
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 9
Pluk! Pluk! Wajah Ken langsung putih penuh dengan
bedak. Renata, Reymond, dan Reyna kembali tertawa melihat penampakan Ken.
Mereka berempat lanjut bermain sampai wajah mereka berempat putih semua. Kaori
juga terkena bedak bayi karena tidak sengaja menyentuh wajahnya dengan tangan
yang belum bersih.
Saat malam semakin larut, Renata ingin mengantar
Kaori ke kamarnya. Tapi Ken meminta agar Kaori tetap bersamanya. Ia masih ingin
mengobrol dengan gadis itu. Akhirnya mereka berdua duduk di gazebo, tentu saja
dengan pengawasan dari Alex. Ken membantu Kaori membersihkan bekas bedak di
wajahnya menggunakan tisu basah.
“Kaori, aku boleh tanya sesuatu nggak sama kamu?”
tanya Ken.
“Itu barusan kan udah nanya. Emang mau nanya apa
sich?” tanya Kaori balik sambil bercanda.
Gadis cantik itu menjepit tongkatnya dengan kedua
telapak tangannya lalu dipelintir-pelintir hingga tongkat itu berputar-putar di
tangannya.
“Kalau kamu dikasih kesempatan untuk bisa melihat,
apa yang pertama kali ingin kamu lihat?” tanya Ken.
“Aku mau lihat kamu, Ken,” jawab Kaori cepat.
Jantung Ken seketika ambyar, berdegup kencang
karena mulai baper. Kaori selalu bisa membuatnya berdebar dengan kata-kata
polosnya.
“Kenapa aku? Bukannya seharusnya kamu lihat kedua
orang tuamu dulu,” kata Ken tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
“Aku melihat wajah mereka setiap hari. Opa, oma,
papa, mama, adik-adikku dan juga semua orang di rumah ini. Tapi aku belum
pernah melihat wajahmu, Ken,” kata Kaori serius.
“Maaf, bagaimana bisa kamu melakukannya?” tanya Ken
lebih penasaran.
Kaori mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan
telapak tangannya. Gadis itu menjelaskan kalau ia melihat dengan kedua telapak
tangannya. Kaori akan meraba wajah orang yang benar-benar ingin dikenalnya.
Tentu saja dengan persetujuan orang itu. Dan ia ingin melihat wajah Ken kalau
pria itu memperbolehkannya.
Ken memejamkan matanya saat Kaori menyentuh pipinya
dengan lembut. Kaori mulai dari kening Ken dulu. Ia meraba kening Ken yang
sengaja digerakkan pria itu.
“Iih, Ken, diem dulu.” Kaori jadi tidak bisa
berkonsentrasi.
“Kamu lama banget sih megangin jidatku. Lagi
ngitung kerutan ya?” tanya Ken bercanda.
Kaori mencubit kedua pipi Ken sampai dower dan
meminta pria itu untuk tidak mengganggunya dulu. Kaori harus mengulang lagi
menyentuh kening Ken. Kali ini pria itu hanya diam menatap Kaori. Dari jidat,
turun ke hidung dan mata. Jemari Kaori menyentuh permukaan alis Ken dan juga
bulu matanya. Ia cukup lama berada di bagian itu.
Ketika tangan Kaori sampai di pipi dan juga bagian
bibir Ken, pria itu kembali iseng. Ia sengaja menggigit ujung kelingking Kaori
sampai gadis itu mengaduh karena kaget. Kaori mencubit kedua pipi Ken lagi dan
Ken juga melakukan hal yang sama pada pipi Kaori. Keduanya tertawa bersama-sama
dengan hal konyol yang barusan mereka lakukan.
“Aku akan pergi lagi. Mungkin kita tidak bisa
ketemu dalam waktu dekat. Apa kamu sedih, Kaori?” tanya Ken.
“Ya, tentu saja, Ken. Kamu teman yang baik. Aku
pasti akan kangen sama kamu.” Kaori tersenyum manis lagi.
“Aku harap status kita sudah berubah setelah ketemu
lagi,” kata Ken membuat Kaori jadi bingung.
“Maksudmu status apa?” tanya Kaori nggak paham.
Ken hanya tersenyum membuat Kaori semakin bingung.
__ADS_1
Kaori merasakan tangannya ditarik Ken dengan lembut lalu ditempelkan di bibir
Ken. Kaori bisa merasakan Ken tersenyum.
“Ken?” panggil Kaori yang bergidik geli.
