Duren Manis

Duren Manis
Cerita mama


__ADS_3

Riri keluar dari kamar mandi sudah selesai mandi dan terlihat lebih segar. Ia berjalan ke depan


cermin sambil mengeringkan rambutnya. Dilihatnya Elo masih duduk diatas ranjang


sudah memakai celana panjangnya.


Riri : “Mas, mandi dulu sana. Mama Ratna mana?”


Elo : “Mama uda keluar. Kita ditunggu sarapan.”


Riri : “Kalo gitu aku keluar duluan, ya mas.”


Elo : “Jangan dong. Kita samaan keluarnya. Tungguin aku.”


Mereka berdua terdiam sejenak, seolah sudah mengatakan sesuatu yang absurd banget. Keduanya


saling melirik dan kembali dengan aktifitas masing-masing.


Elo gantian masuk ke kamar mandi dan keluar 5 menit kemudian. Riri mengkerutkan keningnya karena


Elo keluar begitu cepat.


Riri : “Mas mandi gak sich?”


Elo : “Mandi kok.”


Riri : “Kenapa


cepet banget?”


Elo : “Hehe...


mandi dua jari... sama gosok gigi aja.”


Riri : “Iihh, jorok


banget, mas. Jangan deket-deket.”


Elo : “Ntar aku


mandi lagi. Penasaran mau cepet ketemu mama. Kamu gak penasaran?”


Riri : “Iya, mas.


Sama.”


Akhirnya mereka


keluar dari dalam kamar. Meja makan masih penuh dengan makanan tapi tidak


terlihat siapapun disana. Elo memanggil pelayan dan menanyakan dimana mama


Ratna. Pelayan itu menjawab kalau mama Ratna sedang menunggu mereka berdua di


ruang baca.


Elo : “Ri, kita


sarapan dulu ya. Baru ketemu mama.”


Riri hanya


mengangguk, ia kebingungan juga. Tapi ia ingat pada saudaranya,


Riri : “Dimana Rio


dan Kaori?”


Elo bertanya lagi


pada pelayan yang masih berdiri disana tentang keberadaan Rio dan Kaori. Pelayan


itu mengatakan kalau Rio dan Kaori sudah pergi bersama Rebecca. Mereka ingin


membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang siang ini.


Setelah selesai


sarapan, Elo menuntun Riri menuju ruang baca. Tapi sebelum masuk kesana, Elo


memegang kedua bahu Riri dan bicara sangat serius padanya.


Elo : “Aku mohon


kamu fokus ya. Kita harus tahu apa yang terjadi semalam. Jangan perhatikan


hal-hal lain.”


Riri : “Iya, mas.


Aku akan fokus.”


Riri bertekad untuk


fokus meskipun ia sendiri bingung kenapa harus fokus dan hal lain apa maksud


Elo. Mereka berdua masuk ke dalam ruang baca, dan Riri langsung melupakan


tujuannya masuk ke dalam sana. Ia terpesona melihat deretan buku-buku yang


memenuhi hampir seluruh dinding ruangan itu.


Elo sudah mendekati


mamanya yang duduk di sofa, saat ia menoleh, ia melihat Riri berjalan lurus


mengamati deretan buku yang ada disana.


Elo : “Astaga,


Riri.”


Mama Ratna : “Biarkan


dia, Angelo. Kau suka disini, Ri?”


Riri : “Iya, mah.”


Riri menjawab tanpa menoleh, ia mengamati judul buku di salah satu rak itu.


Mama Ratna : “Riri


mau kan tinggal disini.”


Riri : “Iya, mah.


Eh... mama...” Riri nyengir sambil berjalan mendekat ke sofa. Ia menatap Elo


dengan pandangan memohon maaf yang membuat Elo berpikir kalau Riri cute banget.


Wajah Elo merona melihat Riri. Riri duduk di samping Elo,


Elo : “Mah, bisa

__ADS_1


cerita apa yang terjadi? Elo gak ngerti kenapa?”


Mama Ratna : “Bukannya


itu yang kamu harapkan? Terbangun bersama Riri?”


Wajah Riri merona


melihat mama Ratna senyum-senyum kearahnya. Ia kaget melihat Elo mengangguk


dengan mantap,


Elo : “Iya, sih


mah. Pengen banget, tapi kok bisa...”


Mama Ratna : “Yang


mama bingung kenapa jadinya Riri gak pake baju ya? Kayaknya semalem bajunya


masih utuh dech.”


Elo menatap Riri


yang juga menatapnya, ia kembali teringat kejadian tadi saat selimut Riri


melorot. Elo berdehem, mencoba memfokuskan dirinya lagi.


Elo : “Elo gak tau,


beneran. Ri, kamu harus percaya, aku gak tau apa-apa.”


Riri : “Riri juga


gak inget, mah.”


Melihat reaksi Riri,


Elo jadi ragu kalau semalam dirinya tidak menyentuh Riri. Dia kan sedang dalam


pengaruh obat dan tidak sadar. Bisa saja dia yang sudah membuka pakaian Riri. Wajah


mengkerut Elo diperhatikan mamanya.


