Duren Manis

Duren Manis
Lelah menghindar


__ADS_3

Lelah menghindar


Dion : “Kamu kan sudah setuju.”


Lili : “Kamu janji cuma tidur aja ya. Jangan pegang-pegang.”


Dion : “Iya. Numpang tidur aja.”


Lili mengeringkan tangannya, nonanya sudah tidak memerlukan dirinya lagi kalau tuan mudanya sudah pulang. Riri akan sibuk mengurus Elo dan tidak sempat lagi menemui Lili. Dion mengikuti Lili masuk ke


kamar gadis itu.


Ia mengambil piyama tidurnya dan berganti pakaian di kamar mandi. Ketika Lili keluar dari kamar mandi, ia melihat Dion sudah tertidur pulas diatas tempat tidurnya.


Lili : “Tidurnya cepat sekali.”


Lili keluar dari kamarnya, ia menuju kamar Dion dan berhenti tepat di depan kamar Riri dan Elo. Lili menajamkan telinganya ketika mendengar suara-suara ajaib dari dalam sana. Ia segera berbalik, dan duduk di


sofa ruang TV.


Lili : “Pantas saja Dion gak bisa tidur. Berisik banget ternyata.”


Lili belum mengantuk, ia menghidupkan TV dan menonton drama komedi romantis yang kebetulan ditayangkan jam segitu. Sesekali ia tertawa kecil melihat tingkah kocak pemain drama itu. Lili membaringkan


tubuhnya ke sofa lebar itu, ia tetap menonton dan terus saja terkikik geli. Sampai dirinya tidak sadar sudah ketiduran di sofa itu.


Ceklek! Pintu kamar Riri terbuka, Riri berjalan keluar kamarnya untuk mengambil air putih. Ia menghidupkan lampu di dapur dan melihat seseorang tertidur di sofa. Riri mendekati sofa itu dan tersenyum


melihat Lili tertidur lelap dalam dekapan Dion. Tubuh keduanya tertutup selimut tebal.


Riri : “Kenapa mereka malah tidur disini? Lucunya.”


Riri mengambil ponselnya di dalam kamar, ia keluar lagi dan sibuk mengambil foto mereka berdua. Tring! Ponsel Riri berbunyi tanda chat masuk. Riri mengkerutkan keningnya melihat chat masuk dari nomor tidak


dikenal. ‘Ri, tolong aku. Elena.’ Riri tertegun melihat foto Elena yang tampak babak belur, menyertai chat itu.


Riri menutup mulutnya, ia masuk ke dalam kamar dan mencoba membangunkan Elo.


Riri : “Mas, bangun bentar. Mas. Lihat ini bentar.”


Elo : “Hmm, apa, sayang?”


Elo memicingkan matanya melihat foto dan chat dari Elene. Ia meletakkan ponsel Riri di atas nakas dan menarik tubuh istrinya agar berbaring di sampingnya.


Riri : “Mas, kita gak nolong dia?”


Elo : “Pasti sudah ada yang membantunya.”

__ADS_1


Riri : “Tapi, mas? Kasian dia.”


Elo : “Dengar, Ri. Setiap anggota keluarga kita sudah diawasi oleh orang-orang terpercaya. Jadi mereka bisa langsung memberi tahu Pak Kim kalau terjadi sesuatu. Dia pasti sudah dibantu, kamu gak usah


mikiran dia lagi ya. Mending tidur aja.”


Elo memeluk tubuh Riri dengan erat, membiarkan Riri melamunkan kata-kata Elo dan akhirnya terlelap sendiri.


*****


Gadis merapikan meja Alex yang berantakan karena banyaknya dokumen yang harus ia tanda tangani. Alex tampak merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Alex : “Gimana Gadis? Sudah bisa kerjanya?”


Gadis : “Iya, pak. Saya kira akan sulit sekali. Tapi tidak juga. Saya senang sekali diperbolehkan magang disini.”


Alex : “Terus belajar ya. Kembalikan dokumen itu ke meja Romi dan kasi kertas ini untuk Rio.”


Gadis menerima kertas itu dan melihat isinya sekilas, itu semacam surat tagihan untuk apartment. Gadis membawa tumpukan dokumen keluar dari ruangan Alex. Ia masuk ke ruang kerja Romi dan hanya


menemukan Rio disana.


Gadis : “Rio, ini dokumennya sudah di tanda tangan Pak Alex. Taruh dimana?”


