
Papa dan
mama Anisa terdiam mendengarkan cerita Guntur, Anisa hanya menambahkan beberapa
hal yang tadi belum sempat ia ceritakan pada Guntur. Dan Guntur menceritakan
semua yang terjadi termasuk apa yang terjadi di dalam kamar penthouse tanpa
menutupi apapun.
Anisa
merona mendengar cerita Guntur, bagaimana pun mereka belum sah sebagai suami
istri. Tapi ia mencoba memaklumi Guntur hanya berusaha menjaga kehormatannya.
Papa
Anisa : “Jadi, kalian sudah...”
Guntur :
“Kami tidak melakukan apa-apa, om. Anisa masih utuh seperti sebelumnya. Saya
mohon maaf karena sudah bertindak kurang ajar membuka pakaian Anisa.”
Guntur
mengatakan itu tanpa keraguan dan ketakutan sama sekali. Ia menunduk setelah
menatap mata papa Anisa.
Papa
Anisa : “...Ah, sudahlah. Toh, kalian akan segera menikah. Anisa juga tidak
keberatan kan?”
Anisa : “Lebih
baik begitu daripada Anisa kehilangan kehormatan Anisa, pah.”
Papa
Anisa : “Lalu perempuan tadi itu temanmu?”
Anisa : “Pah,
mah. Perempuan tadi itu yang ngajak Anisa makan. Makanya Anisa kesel sama dia.”
Papa
Anisa : “Tadi dia sudah cerita kalau dia diancam sama Jhon, nak.”
Anisa : “Tapi
dari yang Anisa denger tadi gak seperti itu, iya kan, Guntur?”
Guntur :
“Iya, om. Tapi sebaiknya kamu gak usah menanggapi dia lagi, Nisa.”
Anisa : “Iya,
Tur. Aku akan lebih selektif kedepannya.”
Mama
Anisa : “Tur, Tur, panggil yang lain kenapa sich, nak.”
Anisa : “Anisa
biasa manggil Guntur gitu dari dulu, mah.”
Mama
Anisa : “Kalian kan sebentar lagi mau nikah, panggil mas gitu loh.”
Anisa : “Mas?
Tapi kami kan seumuran, mah. Masa manggil mas.”
Guntur :
“Gak pa-pa, tante.”Guntur tersenyum, memaklumi Anisa.
Anisa
tersenyum melihat Guntur yang menatapnya juga. Keduanya tidak menyangka akan
dipertemukan lagi dan akan segera bersatu dalam ikatan pernikahan.
Anisa: “Ma,
Guntur belum makan, Nisa ajak makan dulu ya.”
Mama
Anisa : “Iya, nak Guntur makan aja dulu ya.”
Guntur :
“Maaf merepotkan, tante, om.”
Anisa
dan Guntur berjalan ke meja makan dan Anisa melayani Guntur makan. Ia
mengambilkan piring, nasi, dan lauk pauk. Anisa juga menuangkan air putih untuk
Guntur.
Anisa : “Makanlah,
Tur... mas...”
Anisa
merasa merinding saat mencoba memanggil Guntur dengan embel-embel mas. Guntur
terkikik geli melihat wajah Anisa merona.
Guntur :
“Manggilnya biasa aja kali. Aneh kalau kamu manggil aku gitu.”
Anisa : “Aku
pikir lagi, apa yang mama bilang tadi bener juga. Kan gak enak kalau kita nikah
nanti aku masi manggil namamu. Apa kata orang tuamu nanti?”
Guntur :
__ADS_1
“Mereka kan juga tahu kamu sahabatku. Wajar panggilanmu begitu.”
Anisa : “Kalau
uda suami istri ya bedalah, mas.”
Guntur :
“Apa bedanya sahabat sama suami istri?”
Anisa : “Pikiranmu
mulai kotor ya?”
Guntur :
“Aku kan cuma nanya, pikiranmu yang kotor, gak?”
Anisa
cemberut kata-katanya dibalik Guntur, sejak dulu Guntur memang paling pinter
berkilah. Tapi Anisa yang selalu menang karena kalau sudah pasang tampang
cemberut, Guntur gak akan berani lagi menggoda Anisa.
Guntur :
“Kamu kira dengan cemberut gitu, bisa buat aku luluh?”
Anisa : “Emang
nggak? Kalo gini?”
Kali ini
tatapan mata sedikit berkaca-kaca dengan senyuman manis yang menggoda. Wajah
Guntur langsung memerah melihat ekspresi Anisa. Guntur menggigit bibir
bawahnya, menyadarkannya agar tidak menyosor Anisa sekarang.
Anisa : “Tuch
kan, kamu kalah kan? Hahahaha...”
Guntur :
“...”
