati merasakan Ken kejang di sampingnya, tapi
laki-laki itu malah bercanda dengannya. Ken berhenti tertawa ketika melihat
reaksi sedih Kaori.
“Maaf, Kaori. Aku cuma bercanda. Aku mau
menghiburmu. Maafin ya,” ucap Ken berusaha meminta maaf pada Kaori.
“Kamu jangan godain aku gitu dong. Kalo aku baper
gimana?” tanya Kaori merasa tidak nyaman.
Ken menggaruk kepalanya, ia juga tidak mengerti
kenapa tiba-tiba bisa jadi raja gombal dadakan. Padahal ia hanya ingin berada
dekat Kaori, mengobrol dengan gadis itu.
Suasana canggung muncul diantara keduanya, Ken
tidak berusaha menjelaskan dan Kaori juga jadi larut dengan pikirannya sendiri.
Hawa dingin tiba-tiba menyergap tengkuk Ken. Ia tidak menyadari kalau Alex dan
Mia mengintip keduanya dari balik pohon di belakang mereka.
“Ba****an kecil itu\, beraninya merayu cucu
kesayanganku.” Alex mengepalkan tangannya, ia hampir keluar dari persembunyian
mereka ingin melabrak Ken. Opa Alex nggak tau kalau dia ngatain anaknya
__ADS_1
sendiri.
“Mas, kasih mereka berdua temenan dulu. Liat tuch,
manis banget. Pake malu-malu segala. Iih, gemes banget.” Mia memberikan
kesempatan Kaori agar bisa berteman dengan Ken.
“Tapi itu pegangan tangan. Temenan apaan pake
pegangan tangan, peluk-peluk pinggang.” Alex protes sampai Mia membuatnya
bungkam dengan sebuah ciuman yang langsung mengalihkan dunia Alex kembali pada
Mia.
**
Ken melihat Renata dan Reynold berjalan menuju
wahana kincir ria. Ia melirik Kaori yang sibuk berceloteh tentang kegiatannya
home schooling. Ken berhasil mengembalikan situasi kembali seperti semula.
Kaori sudah mulai cerewet lagi dan bersikap biasa selayaknya teman.
“Kaori, kamu mau naik kincir ria?” tanya Ken. Ia
ingin mengejar Renata, tapi tidak ingin meninggalkan Kaori sendirian.
“Kincir ria itu seperti apa?” tanya Kaori.
“Bentuknya bulat seperti roda dan bisa berputar.
Aku ingin naik itu sama kamu. Kita bisa melihat pemandangan seluruh kota dari
titik tertinggi nanti. Kau bisa melihat semuanya dari mataku, Kaori,” ucap Ken
kembali gombal.
“Jangan bercanda, Ken.” Kaori terlihat ragu. Ken
menarik tangannya untuk bangkit lalu mengambil tongkat di tangan Kaori.
“Kamu percaya aku, kan? Ikut aku, Kaori,” kata Ken
lalu menuntun Kaori mendekati kincir ria.
Ken benar-benar memperlakukan Kaori dengan gentle. Ia
membantu Kaori masuk ke kincir ria, lalu duduk di samping gadis itu. Kincir ria
mulai bergerak, Kaori menggenggam tangan Ken. Terlihat kekuatiran di wajah
gadis cantik itu.
“Tenang, Kaori. Kita akan naik. Santai saja,” kata
Perlahan kincir ria mulai bergerak naik, Ken
menceritakan apa yang ia lihat pada Kaori. Meskipun tidak tahu seperti apa
warna merah, warna coklat, bentuk gedung yang menjulang tinggi, atau pun warna
biru langit, tapi Kaori lebih menikmati mendengarkan suara Ken.
Baginya mendengar Ken bercerita bisa membuat Kaori
merasa tenang. Mengatasi rasa gugupnya karena getaran-getaran halus yang ia
rasakan di dalam kincir ria itu.
“Kaori, kamu masih takut? Sebentar lagi kita akan
sampai di titik tertinggi. Disini seolah kita berada diatas awan. Bentuk awan
itu mirip bedcover kalo baru dirapikan. Hangat dan lembut.” Ken menatap keluar dari
kincir ria. “Pemandangannya sangat indah, Kaori. Meskipun kamu tidak bisa
melihatnya, tapi aku sangat senang bisa melihat pemandangan seindah ini dengan
kamu ada disisiku.“
“Mulutmu manis sekali, Ken. Cocok jadi playboy, eh
bukan, tapi puckboy. Udah ah. Berhenti gombal. Seharusnya kamu gombalin aunty
Renata aja,” ucap Kaori.
Ken terdiam membuat Kaori tersenyum, tebakannya
memang selalu tepat. Ken menyukai Renata, bahkan Kaori bisa merasakannya. Tapi
entah bagaimana hati laki-laki itu mulai terbagi antara Renata atau Kaori.
