Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 25


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 25


“Apa kau yakin, Ken?” tanya Rio ragu. Bisa saja Ken


berbohong untuk tetap bisa melamar Kaori.


“Tepat sebelum kakek menandatangani surat wasiat


peralihan harta itu, kakek Martin mengatakan semuanya padaku. Kakek Martin


sudah tahu sejak awal kalau aku bukanlah cucu kandungnya. Tapi kakek Martin tetap


mewariskan semuanya padaku. Alasannya... kakek Martin tidak mau mengatakannya.”


Ken berhenti bicara, ia terlalu pusing untuk melanjutkan kebohongan itu. Pertama


ia berbohong tentang orang tua kandungnya. Dan yang kedua ia berbohong tentang


alasan kakek Martin menyerahkan semua hartanya pada Ken.


“Tidak ada bukti yang menunjukkan kata-katamu


benar, Ken,” kata Rio.


“Apa sebuah tes DNA cukup? Itu kan, yang bisa


membuktikan kebenaran. Kalau tanya ke rumah sakit, mereka akan tetap bilang


orang tua kandungku adalah Endy dan Kinanti.” Ken berpikir cepat dan pintar.


Rio mempertimbangkan tentang tes DNA dan meminta


sampel dari Ken dan Endy. Ken tanpa ragu mencabut rambutnya. “Ini sampelku dan


untuk sampel dari papa Endy, kak Rio bisa mendapatkannya di mansion. Mereka


berdua selalu memakai sisir yang sama,” kata Ken.


Rio tidak mau pergi ke mansion Endy, ia meminta Ken


yang mengambil sisir itu. Untuk sementara Rio minta pada Ken agar tidak menemui


Kaori dulu. Tapi pria yang sangat keras kepala itu menunjukkan wajah imutnya


pada Mia yang jadi tidak tega dan mengijinkan Ken menemui Kaori sekali lagi.


“Biarkan mereka bertemu sebentar, Rio. Mama takut


Kaori semakin bingung dan jadi sedih lagi. Ken, jangan bicara tentang hal ini pada


Kaori. Bilang saja ada kesalahpahaman antara Rio dan Endy. Kaori bisa mengerti


kalau penghalang kalian adalah orang tua. Sampai hasil tes DNA itu keluar, kita


bisa menjaga Kaori tetap tenang. Apa kalian mengerti?” tanya Mia.


Ken mengangguk, ia ingin keluar lebih dulu. Tidak


sabaran ingin bertemu lagi dengan Kaori, tapi Alex menahannya. Alex dan Mia


masih ingin bicara dengan Ken. Rio dan Gadis keluar lebih dulu. Mereka akan


membawa Kaori ke ruang baca itu sehingga Ken tidak perlu ke kamar Kaori.


Setelah mereka tinggal bertiga, Mia langsung


memeluk Ken sambil menangis. “Kenapa, Ken?” tanya Mia sedih.


“Tunggu, tante.” Ken mengutak-atik ponselnya. Entah


apa yang ia lakukan, senyum tengil merekah di bibirnya.


“Kamu ngapain sich? Lihat tuch...” Alex


menghentikan kata-katanya ketika Ken meminta Alex untuk diam dulu. Alex ingin


mengatakan kalau Mia sudah sampai menangis tapi Ken malah sibuk dengan


ponselnya. Ken masih melakukan sesuatu dengan ponselnya lalu meminta Alex duduk


bersamanya di sofa besar.


“Nah, sudah aman. Mama, aku kangen,” ucap Ken sambil


memeluk Mia balik, membuat Alex menepuk kepala Ken.


“Dasar anak nakal!” ucap Alex keki.


“Ada apa, Ken? Kamu ngapain barusan? Anak mama...,”


tanya Mia bingung tapi kegirangan karena Ken memanggilnya mama.


“Ada yang nguping, mah. Bisa gawat kalau ketahuan


rahasia kita yang satunya lagi.” Ken meletakkan telunjuknya di depan bibir. “Tapi


tenang, aku sudah memblokir aksesnya. Dia tidak akan bisa mendengarkan kita


untuk sementara ini.”


“Siapa kira-kira ya? Tapi nggak penting dibahas


sekarang. Sekarang kamu harus jelasin kenapa ngomong begitu tadi? Jelas-jelas


kamu adalah anak kandung kami, Ken. Rio dan Gadis berhak tahu kalau kamu adalah


adik mereka.” Alex masih tidak terima karena Ken tidak mengakuinya sebagai


papa.


“Anggap saja aku menjaga perasaan saudaraku yang tertukar,


pah. Aku nggak bisa bilang kalau aku adalah anak kandung mama Mia sama papa


Alex. Bagaimana dengan Renata? Aku bisa menjaga perasaan Kaori, kenapa aku


nggak bisa menjaga perasaan Renata juga?” jelas Ken sambil mengusap air mata di


wajah Mia.

