
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 25
“Apa kau yakin, Ken?” tanya Rio ragu. Bisa saja Ken
berbohong untuk tetap bisa melamar Kaori.
“Tepat sebelum kakek menandatangani surat wasiat
peralihan harta itu, kakek Martin mengatakan semuanya padaku. Kakek Martin
sudah tahu sejak awal kalau aku bukanlah cucu kandungnya. Tapi kakek Martin tetap
mewariskan semuanya padaku. Alasannya... kakek Martin tidak mau mengatakannya.”
Ken berhenti bicara, ia terlalu pusing untuk melanjutkan kebohongan itu. Pertama
ia berbohong tentang orang tua kandungnya. Dan yang kedua ia berbohong tentang
alasan kakek Martin menyerahkan semua hartanya pada Ken.
“Tidak ada bukti yang menunjukkan kata-katamu
benar, Ken,” kata Rio.
“Apa sebuah tes DNA cukup? Itu kan, yang bisa
membuktikan kebenaran. Kalau tanya ke rumah sakit, mereka akan tetap bilang
orang tua kandungku adalah Endy dan Kinanti.” Ken berpikir cepat dan pintar.
Rio mempertimbangkan tentang tes DNA dan meminta
sampel dari Ken dan Endy. Ken tanpa ragu mencabut rambutnya. “Ini sampelku dan
untuk sampel dari papa Endy, kak Rio bisa mendapatkannya di mansion. Mereka
berdua selalu memakai sisir yang sama,” kata Ken.
Rio tidak mau pergi ke mansion Endy, ia meminta Ken
yang mengambil sisir itu. Untuk sementara Rio minta pada Ken agar tidak menemui
Kaori dulu. Tapi pria yang sangat keras kepala itu menunjukkan wajah imutnya
pada Mia yang jadi tidak tega dan mengijinkan Ken menemui Kaori sekali lagi.
“Biarkan mereka bertemu sebentar, Rio. Mama takut
Kaori semakin bingung dan jadi sedih lagi. Ken, jangan bicara tentang hal ini pada
Kaori. Bilang saja ada kesalahpahaman antara Rio dan Endy. Kaori bisa mengerti
kalau penghalang kalian adalah orang tua. Sampai hasil tes DNA itu keluar, kita
bisa menjaga Kaori tetap tenang. Apa kalian mengerti?” tanya Mia.
Ken mengangguk, ia ingin keluar lebih dulu. Tidak
sabaran ingin bertemu lagi dengan Kaori, tapi Alex menahannya. Alex dan Mia
masih ingin bicara dengan Ken. Rio dan Gadis keluar lebih dulu. Mereka akan
membawa Kaori ke ruang baca itu sehingga Ken tidak perlu ke kamar Kaori.
Setelah mereka tinggal bertiga, Mia langsung
memeluk Ken sambil menangis. “Kenapa, Ken?” tanya Mia sedih.
“Tunggu, tante.” Ken mengutak-atik ponselnya. Entah
apa yang ia lakukan, senyum tengil merekah di bibirnya.
“Kamu ngapain sich? Lihat tuch...” Alex
menghentikan kata-katanya ketika Ken meminta Alex untuk diam dulu. Alex ingin
mengatakan kalau Mia sudah sampai menangis tapi Ken malah sibuk dengan
ponselnya. Ken masih melakukan sesuatu dengan ponselnya lalu meminta Alex duduk
bersamanya di sofa besar.
“Nah, sudah aman. Mama, aku kangen,” ucap Ken sambil
memeluk Mia balik, membuat Alex menepuk kepala Ken.
“Dasar anak nakal!” ucap Alex keki.
“Ada apa, Ken? Kamu ngapain barusan? Anak mama...,”
tanya Mia bingung tapi kegirangan karena Ken memanggilnya mama.
“Ada yang nguping, mah. Bisa gawat kalau ketahuan
rahasia kita yang satunya lagi.” Ken meletakkan telunjuknya di depan bibir. “Tapi
tenang, aku sudah memblokir aksesnya. Dia tidak akan bisa mendengarkan kita
untuk sementara ini.”
“Siapa kira-kira ya? Tapi nggak penting dibahas
sekarang. Sekarang kamu harus jelasin kenapa ngomong begitu tadi? Jelas-jelas
kamu adalah anak kandung kami, Ken. Rio dan Gadis berhak tahu kalau kamu adalah
adik mereka.” Alex masih tidak terima karena Ken tidak mengakuinya sebagai
papa.
“Anggap saja aku menjaga perasaan saudaraku yang tertukar,
pah. Aku nggak bisa bilang kalau aku adalah anak kandung mama Mia sama papa
Alex. Bagaimana dengan Renata? Aku bisa menjaga perasaan Kaori, kenapa aku
nggak bisa menjaga perasaan Renata juga?” jelas Ken sambil mengusap air mata di
wajah Mia.
