
Ketahuan ngidam
Rio tidak bisa berlama-lama hanyut dalam pikirannya. Romi sudah memanggilnya karena client mereka sudah datang. Rio sibuk mengurusi urusan pekerjaan sampai melupakan apa yang ia pikirkan tentang
Gadis tadi.
*****
Keesokan harinya, Gadis masuk kerja seperti biasa. Ia melihat tumpukan pekerjaan yang sudah diselesaikan Rio dan mengeceknya satu persatu sebelum membawanya ke ruang kerja Alex. Ketika ia mau keluar dari ruang kerja Alex, Gadis merasa mual lagi.
Ia berjalan cepat menuju meja kerjanya dan mengambil minyak kayu putih. Gadis mengoleskan sedikit minyak itu ke hidungnya. Gadis menutup hidungnya dengan tangan yang berisi minyak kayu putih. Ia merasa
lebih baik dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa kali Gadis merasa mual, ia melakukan hal yang tadi ia lakukan. Gadis tidak menyadari kalau Rio terus memperhatikan tingkah lakunya yang aneh itu. Untung saja Alex dan Romi tidak menyadari
keanehan pada diri Gadis. Mereka hanya memperhatikan wajah Gadis yang terlihat pucat.
Alex : “Apa kau yakin baik-baik saja? Tidak mau pulang?”
Gadis : “Saya gak pa-pa, pak. Cuma kecapean dan ada sedikit masalah keluarga.”
Alex : “Sebaiknya kau ke dokter, Gadis.”
Gadis : “Ya, pak. Saya maunya ke dokter, nanti sore saja.”
Saat makan siang, Gadis menahan rasa mual yang
sangat kuat ketika makan siang Alex, Romi, dan Rio diantarkan ke ruang kerja
Alex. Gadis beralasan dirinya ingin makan sesuatu yang lain, ia keluar dari
ruang kerja Alex dan berjalan secepat yang ia bisa ke toilet di dekat pantry.
Tidak ada orang lain di lantai itu selain mereka,
jadi Gadis tidak merasa khawatir suara dirinya muntah akan terdengar orang
lain. Hoeekk. Hoeeekk. Hah. Hah. Hoeekk. Gadis memuntahkan semua sarapannya
yang belum selesai dicerna lambungnya. Ia mengusap bibirnya dan mengeluarkan
minyak kayu putih lagi.
Gadis menghirup dalam-dalam aroma minyak kayu putih
di tangannya. Ia sudah seperti pecandu yang sedang sakau. Perutnya terasa
sedikit sakit, Gadis menyiram air di closet. Ia keluar dari toilet dan berdiri
di depan wastafel. Wajah pucat dengan keringat membasahi keningnya. Gadis
mengusap wajahnya dengan tisu.
Ia menambahkan sedikit saja lipstik untuk membuat
bibirnya tidak pucat lagi. Hummphh. Hummpphh. Gadis memperhatikan lisptik mahal
pemberian mamanya. Ia mual gara-gara memakai lipstik itu. Dia harus membeli
lipstik baru yang tidak membuatnya mual.
Ceklek! Deg! Gadis membeku dalam posisinya ketika
Rio membuka pintu dan masuk ke toilet itu. Ia berusaha menahan rasa mual yang
datang lagi. Akhirnya Gadis memuntahkan cairan di wastafel. Ia menghidupkan air
dengan cepat dan mengambil tisu untuk mengelap lipstik di bibirnya.
Rio : “Kau yakin gak akan pingsan disini kan?”
Gadis benar-benar tidak ingin menjawab apapun
sekarang atau dia akan muntah lagi.
Rio : “Kalau kau perlu bantuan, aku bisa
mengantarmu ke dokter.”
Gadis : “Menjauhlah dariku.”
__ADS_1
Gadis mengatakan itu dan ia benar-benar muntah
lagi. Rio memilih pergi tanpa menggunakan toilet. Rasa penasarannya sudah
terobati ketika melihat apa yang dilakukan Gadis tadi di dalam toilet. Sekarang
ia hanya perlu tahu dimana Gadis tinggal.
*****
Lagi, Gadis bekerja lembur. Ia menyelesaikan semua
pekerjaannya hari ini juga. Gadis takut kalau sekiranya besok ia tidak bisa
masuk seperti sebelumnya karena ngidamnya itu. Alex, Romi dan Rio sudah pulang
sejak tadi, meninggalkan Gadis sendirian dengan banyak pesan agak dia segera
pulang dan istirahat.
Sampai jam 8 malam, Gadis menutup laptopnya. Ia
mengunci pintu ruang kerja Alex dan Romi sebelum pulang. Security menyapa Gadis
ketika ia keluar dari lobby. Gadis berjalan keluar dari halaman kantor menuju
gang di belakang kantor Alex.
Jam segitu, jalanan di gang masih cukup ramai
dengan orang yang lalu lalang. Beberapa karyawan Alex juga ada yang kost di
belakang situ. Gadis berjalan cepat sampai di depan kost-nya. Ia melihat
penjual nasi goreng di pinggir jalan dan memanggilnya.