__ADS_1


“Tapi, Ken... Kamu, anak kami juga. Kenapa jadi


seperti orang asing?” tanya Mia sedih.


“Kalau aku menikah dengan Kaori, apa aku tetap akan


jadi orang asing? Setidaknya aku akan jadi cucu menantu kan?” kata Ken masih


sempat bercanda. “Buatku yang penting mama sama papa tahu yang sebenarnya.


Kasih sayang kalian nggak akan berkurang juga kan? Jadi buat apa dunia tahu


yang sebenarnya.”


Sejujurnya, Ken belum mau membongkar rahasia


kelahiran Renata dan dirinya saat ini karena  ingin memberi Reynold pelajaran. Keponakan kurang ajar itu akan kena


batunya ketika ia merasakan penolakan dari keluarganya sendiri nanti. Meskipun


tidak mengatakan apa-apa, Ken tahu kalau Reynold sangat mencintai Renata


melebihi apapun di dunia. Pria itu sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan


Renata, meskipun hubungan mereka adalah tante dan keponakan. Dalam hatinya Ken


tertawa sangat puas bisa mengerjai Reynold habis-habisan nanti.


Mia yang masih sedih, memeluk Ken lebih erat. Ia


ingin sekali mendengar Ken memanggilnya mama. Tapi Ken benar, kebenaran hanya


akan membuat Renata sedih. Kaori dan Renata akan hancur ketika mereka tahu yang


sebenarnya. Memiliki orang tua yang tidak menginginkan mereka hanya demi


mendapatkan harta.


“Kamu anak yang sangat baik, Ken. Rela berkorban


untuk saudaramu yang lain. Papa bangga sama kamu, nak. Tapi cepat atau lambat,


rahasia ini harus terbongkar juga. Papa tidak mau Kaori ataupun Renata pergi


dari rumah papa dan kembali pada orang tua kandung mereka. Mereka berdua


tetaplah cucu dan anak dimata papa. Kamu juga akan selalu diterima di rumah


papa, nak,” ucap Alex membuat Ken terharu.


Ketiganya sibuk bertangis-tangisan sampai melupakan


kalau Kaori sedang diantar ke ruang baca. Ponsel Ken berbunyi, memberi


peringatan kalau pemblokiran akses yang ia lakukan hampir berhasil dibobol. Ken


cepat-cepat meminta Alex dan Mia untuk menghentikan pembicaraan mereka dan


bersikap biasa saja. Mereka bertiga menoleh ketika pintu ruang baca diketuk


seseorang.


dan Mia beranjak keluar dari sana. Rio sampai harus ditarik Mia karena tidak


mau meninggalkan Kaori berdua saja dengan Ken. Pria itu tidak percaya pada Ken.


“Ken, apa yang terjadi? Apa lamaranmu ditolak? Papa


sama mama bilang kalau kalian sudah membicarakannya, tapi nggak mau bilang


gimana keputusan akhirnya. Ken...,” panggil Kaori cemas.


“Apa kamu setuju untuk menikah denganku, Kaori?”


tanya Ken menenangkan Kaori.


“Aku harus jawab sekarang?” tanya Kaori malu.


“Jawabanmu akan menentukan bagaimana keputusan


orang tuamu, Kaori,” kata Ken berbelit-belit.


Kaori mengangguk malu-malu, dan sekali lagi, Ken


mencium bibir gadis itu. Menekan tengkuk Kaori untuk memperdalam ciuman mereka


sampai Kaori tersedak dan terbatuk-batuk.


“Uhuk! Uhuk! Ken, sabar sedikit,” ucap Kaori lirih.


“Aku takut nggak bisa cium kamu lagi dalam waktu


dekat. Kamu tahu nggak kalau ternyata papamu dan papaku pernah ada konflik.


Sampai sekarang mereka masih perang dingin. Jadinya lamaranku harus dipending


dulu,” kata Ken sedikit berbohong lagi.


“Hah?! Kok bisa? Konflik apa?” tanya Kaori kepo.


“Entahlah. Papamu nggak mau cerita. Coba ntar aku


tanya papaku dulu ya. Tapi kayaknya nggak bakalan dapat jawaban dech,” ucap Ken


sambil mengelus pipi Kaori.


“Coba aku yang tanya papaku nanti. Ken, kita nggak


jadi nikah ya?” tanya Kaori mulai sedih.


“Kamu kebelet kawin ya?” goda Ken membuat Kaori


mencubit lengan pria itu sampai tubuh Ken melintir-melintir.