__ADS_1
“Tapi, Ken... Kamu, anak kami juga. Kenapa jadi
seperti orang asing?” tanya Mia sedih.
“Kalau aku menikah dengan Kaori, apa aku tetap akan
jadi orang asing? Setidaknya aku akan jadi cucu menantu kan?” kata Ken masih
sempat bercanda. “Buatku yang penting mama sama papa tahu yang sebenarnya.
Kasih sayang kalian nggak akan berkurang juga kan? Jadi buat apa dunia tahu
yang sebenarnya.”
Sejujurnya, Ken belum mau membongkar rahasia
kelahiran Renata dan dirinya saat ini karena ingin memberi Reynold pelajaran. Keponakan kurang ajar itu akan kena
batunya ketika ia merasakan penolakan dari keluarganya sendiri nanti. Meskipun
tidak mengatakan apa-apa, Ken tahu kalau Reynold sangat mencintai Renata
melebihi apapun di dunia. Pria itu sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan
Renata, meskipun hubungan mereka adalah tante dan keponakan. Dalam hatinya Ken
tertawa sangat puas bisa mengerjai Reynold habis-habisan nanti.
Mia yang masih sedih, memeluk Ken lebih erat. Ia
ingin sekali mendengar Ken memanggilnya mama. Tapi Ken benar, kebenaran hanya
akan membuat Renata sedih. Kaori dan Renata akan hancur ketika mereka tahu yang
sebenarnya. Memiliki orang tua yang tidak menginginkan mereka hanya demi
mendapatkan harta.
“Kamu anak yang sangat baik, Ken. Rela berkorban
untuk saudaramu yang lain. Papa bangga sama kamu, nak. Tapi cepat atau lambat,
rahasia ini harus terbongkar juga. Papa tidak mau Kaori ataupun Renata pergi
dari rumah papa dan kembali pada orang tua kandung mereka. Mereka berdua
tetaplah cucu dan anak dimata papa. Kamu juga akan selalu diterima di rumah
papa, nak,” ucap Alex membuat Ken terharu.
Ketiganya sibuk bertangis-tangisan sampai melupakan
kalau Kaori sedang diantar ke ruang baca. Ponsel Ken berbunyi, memberi
peringatan kalau pemblokiran akses yang ia lakukan hampir berhasil dibobol. Ken
cepat-cepat meminta Alex dan Mia untuk menghentikan pembicaraan mereka dan
bersikap biasa saja. Mereka bertiga menoleh ketika pintu ruang baca diketuk
seseorang.
dan Mia beranjak keluar dari sana. Rio sampai harus ditarik Mia karena tidak
mau meninggalkan Kaori berdua saja dengan Ken. Pria itu tidak percaya pada Ken.
“Ken, apa yang terjadi? Apa lamaranmu ditolak? Papa
sama mama bilang kalau kalian sudah membicarakannya, tapi nggak mau bilang
gimana keputusan akhirnya. Ken...,” panggil Kaori cemas.
“Apa kamu setuju untuk menikah denganku, Kaori?”
tanya Ken menenangkan Kaori.
“Aku harus jawab sekarang?” tanya Kaori malu.
“Jawabanmu akan menentukan bagaimana keputusan
orang tuamu, Kaori,” kata Ken berbelit-belit.
Kaori mengangguk malu-malu, dan sekali lagi, Ken
mencium bibir gadis itu. Menekan tengkuk Kaori untuk memperdalam ciuman mereka
sampai Kaori tersedak dan terbatuk-batuk.
“Uhuk! Uhuk! Ken, sabar sedikit,” ucap Kaori lirih.
“Aku takut nggak bisa cium kamu lagi dalam waktu
dekat. Kamu tahu nggak kalau ternyata papamu dan papaku pernah ada konflik.
Sampai sekarang mereka masih perang dingin. Jadinya lamaranku harus dipending
dulu,” kata Ken sedikit berbohong lagi.
“Hah?! Kok bisa? Konflik apa?” tanya Kaori kepo.
“Entahlah. Papamu nggak mau cerita. Coba ntar aku
tanya papaku dulu ya. Tapi kayaknya nggak bakalan dapat jawaban dech,” ucap Ken
sambil mengelus pipi Kaori.
“Coba aku yang tanya papaku nanti. Ken, kita nggak
jadi nikah ya?” tanya Kaori mulai sedih.
“Kamu kebelet kawin ya?” goda Ken membuat Kaori
mencubit lengan pria itu sampai tubuh Ken melintir-melintir.
