Duren Manis

Duren Manis
Ketahuan ngidam


__ADS_3

Ketahuan ngidam


 Rio tidak bisa berlama-lama hanyut dalam pikirannya. Romi sudah memanggilnya karena client mereka sudah datang. Rio sibuk mengurusi urusan pekerjaan sampai melupakan apa yang ia pikirkan tentang


Gadis tadi.


*****


Keesokan harinya, Gadis masuk kerja seperti biasa. Ia melihat tumpukan pekerjaan yang sudah diselesaikan Rio dan mengeceknya satu persatu sebelum membawanya ke ruang kerja Alex. Ketika ia mau keluar dari ruang kerja Alex, Gadis merasa mual lagi.


Ia berjalan cepat menuju meja kerjanya dan mengambil minyak kayu putih. Gadis mengoleskan sedikit minyak itu ke hidungnya. Gadis menutup hidungnya dengan tangan yang berisi minyak kayu putih. Ia merasa


lebih baik dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa kali Gadis merasa mual, ia melakukan hal yang tadi ia lakukan. Gadis tidak menyadari kalau Rio terus memperhatikan tingkah lakunya yang aneh itu. Untung saja Alex dan Romi tidak menyadari


keanehan pada diri Gadis. Mereka hanya memperhatikan wajah Gadis yang terlihat pucat.


Alex : “Apa kau yakin baik-baik saja? Tidak mau pulang?”


Gadis : “Saya gak pa-pa, pak. Cuma kecapean dan ada sedikit masalah keluarga.”


Alex : “Sebaiknya kau ke dokter, Gadis.”


Gadis : “Ya, pak. Saya maunya ke dokter, nanti sore saja.”


Saat makan siang, Gadis menahan rasa mual yang


sangat kuat ketika makan siang Alex, Romi, dan Rio diantarkan ke ruang kerja


Alex. Gadis beralasan dirinya ingin makan sesuatu yang lain, ia keluar dari


ruang kerja Alex dan berjalan secepat yang ia bisa ke toilet di dekat pantry.


Tidak ada orang lain di lantai itu selain mereka,


jadi Gadis tidak merasa khawatir suara dirinya muntah akan terdengar orang


lain. Hoeekk. Hoeeekk. Hah. Hah. Hoeekk. Gadis memuntahkan semua sarapannya


yang belum selesai dicerna lambungnya. Ia mengusap bibirnya dan mengeluarkan


minyak kayu putih lagi.


Gadis menghirup dalam-dalam aroma minyak kayu putih


di tangannya. Ia sudah seperti pecandu yang sedang sakau. Perutnya terasa


sedikit sakit, Gadis menyiram air di closet. Ia keluar dari toilet dan berdiri


di depan wastafel. Wajah pucat dengan keringat membasahi keningnya. Gadis


mengusap wajahnya dengan tisu.


Ia menambahkan sedikit saja lipstik untuk membuat


bibirnya tidak pucat lagi. Hummphh. Hummpphh. Gadis memperhatikan lisptik mahal


pemberian mamanya. Ia mual gara-gara memakai lipstik itu. Dia harus membeli


lipstik baru yang tidak membuatnya mual.


Ceklek! Deg! Gadis membeku dalam posisinya ketika


Rio membuka pintu dan masuk ke toilet itu. Ia berusaha menahan rasa mual yang


datang lagi. Akhirnya Gadis memuntahkan cairan di wastafel. Ia menghidupkan air


dengan cepat dan mengambil tisu untuk mengelap lipstik di bibirnya.


Rio : “Kau yakin gak akan pingsan disini kan?”


Gadis benar-benar tidak ingin menjawab apapun


sekarang atau dia akan muntah lagi.


Rio : “Kalau kau perlu bantuan, aku bisa


mengantarmu ke dokter.”


Gadis : “Menjauhlah dariku.”

__ADS_1


Gadis mengatakan itu dan ia benar-benar muntah


lagi. Rio memilih pergi tanpa menggunakan toilet. Rasa penasarannya sudah


terobati ketika melihat apa yang dilakukan Gadis tadi di dalam toilet. Sekarang


ia hanya perlu tahu dimana Gadis tinggal.


*****


Lagi, Gadis bekerja lembur. Ia menyelesaikan semua


pekerjaannya hari ini juga. Gadis takut kalau sekiranya besok ia tidak bisa


masuk seperti sebelumnya karena ngidamnya itu. Alex, Romi dan Rio sudah pulang


sejak tadi, meninggalkan Gadis sendirian dengan banyak pesan agak dia segera


pulang dan istirahat.


Sampai jam 8 malam, Gadis menutup laptopnya. Ia


mengunci pintu ruang kerja Alex dan Romi sebelum pulang. Security menyapa Gadis


ketika ia keluar dari lobby. Gadis berjalan keluar dari halaman kantor menuju


gang di belakang kantor Alex.


