Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 49


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 49


“Deal. Gue kirim rinciannya ntar. Sekarang bawa keluar calon bini lo. Gue mau malam pertama sama bini gue dulu,” sahut Ken.


“Disini? Emang kuat tempat tidurnya?” tanya Reynold memandang remeh tempat tidur di ruang kerja itu. “Lo nggak ada tempat lain yang lebih romantis, gitu?” tanya Reynold lagi.


“Adalah. Napa lo mau tau, mau ngintip lo?” tanya Ken.


“Nggak ada kerjaan banget gue ngintipin malam pertama lo. Renata, ayo kita keluar. Aku udah laper nich,” ajak Reynold.


“Masih mau makan lagi? Bukannya tadi udah, ya,” sahut Renata heran.


“Kamu kan tidur tadi. Pesanan makanannya kukasihkan ke orangnya aja. Ayo, temenin aku makan,” ajak Reynold lagi.


“Cieee, manggil nggak pake aunty. Kualat lo jadi ponakan,” sahut Ken dengan seringai jahilnya.


Reynold menginjak kaki Ken yang memakai sepatu hitam. Pria itu balas memiting leher Reynold. Mereka sudah hampir bertengkar ketika Renata menuntun Kaori keluar dari ruang kerja itu. Kedua wanita itu


asyik mengobrol tanpa mempedulikan dua pria dewasa yang mulai bertingkah seperti anak kecil itu.


Renata dan Kaori hampir kembali ke tempat pesta, tapi keduanya bertemu dengan Gadis di depan pintu. Kaori sudah boleh berganti pakaian karena pestanya sudah selesai. Semua tamu undangan sudah pulang dan


mereka sudah bisa beristirahat.


“Ayo, aku bantu ganti baju,” ajak Renata. “Atau mau dibantuin sama Ken aja nich?” goda gadis manis itu.


“Sama aunty aja ya. Kasian Ken kalau harus bantuin bersih-bersih dulu. Tadi aja, dia udah nggak sabaran,” sahut Kaori sambil tersipu malu.


Renata menuntun Kaori menuju kamar pengantinnya. Kamar Kaori sudah di dekorasi dengan sangat indah. Ada banyak kelopak bunga mawar berwarna putih memenuhi lantai dan juga menghiasi sudut ruangan. Mereka harus berhati-hati berjalan agar tidak merusak kelopak bunga yang sudah tertata dengan cantik itu.


Kaori di bantu duduk di atas tempat tidurnya yang lebih besar. Ken sengaja mendekorasi ulang kamar Kaori agar mereka bisa melewati malam pertama dengan suasana yang sangat romantis. Apalagi setelah menikah, Kaori ingin lebih sering tinggal di rumah Alex.


Satu persatu pernak-pernik yang terpasang di rambut Kaori mulai terlepas. Make up yang menghiasi wajah Kaori juga tidak terlalu tebal. Tidak sampai satu jam, Kaori sudah selesai berganti pakaian dan mandi. Istri


Ken itu terlihat manis dan seksi setelah memakai piyama tidur yang cukup mengundang.


“Aunty, apa baju ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Kaori malu-malu.


“Sudah sesuai kok. Bagus. Ken pinter milihnya ya. Didalam lemarimu banyak loh. Modelnya macam-macam,” sahut Renata.


“Bajuku juga diganti?” tanya Kaori kepo.


Renata membuka lemari besar untuk memperlihatkan pada Kaori. Sebagian besar isi lemarinya memang sudah berganti dengan dress yang lebih mahal dan modern. Tapi yang paling membuat Kaori terkejut adalah


koleksi piyama tidur yang cukup banyak dengan macam-macam model dan warna.


“Iiih, Ken itu ngapain sich. Ada-ada aja,” kata Kaori malu.


Setelah Kaori bersiap-siap menunggu Ken, Renata memiliih keluar dari kamar pengantin itu. Ia juga ingin berganti pakaian dan juga bersiap-siap kembali ke negara A. Ketika hampir mencapai pintu, Ken sudah


lebih dulu membuka pintu itu.


“Oh, disini ya. Kirain kemana. Aunty mau kemana?” tanya Ken sok polos.


“Keluar dong, Ken. Kamu mau aku tetap disini?” tanya Renata sambil memainkan matanya dengan malas.


Ken nyengir kuda, tentu saja ia tidak ingin diganggu siapapun setelah ini. Pria itu menyingkir dengan cepat dari hadapan Renata dan menunggu gadis itu keluar dari kamar pengantinnya. Ceklek! Pintu kamar menutup sempurna, tidak lupa Ken mengunci pintu itu.