Mama Ratna : “Angelo...


sepertinya kamu ingat sesuatu...”


Elo : “Apa? Nggak,


mah...” Wajah Elo lebih merah dari wajah Riri.


Mama Ratna : “Mama


tahu kamu bohong, Angelo. Katakan yang sebenarnya.”


Elo : “Kenapa mama


jadi fokus sama Elo sich? Elo gak ingat, okey. Mungkin Elo yang buka bajunya


Riri, tapi Elo gak ingat.”


Riri : “Mass...”


Riri menatap tidak percaya pada Elo.


Elo : “Ri, aku


Mama Ratna : “Kamu


ini gak sabaran sekali. Let’s see...”


Mama Ratna menarik


nafas panjang sejenak, sebelum mulai bicara.


Mama Ratna : “Mama


dengar waktu Elena bilang sama tante Dewi kalau dia punya rencana untuk


memisahkan kalian.”


Elo : “Apa?!”


Riri : “Mas, tenang


dulu. Dengarkan cerita mama.”


Mama Ratna


tersenyum melihat cara Riri menahan emosi Elo. Kelembutan Riri membuat Elo


kembali tenang.


*****


Flash back...


Mama Ratna


mengikuti Elena yang pergi kearah Elo dan Riri setelah mereka sarapan. Ia


mengamati Elena yang sedang bicara dengan Tante Dewi dan mendengarkan semua


yang mereka katakan. Sampai mereka beranjak ke kamar Tante Dewi pun, Mama Ratna


masih mengikuti mereka.


Beruntung Tante


Dewi tidak menutup pintu kamarnya dengan baik. Mama Ratna jadi bisa mendengar


apa yang direncanakan Elena dan tante Dewi.


Flash back end...


*****


Mama Ratna : “Jadi


mama meminta Pak Kim mengirimkan orang kepercayaan kita untuk mengikuti kalian


kemana pun. Saat Riri akhirnya diculik..., sepertinya Riri sudah menawan hati


semua orang dirumah kita, Angelo.”


Elo : “Maksud mama?”


Mama Ratna : “Pak Kim


turun tangan sendiri menyelamatkan Riri. Dan kau sudah tahu apa akibatnya kalau


sampai Pak Kim turun tangan, kan?”

__ADS_1


Elo berkata dengan


hati-hati dan sedikit berbisik,


Elo : “Apa ada yang


mati?”


Riri bergidik


menatap Elo, pak Kim terlihat bukan tipe orang yang bisa membunuh orang lain.


Mama Ratna : “Hanya


patah dibeberapa bagian tubuh, terutama yang sudah berani menyentuh Riri.”


Riri : “Ooh...”


Riri menutup


mulutnya dengan tangan, ia sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Pak Kim


untuknya.


Elo : “Ri, jangan


takut. Pak Kim hanya begitu pada orang jahat.”


Mama Ratna : “Kenapa


kamu gak telpon mama waktu Riri menghilang? Dan kau setuju mengikuti permainan


dinner dengan Elena, astaga Angelo. Apa yang kamu pikirkan?”


Riri : “Mas...”


Mata Riri mulai berkaca-kaca.


Elo : “Semuanya


terjadi cepat sekali, mah. Itu hanya dinner tidak berarti, Ri. Aku lakukan agar


aku bisa tahu dimana kamu disekap.”


Mama Ratna : “Dan


minumannya? Kau tahu, Elena memasukkan obat perangsang yang cukup kuat di dalam


minumanmu.”


Elo : “Obat


perangsang?! Berarti semalam... aku dan Riri...”


Elo menoleh pada


Riri dengan cepat, Riri tiba-tiba merasa perutnya mual. Jantungnya berdebar


dengan kencang, ia menggeleng dengan cepat.


Riri : “Nggak


mungkin. Aku gak merasa ada yang salah, mas.”


Elo : “Tapi yang


aku minum itu obat perangsang, Ri. Gak mungkin gak terjadi sesuatu semalam.”


Elo menatap mamanya


yang mengangkat bahu seolah mengatakan mama juga tidak tahu.


Elo : “Apa kita


bisa mengetesnya?”


Riri : “Tes? Tes


apa?”


Elo : “Kita ke


dokter dan kamu bisa divisum.”


Riri : “Apa?! Nggak!


Itu sangat memalukan.”


Riri mulai memeluk


tubuhnya, ia bergeser dari sisi Elo. Elo bisa melihat punggung Riri gemetar, ia


tampak ketakutan.


Mama Ratna : “Kalau


kalian tidak yakin, bagaimana kalau kalian menikah saja? Setidaknya Elo bisa


bertanggung jawab denganmu, Riri.”


Riri : “Menikah?


Sekarang?”


Mama Ratna : “Yes,


dear. Mama rasa orang tuamu juga tidak keberatan. Toh, kalian berdua adalah


korban disini.”


Riri menatap Elo


yang sudah menatapnya penuh harap. Riri benar-benar bingung harus berkata apa.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2