
DM2 – Berharap prank
“Iya, Gadis. Mas Elo sama sekali tidak bisa
menemukan rekaman CCTV waktu Rio dibawa masuk ke kamar hotel, tapi kenapa dia
bisa punya? Jelas sekali ini seperti sudah direncanakan.”jelas Riri.
Gadis terdiam sejenak, “Sebenarnya, kak.
Aku sempat curiga ini rencana Kinanti. Lihat foto ini, sangat jelas seperti
sengaja diambil dari kamera biasa.”tunjuk Gadis pada sebuah foto Rio sedang
dibawa masuk ke kamar hotel oleh staff hotel.
Rara dan Riri mengamati foto itu dan
mencari foto yang kurang lebih sama. Tapi memang foto itu agak mencurigakan.
“Aku gak sempat lagi mencari tahu tentang
apa yang terjadi sebenarnya. Rio gak inget kejadian itu, gak ada saksi. Tau-tau
Kinanti datang bilang sudah hamil. Coba, kak. Aku harus gimana?”tanya Gadis
sedih. Ia masih memijat kaki Rio.
“Gadis, coba gelitikin kaki Rio.”titah
Riri.
“Hah?!”Gadis bengong mendengar perintah
Riri.
“Lakukan aja.”Gadis beneran menggelitiki
kaki Rio, tidak ada respon sama sekali.
Riri menghela nafas, “Hais, aku kira kalau
digelitikin, dia bakalan bangun.”
“Memangnya Rio lagi ng-prank? Ada-ada aja
kamu, Ri.”kata Rara.
Gadis mau gak mau tertawa melihat tingkah
Riri, kedua kakak iparnya itu tersenyum melihat Gadis sudah bisa tertawa. Sejak
datang yang mereka lihat hanya wajah sedih Gadis dan kantung hitam yang samar
di bawah matanya.
“Siapa tau kan? Kita harus selidiki
Kinanti, kak.”kata Riri.
“Aku akan minta kak Jodi membantu kita.
Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap.” Rara mengirimkan chat pada Jodi
minta ketemu secepatnya.
Mereka masih menemani Gadis di kamar Rio
sampai melewati makan siang. Riri terus bicara pada Rio tentang banyak hal yang
ia belum sempat ceritakan ketika di LN dulu. Ia tidak segan mencubit pipi Rio,
menanti reaksinya. Tapi tetap saja nihil.
“Kalian makan dulu sana. Biar mama yang
suapin Rio makan.”kata Mia yang muncul sambil membawa makanan di piring.
“Biar Gadis yang nyuapin Rio, mah.”pinta
Gadis.
“Sudah, biar mama aja. Kamu makan dulu sama
Rara, Riri.”
“Ayo, Gadis. Kita makan sambil ngrumpi. Aku
kan juga harus jemput Rey.”ajak Rara.
“Oh, Rey. Aku kangen dia, kak.”saut Gadis.
__ADS_1
Rara tersenyum, ia akan membawa Rey ke
rumah Alex setelah ganti pakaian nanti. Mia duduk di samping Rio, ia menegakkan
tubuh Rio yang menurut saja.
“Rio, kamu harus cepat sembuh ya. Kasian
Gadis, dia lebih kurus sekarang. Dia terlalu sibuk mengurus kamu, Rio. Sekarang
makan ya.”
Mia menghela nafas melihat tidak ada respon
dari Rio. Mia menyuapi Rio yang makan sedikit-sedikit. Cukup lama waktu untuk
menyuapi Rio makan. Sampai Gadis kembali ke kamar, Rio belum selesai makan.
“Sini, mah. Gadis yang nyuapin Rio.”
Mia menjauhkan piring yang hampir diambil
Gadis, “Sekarang kamu baring, pake minyak kayu putih dulu. Mama tau kamu gak
tidur semalaman kemarin.”
Gadis terdiam, ia memang tidak bisa tidur
karena Kinanti mengeluh badannya sakit sampai dia tidak bisa tidur. Kinanti
mengelus punggung Kinanti sampai jam 2 pagi, akhirnya Kinanti bisa tidur
nyenyak. Ketika kembali ke kamarnya, ia mencium bau tidak sedap lagi dari Rio.
Gadis membersihkan tubuh Rio lalu mengganti sprei-nya sebelum membaringkan Rio
kembali ke atas ranjang.
“Tapi, mah. Rio belum selesai makan.”
“Ada mama disini. Kamu istirahat dulu.”kata
Mia tegas.
