
Riri keluar dari kamar mandi sudah selesai mandi dan terlihat lebih segar. Ia berjalan ke depan
cermin sambil mengeringkan rambutnya. Dilihatnya Elo masih duduk diatas ranjang
sudah memakai celana panjangnya.
Riri : “Mas, mandi dulu sana. Mama Ratna mana?”
Elo : “Mama uda keluar. Kita ditunggu sarapan.”
Riri : “Kalo gitu aku keluar duluan, ya mas.”
Elo : “Jangan dong. Kita samaan keluarnya. Tungguin aku.”
Mereka berdua terdiam sejenak, seolah sudah mengatakan sesuatu yang absurd banget. Keduanya
saling melirik dan kembali dengan aktifitas masing-masing.
Elo gantian masuk ke kamar mandi dan keluar 5 menit kemudian. Riri mengkerutkan keningnya karena
Elo keluar begitu cepat.
Riri : “Mas mandi gak sich?”
Elo : “Mandi kok.”
Riri : “Kenapa
cepet banget?”
Elo : “Hehe...
mandi dua jari... sama gosok gigi aja.”
Riri : “Iihh, jorok
banget, mas. Jangan deket-deket.”
Elo : “Ntar aku
mandi lagi. Penasaran mau cepet ketemu mama. Kamu gak penasaran?”
Riri : “Iya, mas.
Sama.”
Akhirnya mereka
keluar dari dalam kamar. Meja makan masih penuh dengan makanan tapi tidak
terlihat siapapun disana. Elo memanggil pelayan dan menanyakan dimana mama
Ratna. Pelayan itu menjawab kalau mama Ratna sedang menunggu mereka berdua di
ruang baca.
Elo : “Ri, kita
sarapan dulu ya. Baru ketemu mama.”
Riri hanya
mengangguk, ia kebingungan juga. Tapi ia ingat pada saudaranya,
Riri : “Dimana Rio
dan Kaori?”
Elo bertanya lagi
pada pelayan yang masih berdiri disana tentang keberadaan Rio dan Kaori. Pelayan
itu mengatakan kalau Rio dan Kaori sudah pergi bersama Rebecca. Mereka ingin
membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang siang ini.
Setelah selesai
sarapan, Elo menuntun Riri menuju ruang baca. Tapi sebelum masuk kesana, Elo
memegang kedua bahu Riri dan bicara sangat serius padanya.
Elo : “Aku mohon
kamu fokus ya. Kita harus tahu apa yang terjadi semalam. Jangan perhatikan
hal-hal lain.”
Riri : “Iya, mas.
Aku akan fokus.”
Riri bertekad untuk
fokus meskipun ia sendiri bingung kenapa harus fokus dan hal lain apa maksud
Elo. Mereka berdua masuk ke dalam ruang baca, dan Riri langsung melupakan
tujuannya masuk ke dalam sana. Ia terpesona melihat deretan buku-buku yang
memenuhi hampir seluruh dinding ruangan itu.
Elo sudah mendekati
mamanya yang duduk di sofa, saat ia menoleh, ia melihat Riri berjalan lurus
mengamati deretan buku yang ada disana.
Elo : “Astaga,
Riri.”
Mama Ratna : “Biarkan
dia, Angelo. Kau suka disini, Ri?”
Riri : “Iya, mah.”
Riri menjawab tanpa menoleh, ia mengamati judul buku di salah satu rak itu.
Mama Ratna : “Riri
mau kan tinggal disini.”
Riri : “Iya, mah.
Eh... mama...” Riri nyengir sambil berjalan mendekat ke sofa. Ia menatap Elo
dengan pandangan memohon maaf yang membuat Elo berpikir kalau Riri cute banget.
Wajah Elo merona melihat Riri. Riri duduk di samping Elo,
Elo : “Mah, bisa
__ADS_1
cerita apa yang terjadi? Elo gak ngerti kenapa?”
Mama Ratna : “Bukannya
itu yang kamu harapkan? Terbangun bersama Riri?”
Wajah Riri merona
melihat mama Ratna senyum-senyum kearahnya. Ia kaget melihat Elo mengangguk
dengan mantap,
Elo : “Iya, sih
mah. Pengen banget, tapi kok bisa...”
Mama Ratna : “Yang
mama bingung kenapa jadinya Riri gak pake baju ya? Kayaknya semalem bajunya
masih utuh dech.”
Elo menatap Riri
yang juga menatapnya, ia kembali teringat kejadian tadi saat selimut Riri
melorot. Elo berdehem, mencoba memfokuskan dirinya lagi.
Elo : “Elo gak tau,
beneran. Ri, kamu harus percaya, aku gak tau apa-apa.”
Riri : “Riri juga
gak inget, mah.”
Melihat reaksi Riri,
Elo jadi ragu kalau semalam dirinya tidak menyentuh Riri. Dia kan sedang dalam
pengaruh obat dan tidak sadar. Bisa saja dia yang sudah membuka pakaian Riri. Wajah
mengkerut Elo diperhatikan mamanya.
