Duren Manis

Duren Manis
Mencari tahu


__ADS_3

Rara mendekap tangannya di depan dada. Jaraknya dengan Arnold sangat dekat, Rara tidak berani bergerak sedikitpun.


Dibelakang Rara, Arnold memperhatikan hujan yang turun semakin deras diiringi petir dan kilat. Di ujung langit tampak awan-awan putih mulai berkumpul, menandakan hujan akan segera berhenti.


Arnold melirik Rara, tercium aroma shampo dari rambut Rara yang tergerai sebahu. Arnold mendekat dan mencium sekilas pucuk kepala Rara. Tubuh Arnold bereaksi dengan sangat aneh.


Tubuh bagian bawahnya mulai menggeliat dan perlahan menegang. Nafas Arnold mulai berat, ia menahan tubuhnya dengan kedua tangan bersandar pada jendela. Mengukung tubuh Rara di jendela kamar suite itu.


Glegaarr!! Suara petir tiba-tiba mengagetkan Rara, refleks tubuhnya terdorong ke belakang dan menempel pada tubuh Arnold. Arnold mendekap Rara bukan untuk menyakitinya tapi menenangkan kekagetan gadis itu.


Arnold : "Ra, jangan takut. Aku gak maksud kurang ajar. Kamu masih kaget?"


Rara cuma bisa mengangguk, boleh gak kalo petirnya diulang lagi gitu, trus adegan yang ini gak akan berhenti. Aduch, kalau Arnold laki-laki brengsek, bisa jadi Rara sudah kena rayuan gombal.


Arnold melepaskan dekapannya, seolah meyakini sesuatu yang baru saja ia rasakan, Arnold menggandeng tangan Rara ke meja yang sudah terhidang makan siang untuk mereka.


Arnold : "Kita makan dulu ya. Sepertinya hujan gak akan lama lagi."


Rara : "Kak, Rara boleh nanya gak?"


Arnold : "Nanya apa?"


Rara : "Kakak kok jarang senyum sich, terakhir Rara lihat senyum waktu kakak foto sama mama Mia."


Arnold : "Kenapa? Aku jelek kalo gak senyum?"


Rara : "Gak gitu, kak. Masih tetep ganteng kok. Cuma kalo senyum, nambah gantengnya. Eh..."


Arnold tersenyum mendengar Rara sangat terus terang. Rara melongo lagi melihat kegantengan Arnold. Ia meraba mencari tasnya mengambil ponsel.


Tapi Arnold keburu menghentikan senyumannya.


Rara : "Yah, kok berhenti sich, kak?"


Arnold : "Ra, kamu makan dulu ya. Abis ini aku ceritain kenapa aku jadi gini."


Mereka menyelesaikan makan dengan cepat, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang dan mereka belum mendapatkan satu pun foto tempat yang mereka tuju.


Sementara hujan di luar sana turun semakin deras dengan angin kencang.


-------


Arnold duduk di sofa bersama Rara, Rara menaikkan salah satu kakinya agar bisa menghadap ke Arnold.


Arnold : "Kamu tahu kan aku pernah kecelakaan, itu kecelakaan mobil waktu aku balap liar. Kecelakaan itu memberiku beberapa luka yang cukup parah dan memerlukan beberapa kali operasi. Termasuk gangguan syarat yang mengganggu emosi."

__ADS_1


Rara : "Emosi kakak gak stabil?"


Arnold : "Bukan gitu, aku gak gila, Ra. Pada umumnya orang-orang bisa menunjukkan emosi mereka melalui wajah. Marah, senang, sedih, dan masih banyak lagi kan. Bahkan jatuh cinta."


Rara : "Rara gak jatuh cinta kok. Ups..."


Arnold : "Yakin? Dalam kasusku aku gak bisa terlalu sering menunjukkan emosiku melalui wajah. Itu membuat kepalaku sakit."


Rara : "Barusan kakak sakit kepala dong?"


Arnold : "Nggak, Ra. Kalau aku tersenyum sambil melihatmu, kepalaku tidak sakit."


Rara : "Kenapa bisa gitu, kak? Apa cuma kebetulan aja kali ya?"


Arnold : "Awalnya aku kira hanya kebetulan saja, Ra. Aku kira aku sudah sembuh, tapi belum. Aku sempat pingsan saat mencoba tersenyum pada kakak iparku."


Rara : "Itu aneh sekali, kak. Maksudku bukan kakak yang aneh. Seharusnya kalau belum sembuh, pasti reaksinya sama."


Arnold : "Itulah kenapa aku bingung, Ra. Karena bukan cuma itu aja, tapi aku bisa..."


Rara : "Bisa apa?"