Jam segitu, jalanan di gang masih cukup ramai


dengan orang yang lalu lalang. Beberapa karyawan Alex juga ada yang kost di


belakang situ. Gadis berjalan cepat sampai di depan kost-nya. Ia melihat


penjual nasi goreng di pinggir jalan dan memanggilnya.


Gadis memesan satu nasi goreng yang sedikit pedas


dengan telur mata sapi diatasnya. Ia masuk ke dalam kamar kostnya dan mengganti


baju kerjanya dengan pakaian santai. Gadis keluar lagi membawa piring, ia


berbincang dengan penjual nasi goreng itu dan pesanannya siap dengan cepat.


pesanannya.


Dirinya tidak menyadari kalau sejak ia keluar dari


kantor Alex, Rio sudah mengikuti setiap langkahnya. Rio sudah tahu dimana


tempat tinggal Gadis sekarang.


Flash back...


Sehari setelah tragedi itu, Rio bermimpi tentang


Kaori. Ia melihat Kaori sedang bicara dengan seorang gadis yang wajahnya tidak


jelas terlihat. Kaori tersenyum pada Rio ketika dirinya berjalan mendekati


Kaori.


Rio duduk di samping Kaori, menatap wajah cantik


kekasih hatinya itu. Ia tidak mempedulikan seseorang yang masih ada di depan


mereka. Kaori tidak bicara pada Rio, ia hanya bicara pada gadis di depannya dan


Rio tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Kaori.


Kaori menoleh pada Rio dan membelai pipinya, ia


mengarahkan Rio agar melihat siapa gadis yang sedang duduk di depannya. Rio


melihat Gadis sedang menangis dengan sangat sedih. Kedua tangannya memegang


tangan Kaori dan satu kata yang terus ia ucapkan adalah kata maaf.


Rio tersentak bangun dengan keringat membasahi


tubuhnya. Ia minum dengan cepat sampai tersedak dan batuk-batuk. Rio berbaring

__ADS_1


di sofa, matanya terpaku pada CCTV yang ia pasang setelah tinggal disana.


Rio membuka laptopnya, ia membuka aplikasi CCTV dan


memasukkan password login untuk apartmentnya. Diputarnya rekaman CCTV sampai di


saat Gadis memapahnya sampai di depan pintu apartmentnya.


Rio melihat Gadis merebut kartu akses masuk


kamarnya dari tangannya dan membuka pintu. Gadis mendorongnya masuk tanpa


memapahnya lagi. Rio melihat dirinya tersungkur ke lantai. Itulah yang


membuatnya merasakan sakit di lengan dan pipinya ketika sadar kembali.


Gadis membantunya bangun dan memapahnya sampai ke


atas tempat tidurnya. Deg! Dada Rio berdebar kencang saat melihat Gadis


tersenyum menatap foto Kaori dan berjalan cepat kearah pintu kamarnya. Tapi


dirinya mengejar Gadis dan menarik tangan Gadis sambil memanggil nama Kaori.


Keringat dingin membasahi punggung dan tangan Rio


saat ia melihat dirinya mulai melucuti pakaian Gadis yang meronta hebat.


Memukul dan menendang apapun untuk menghentikan dirinya. Tubuh mungil Gadis


tidak bisa melawan tubuh kekarnya yang terus memaksa gadis itu.


Rio mencoba menarik nafasnya yang sesak ketika ia


melihat bagaimana dirinya menghentak tubuh Gadis yang tidak berdaya di


bawahnya. Tangan Gadis menggapai-gapai ke arah foto Kaori sampai akhirnya tak


sadarkan diri. Rio memukul kepalanya sendiri.


Air matanya mulai menetes melihat dirinya yang


terus melampiaskan nafsu setan pada tubuh Gadis yang sudah tak sadarkan diri.


Ia bahkan terus memanggil Kaori pada Gadis dan menjerit setelah puas. Tiba-tiba


Rio merasa mual, ia berlari ke kamar mandi dan muntah di closet.


Seumur hidupnya dan Kaori, ia tidak pernah


melakukan hal-hal diluar batas seperti apa yang ia lakukan pada Gadis.


Rio : “Kaori, apa yang sudah kulakukan? Aku


menghancurkan masa depan Gadis.”


Setelah mengetahui kebenarannya, Rio datang ke


rumah Gadis untuk mengajaknya bicara baik-baik. Tapi Gadis menolak bertemu


siapapun. Bahkan di kantor, Gadis tidak menghiraukannya. Gadis menutup segala


kemungkinannya untuk mereka bisa bicara berdua saja.


Ketika Rio datang kembali ke rumah Gadis, pelayan


mengatakan kalau Gadis sudah tidak tinggal disana lagi. Ia sudah pindah tinggal


di kost yang dekat dengan kantornya. Karena itu Rio mulai menguntit Gadis.


Flash back end...


Rio menunggu di sebuah warung di depan kost-an


Gadis. Ia berpura-pura ingin mencari tempat kost dan sedang menunggu temannya


agar tidak ada yang curiga padanya. Gadis keluar lagi dari kamar kost-nya. Ia


berjalan ke arah warung tempat Rio duduk.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2