Gadis memesan satu nasi goreng yang sedikit pedas
dengan telur mata sapi diatasnya. Ia masuk ke dalam kamar kostnya dan mengganti
baju kerjanya dengan pakaian santai. Gadis keluar lagi membawa piring, ia
berbincang dengan penjual nasi goreng itu dan pesanannya siap dengan cepat.
pesanannya.
Dirinya tidak menyadari kalau sejak ia keluar dari
kantor Alex, Rio sudah mengikuti setiap langkahnya. Rio sudah tahu dimana
tempat tinggal Gadis sekarang.
Flash back...
Sehari setelah tragedi itu, Rio bermimpi tentang
Kaori. Ia melihat Kaori sedang bicara dengan seorang gadis yang wajahnya tidak
jelas terlihat. Kaori tersenyum pada Rio ketika dirinya berjalan mendekati
Kaori.
Rio duduk di samping Kaori, menatap wajah cantik
kekasih hatinya itu. Ia tidak mempedulikan seseorang yang masih ada di depan
mereka. Kaori tidak bicara pada Rio, ia hanya bicara pada gadis di depannya dan
Rio tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Kaori.
Kaori menoleh pada Rio dan membelai pipinya, ia
mengarahkan Rio agar melihat siapa gadis yang sedang duduk di depannya. Rio
melihat Gadis sedang menangis dengan sangat sedih. Kedua tangannya memegang
tangan Kaori dan satu kata yang terus ia ucapkan adalah kata maaf.
Rio tersentak bangun dengan keringat membasahi
tubuhnya. Ia minum dengan cepat sampai tersedak dan batuk-batuk. Rio berbaring
__ADS_1
di sofa, matanya terpaku pada CCTV yang ia pasang setelah tinggal disana.
Rio membuka laptopnya, ia membuka aplikasi CCTV dan
memasukkan password login untuk apartmentnya. Diputarnya rekaman CCTV sampai di
saat Gadis memapahnya sampai di depan pintu apartmentnya.
Rio melihat Gadis merebut kartu akses masuk
kamarnya dari tangannya dan membuka pintu. Gadis mendorongnya masuk tanpa
memapahnya lagi. Rio melihat dirinya tersungkur ke lantai. Itulah yang
membuatnya merasakan sakit di lengan dan pipinya ketika sadar kembali.
Gadis membantunya bangun dan memapahnya sampai ke
atas tempat tidurnya. Deg! Dada Rio berdebar kencang saat melihat Gadis
tersenyum menatap foto Kaori dan berjalan cepat kearah pintu kamarnya. Tapi
dirinya mengejar Gadis dan menarik tangan Gadis sambil memanggil nama Kaori.
Keringat dingin membasahi punggung dan tangan Rio
saat ia melihat dirinya mulai melucuti pakaian Gadis yang meronta hebat.
Memukul dan menendang apapun untuk menghentikan dirinya. Tubuh mungil Gadis
tidak bisa melawan tubuh kekarnya yang terus memaksa gadis itu.
Rio mencoba menarik nafasnya yang sesak ketika ia
melihat bagaimana dirinya menghentak tubuh Gadis yang tidak berdaya di
bawahnya. Tangan Gadis menggapai-gapai ke arah foto Kaori sampai akhirnya tak
sadarkan diri. Rio memukul kepalanya sendiri.
Air matanya mulai menetes melihat dirinya yang
terus melampiaskan nafsu setan pada tubuh Gadis yang sudah tak sadarkan diri.
Ia bahkan terus memanggil Kaori pada Gadis dan menjerit setelah puas. Tiba-tiba
Rio merasa mual, ia berlari ke kamar mandi dan muntah di closet.
Seumur hidupnya dan Kaori, ia tidak pernah
melakukan hal-hal diluar batas seperti apa yang ia lakukan pada Gadis.
Rio : “Kaori, apa yang sudah kulakukan? Aku
menghancurkan masa depan Gadis.”
Setelah mengetahui kebenarannya, Rio datang ke
rumah Gadis untuk mengajaknya bicara baik-baik. Tapi Gadis menolak bertemu
siapapun. Bahkan di kantor, Gadis tidak menghiraukannya. Gadis menutup segala
kemungkinannya untuk mereka bisa bicara berdua saja.
Ketika Rio datang kembali ke rumah Gadis, pelayan
mengatakan kalau Gadis sudah tidak tinggal disana lagi. Ia sudah pindah tinggal
di kost yang dekat dengan kantornya. Karena itu Rio mulai menguntit Gadis.
Flash back end...
Rio menunggu di sebuah warung di depan kost-an
Gadis. Ia berpura-pura ingin mencari tempat kost dan sedang menunggu temannya
agar tidak ada yang curiga padanya. Gadis keluar lagi dari kamar kost-nya. Ia
berjalan ke arah warung tempat Rio duduk.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).