Duren Manis

Duren Manis
Sahabat jadi cinta


__ADS_3

Papa dan


mama Anisa terdiam mendengarkan cerita Guntur, Anisa hanya menambahkan beberapa


hal yang tadi belum sempat ia ceritakan pada Guntur. Dan Guntur menceritakan


semua yang terjadi termasuk apa yang terjadi di dalam kamar penthouse tanpa


menutupi apapun.


Anisa


merona mendengar cerita Guntur, bagaimana pun mereka belum sah sebagai suami


istri. Tapi ia mencoba memaklumi Guntur hanya berusaha menjaga kehormatannya.


Papa


Anisa : “Jadi, kalian sudah...”


Guntur :


“Kami tidak melakukan apa-apa, om. Anisa masih utuh seperti sebelumnya. Saya


mohon maaf karena sudah bertindak kurang ajar membuka pakaian Anisa.”


Guntur


mengatakan itu tanpa keraguan dan ketakutan sama sekali. Ia menunduk setelah


menatap mata papa Anisa.


Papa


Anisa : “...Ah, sudahlah. Toh, kalian akan segera menikah. Anisa juga tidak


keberatan kan?”


Anisa : “Lebih


baik begitu daripada Anisa kehilangan kehormatan Anisa, pah.”


Papa


Anisa : “Lalu perempuan tadi itu temanmu?”


Anisa : “Pah,


mah. Perempuan tadi itu yang ngajak Anisa makan. Makanya Anisa kesel sama dia.”


Papa


Anisa : “Tadi dia sudah cerita kalau dia diancam sama Jhon, nak.”


Anisa : “Tapi


dari yang Anisa denger tadi gak seperti itu, iya kan, Guntur?”


Guntur :


“Iya, om. Tapi sebaiknya kamu gak usah menanggapi dia lagi, Nisa.”


Anisa : “Iya,


Tur. Aku akan lebih selektif kedepannya.”


Mama


Anisa : “Tur, Tur, panggil yang lain kenapa sich, nak.”


Anisa : “Anisa


biasa manggil Guntur gitu dari dulu, mah.”


Mama


Anisa : “Kalian kan sebentar lagi mau nikah, panggil mas gitu loh.”


Anisa : “Mas?


Tapi kami kan seumuran, mah. Masa manggil mas.”


Guntur :


“Gak pa-pa, tante.”Guntur tersenyum, memaklumi Anisa.


Anisa


tersenyum melihat Guntur yang menatapnya juga. Keduanya tidak menyangka akan


dipertemukan lagi dan akan segera bersatu dalam ikatan pernikahan.


Anisa: “Ma,


Guntur belum makan, Nisa ajak makan dulu ya.”


Mama


Anisa : “Iya, nak Guntur makan aja dulu ya.”


Guntur :


“Maaf merepotkan, tante, om.”


Anisa


dan Guntur berjalan ke meja makan dan Anisa melayani Guntur makan. Ia


mengambilkan piring, nasi, dan lauk pauk. Anisa juga menuangkan air putih untuk


Guntur.


Anisa : “Makanlah,


Tur... mas...”


Anisa


merasa merinding saat mencoba memanggil Guntur dengan embel-embel mas. Guntur


terkikik geli melihat wajah Anisa merona.


Guntur :


“Manggilnya biasa aja kali. Aneh kalau kamu manggil aku gitu.”


Anisa : “Aku


pikir lagi, apa yang mama bilang tadi bener juga. Kan gak enak kalau kita nikah


nanti aku masi manggil namamu. Apa kata orang tuamu nanti?”


Guntur :

__ADS_1


“Mereka kan juga tahu kamu sahabatku. Wajar panggilanmu begitu.”


Anisa : “Kalau


uda suami istri ya bedalah, mas.”


Guntur :


“Apa bedanya sahabat sama suami istri?”


Anisa : “Pikiranmu


mulai kotor ya?”


Guntur :


“Aku kan cuma nanya, pikiranmu yang kotor, gak?”


Anisa


cemberut kata-katanya dibalik Guntur, sejak dulu Guntur memang paling pinter


berkilah. Tapi Anisa yang selalu menang karena kalau sudah pasang tampang


cemberut, Guntur gak akan berani lagi menggoda Anisa.


Guntur :


“Kamu kira dengan cemberut gitu, bisa buat aku luluh?”


Anisa : “Emang


nggak? Kalo gini?”


Kali ini


tatapan mata sedikit berkaca-kaca dengan senyuman manis yang menggoda. Wajah


Guntur langsung memerah melihat ekspresi Anisa. Guntur menggigit bibir


bawahnya, menyadarkannya agar tidak menyosor Anisa sekarang.


Anisa : “Tuch


kan, kamu kalah kan? Hahahaha...”


