Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 9


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 9


Pluk! Pluk! Wajah Ken langsung putih penuh dengan


bedak. Renata, Reymond, dan Reyna kembali tertawa melihat penampakan Ken.


Mereka berempat lanjut bermain sampai wajah mereka berempat putih semua. Kaori


juga terkena bedak bayi karena tidak sengaja menyentuh wajahnya dengan tangan


yang belum bersih.


Saat malam semakin larut, Renata ingin mengantar


Kaori ke kamarnya. Tapi Ken meminta agar Kaori tetap bersamanya. Ia masih ingin


mengobrol dengan gadis itu. Akhirnya mereka berdua duduk di gazebo, tentu saja


dengan pengawasan dari Alex. Ken membantu Kaori membersihkan bekas bedak di


wajahnya menggunakan tisu basah.


“Kaori, aku boleh tanya sesuatu nggak sama kamu?”


tanya Ken.


“Itu barusan kan udah nanya. Emang mau nanya apa


sich?” tanya Kaori balik sambil bercanda.


Gadis cantik itu menjepit tongkatnya dengan kedua


telapak tangannya lalu dipelintir-pelintir hingga tongkat itu berputar-putar di


tangannya.


“Kalau kamu dikasih kesempatan untuk bisa melihat,


apa yang pertama kali ingin kamu lihat?” tanya Ken.


“Aku mau lihat kamu, Ken,” jawab Kaori cepat.


Jantung Ken seketika ambyar, berdegup kencang


karena mulai baper. Kaori selalu bisa membuatnya berdebar dengan kata-kata


polosnya.


“Kenapa aku? Bukannya seharusnya kamu lihat kedua


orang tuamu dulu,” kata Ken tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.


“Aku melihat wajah mereka setiap hari. Opa, oma,


papa, mama, adik-adikku dan juga semua orang di rumah ini. Tapi aku belum


pernah melihat wajahmu, Ken,” kata Kaori serius.


“Maaf, bagaimana bisa kamu melakukannya?” tanya Ken


lebih penasaran.


Kaori mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan


telapak tangannya. Gadis itu menjelaskan kalau ia melihat dengan kedua telapak


tangannya. Kaori akan meraba wajah orang yang benar-benar ingin dikenalnya.


Tentu saja dengan persetujuan orang itu. Dan ia ingin melihat wajah Ken kalau


pria itu memperbolehkannya.


Ken memejamkan matanya saat Kaori menyentuh pipinya


dengan lembut. Kaori mulai dari kening Ken dulu. Ia meraba kening Ken yang


sengaja digerakkan pria itu.


“Iih, Ken, diem dulu.” Kaori jadi tidak bisa


berkonsentrasi.


“Kamu lama banget sih megangin jidatku. Lagi


ngitung kerutan ya?” tanya Ken bercanda.


Kaori mencubit kedua pipi Ken sampai dower dan


meminta pria itu untuk tidak mengganggunya dulu. Kaori harus mengulang lagi


menyentuh kening Ken. Kali ini pria itu hanya diam menatap Kaori. Dari jidat,


turun ke hidung dan mata. Jemari Kaori menyentuh permukaan alis Ken dan juga


bulu matanya. Ia cukup lama berada di bagian itu.


Ketika tangan Kaori sampai di pipi dan juga bagian


bibir Ken, pria itu kembali iseng. Ia sengaja menggigit ujung kelingking Kaori


sampai gadis itu mengaduh karena kaget. Kaori mencubit kedua pipi Ken lagi dan


Ken juga melakukan hal yang sama pada pipi Kaori. Keduanya tertawa bersama-sama


dengan hal konyol yang barusan mereka lakukan.


“Aku akan pergi lagi. Mungkin kita tidak bisa


ketemu dalam waktu dekat. Apa kamu sedih, Kaori?” tanya Ken.


“Ya, tentu saja, Ken. Kamu teman yang baik. Aku


pasti akan kangen sama kamu.” Kaori tersenyum manis lagi.


“Aku harap status kita sudah berubah setelah ketemu


lagi,” kata Ken membuat Kaori jadi bingung.


“Maksudmu status apa?” tanya Kaori nggak paham.


Ken hanya tersenyum membuat Kaori semakin bingung.

__ADS_1


Kaori merasakan tangannya ditarik Ken dengan lembut lalu ditempelkan di bibir


Ken. Kaori bisa merasakan Ken tersenyum.


“Ken?” panggil Kaori yang bergidik geli.