Guntur menatap
Anisa dengan intens, Anisa yang masih tertawa mulai menatapnya balik. Mata Guntur
menatap dalam pada mata Anisa, membuat wanita itu perlahan mulai merasa jengah
dan akhirnya menunduk malu.
Anisa : “Tur,
lanjut makannya... mas...”
Anisa
mulai merasa grogi berada di dekat Guntur.
Anisa : “Harus
banget ya natapnya kayak gitu. Hatiku kan jadi terperangkap. Gimana ini?” batin
Guntur :
“Kenapa jadi diem? Tadi puas banget ketawa.”
Anisa : “...Aku...
jangan tanya lagi...”
Guntur :
“Malu ya? Wajahmu mirip pantat monyet. Hahahaha.”
Anisa : “Iih,
rese banget. Kamu masih aja suka gitu. Aku cantik gini dibilang mirip pantat
monyet.”
Guntur :
“Masa sich, coba aku lihat bentar...”
Guntur kembali
menatap wajah Anisa, meneliti setiap lekuk, bentuk wajah Anisa. Anisa kembali
gelisah, ia gugup sekali, tidak berani menatap mata Guntur.
Guntur :
“Ternyata beneran mirip...”
Anisa
hampir memukul Guntur saat kalimatnya berlanjut,
Guntur :
“Kamu cantik...”
Hanya
dua kata yang diucapkan Guntur dan Anisa langsung menunduk dengan wajah dan
telinga merah. Ia senyum-senyum sendiri, sementara debaran jantungnya tidak mau
mereda juga. Selama ini Guntur tidak pernah mengatakan dirinya cantik, mau
seperti apa penampilannya, Guntur hanya akan menatapnya sebentar dan segera
berpaling.
Anisa : “Apa
kau malu?”
Guntur :
“Apa?!”
Anisa : “Dari
dulu kamu gak pernah bilang aku cantik, pasti cuma noleh bentar habis itu cuek
__ADS_1
lagi. Apa saat itu kamu malu bilang kalau aku cantik?”
Guntur :
“...Kita lanjut makan aja ya.”
Anisa
menatap wajah Guntur yang juga memerah, mereka berdua makan dalam diam yang
sangat canggung.
*****
Usai
makan, Guntur membantu Anisa mencuci piring. Mereka melakukannya dengan cepat
dan segera mengeringkan tangan. Guntur mengeringkan jam tangannya dan melihat
sudah larut malam.
Guntur :
“Aku, pulang dulu ya. Sepertinya orang tuamu juga sudah tidur.”
Anisa : “Iya,
hati-hati di jalan ya... mas...”
Guntur :
“Sampaikan salamku ya dan terima kasih atas makan malamnya.”
Anisa : “Iya,
nanti aku sampaikan. Aku titip salam sama ayah dan ibu mas ya.”
Guntur :
“Iya, Nisa. Selamat malam.”
Guntur
hampir keluar dari ruang tamu rumah Anisa saat Anisa menarik tangan Guntur. Guntur
berbalik menatap Anisa yang menunduk di depannya.
Anisa : “Guntur...
Aku cinta kamu.”
Guntur :
“Kamu gak boleh...” Anisa mendongak menatap Guntur, ia hampir menangis mengira
Guntur marah padanya.
Guntur :
“Hanya itu yang kamu gak boleh duluan. Jangan bilang kalimat itu, sebelum aku yang
bilang duluan.”
Anisa : “Oh,
aku kira...” Anisa semakin tersipu malu.
Guntur :
“Nisa, lihat aku. Aku cinta kamu, Anisa.”
Anisa : “Aku
juga cinta kamu, mas Guntur.”
Keduanya
terkikik geli mendengar panggilan Anisa. Saat Anisa bergerak mendekati Guntur,
ia sudah berjalan mundur sampai keluar dari ruang tamu rumah Anisa.
Anisa : “Kamu
kok mundur sich?”
Guntur :
“Aku takut kamu khilaf.”
Anisa : “Aku
nggak... Iih, nyebelin banget. Kamu tuch yang khilaf.”
Guntur tertawa
geli melihat Anisa yang melotot padanya. Ia sudah berjalan keluar dari halaman
rumah Anisa dan menunggu Anisa mengunci pintu pagar rumahnya.
Guntur :
“Aku pulang ya. Malam, Nisa.”
Anisa : “Malam,
mas. Hati-hati di jalan ya. Kabarin aku kalau uda sampai rumah.”
Anisa
berjalan ke teras rumahnya dan masuk kembali ke rumah. Ia melihat dari jendela,
mobil Guntur meluncur menjauh dari rumahnya. Hatinya terasa hangat dengan cinta
yang ia rasakan untuk Guntur.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