Kaori mengomeli Ken karena menggodanya. Ia hanya


bertanya jadi atau tidak mereka menikah, tapi Ken malah menanyakan hal yang


aneh-aneh. Ken sampai meringis kesakitan karena Kaori mencubitnya tanpa ampun. Akhirnya

__ADS_1


Ken terpaksa harus menangkap tangan Kaori dan memeluknya erat. Ken meminta maaf


karena lamarannya pada Kaori harus tertunda. Ia mengatakan kalau Rio akan


mengabari Ken secepatnya untuk menjawab lamaran Ken pada Kaori.


“Kita berharap saja kalau papamu tidak menolak


lamaranku ya. Tapi selama nunggu, aku nggak boleh ketemu kamu dulu. Rasanya aku


mau bawa kamu lari sekarang juga. Gimana kalau kita kawin lari?” tanya Ken


kumat jahilnya.


“Emangnya bisa? Gimana caranya?” tanya Kaori kelewat


polos.


Ken menepuk keningnya hingga menimbulkan suara plak


yang cukup keras. Kaori yang kaget spontan melepaskan pelukannya.


“Suara apa itu, Ken? Ada nyamuk ya?” tanya Kaori.


“Iya, nyamuknya gede banget. Saking gedenya bisa


kupeluk,” kata Ken asal.


Kaori mencubit lengan Ken lagi, sebenarnya Kaori


hanya asal mencubit saja. Ia mulai ketagihan mencubiti Ken karena gemas dengan


pria itu.


“Kaori, aku bisa kempes kalo dicubitin terus. Sakit.


Kulitku merah-merah nich,” rengek Ken manja.


“Uuhhh... bayi besarku yang tampan. Gemes banget.


Bisa-bisanya kamu ngerengek gitu.” Kaori mengusap-usap lengan Ken.


Ken menatap wajah cantik Kaori yang masih


tersenyum. Banyak hal yang harus dipersiapkan Ken sebelum Kaori menjadi


istrinya kelak. Setidaknya Kaori harus ditemani seseorang yang bisa dipercaya


dan menguasai ilmu bela diri. Setelah Ken mengambil alih kendali terhadap


perusahaan kakek Martin, ia baru mengetahui kalau selama ini perusahaan itu


menjadi tidak terkalahkan karena dukungan dari organisasi hitam milik nenek


Almira.


Hampir setiap hari Ken menghadapi ancaman yang


bukan sekedar ancaman. Untuk itulah ia selalu membawa pistol di jas dan


tas-nya. Meskipun belum sampai melukai seseorang, Ken harus selalu waspada untuk


melindungi dirinya sendiri dari saingan bisnis ataupun musuh organisasi hitam


nenek Almira.


Sampai saat ini kekuasaan organisasi hitam itu masih


tetap dipegang nenek Almira. Bukan berarti seluruh organisasi tidak mengetahui


kalau Ken adalah pewaris berikutnya. Ken masih memerlukan waktu untuk bisa


diterima di dalam organisasi karena sesungguhnya kedudukan di dalam organisasi


didapatkan dengan kerja keras dan bukanlah sebuah warisan.


“Ken, kenapa kamu diam saja? Lapar ya?” tanya Kaori


yang tidak mendengar suara Ken.


“Kaori, aku ingin mencari seorang bodyguard untuk


melindungimu. Kalau kita menikah nanti, kamu akan dikenal orang sebagai istri


Ken Wiranata. Keamananmu akan menjadi prioritas para bodyguardku.Tapi karena pekerjaanku,


kita mungkin akan jarang bertemu. Aku tidak akan tenang meninggalkanmu di rumah


kalau tidak ada seseorang yang menjagamu,” ucap Ken.


“Ken, apa aku boleh minta dua syarat untuk pernikahan


kita?” tanya Kaori setelah mendengar alasan Ken.


Ken membetulkan posisi duduknya menghadap kepada


Kaori. Ia siap mendengarkan permintaan gadis pujaannya itu dengan serius. Kaori


menarik nafas perlahan sebelum mulai bicara.


“Pertama, aku tidak ingin pernikahan yang terlalu


mewah. Aku mengerti kalau tuan besar mungkin tidak akan setuju, tapi aku tidak


mau pernikahan dengan banyak undangan. Tidak nyaman bagiku untuk bersalaman


dengan banyak orang yang tidak aku kenal. Kedua, kalau kamu memang sangat sibuk


bekerja, aku ingin tinggal di rumah opa sambil menunggumu pulang. Apa


permintaanku berlebihan, Ken?” tanya Kaori sedikit tegang.


“Jadi, kita bisa melakukannya di malam pertama?”


tanya Ken malah fokus memikirkan hal lain.


Ken sempat berpikir kalau Kaori akan meminta


menunda malam pertama mereka sampai ia siap. Tapi sepertinya Ken tidak perlu

__ADS_1


menunggu lama untuk itu.


__ADS_2