Gadis mengalah, ia memang merasakan pusing
sejak pagi tadi. Mia melirik ke arah Gadis yang sudah tertidur pulas bahkan
belum membalur tubuhnya dengan kayu putih. Mia meletakkan piring makan Rio,
putih, duduk disamping Gadis setelah menyandarkan Rio ke kepala ranjang.
Diusapnya lembut tangan dan kaki Gadis
dengan minyak kayu putih. Bagian perut dan leher Gadis juga tak luput dari
usapan tangan Mia. “Gadis, kamu wanita yang sangat baik. Terima kasih sudah mau
bersabar menunggu Rio sembuh dan tidak memilih meninggalkannya. Mama berharap
kalian akan selalu bersama dan berbahagia.”
Mia beranjak mendekati pintu kamar, ia
melihat Gadis berguling menghadap Rio, langsung merangkul lengan Rio. Mia
tersenyum melihat pemandangan itu. “Manis sekali kalian.” Mia membuka pintu
kamar dengan hati-hati dan keluar dengan cepat. Ia menutup pintu, masih
mengintip sebentar sebelum kembali ke lantai bawah.
Sementara itu di apartment Kinanti, ia
sedang bersama Endy. Wanita itu hanya beralasan pergi ke mall agar bisa bertemu
kekasih lamanya.
“Apa kamu bilang? Dia jadi stress, trus
depresi gitu?”tanya Endy.
Pria itu sedang duduk santai di sofa dengan
Kinanti duduk di antara pahanya. Tangannya tidak bisa diam terus menyentuh
bagian tubuh Kinanti saat mereka sedang bicara.
“Iya, Dy. Aku sedih dech. Penikahanku sama
Rio ditunda sampai dia sembuh. Entah kapan sembuhnya?”
__ADS_1
“Gak usah nikah sama dia. Nikah sama aku
aja. Kamu juga uda hamil, kan?”pinta Endy, mulai menurunkan retsleting dress
yang dipakai Kinanti.
“Aku gak mau nikah sama kamu, aku gak tahan
sama mamamu. Terlalu mengatur.”tutur Kinanti masih cemberut.
“Trus, mau kamu gimana?”tanya Endy, melepas
BH yang tadi dipakai Kinanti.
Kinanti masih sibuk berpikir apa yang akan
ia lakukan. “Aku akan bertahan disana, lagian Gadis bisa kumanfaatkan untuk
mengurusku. Aku gak suka sama dia. Mentang-mentang istrinya Rio, berani sombong
sama aku.”
Endy mengangkat tubuh Kinanti, menanggalkan
semua penutup tubuhnya. “Endy, kamu mau kan bantuin aku?”tanya Kinanti manja.
“Iya, sayang. Yang penting jatahku gak
kurang.”
“Iih, iya gak kurang. Lagian Rio juga gak
bisa ngasih. Tapi pelan-pelan ya. Inget aku lagi hamil.”
Endy tidak menjawab, ia terlalu sibuk
memulai urusan pentingnya bersama Kinanti. Suara ponsel Endy menghentikan
gerakan mereka, “Kenapa berhenti?”protes Kinanti.
“Aku perlu ngecek ini dulu.”kata Endy.
“Apa aku gak penting?”rayu Kinanti
mengedipkan matanya.
“Kalau ini sampai gagal, kamu gak akan bisa
balik ke rumah pria bodoh itu.”
Mata Kinanti melebar, ia duduk di samping
Endy, ikut melihat chat yang dikirim anak buah Endy.
“Maaf, bos. Tempat pertemuan berubah. Saya
share loc nanti.”
“Ada apa?”ketik Endy cepat.
“Ada yang ngikutin sapi gemuk, kandang
hampir ketahuan.”
“Ok, lanjutkan.”
Endy menoleh pada Kinanti, “Siapa sapi gemuk?”tanya
Kinanti penasaran.
“Kamu...”jawab Endy santai.
“Apa? Kamu ngatain aku sapi gemuk?!!”lengking
Kinanti kesal.
“Itu cuma kode, sayang. Kalau ada yang
nyadap, mereka juga akan bingung kita ngomong apa, kan?”
“Oh, pantas saja kamu mulai pakai
kode-kodean waktu chat aku tadi.”
Endy tersenyum, ia melanjutkan apa yang
sempat tertunda tadi. Kinanti tersenyum senang merangkul kekasih lamanya,
melupakan kegalauannya karena belum menjadi istri Rio.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.