Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Berharap prank


__ADS_3

DM2 – Berharap prank


“Iya, Gadis. Mas Elo sama sekali tidak bisa


menemukan rekaman CCTV waktu Rio dibawa masuk ke kamar hotel, tapi kenapa dia


bisa punya? Jelas sekali ini seperti sudah direncanakan.”jelas Riri.


Gadis terdiam sejenak, “Sebenarnya, kak.


Aku sempat curiga ini rencana Kinanti. Lihat foto ini, sangat jelas seperti


sengaja diambil dari kamera biasa.”tunjuk Gadis pada sebuah foto Rio sedang


dibawa masuk ke kamar hotel oleh staff hotel.


Rara dan Riri mengamati foto itu dan


mencari foto yang kurang lebih sama. Tapi memang foto itu agak mencurigakan.


“Aku gak sempat lagi mencari tahu tentang


apa yang terjadi sebenarnya. Rio gak inget kejadian itu, gak ada saksi. Tau-tau


Kinanti datang bilang sudah hamil. Coba, kak. Aku harus gimana?”tanya Gadis


sedih. Ia masih memijat kaki Rio.


“Gadis, coba gelitikin kaki Rio.”titah


Riri.


“Hah?!”Gadis bengong mendengar perintah


Riri.


“Lakukan aja.”Gadis beneran menggelitiki


kaki Rio, tidak ada respon sama sekali.


Riri menghela nafas, “Hais, aku kira kalau


digelitikin, dia bakalan bangun.”


“Memangnya Rio lagi ng-prank? Ada-ada aja


kamu, Ri.”kata Rara.


Gadis mau gak mau tertawa melihat tingkah


Riri, kedua kakak iparnya itu tersenyum melihat Gadis sudah bisa tertawa. Sejak


datang yang mereka lihat hanya wajah sedih Gadis dan kantung hitam yang samar


di bawah matanya.


“Siapa tau kan? Kita harus selidiki


Kinanti, kak.”kata Riri.


“Aku akan minta kak Jodi membantu kita.


Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap.” Rara mengirimkan chat pada Jodi


minta ketemu secepatnya.


Mereka masih menemani Gadis di kamar Rio


sampai melewati makan siang. Riri terus bicara pada Rio tentang banyak hal yang


ia belum sempat ceritakan ketika di LN dulu. Ia tidak segan mencubit pipi Rio,


menanti reaksinya. Tapi tetap saja nihil.


“Kalian makan dulu sana. Biar mama yang


suapin Rio makan.”kata Mia yang muncul sambil membawa makanan di piring.


“Biar Gadis yang nyuapin Rio, mah.”pinta


Gadis.


“Sudah, biar mama aja. Kamu makan dulu sama


Rara, Riri.”


“Ayo, Gadis. Kita makan sambil ngrumpi. Aku


kan juga harus jemput Rey.”ajak Rara.


“Oh, Rey. Aku kangen dia, kak.”saut Gadis.

__ADS_1


Rara tersenyum, ia akan membawa Rey ke


rumah Alex setelah ganti pakaian nanti. Mia duduk di samping Rio, ia menegakkan


tubuh Rio yang menurut saja.


“Rio, kamu harus cepat sembuh ya. Kasian


Gadis, dia lebih kurus sekarang. Dia terlalu sibuk mengurus kamu, Rio. Sekarang


makan ya.”


Mia menghela nafas melihat tidak ada respon


dari Rio. Mia menyuapi Rio yang makan sedikit-sedikit. Cukup lama waktu untuk


menyuapi Rio makan. Sampai Gadis kembali ke kamar, Rio belum selesai makan.


“Sini, mah. Gadis yang nyuapin Rio.”


Mia menjauhkan piring yang hampir diambil


Gadis, “Sekarang kamu baring, pake minyak kayu putih dulu. Mama tau kamu gak


tidur semalaman kemarin.”


Gadis terdiam, ia memang tidak bisa tidur


karena Kinanti mengeluh badannya sakit sampai dia tidak bisa tidur. Kinanti


mengelus punggung Kinanti sampai jam 2 pagi, akhirnya Kinanti bisa tidur


nyenyak. Ketika kembali ke kamarnya, ia mencium bau tidak sedap lagi dari Rio.


Gadis membersihkan tubuh Rio lalu mengganti sprei-nya sebelum membaringkan Rio


kembali ke atas ranjang.


“Tapi, mah. Rio belum selesai makan.”


“Ada mama disini. Kamu istirahat dulu.”kata


Mia tegas.