“Hmm? Ya, Kaori?” sahut Ken.
Kaori memegang kedua pipi Ken lalu mendekat dan
mengecup kening pria itu. Gadis itu bisa merasakan masalah yang besar sedang dialami
Ken dan pria itu butuh penghiburan darinya. Kaori mengusap-usap kepala Ken dengan
sayang.
“Aku nggak tahu ada masalah apa yang buat kamu
kesini mendadak. Tapi aku harap masalahmu akan segera ketemu jalan keluarnya,
ya Ken. Senyum dong,” kata Kaori.
“Aku boleh peluk kamu nggak?” tanya Ken lagi
berharap dipeluk.
“Ada orang nggak? Kalau opa sampai tahu, bisa
ngamuk. Nanti kamu diusir dari sini, Ken.” Kaori masih mengusap-usap kepala
Ken.
Ditantang begitu, Ken jadi semakin ingin memeluk
Kaori. Memangnya kenapa kalau Alex marah, papa kandungnya itu tidak akan berani
mengusirnya dari rumah ini.
Grep! Ken beneran memeluk Kaori tanpa ijin.
“Kyaa!!!” jerit Kaori kaget. Alex yang mendengar teriakan Kaori, refleks
berlari ke gazebo untuk mengecek cucu kesayangannya. Tampak Ken sudah kembali
duduk tegak dengan wajah tanpa dosa, sementara Kaori tampak bingung.
“Kaori, kamu kenapa? Diapain sama Ken?” tanya Alex
sambil menarik Kaori bangun dari duduknya. Melihat Kaori tidak menjawab
pertanyaannya, Alex menuding Ken, “Kamu apain cucuku? Bilang!” bentak Alex
galak.
Ken menggaruk kepalanya, dan beralasan ada kecoak
yang lewat di kaki Kaori tadi. Makanya gadis itu teriak-teriak seperti itu. Rona
merah yang muncul di pipi Kaori, membuat Ken tersenyum. Alex semakin curiga
pada Ken, ingin membawa Kaori masuk ke dalam rumah.
“Ngapain kamu senyum-senyum? Pasti ada yang lain?
Kaori menggeleng, ia baik-baik saja. Hanya sedikit
shock ketika Ken memeluknya tanpa ijin. “Nggak apa-apa, opa. Aku boleh duduk
lagi?” tanya Kaori yang masih ingin bersama Ken.
“Udah malem, ayo tidur, Kaori. Kamu juga tidur.
Sudah tahu kan kamarnya dimana. Awas, kalau kamu berani masuk ke kamar Kaori
ya,” ancam Alex sambil memicingkan matanya.
Definisi anak kandung serasa anak pungut akhirnya
dipahami Ken pada saat itu. Ken masih ingin menggoda Kaori, “Iya, om. Selamat
malam, Kaori,” ucap Ken dengan manis.
“Selamat malam, Ken,” sahut Kaori sambil tersenyum
manis.
Ken menatap Alex dan Kaori yang perlahan menjauh
dari gazebo. Ia menatap ke langit gelap bertabur bintang diatas sana. Senyum
mengembang di bibir Ken saat mengingat harum tubuh Kaori di dalam pelukannya
tadi. Meskipun sangat sebentar, tapi Ken bersyukur bisa sedekat itu dengan
gadis pujaannya. Ken sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Alex. Baginya
reaksi Alex sangat wajar untuk menjaga Kaori.
Pikiran Ken melayang jauh memikirkan kedua orang
yang selama ini sudah ia anggap sebagai orang tua kandungnya. Endy dan Kinanti,
mereka bukan orang tua terbaik tapi setidaknya Ken bisa tubuh dengan baik
sampai sebesar ini. Ken ingin tahu apa alasan yang sebenarnya sampai Endy tega
menukarnya dengan Renata.
Ken melihat ponselnya, keningnya berkerut,
seseorang menelponnya.
“Halo?” ucap Ken.
“Tuan muda
Ken, tuan besar ingin ketemu besok jam sembilan pagi,” ucap penelpon di
seberang sana.
“Ada apa? Apa kakek baik-baik saja?” tanya Ken yang
__ADS_1
sangat jarang bertemu papa Endy itu.
“Ada sesuatu
yang ingin disampaikan tuan besar. Selamat malam, tuan muda,” sahut
penelpon itu sebelum menutup telponnya.