Saat Ken berbalik, ia melihat Kaori duduk di pinggir tempat tidur. Rambutnya tampak masih sedikit basah dan wajah cantik natural Kaori membuat Ken terpesona. Untuk menutupi piyama tidurnya yang cukup menggoda, Kaori memakai jubah tidur yang terikat kuat di pinggangnya. Sekarang setelah Ken masuk ke kamar pengantin itu, Kaori mulai merasa gugup.


“Sayang, kamu udah mandi ya?” tanya Ken.


Pria itu melepas jas dan membuka kancing kemejanya sambil berjalan mendekati Kaori. Wanita itu hanya mengangguk dengan senyuman yang belum pergi dari bibirnya. Melihat reaksi Kaori yang berbeda dari

__ADS_1


biasanya, Ken duduk di samping istrinya itu.


“Ada apa, sayang? Kamu capek? Atau lapar? Bilang dong,” ucap Ken sambil meraih dagu Kaori.


Sedikit ragu, Kaori menatap mata Ken, “Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya sedikit gugup,” sahut Kaori.


“Oh ya? Tapi aku kan nggak ngapa-ngapain. Kenapa kamu gugup?” tanya Ken pura-pura polos.


Kaori menepuk manja dada Ken, ia mengalihkan pandangannya menatap seprai putih yang menutupi tempat tidur. Dada wanita cantik itu mulai berdegup kencang membuat tangannya meremas-remas seprai putih. Ken meraih dagu Kaori lagi, kali ini ia ingin mencium bibir pink alami istrinya itu.


“Sayang, boleh kan aku unboxing?” tanya Ken nyeleneh.


“Emangnya aku produk HP, pake unboxing segala,” protes Kaori ngegas.


“Lah, kan sama. Sama-sama dibuka dulu segelnya, baru boleh dicoba,” ucap Ken ngawur.


Sesungguhnya Ken ingin mencairkan ketegangan yang meliputi Kaori. Ia masih sangat sabar meskipun Kaori belum siap untuk melewati malam pertama mereka hari ini. Lagipula besok, Ken harus segera kembali ke


negara A untuk mengurus bisnis keluarga Wiranata disana.


Kaori mencubit pinggang Ken sampai pria itu meringis kesakitan. Kedua pasangan pengantin baru itu malah asyik bercanda di atas tempat tidur mereka. Alih-alih memadu kasih, mereguk indahnya madu pernikahan di malam pertama, keduanya malah sibuk menjahili satu sama lain.


“Ken, kalau aku ternyata belum siap melakukan itu sekarang, apa kamu marah?” tanya Kaori.


“Kenapa? Aku kan udah boleh ngapa-ngapain kamu,” goda Ken dengan pandangan memelas.


“Itu, aku... takut sakit. Kata mama Gadis, malam pertama itu sakit. Sakit banget. Apalagi kalau nggak pake pemanasan dulu. Pemanasan maksudnya itu olahraga ya?” tanya Kaori polos.


Ken hanya memasang wajah ngambek tanpa mengatakan apa-apa. Melihat wajah Kaori yang sedang bertanya padanya, membuat Ken ingin tertawa. Tapi ia menahannya mati-matian. Ken ingin tahu reaksi Kaori kalau suaminya sedang ngambek.


“Ken... jawab dong,” ucap Kaori manja.


Jemari Kaori menyusuri lekukan dada Ken yang belum berpakaian, bahkan belum mandi. Meskipun begitu dari tubuh maskulin Ken masih menguar wangi parfum yang sangat menggoda. Tidak mendengar apapun dari Ken, Kaori menengadah menatap wajah suaminya.


Ketidak nyamanan mulai dirasakan Kaori saat Ken masih diam saja. Pelan-pelan Kaori menarik tali jubah tidurnya hingga terlepas. Padahal tangannya gemetar, tapi Kaori masih bisa tersenyum. Ken tiba-tiba menarik kedua tangan Kaori lalu menunduk mencium bibir istrinya itu.


“Sudah. Aku mau mandi dulu. Nanti mau makan lagi atau langsung tidur?” tanya Ken seolah tidak terjadi apa-apa barusan.


“Ken... Kamu marah ya sama aku. Aku udah siap kok. Beneran,” ucap Kaori cepat.


“Nggak, sayang. Ngapain aku marah. Dengar, aku nikahin kamu bukan cuma buat melakukan itu. Masih banyak waktu sampai kamu siap. Memangnya kenapa kalau kita nggak jadi malam pertama. Kita bisa tidur


berpelukan seperti biasanya, kan?”


Kaori mengangguk dengan senyum mengembang, ia menatap Ken penuh cinta. “Aku sangat mencintaimu, Ken. Aku sangat beruntung bisa punya suami yang pengertian sepertimu.”


“Aku lebih mencintaimu, Kaori,” sahut Ken sebelum beranjak ke kamar mandi.


Kaori menarik nafas panjang menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Ia ingin memberikan hak Ken sebagai suami tapi masih takut.