“Hmm? Ya, Kaori?” sahut Ken.


Kaori memegang kedua pipi Ken lalu mendekat dan


mengecup kening pria itu. Gadis itu bisa merasakan masalah yang besar sedang dialami


Ken dan pria itu butuh penghiburan darinya. Kaori mengusap-usap kepala Ken dengan


sayang.


“Aku nggak tahu ada masalah apa yang buat kamu


kesini mendadak. Tapi aku harap masalahmu akan segera ketemu jalan keluarnya,


ya Ken. Senyum dong,” kata Kaori.


“Aku boleh peluk kamu nggak?” tanya Ken lagi


berharap dipeluk.


“Ada orang nggak? Kalau opa sampai tahu, bisa


ngamuk. Nanti kamu diusir dari sini, Ken.” Kaori masih mengusap-usap kepala


Ken.


Ditantang begitu, Ken jadi semakin ingin memeluk


Kaori. Memangnya kenapa kalau Alex marah, papa kandungnya itu tidak akan berani


mengusirnya dari rumah ini.


Grep! Ken beneran memeluk Kaori tanpa ijin.


“Kyaa!!!” jerit Kaori kaget. Alex yang mendengar teriakan Kaori, refleks


berlari ke gazebo untuk mengecek cucu kesayangannya. Tampak Ken sudah kembali


duduk tegak dengan wajah tanpa dosa, sementara Kaori tampak bingung.


“Kaori, kamu kenapa? Diapain sama Ken?” tanya Alex


sambil menarik Kaori bangun dari duduknya. Melihat Kaori tidak menjawab


pertanyaannya, Alex menuding Ken, “Kamu apain cucuku? Bilang!” bentak Alex


galak.


Ken menggaruk kepalanya, dan beralasan ada kecoak


yang lewat di kaki Kaori tadi. Makanya gadis itu teriak-teriak seperti itu. Rona


merah yang muncul di pipi Kaori, membuat Ken tersenyum. Alex semakin curiga


pada Ken, ingin membawa Kaori masuk ke dalam rumah.


“Ngapain kamu senyum-senyum? Pasti ada yang lain?


Kaori menggeleng, ia baik-baik saja. Hanya sedikit


shock ketika Ken memeluknya tanpa ijin. “Nggak apa-apa, opa. Aku boleh duduk


lagi?” tanya Kaori yang masih ingin bersama Ken.


“Udah malem, ayo tidur, Kaori. Kamu juga tidur.


Sudah tahu kan kamarnya dimana. Awas, kalau kamu berani masuk ke kamar Kaori


ya,” ancam Alex sambil memicingkan matanya.


Definisi anak kandung serasa anak pungut akhirnya


dipahami Ken pada saat itu. Ken masih ingin menggoda Kaori, “Iya, om. Selamat


malam, Kaori,” ucap Ken dengan manis.


“Selamat malam, Ken,” sahut Kaori sambil tersenyum


manis.


Ken menatap Alex dan Kaori yang perlahan menjauh


dari gazebo. Ia menatap ke langit gelap bertabur bintang diatas sana. Senyum


mengembang di bibir Ken saat mengingat harum tubuh Kaori di dalam pelukannya


tadi. Meskipun sangat sebentar, tapi Ken bersyukur bisa sedekat itu dengan


gadis pujaannya. Ken sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Alex. Baginya


reaksi Alex sangat wajar untuk menjaga Kaori.


Pikiran Ken melayang jauh memikirkan kedua orang


yang selama ini sudah ia anggap sebagai orang tua kandungnya. Endy dan Kinanti,


mereka bukan orang tua terbaik tapi setidaknya Ken bisa tubuh dengan baik


sampai sebesar ini. Ken ingin tahu apa alasan yang sebenarnya sampai Endy tega


menukarnya dengan Renata.


Ken melihat ponselnya, keningnya berkerut,


seseorang menelponnya.


“Halo?” ucap Ken.


“Tuan muda


Ken, tuan besar ingin ketemu besok jam sembilan pagi,” ucap penelpon di


seberang sana.


“Ada apa? Apa kakek baik-baik saja?” tanya Ken yang

__ADS_1


sangat jarang bertemu papa Endy itu.


“Ada sesuatu


yang ingin disampaikan tuan besar. Selamat malam, tuan muda,” sahut


penelpon itu sebelum menutup telponnya.