Sejujurnya jauh di lubuk hati yang paling dalam
tanpa ia sadari, Ken lebih memilih bersama Kaori daripada mengejar Renata.
Setiap kali ia ingin mengejar Renata, Kaori akan mengalihkan dunianya.
**
Kincir ria sampai kembali ke bawah, Ken membantu
Kaori turun. Alex dan Mia sudah menunggu di dekat sana. Sudah waktunya makan
siang, mereka akan berkumpul di tempat makan bersama-sama. Alex menuntun Kaori
__ADS_1
berjalan duluan, meninggalkan Mia yang akhirnya berjalan sendiri. Mia
mengundang Ken untuk makan bersama mereka.
Mia terus melirik Ken yang berjalan di sampingnya.
Ken yang merasa Mia sedang menatapnya, menoleh menatap wanita cantik itu.
“Tante, kenapa ngliatin saya gitu?” tanya Ken.
“Ken, boleh tante tanya sesuatu? Kamu lahirnya
kapan?” tanya Mia kepo.
Ken menyebutkan tanggal yang sama dengan tanggal
kelahiran Renata. Mia lanjut bertanya tentang tempat kelahiran Ken dan
laki-laki itu menjawab rumah sakit yang sama saat Mia melahirkan Renata. Mia
berhenti berjalan ketika merasakan jantungnya berdegup kencang. Ken yang
menyadari langkah Mia terhenti, menoleh menatap wanita itu.
“Ken, boleh tante minta sesuatu dari kamu?” tanya
Mia lagi dengan hati-hati.
“Apa tante?” tanya Ken.
Mia meminta rambut Ken, lalu secara terang-terangan
mengatakan kalau ia ingin melakukan tes DNA dengan Ken. Guratan kebingungan
mulai muncul di wajah Ken. Ia tidak mengerti kenapa mama Renata ini ingin
melakukan tes semacam itu.
Mia mengajak Ken untuk duduk sebentar di sebuha
bangku taman. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada
Ken, itu foto Rio saat masih seumuran Ken.
“Tante kok bisa punya fotoku? Eh, kapan aku foto
kayak gini ya?” tanya Ken mengingat-ingat sesuatu.
“Ini foto kecil Rio, papanya Kaori. Sebenarnya....”
Mia harus menggantung kata-katanya, ia menoleh ketika Alex memanggilnya.
Padahal Mia ingin mengungkapkan kebenaran kalau Kaori adalah anak kandung Endy
dan Kinanti. Kebenaran kalau Kaori dan Ken bersaudara.
Hanya untuk
review kembali, Endy dan Kinanti menukar anak perempuan kedua mereka dengan
anak laki-laki Mia tanpa sepengetahuan Mia dan Alex. Anak perempuan di beri
nama Renata oleh Mia dan Alex, sedangkan anak laki-lakinya diberi nama Ken oleh
Endy dan Kinanti. Jadi Renata dan Kaori adalah saudara kandung.
Ken masih menunggu kata-kata Mia selanjutnya. Ia
juga penasaran kenapa dirinya sangat mirip dengan om Rio saat kecil. Padahal
mereka tidak ada hubungan apa-apa. Mia menggeleng dan meminta Ken untuk melupakannya
saja. Bukan apa-apa, perkataan Mia sudah terlanjur membuat Ken penasaran. Ia
mencekal tangan Mia sebelum wanita cantik itu beranjak dari duduknya. Sedikit
meringis, Ken menarik beberapa helai rambutnya dan memberikannya pada Mia.
“Aku masih penasaran, tante. Tapi kalau menurut
tante, rambutku bisa memberikan kebenaran untuk tante, ini tante. Tapi aku juga
minta rambut tante sebagai gantinya dan juga kejujuran dari tante tentang hasil
tes itu nanti,” kata Ken bijak persis seperti Mia.
Mia terpana melihat cara bicara Ken yang persis
sama seperti dirinya. Ia membuka tasnya lalu memasukkan helaian rambut Ken itu
ke dalam sebuah plastik kecil. Mia menarik beberapa helai rambutnya dan muncul
uban disana. Ken yang melihat hal itu, hanya tersenyum melihat wajah Mia
berubah kesal.
“Uban nggak tau diri. Muncul disaat begini,” kata
Mia ngdumel. Ia ingin menarik rambutnya lagi, tapi Ken mencegahnya.
“Itu aja, tante. Sudah cukup. Nanti rambut indah
tante bisa rusak,” gombal Ken.
“Iih, kamu persis banget sama suami tante. Pinter
banget gombal, apalagi ngerayu. Bikin hati luluh,” kata Mia sambil mencubit
lembut pipi chubby Ken.
__ADS_1
**
Papanya raja gombal, anaknya juga jadi raja gombal. Tingkat mengukur kadar kemesumannya, sama apa nggak.