Ken menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia
tersenyum miris, bahkan keberadaannya sudah diketahui kakeknya. Entah hukuman
apa yang mungkin ia dapatkan dari Endy nanti. Kalau kakeknya bisa menemukannya,
artinya Endy juga sudah tahu kalau Ken melarikan diri dari mansion di negara A.
Dengan perasaan tidak tenang, Ken akhirnya
ketiduran di gazebo. Mia yang masih belum tidur, keluar dari kamarnya untuk mengecek
Ken dan Kaori. Kaori seperti biasa, tertidur dengan boneka Teddy Bear-nya. Tapi
saat Mia mengintip ke ruang kerja, ia tidak menemukan Ken disana. Mia melihat
pintu samping ke arah gazebo belum tertutup. Wanita itu berjalan perlahan
mendekat dan melihat Ken tertidur pulas hanya beralaskan tikar bambu.
“Haduh, anak ini. Nggak takut dicari nyamuk ya,”
keluh Mia. Ia lantas mendekati Ken, lalu mengguncang tubuh pria itu, “Ken
bangun. Jangan tidur disini,” panggil Mia.
Ken menggeliat, ia membuka matanya lalu menatap
wajah Mia yang sangat menenangkan. “Mah, besok aku pergi. Malam ini, boleh
tidur sama mama, papa nggak?” tanya Ken.
“Kamu mau kemana?” tanya Mia tidak rela Ken pergi
secepat itu.
“Aku dipanggil kakek, mah. Mungkin aku nggak bisa
kembali dalam waktu dekat.” Ken mencoba tegar dengan berkata jujur pada Mia.
“Ayo, ikut mama,” kata Mia sambil menuntun Ken
bangun.
Mereka masuk ke kamar Mia dan melihat Alex
terbangun dari tidurnya. “Ngapain kamu kesini?” tanya Alex.
“Mas, Ken mau pergi besok. Malam ini kasi dia tidur
disini ya, sama kita,” pinta Mia dengan tampang imut minta diserang.
Alex mendengus kesal, ia tidak bisa menolak Mia
atau istrinya itu akan ngambek dan mengancam jatah hariannya nanti. Akhirnya
Mia, Ken, dan Alex tidur di tempat tidur yang sama. Ken tertidur dengan cepat, sesekali
senyuman mengembang di bibirnya. Mia juga langsung tertidur, keduanya tidur
dengan posisi yang sama. Miring sambil memasukkan kedua tangan mereka ke bawah
bantal.
“Hais, dasar ibu sama anak. Tidurnya saja mirip
begini.” Alex ngedumel karena tempat tidurnya jadi lebih sempit. Akhirnya Alex
mengalah tidur di sofa. Ia meletakkan guling diantara Mia dan Ken sebelum
pindah ke sofa. Setidaknya Ken tidak bisa menempel langsung dengan Mia.
**
Keesokan harinya, Mia terbangun seperti biasa. Ken
juga kebetulan terbangun di saat yang bersamaan. Apakah Alex sudah bangun? Jawabannya
iya. Tapi pria itu sama sekali tidak bisa tidur karena ada Ken yang tidur di
samping istrinya. Ia menatap Mia dan Ken yang menggeliat bersamaan. Bahkan cara
bangun mereka juga sama. Bahkan cara turun dari tempat tidur juga sama.
“Mas, pagi. Kok tumben udah bangun?” tanya Mia
dengan senyum manisnya.
“Pagi, pa, ma. Aku belum pernah menyapa papa dan
mama di kamar tidur seperti ini sebelumnya. Benar-benar pelarian yang sepadan,”
kata Ken dengan senyuman manis mirip Mia.
Ken sudah berdiri duluan, ia ingin membersihkan
diri di ruang kerja sebelum pergi. Mia meminta Ken menunggu, ia mengeluarkan
sesuatu dari dalam lemari. Itu pakaian baru milik Alex yang belum sempat
dipakai pria itu.
“Makasih, mah,” ucap Ken tulus. Ia tidak tahu
apakah bisa kembali lagi atau tidak, setelah bertemu kakeknya hari ini. “Boleh
nggak aku peluk papa sama mama? Aku takut kita tidak bisa ketemu lagi dalam
waktu dekat,” tanya Ken dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Mia
merentangkan tangannya memeluk Ken duluan. Alex menyusulnya dan tangis
ketiganya pecah pagi itu.
__ADS_1
“Bisa nggak kamu nggak pergi, Ken? Tinggallah
disini sama kami,” pinta Mia.