Arnold : "...Janji ya jangan marah, sumpah aku gak ada maksud apa-apa. Kalau dekat kamu, aku bisa bangun..."


Arnold : "Kecelakaan itu juga mengganggu kemampuan itu-ku untuk ereksi. Kamu tahu kan ereksi."


Rara : “Tunggu… ereksi? Kayak pernah denger dimana ya?”


Arnold : “Ereksi itu kemampuan ‘itu’ untuk


menegang karena rangsangan seksual.”


Wajah Rara memerah, ia mengambil air minum di atas meja dan meneguknya dengan cepat. Kamar suite itu juga terasa panas, Rara beneran kepanasan.


Arnold melihat ke jendela kamar suite dan hujan ternyata sudah reda. Arnold menggenggam tangan Rara dan mencium punggung tangannya.


Arnold : "Aku tidak bisa bilang aku jatuh cinta padamu atau apa. Saat ini aku hanya merasa nyaman. Harapanku untuk sembuh mungkin ada sama kamu, Ra. Tapi aku gak bisa menjalin hubungan yang lebih serius. Aku bukan orang yang sehat, Ra. Aku gak mau hidupku membebani seseorang."


Rara : "Jadi kita gak bisa pacaran, kak. Eh, bukan... maksudku... jangan salah paham... aku..."


Arnold : "Aku ngerti, Ra. Tolong jangan jatuh cinta padaku. Orang tuamu tidak akan setuju kalau mereka tahu bagaimana keadaanku."


Rara : "..."


Rara memejamkan matanya, hatinya sudah patah bahkan sebelum ia mengatakan isi hatinya pada cinta pertamanya.

__ADS_1


Arnold bangkit dari sofa, tapi tangannya tertahan Rara.


Rara : "Kak, habis ini kita masih bisa temenan kan?"


Arnold : "Bisa, Ra. Aku tidak akan merubah sikapku sama kamu. Apapun yang terjadi, akan tetap seperti semula."


Rara : "Kak, aku boleh cerita sama mama kalau nanti aku pulang?"


Arnold : "Cerita aja, Ra. Apa adanya, aku berharap papamu mengijinkan kamu ikut aku menemui dokterku. Aku ingin tahu kenapa kamu berbeda. Kita siap-siap ya. Hujannya uda reda."


Rara : "Iya, kak. Aku mau mandi bentar ya."


Deg! Mendengar Rara mau mandi, membuat Arnold terbayang hal-hal yang mengganggu moralitasnya. Ia gelisah mendengar gemercik air di kamar mandi.


Arnold menggenggam tangannya dengan erat. Ia melihat keluar jendela dan pemandangan di seberang resort terlihat jelas dari sana. Itu lokasi proyek baru berikutnya.


Arnold mengambil kameranya dan memasang lensa panjang. Ia mulai memotret beberapa bagian yang terlihat jelas dari sana. Arnold melihat dari kameranya, ada jalan kecil menuju kesana dan sepertinya tidak muat dilalui mobil.


Ia mengingat hujan badai yang baru saja menerpa kawasan itu, Arnold memperhatikan sekitar tempat itu menggunakan lensa kameranya. Ia melihat kondisi jalan yang belum terlalu bagus terlihat berwarna kecoklatan.


Arnold mencari ponselnya yang ia tinggal di atas sofa, saat itu Rara keluar dari kamar mandi. Arnold tertegun melihat Rara memakai handuk menutupi tubuh bagian atasnya, sementara dibagian bawahnya sudah memakai jins.


Arnold : “Ra, kamu ngapain?”


Rara : “Bajuku basah, kak. Aku mau ambil baju ganti di tas, tadi ketinggalan.”


Arnold memijat kepalanya yang tiba-tiba pening, ia sudah sangat jelas mengatakan pada Rara kalau dia bisa memancing hasrat Arnold. Tapi gadis ini malah keluar kamar mandi dengan penampilan seperti ini.


Rara mengambil tasnya diatas sofa, ia membuka tas itu dan mencari baju ganti yang tadi sempat ia masukkan ke ranselnya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Rara ingin bangkit dari sofa, tapi tangan Arnold menghalanginya.


Rara membenamkan tubuhnya ke sofa, Arnold mendekatkan wajahnya ke wajah Rara, mata Rara mengerjap menatap mata Arnold. Arnold menarik dagu Rara agar bibirnya yang merah muda lebih dekat dengan bibir Arnold.


Kring! Kring! Kring! Shit! Suara telpon masuk membuyarkan setan mesum yang sempat hinggap di kepala Arnold. Arnold menghela nafas lega, jangan sampai ia melakukan sesuatu pada Rara atau hidupnya gak akan tenang.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2