Ken menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia


tersenyum miris, bahkan keberadaannya sudah diketahui kakeknya. Entah hukuman


apa yang mungkin ia dapatkan dari Endy nanti. Kalau kakeknya bisa menemukannya,


artinya Endy juga sudah tahu kalau Ken melarikan diri dari mansion di negara A.


Dengan perasaan tidak tenang, Ken akhirnya


ketiduran di gazebo. Mia yang masih belum tidur, keluar dari kamarnya untuk mengecek


Ken dan Kaori. Kaori seperti biasa, tertidur dengan boneka Teddy Bear-nya. Tapi


saat Mia mengintip ke ruang kerja, ia tidak menemukan Ken disana. Mia melihat


pintu samping ke arah gazebo belum tertutup. Wanita itu berjalan perlahan


mendekat dan melihat Ken tertidur pulas hanya beralaskan tikar bambu.


“Haduh, anak ini. Nggak takut dicari nyamuk ya,”


keluh Mia. Ia lantas mendekati Ken, lalu mengguncang tubuh pria itu, “Ken


bangun. Jangan tidur disini,” panggil Mia.


Ken menggeliat, ia membuka matanya lalu menatap


wajah Mia yang sangat menenangkan. “Mah, besok aku pergi. Malam ini, boleh


tidur sama mama, papa nggak?” tanya Ken.


“Kamu mau kemana?” tanya Mia tidak rela Ken pergi


secepat itu.


“Aku dipanggil kakek, mah. Mungkin aku nggak bisa


kembali dalam waktu dekat.” Ken mencoba tegar dengan berkata jujur pada Mia.


“Ayo, ikut mama,” kata Mia sambil menuntun Ken


bangun.


Mereka masuk ke kamar Mia dan melihat Alex


terbangun dari tidurnya. “Ngapain kamu kesini?” tanya Alex.


“Mas, Ken mau pergi besok. Malam ini kasi dia tidur


disini ya, sama kita,” pinta Mia dengan tampang imut minta diserang.


Alex mendengus kesal, ia tidak bisa menolak Mia


atau istrinya itu akan ngambek dan mengancam jatah hariannya nanti. Akhirnya


Mia, Ken, dan Alex tidur di tempat tidur yang sama. Ken tertidur dengan cepat, sesekali


senyuman mengembang di bibirnya. Mia juga langsung tertidur, keduanya tidur


dengan posisi yang sama. Miring sambil memasukkan kedua tangan mereka ke bawah


bantal.


“Hais, dasar ibu sama anak. Tidurnya saja mirip


begini.” Alex ngedumel karena tempat tidurnya jadi lebih sempit. Akhirnya Alex


mengalah tidur di sofa. Ia meletakkan guling diantara Mia dan Ken sebelum


pindah ke sofa. Setidaknya Ken tidak bisa menempel langsung dengan Mia.


**


Keesokan harinya, Mia terbangun seperti biasa. Ken


juga kebetulan terbangun di saat yang bersamaan. Apakah Alex sudah bangun? Jawabannya


iya. Tapi pria itu sama sekali tidak bisa tidur karena ada Ken yang tidur di


samping istrinya. Ia menatap Mia dan Ken yang menggeliat bersamaan. Bahkan cara


bangun mereka juga sama. Bahkan cara turun dari tempat tidur juga sama.


“Mas, pagi. Kok tumben udah bangun?” tanya Mia


dengan senyum manisnya.


“Pagi, pa, ma. Aku belum pernah menyapa papa dan


mama di kamar tidur seperti ini sebelumnya. Benar-benar pelarian yang sepadan,”


kata Ken dengan senyuman manis mirip Mia.


Ken sudah berdiri duluan, ia ingin membersihkan


diri di ruang kerja sebelum pergi. Mia meminta Ken menunggu, ia mengeluarkan


sesuatu dari dalam lemari. Itu pakaian baru milik Alex yang belum sempat


dipakai pria itu.


“Makasih, mah,” ucap Ken tulus. Ia tidak tahu


apakah bisa kembali lagi atau tidak, setelah bertemu kakeknya hari ini. “Boleh


nggak aku peluk papa sama mama? Aku takut kita tidak bisa ketemu lagi dalam


waktu dekat,” tanya Ken dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Mia


merentangkan tangannya memeluk Ken duluan. Alex menyusulnya dan tangis


ketiganya pecah pagi itu.

__ADS_1


“Bisa nggak kamu nggak pergi, Ken? Tinggallah


disini sama kami,” pinta Mia.


__ADS_2