Gadis mengalah, ia memang merasakan pusing


sejak pagi tadi. Mia melirik ke arah Gadis yang sudah tertidur pulas bahkan


belum membalur tubuhnya dengan kayu putih. Mia meletakkan piring makan Rio,


putih, duduk disamping Gadis setelah menyandarkan Rio ke kepala ranjang.


Diusapnya lembut tangan dan kaki Gadis


dengan minyak kayu putih. Bagian perut dan leher Gadis juga tak luput dari


usapan tangan Mia. “Gadis, kamu wanita yang sangat baik. Terima kasih sudah mau


bersabar menunggu Rio sembuh dan tidak memilih meninggalkannya. Mama berharap


kalian akan selalu bersama dan berbahagia.”


Mia beranjak mendekati pintu kamar, ia


melihat Gadis berguling menghadap Rio, langsung merangkul lengan Rio. Mia


tersenyum melihat pemandangan itu. “Manis sekali kalian.” Mia membuka pintu


kamar dengan hati-hati dan keluar dengan cepat. Ia menutup pintu, masih


mengintip sebentar sebelum kembali ke lantai bawah.


Sementara itu di apartment Kinanti, ia


sedang bersama Endy. Wanita itu hanya beralasan pergi ke mall agar bisa bertemu


kekasih lamanya.


“Apa kamu bilang? Dia jadi stress, trus


depresi gitu?”tanya Endy.


Pria itu sedang duduk santai di sofa dengan


Kinanti duduk di antara pahanya. Tangannya tidak bisa diam terus menyentuh


bagian tubuh Kinanti saat mereka sedang bicara.


“Iya, Dy. Aku sedih dech. Penikahanku sama


Rio ditunda sampai dia sembuh. Entah kapan sembuhnya?”

__ADS_1


“Gak usah nikah sama dia. Nikah sama aku


aja. Kamu juga uda hamil, kan?”pinta Endy, mulai menurunkan retsleting dress


yang dipakai Kinanti.


“Aku gak mau nikah sama kamu, aku gak tahan


sama mamamu. Terlalu mengatur.”tutur Kinanti masih cemberut.


“Trus, mau kamu gimana?”tanya Endy, melepas


BH yang tadi dipakai Kinanti.


Kinanti masih sibuk berpikir apa yang akan


ia lakukan. “Aku akan bertahan disana, lagian Gadis bisa kumanfaatkan untuk


mengurusku. Aku gak suka sama dia. Mentang-mentang istrinya Rio, berani sombong


sama aku.”


Endy mengangkat tubuh Kinanti, menanggalkan


semua penutup tubuhnya. “Endy, kamu mau kan bantuin aku?”tanya Kinanti manja.


“Iya, sayang. Yang penting jatahku gak


kurang.”


“Iih, iya gak kurang. Lagian Rio juga gak


bisa ngasih. Tapi pelan-pelan ya. Inget aku lagi hamil.”


Endy tidak menjawab, ia terlalu sibuk


memulai urusan pentingnya bersama Kinanti. Suara ponsel Endy menghentikan


gerakan mereka, “Kenapa berhenti?”protes Kinanti.


“Aku perlu ngecek ini dulu.”kata Endy.


“Apa aku gak penting?”rayu Kinanti


mengedipkan matanya.


“Kalau ini sampai gagal, kamu gak akan bisa


balik ke rumah pria bodoh itu.”


Mata Kinanti melebar, ia duduk di samping


Endy, ikut melihat chat yang dikirim anak buah Endy.


“Maaf, bos. Tempat pertemuan berubah. Saya


share loc nanti.”


“Ada apa?”ketik Endy cepat.


“Ada yang ngikutin sapi gemuk, kandang


hampir ketahuan.”


“Ok, lanjutkan.”


Endy menoleh pada Kinanti, “Siapa sapi gemuk?”tanya


Kinanti penasaran.


“Kamu...”jawab Endy santai.


“Apa? Kamu ngatain aku sapi gemuk?!!”lengking


Kinanti kesal.


“Itu cuma kode, sayang. Kalau ada yang


nyadap, mereka juga akan bingung kita ngomong apa, kan?”


“Oh, pantas saja kamu mulai pakai


kode-kodean waktu chat aku tadi.”


Endy tersenyum, ia melanjutkan apa yang


sempat tertunda tadi. Kinanti tersenyum senang merangkul kekasih lamanya,


melupakan kegalauannya karena belum menjadi istri Rio.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2