“Tenang, Kaori. Kamu harus percaya pada suamimu. Tidak akan sakit. Rileks,” ucap Kaori pada dirinya sendiri.


Setelah menunggu lima belas menit, Ken akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai handuk menutupi pinggangnya. Rambutnya masih basah dengan tetesan air berjatuhan sepanjang jalan keluar dari kamar mandi.


“Waduh, koperku mana ya? Kayaknya udah diturunin sama sopir. Kemarin kan aku datang bawa koper. Apa jangan-jangan dibawa lagi sama sopir ya? Aku bilang sich ada baju kotor di dalamnya,” gumam Ken bingung


sendiri.


Kaori mencuri lihat tubuh maskulin Ken yang terlihat mengkilat di bawah sorot lampu. Pria itu membuka lemari pakaian Kaori, berharap ada sesuatu yang bisa ia pakai sekarang. Tapi hanya ada pakaian Kaori


di dalamnya. Ken tidak mungkin meminjam kaos Kaori karena perbedaan besar tubuh mereka.


“Ken, sini dulu dech. Duduk sini,” pinta Kaori sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Ken menurut tanpa banyak bertanya, ia ingin menelpon sopirnya menanyakan keberadaan koper pria itu. Saat Ken hampir menekan tombol hijau, Kaori mendadak mencium bibirnya.

__ADS_1


“Sa—sayang??!!” gumam Ken kaget. Ia tetap menyambut ciuman Kaori, tapi tidak menyangka juga akan mendapat perlakuan manis seperti itu.


“Ken, aku mau...,” ucap Kaori malu-malu.


“Mau apa, sayang? Mau makan? Mau minum? Apa?” tanya Ken yang tidak kepikiran kearah sana.


Kaori tidak menjawab, tapi mencium bibir Ken lagi. Bukan dengan ciuman biasa, tapi lebih panas dari sebelumnya. Tentu saja Ken juga ikut bersemangat membalas ciuman Kaori. Kedua tangan Ken yang awalnya


memeluk pinggang Kaori, kini berpindah menarik tali yang masih melingkar di pinggang istrinya itu.


Satu persatu jubah tidur, handuk Ken, piyama tidur Kaori, mulai terlepas dari tubuh mereka, berserakan di lantai. Suasana romantis di dalam kamar berhiaskan dekorasi dominan berwarna putih, sorot lampu yang


menerangi setiap sudut kamar pengantin. Hanya berdua saja dalam ikatan pernikahan yang sah. Sanggup meruntuhkan dinding pertahanan di dalam diri Kaori. Dirinya kini telah siap menjadi wanita bersuami yang sesungguhnya.


Tanpa memejamkan mata sekalipun, pengantin pria menatap dalam mata pengantin wanita. Menjalin kepercayaan akan penyerahan diri satu sama lain. Meskipun berpeluh dan berperih yang terasa menyakitkan, kesabaran dan ketekunan untuk memenuhi hasrat yang tidak bisa lagi terbendung.


Ken mengecup kening Kaori, serta menghapus air mata yang mengalir di sudut mata belahan jiwanya. “Kaori, istriku, aku mencintaimu,” bisik Ken mengiringi senyuman manis malu-malu Kaori.


Nah, loh. Udah malam pertama kan Kaori dan Ken. Untung nggak ada yang gangguin. Tumben nich lama up-nya. Kenapa? Soalnya aku cukup sibuk RL. Ngurusin baby yang lagi aktif-aktifnya sekalian kerja. Tapi aku usahain bisa up tiap hari kok.


Next apa nich? Masa ceritanya Ken sama Kaori terus.


Aku kasih bocoran dikit ya. Next itu ceritanya Renata dan Reynold. Gimana akhirnya Renata tahu kalau dia bukan anak kandung Alex dan Mia. Juga perjuangan Ken dan Kaori menutupi kebenaran demi mengerjai Reynold.


Kenapa nggak dibuat di novel yang berbeda? Pasti aku bikinkan sendiri. Tapi masih nunggu moment yang pas.


Aku juga lagi siapin DM 2 khusus cerita Alex dan Mia. Tentang kehidupan masa lalu Alex dan masa lalu Mia. Ternyata Mia punya mantan yang belum sempat dibahas disini loh dan mereka sempat ketemu lagi tepat setelah Mia pertama kali bertemu dengan Alex. Kenapa akhirnya Mia lebih memilih Alex daripada mantan pacarnya? Bakalan dibahas di DM 2 khusus Alex dan Mia.


So, nantikan terus updatenya di novel-novelku yang lain.


Bonus nich dijamin bakalan protes keras!!


Visual opa Alex



Visual oma Mia



Visual papa Rio



Visual mama Gadis



Visual Ken



Visual Kaori



Visual Reynold



Visual Renata


__ADS_1


__ADS_2