Mama Ratna : “Angelo...
sepertinya kamu ingat sesuatu...”
Elo : “Apa? Nggak,
mah...” Wajah Elo lebih merah dari wajah Riri.
Mama Ratna : “Mama
tahu kamu bohong, Angelo. Katakan yang sebenarnya.”
Elo : “Kenapa mama
jadi fokus sama Elo sich? Elo gak ingat, okey. Mungkin Elo yang buka bajunya
Riri, tapi Elo gak ingat.”
Riri : “Mass...”
Riri menatap tidak percaya pada Elo.
Elo : “Ri, aku
Mama Ratna : “Kamu
ini gak sabaran sekali. Let’s see...”
Mama Ratna menarik
nafas panjang sejenak, sebelum mulai bicara.
Mama Ratna : “Mama
dengar waktu Elena bilang sama tante Dewi kalau dia punya rencana untuk
memisahkan kalian.”
Elo : “Apa?!”
Riri : “Mas, tenang
dulu. Dengarkan cerita mama.”
Mama Ratna
tersenyum melihat cara Riri menahan emosi Elo. Kelembutan Riri membuat Elo
kembali tenang.
*****
Flash back...
Mama Ratna
mengikuti Elena yang pergi kearah Elo dan Riri setelah mereka sarapan. Ia
mengamati Elena yang sedang bicara dengan Tante Dewi dan mendengarkan semua
yang mereka katakan. Sampai mereka beranjak ke kamar Tante Dewi pun, Mama Ratna
masih mengikuti mereka.
Beruntung Tante
Dewi tidak menutup pintu kamarnya dengan baik. Mama Ratna jadi bisa mendengar
apa yang direncanakan Elena dan tante Dewi.
Flash back end...
*****
Mama Ratna : “Jadi
mama meminta Pak Kim mengirimkan orang kepercayaan kita untuk mengikuti kalian
kemana pun. Saat Riri akhirnya diculik..., sepertinya Riri sudah menawan hati
semua orang dirumah kita, Angelo.”
Elo : “Maksud mama?”
Mama Ratna : “Pak Kim
turun tangan sendiri menyelamatkan Riri. Dan kau sudah tahu apa akibatnya kalau
sampai Pak Kim turun tangan, kan?”
__ADS_1
Elo berkata dengan
hati-hati dan sedikit berbisik,
Elo : “Apa ada yang
mati?”
Riri bergidik
menatap Elo, pak Kim terlihat bukan tipe orang yang bisa membunuh orang lain.
Mama Ratna : “Hanya
patah dibeberapa bagian tubuh, terutama yang sudah berani menyentuh Riri.”
Riri : “Ooh...”
Riri menutup
mulutnya dengan tangan, ia sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Pak Kim
untuknya.
Elo : “Ri, jangan
takut. Pak Kim hanya begitu pada orang jahat.”
Mama Ratna : “Kenapa
kamu gak telpon mama waktu Riri menghilang? Dan kau setuju mengikuti permainan
dinner dengan Elena, astaga Angelo. Apa yang kamu pikirkan?”
Riri : “Mas...”
Mata Riri mulai berkaca-kaca.
Elo : “Semuanya
terjadi cepat sekali, mah. Itu hanya dinner tidak berarti, Ri. Aku lakukan agar
aku bisa tahu dimana kamu disekap.”
Mama Ratna : “Dan
minumannya? Kau tahu, Elena memasukkan obat perangsang yang cukup kuat di dalam
minumanmu.”
Elo : “Obat
perangsang?! Berarti semalam... aku dan Riri...”
Elo menoleh pada
Riri dengan cepat, Riri tiba-tiba merasa perutnya mual. Jantungnya berdebar
dengan kencang, ia menggeleng dengan cepat.
Riri : “Nggak
mungkin. Aku gak merasa ada yang salah, mas.”
Elo : “Tapi yang
aku minum itu obat perangsang, Ri. Gak mungkin gak terjadi sesuatu semalam.”
Elo menatap mamanya
yang mengangkat bahu seolah mengatakan mama juga tidak tahu.
Elo : “Apa kita
bisa mengetesnya?”
Riri : “Tes? Tes
apa?”
Elo : “Kita ke
dokter dan kamu bisa divisum.”
Riri : “Apa?! Nggak!
Itu sangat memalukan.”
Riri mulai memeluk
tubuhnya, ia bergeser dari sisi Elo. Elo bisa melihat punggung Riri gemetar, ia
tampak ketakutan.
Mama Ratna : “Kalau
kalian tidak yakin, bagaimana kalau kalian menikah saja? Setidaknya Elo bisa
bertanggung jawab denganmu, Riri.”
Riri : “Menikah?
Sekarang?”
Mama Ratna : “Yes,
dear. Mama rasa orang tuamu juga tidak keberatan. Toh, kalian berdua adalah
korban disini.”
Riri menatap Elo
yang sudah menatapnya penuh harap. Riri benar-benar bingung harus berkata apa.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲
__ADS_1