Guntur :


“...”


Guntur menatap


Anisa dengan intens, Anisa yang masih tertawa mulai menatapnya balik. Mata Guntur


menatap dalam pada mata Anisa, membuat wanita itu perlahan mulai merasa jengah


dan akhirnya menunduk malu.


Anisa : “Tur,


lanjut makannya... mas...”


Anisa


mulai merasa grogi berada di dekat Guntur.


Anisa : “Harus


banget ya natapnya kayak gitu. Hatiku kan jadi terperangkap. Gimana ini?” batin


Guntur :


“Kenapa jadi diem? Tadi puas banget ketawa.”


Anisa : “...Aku...


jangan tanya lagi...”


Guntur :


“Malu ya? Wajahmu mirip pantat monyet. Hahahaha.”


Anisa : “Iih,


rese banget. Kamu masih aja suka gitu. Aku cantik gini dibilang mirip pantat


monyet.”


Guntur :


“Masa sich, coba aku lihat bentar...”


Guntur kembali


menatap wajah Anisa, meneliti setiap lekuk, bentuk wajah Anisa. Anisa kembali


gelisah, ia gugup sekali, tidak berani menatap mata Guntur.


Guntur :


“Ternyata beneran mirip...”


Anisa


hampir memukul Guntur saat kalimatnya berlanjut,


Guntur :


“Kamu cantik...”


Hanya


dua kata yang diucapkan Guntur dan Anisa langsung menunduk dengan wajah dan


telinga merah. Ia senyum-senyum sendiri, sementara debaran jantungnya tidak mau


mereda juga. Selama ini Guntur tidak pernah mengatakan dirinya cantik, mau


seperti apa penampilannya, Guntur hanya akan menatapnya sebentar dan segera


berpaling.


Anisa : “Apa


kau malu?”


Guntur :


“Apa?!”


Anisa : “Dari


dulu kamu gak pernah bilang aku cantik, pasti cuma noleh bentar habis itu cuek

__ADS_1


lagi. Apa saat itu kamu malu bilang kalau aku cantik?”


Guntur :


“...Kita lanjut makan aja ya.”


Anisa


menatap wajah Guntur yang juga memerah, mereka berdua makan dalam diam yang


sangat canggung.


*****


Usai


makan, Guntur membantu Anisa mencuci piring. Mereka melakukannya dengan cepat


dan segera mengeringkan tangan. Guntur mengeringkan jam tangannya dan melihat


sudah larut malam.


Guntur :


“Aku, pulang dulu ya. Sepertinya orang tuamu juga sudah tidur.”


Anisa : “Iya,


hati-hati di jalan ya... mas...”


Guntur :


“Sampaikan salamku ya dan terima kasih atas makan malamnya.”


Anisa : “Iya,


nanti aku sampaikan. Aku titip salam sama ayah dan ibu mas ya.”


Guntur :


“Iya, Nisa. Selamat malam.”


Guntur


hampir keluar dari ruang tamu rumah Anisa saat Anisa menarik tangan Guntur. Guntur


berbalik menatap Anisa yang menunduk di depannya.


Anisa : “Guntur...


Aku cinta kamu.”


Guntur :


“Kamu gak boleh...” Anisa mendongak menatap Guntur, ia hampir menangis mengira


Guntur marah padanya.


Guntur :


“Hanya itu yang kamu gak boleh duluan. Jangan bilang kalimat itu, sebelum aku yang


bilang duluan.”


Anisa : “Oh,


aku kira...” Anisa semakin tersipu malu.


Guntur :


“Nisa, lihat aku. Aku cinta kamu, Anisa.”


Anisa : “Aku


juga cinta kamu, mas Guntur.”


Keduanya


terkikik geli mendengar panggilan Anisa. Saat Anisa bergerak mendekati Guntur,


ia sudah berjalan mundur sampai keluar dari ruang tamu rumah Anisa.


Anisa : “Kamu


kok mundur sich?”


Guntur :


“Aku takut kamu khilaf.”


Anisa : “Aku


nggak... Iih, nyebelin banget. Kamu tuch yang khilaf.”


Guntur tertawa


geli melihat Anisa yang melotot padanya. Ia sudah berjalan keluar dari halaman


rumah Anisa dan menunggu Anisa mengunci pintu pagar rumahnya.


Guntur :


“Aku pulang ya. Malam, Nisa.”


Anisa : “Malam,


mas. Hati-hati di jalan ya. Kabarin aku kalau uda sampai rumah.”


Anisa


berjalan ke teras rumahnya dan masuk kembali ke rumah. Ia melihat dari jendela,


mobil Guntur meluncur menjauh dari rumahnya. Hatinya terasa hangat dengan cinta


yang ia rasakan untuk Guntur.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2