Duren Manis

Duren Manis
Extra part 62 Riri & Ello


__ADS_3

Extra part 62 Riri & Ello


Kehidupan pernikahan Riri dan Ello bukan tanpa


masalah setelah kepergian Elena. Wanita jahat itu masih membayangi di beberapa


kesempatan karena kehadiran tante Dewi, mamanya. Setiap melihat sosok tante


Dewi, Riri akan teringat pada Elena. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat


Dion menikahi Lili. Elena dibawa pergi oleh pak Brian yang sepertinya


menjadikan Elena sebagai budaknya.


Ello yang melihat kalau Riri mulai terganggu dengan


kehadiran tante Dewi, merencanakan sebuah liburan untuk keluarganya. Riri dan


anak-anak mereka bisa bersantai di kapal pesiar pribadi mereka. Ketika Ello


menyampaikan keinginannya tentang liburan, Donatello dan Michaelangelo tidak


bisa ikut karena sedang ujian.


Kalau menunggu sampai anak-anak mereka selesai


ujian, giliran Ello yang sibuk karena harus mempersiapkan peluncuran produk


baru perusahaannya. Akhirnya Riri berangkat liburan bersama Ello dan juga Dion


yang selalu mengawal mereka berdua. Lili yang akan mengurus anak-anak Riri


selama ia pergi berlibur.


Sampai di dermaga, kapal pesiar yang dibayangkan


Riri adalah yang besar, sebesar kapal Titanic. Tapi ternyata tidak sebesar itu,


ia menatap Ello yang juga menatapnya.


“Kenapa, Ri?” tanya Ello.


“Kirain kapalnya segede kapan Titanic, mas. Kan


bisa bikin foto kayak Rose sama Jack,” kata Riri polos.


“Ada kapal yang segede itu, tapi lagi di negara E.


Kalau mau ngejar kapal itu, nggak keburu liburannya, yank. Yang ini dulu ya.


Next kita naik kapal yang lebih besar,” kata Ello.


Riri tentu saja mengangguk senang, Ello selalu


memanjakannya sampai-sampai Riri tidak pernah merasakan kesulitan dan


kesedihan.


Dion mendekati mereka berdua, ia memberitahu kalau


ada beberapa penumpang yang kebetulan ikut dengan mereka sampai ke pulau tempat


tujuan mereka nanti. Ia tidak bisa membatalkan kepergian para penumpang itu


karena liburan Riri dan Ello yang cukup mendadak.


Riri mengatakan tidak keberatan dengan adanya


penumpang lain. Lagipula, Dion dan para bodyguardnya sudah cukup untuk menjaga


mereka berdua. Ello menuntun Riri menaiki kapal karena sudah waktunya mereka


berangkat. Setelah sampai di kamar mereka berdua, Riri menikmati pemandangan


laut lepas dari jendela kapal.


Kapten kapal menyapa semua orang dengan sedikit


nyentrik. Dion sengaja memilih kapal itu karena kaptennya merupakan teman


lamanya. Setidaknya Dion bisa tenang karena kapal itu tidak akan mudah dibajak.


Cukup perlu waktu lama sampai mereka tiba di pulau tujuan


mereka. Riri menoleh saat Ello memanggilnya. Wanita itu mendekati suaminya yang


sepertinya ingin bermanja-manja sebelum tiba di tempat tujuan. Ello mengecup


bibir Riri sebelum lanjut mengecup leher wanita yang sangat ia cintai itu. Riri


tertawa geli, ketika Ello melakukan itu.


“Jangan gelitikin, mas.” Riri menarik kepala Ello


agar berhenti menciumi lehernya. Mereka melanjutkan apa yang seharusnya mereka


lanjutkan di dalam kamar itu ketika seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


Riri menarik selimut menutupi tubuhnya, mereka


saling pandang sebelum Ello memakai kembali kemejanya. Pria itu menunggu


sebentar sebelum membuka pintu. Lorong kamar mereka sepi, tidak ada siapapun di


depan pintu.


“Ada siapa, mas?” tanya Riri.


“Nggak ada orang. Ganggu aja,” kata Ello lalu


menutup pintu dan menguncinya lagi.


Ello mendekati Riri dengan pose menggoda sambil


melepas kancing kemejanya lagi. Riri tersenyum geli melihat tingkah suaminya


itu.