Rio : “Sini bawa.”


Rio : “Bawa dokumen itu ke ruang kerja Pak Alex.”


Rio menunjuk dokumen yang menumpuk di sudut meja Romi. Gadis menarik nafas dan mengerjakan apa yang diminta Rio dengan cepat. Ia benar-benar ingin duduk karena sudah sangat lelah terus berdiri dengan sepatu hak-nya.


Setelah selesai, Gadis kembali duduk di mejanya. Ia mengurut kakinya yang nyeri dan ingin minum. Gadis mengambil gelas minumnya yang kosong, ia harus berjalan ke pantry yang letaknya di dekat toilet untuk


mengambil air. Padahal ia sudah sangat haus.


Baru saja ia ingin berdiri, seseorang menyodorkan botol minum padanya.


Rio : “Minum ini.”


Gadis : “Gak, makasih. Aku mau ke pantry.”


Rio : “Minum aja. Ribet banget. Kita rekan kerja disini. Kamu bisa ngusahin aku kalau kamu pingsan ntar.”


Gadis mengambil botol minuman yang disodorkan Rio dan menghabiskannya sekaligus. Rio tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Gadis mengusap sudut bibirnya yang basah oleh air. Ia menghela nafas


lega dan merasakan panas pada tubuhnya setelah minum.


Romi datang kembali dan meminta mereka pulang karena sudah jam pulang. Gadis berpamitan dengan cepat, ia merasa sangat lelah sampai-sampai takut akan tertidur dalam perjalanan pulang nanti.

__ADS_1


Gadis turun sampai ke parkiran mobil. Ia masuk ke mobilnya dan bersandar setelah melepaskan sepatu hak-nya. Suasana yang sejuk membuat Gadis mengantuk. Ia nyaris tertidur di mobilnya kalau kaca mobilnya


tidak diketuk seseorang.


Rio : “Jangan tidur disini. Ayo.”


Gadis : “Hmm?”


Gadis setengah sadar saat Rio membuka pintu mobilnya dan menariknya keluar dari mobil. Gadis mencoba membuka matanya, ia mendorong Rio dan ingin masuk ke dalam mobilnya lagi. Tapi Rio malah membuka


pintu belakang mobil Gadis dan mendudukan gadis itu disana.


Rio mengendarai mobil Gadis menuju rumah gadis itu, sementara Gadis sudah tertidur lelap di kursi belakang. Rio mengantar Gadis pulang lagi. Sampai di depan rumah Gadis, Rio menekan klakson mobil. Security membuka pintu karena melihat mobil Gadis dan Rio memarkir mobil itu di dekat


pintu masuk.


Rio : “Sore, pak. Saya nganterin Gadis. Dia kecapean kerja, itu lagi tidur di kursi belakang.”


Security menanyakan nama Rio setelah memeriksa keadaan majikannya.


Rio : “Saya Rio, teman kampusnya Gadis. Saya permisi dulu, ya pak.”


Rio keluar dari rumah Gadis dan kembali ke apartment Alex dengan menumpang ojol. Setelah Kaori meninggal, Rio berpindah-pindah tempat tinggal. Kadang di rumah Kaori, kadang di asrama,


kadang di apartment Alex, atau pulang ke rumah Alex.


Seperti sekarang ketika ia merindukan Kaori, Rio akan tinggal di apartment Alex. Ia mengenang hari-hari terakhirnya bersama Kaori disana ketika mereka tidur sambil berpelukan. Rio sudah tidak bisa


menangis lagi. Air matanya sudah kering ketika Kaori meninggal. Disaat yang


bersamaan, hatinya menjadi beku karena kehilangan kekasihnya.


Rio merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia hanya melepas jas dan sepatunya. Kamar itu masih tercium wangi Kaori karena parfum Kaori tertinggal disana. Foto Kaori kini terpasang di dinding kamar itu dengan


beberapa barang milik Kaori yang terpasang rapi di bawahnya.


Rio tersenyum melihat foto Kaori,


Rio : “Kamu lagi ngapain, sayang? Biasanya jam segini kita lagi makan malam sama-sama.”


Rio tidak beranjak dari tempat tidur itu, ia terus bicara pada foto Kaori seolah kekasihnya itu mengajaknya bicara. Tanpa sadar dirinya mulai tertidur lelap tanpa mandi dan makan.


*****


Ntar Rio bisa sakit kalo terus gini, iya gak?


Klik profil author ya, ada novel karya author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2