Kaori mengomeli Ken karena menggodanya. Ia hanya
bertanya jadi atau tidak mereka menikah, tapi Ken malah menanyakan hal yang
aneh-aneh. Ken sampai meringis kesakitan karena Kaori mencubitnya tanpa ampun. Akhirnya
__ADS_1
Ken terpaksa harus menangkap tangan Kaori dan memeluknya erat. Ken meminta maaf
karena lamarannya pada Kaori harus tertunda. Ia mengatakan kalau Rio akan
mengabari Ken secepatnya untuk menjawab lamaran Ken pada Kaori.
“Kita berharap saja kalau papamu tidak menolak
lamaranku ya. Tapi selama nunggu, aku nggak boleh ketemu kamu dulu. Rasanya aku
mau bawa kamu lari sekarang juga. Gimana kalau kita kawin lari?” tanya Ken
kumat jahilnya.
“Emangnya bisa? Gimana caranya?” tanya Kaori kelewat
polos.
Ken menepuk keningnya hingga menimbulkan suara plak
yang cukup keras. Kaori yang kaget spontan melepaskan pelukannya.
“Suara apa itu, Ken? Ada nyamuk ya?” tanya Kaori.
“Iya, nyamuknya gede banget. Saking gedenya bisa
kupeluk,” kata Ken asal.
Kaori mencubit lengan Ken lagi, sebenarnya Kaori
hanya asal mencubit saja. Ia mulai ketagihan mencubiti Ken karena gemas dengan
pria itu.
“Kaori, aku bisa kempes kalo dicubitin terus. Sakit.
Kulitku merah-merah nich,” rengek Ken manja.
“Uuhhh... bayi besarku yang tampan. Gemes banget.
Bisa-bisanya kamu ngerengek gitu.” Kaori mengusap-usap lengan Ken.
Ken menatap wajah cantik Kaori yang masih
tersenyum. Banyak hal yang harus dipersiapkan Ken sebelum Kaori menjadi
istrinya kelak. Setidaknya Kaori harus ditemani seseorang yang bisa dipercaya
dan menguasai ilmu bela diri. Setelah Ken mengambil alih kendali terhadap
perusahaan kakek Martin, ia baru mengetahui kalau selama ini perusahaan itu
menjadi tidak terkalahkan karena dukungan dari organisasi hitam milik nenek
Almira.
Hampir setiap hari Ken menghadapi ancaman yang
bukan sekedar ancaman. Untuk itulah ia selalu membawa pistol di jas dan
tas-nya. Meskipun belum sampai melukai seseorang, Ken harus selalu waspada untuk
melindungi dirinya sendiri dari saingan bisnis ataupun musuh organisasi hitam
nenek Almira.
Sampai saat ini kekuasaan organisasi hitam itu masih
tetap dipegang nenek Almira. Bukan berarti seluruh organisasi tidak mengetahui
kalau Ken adalah pewaris berikutnya. Ken masih memerlukan waktu untuk bisa
diterima di dalam organisasi karena sesungguhnya kedudukan di dalam organisasi
didapatkan dengan kerja keras dan bukanlah sebuah warisan.
“Ken, kenapa kamu diam saja? Lapar ya?” tanya Kaori
yang tidak mendengar suara Ken.
“Kaori, aku ingin mencari seorang bodyguard untuk
melindungimu. Kalau kita menikah nanti, kamu akan dikenal orang sebagai istri
Ken Wiranata. Keamananmu akan menjadi prioritas para bodyguardku.Tapi karena pekerjaanku,
kita mungkin akan jarang bertemu. Aku tidak akan tenang meninggalkanmu di rumah
kalau tidak ada seseorang yang menjagamu,” ucap Ken.
“Ken, apa aku boleh minta dua syarat untuk pernikahan
kita?” tanya Kaori setelah mendengar alasan Ken.
Ken membetulkan posisi duduknya menghadap kepada
Kaori. Ia siap mendengarkan permintaan gadis pujaannya itu dengan serius. Kaori
menarik nafas perlahan sebelum mulai bicara.
“Pertama, aku tidak ingin pernikahan yang terlalu
mewah. Aku mengerti kalau tuan besar mungkin tidak akan setuju, tapi aku tidak
mau pernikahan dengan banyak undangan. Tidak nyaman bagiku untuk bersalaman
dengan banyak orang yang tidak aku kenal. Kedua, kalau kamu memang sangat sibuk
bekerja, aku ingin tinggal di rumah opa sambil menunggumu pulang. Apa
permintaanku berlebihan, Ken?” tanya Kaori sedikit tegang.
“Jadi, kita bisa melakukannya di malam pertama?”
tanya Ken malah fokus memikirkan hal lain.
Ken sempat berpikir kalau Kaori akan meminta
menunda malam pertama mereka sampai ia siap. Tapi sepertinya Ken tidak perlu
__ADS_1
menunggu lama untuk itu.