“Yank, harusnya liburan kali ini bisa jadi adiknya

__ADS_1


Michaelangelo. Kamu mau cewek apa cowok?” tanya Ello.


“Cewek dong. Biar bisa kudandanin pake dress gitu.


Pasti lucu,” kata Riri semangat.


“Kalo gitu, ayo kita mulai ngadonnya, yank,” ajak


Ello tidak sabaran.


“Ayok, siapa takut,” kata Riri dengan ekspresi


manja menggoda.


Mereka berdua menghabiskan waktu dengan sibuk di


dalam kamar. Dion yang masih memeriksa sekeliling kapal, pergi ke ruangan


kapten untuk menyapa teman lamanya. Kapten Bonbon menyapa Dion ala pria dewasa.


Mereka akan tiba di tempat tujuan sekitar satu jam lagi.


“Bagaimana situasinya, bro?” tanya Dion.


“Ada yang ngikutin kita tadi. Aku pikir aku akan


memakai senjata dibawa meja itu, tapi mereka menghilang waktu ombak besar. Apa


kita perlu waspada?” tanya kapten Bonbon.


“Selalu waspada, bro. Banyak senjatamu? Aku cuma


bawa yang simpel, sisanya pake badan,” kata Dion.


Kapten Bonbon memberitahu kalau ada senjata juga di


speedboat dan lemari perlengkapan. Tempatnya cukup tersembunyi, jadi tidak


mudah ditemukan. Keduanya mengobrol santai sampai hari berganti jadi malam.


Ello dan Riri keluar dari kamar mereka, siap untuk


makan malam. Saat itu mereka bertemu dengan semua penumpang yang ikut di kapal


itu. Ada dokter yang bekerja di pulau, tamu villa yang ada di pulau itu dan


seorang wanita misterius yang tidak banyak bicara.


Mereka menikmati makan malam yang menyenangkan


dengan musik yang mengalun lembut. Dion berjaga-jaga di sekitar mereka sambil


memperhatikan suasana sekitar. Mereka sudah sampai di tempat tujuan, sebuah


pulau yang indah. Ello dan Riri tidak akan ikut turun ke pulau itu. Mereka akan


menghabiskan waktu di kapal, bersantai dan bermain permainan air.


Setelah selesai makan malam, semua penumpang


dijemput dengan menggunakan kapal yang lebih kecil. Kapal itu langsung steril


dari kehadiran orang luar. Body guard segera menyisir seluruh kapal untuk


setiap satu jam sekali.


Riri dan Ello menikmati suasana malam yang romantis


di geladak kapal. Lampu-lampu dari pulau tampak berbaris rapi menyinari pulau


itu.


“Mas, kenapa kita nggak menginap di villa disana?”


tanya Riri sambil menunjuk pulau di depan mereka.


“Kata Dion, lebih aman tetap di kapal. Lagian


disini nggak ada yang ganggu kita, yank,” kata Ello sambil membelai rambut


bergelombang Riri.


“Trus kita ngapain di kapal trus? Nggak jalan-jalan


nich?” tanya Riri lagi.


Ello beralasan kalau Dion sudah mengatur permainan


air untuk mereka besok. Dan sambil menunggu besok, mereka bisa menikmati waktu


berdua yang sangat lama. Riri mencubit pinggang Ello yang mulai genit lagi.


Mereka asyik bercanda di geladak kapal dengan pengawasan ketat dari Dion.


**


Keesokan harinya, Ello dan Riri menikmati bermain


speed boat di sekitar pulau. Dion membantu Riri mengemudikan speed boat berkejar-kejaran


dengan Ello. Sesekali mereka berduaan di speed boat yang sama sementara Dion


tetap mengawasi di sekitar mereka.


Sambil menikmati pemandangan pulau yang indah, Riri


dan Ello sempat melihat gua di dekat tebing pulau. Saat itu kondisi air laut


sedang surut. Gua itu terlihat jelas dari tempat mereka lewat.


“Ada gua disana, yank!” teriak Riri mengimbangi


angin yang menderu.


“Ya! Tapi berbahaya kalau kita masuk kesana! Nggak


tahu guanya tembus apa nggak!” teriak Ello juga.


Mereka melanjutkan berkeliling pulau karena Dion

__ADS_1


memperingatkan mereka untuk tidak mendekati pulau itu. Hanya Dion yang


mengikuti mereka karena speed boat yang mereka miliki hanya dua. Kembali ke tempat


kapal bersandar, Riri ingin buang air kecil. Ia segera berjalan cepat menuju


toilet di dalam kamar setelah speed boat yang dikemudikan Ello merapat ke


kapal. Ello daan Dion berjalan santai sambil mengobrol, mereka menuju bar


karena ingin minum dulu.


“Harusnya lo ajak Lili kesini. Siapa tau anak


keempat lo bisa jadi,” canda Ello.


“Lo pikir Lili itu kucing. Beranak terus. Kasian


kali. Tiga aja sudah cukup. Nanti gue minta Devina bikin anak yang banyak sama


Juan. Sama aja kan ngurus cucu sama ngurus anak,” sahut Dion.


“Enak banget lo, Devina udah ketemu jodoh. Lah,


anak gue masih kuliah. Apa gue suruh kawin muda aja ya?” tanya Ello.


“Tanya dulu sama emaknya. Dikasi nggak, ntar nggak


dikasi jatah sebulan, kelar lo,” ucap Dion.


Ello mengangguk setuju. Mereka melakukan cheers


sebelum meneguk minuman mereka masing-masing. Cukup lama menunggu Riri yang


tidak kunjung kembali dari toilet, Ello memutuskan mencari istrinya itu di


kamar mereka.


“Sayang? Kamu dimana?” tanya Ello ketika membuka


pintu kamar. Kamar itu sepi, tidak ada Riri disana. Ello mendekati kamar mandi


yang terdengar gemericik air. “Yank, kamu mandi ya?” tanya Ello.


Hening. Tidak ada jawaban dari dalam sana. Ello


cepat-cepat membuka pintu kamar mandi, hanya air shower yang mengucur tanpa


Riri di dalam sana.


“Riri! Riri!” panggil Ello yang mulai panik. Ia


memeriksa sampai ke kolong tempat tidur, tapi Riri tidak ada di dalam kamarnya.


Dion yang menyusul Ello, segera mendekat saat


mendengar teriakan Ello. “Apa yang terjadi?” tanya Dion setelah membuka pintu


kamar Ello.


“Riri tidak ada, Dion. Kemana dia?” kata Ello  mulai panik.


Dion segera mengontak anak buahnya, memeriksa yang


tidak menjawab. Ia segera berlari ke belakang kapal tempat speed boat dan


melihat anak buahnya tergeletak di dek kapal.


“Kapten!” teriak Dion memberi peringatan sambil


terus mencari keberadaan Riri.


Ia melihat di kejauhan, sebuah perahu motor tampak


membawa Riri menuju ke sebuah kapal yang cukup jauh dari mereka. Riri tampak


melambaikan tangannya pada Dion dengan mulut dibekap kain. Kapal segera


bergerak menyusul perahu motor itu. Sementara Dion bersiap-siap membawa


peralatan selamnya naik keatas speed boat.


“Dion, mana Riri!” teriak Ello yang menyusul ke


belakang kapal.


“Dia dibawa perahu motor itu. Lo tunggu disini,


minta bantuan. Gue nyusul Riri kesana,” perintah Dion tegas sambil menangkap


senjata yang lemparkan Kapten Bonbon kearahnya.


“Gue ikut!” pinta Ello.


Dion memerintahkan anak buahnya menahan Ello,


Kapten Bonbon memerintahkan anak buahnya yang cukup lihai berkelahi untuk ikut


menemani Dion.


“Lo tunggu signal dari gue baru mendekat ya,” kata


Dion pada Kapten Bonbon.


Kapten itu mengacungkan jempolnya, lalu segera


kembali ke anjungan untuk mengendalikan kapal kembali. Ello memilih ikut ke


anjungan untuk mengecek lewat teropong. Ia bisa melihat Riri dibawa naik ke


sebuah kapal di seberang sana. Dion mengejar penculik Riri dengan memakai speed


boat.


Tiba-tiba hujan mulai turun, Ello kesulitan melihat


melalui teropong saking lebatnya hujan itu.


“Sepertinya akan ada badai, tuan Ello. Sebaiknya tuan

__ADS_1


duduk dulu, kapalnya akan sedikit goyang dengan ombak sebesar ini.” Kapten


Bonbon mengemudikan kapal semakin mendekati kapal di depan mereka.


__ADS_2