Duren Manis

Duren Manis
Tulus padamu


__ADS_3

Lili : “Apa salahku?”


Dion menatap mata Lili yang sudah memerah menahan tangisannya. Lili memalingkan


wajahnya saat Dion hampir mencium bibirnya. Tubuh Lili menegang, saat Dion


mencium lehernya.


Lili : “Ja... jangan... Apa salahku?”


Dion : "Kau berani bersama pria lain didepanku.”


Lili : “Apa? Aku nggak... Jangan. Dion, aku mohon.”


Pria itu


hampir membuka handuk yang menutupi tubuh Lili. Ia sedikit terlena dengan aroma


wangi yang keluar dari tubuh Lili. Seperti wangi bunga Lili yang menjerat Dion.


Saat Dion melepaskan tangannya, Lili langsung duduk dan menjauh sampai ke pojok


tempat tidurnya.


Tubuh


Lili tersentak saat ia merasakan dinginnya dinding kamar itu menyentuh punggung


dan lengannya. Dion masih menatapnya membuat Lili berpaling. Ia sangat malu karena


sebagian tubuhnya sudah dilihat Dion.


Lili :


“Keluar...”


Dion :


“Gak, sampai kamu ngerti. Kamu milikku.”


Lili :


“Kamu sudah gila. Aku bukan milik siapa-siapa.”


Lili


mengusap pipinya yang basah karena air matanya menetes. Ia tidak mengerti


kenapa Dion berubah-ubah sikap.


Lili :


“Ka...kamu kalau cuma mau tubuhku, lebih baik kamu cari perempuan lain. Aku


bukan perempuan murahan.”


Dion :


“Apa kamu buta? Kamu gak lihat wajahku? Siapa yang mau melihat wajahku seburuk


ini? Jangan mengejekku.”


Lili :


“Kamu gak seburuk itu. Diluar sana pasti ada perempuan yang bisa menerima


kekuranganmu.”


Dion :


“Gimana dengan kamu? Apa kamu gak jijik melihat wajahku?”


Lili


menatap mata Dion yang terlihat sedih. Mengertilah ia apa yang terjadi


sebenarnya.


Lili :


“Apa karena wajahmu, kamu mengacuhkan aku?”


Dion :


“Kita bicara logika aja, gak ada yang mau menerima wajahku yang buruk, kalau


bukan karena kasihan.”


Lili :


“Aku nggak! Wajahmu tidak seburuk itu.”


Dion


tiba-tiba menerjang Lili, memegang erat kedua lengannya dengan wajah yang


sangat dekat. Lili menelan salivanya yang seperti tersangkut di tenggorokannya.


Ia memalingkan wajahnya,


Dion :


“Kau berbohong. Kamu gak mau melihat wajahku yang buruk, kan? Katakan!”


Lili : “Ak...


aku malu.”


Dion :


“Kau malu? Malu melihat wajahku?!”


Lili


menaikkan tangannya menyentuh pipi Dion dan menutup mata pria itu dengan


tangannya.


Lili : “Jangan


melihatku. Apa aku boleh pakai baju dulu?” bisik Lili di telinga Dion.


Dion :


“Gak boleh.”

__ADS_1


Lili


memukul dada Dion, ia mengibaskan tangannya karena dada Dion sangat keras


seperti batu. Dio tersenyum melihat wajah Lili yang merona. Ia duduk tegak di


depan Lili yang sibuk menutupi dada dan pahanya dengan bantal.


Dion :


“Apa kau sungguh-sungguh mengatakan itu?”


Lili :


“Semuanya? Ya. Bisa gak kamu balik badan, jangan ngliatin aku gitu.”


Dion


menggeleng, ia menyukai apa yang dilihatnya dan masih ingin melihat lebih


jelas. Lili jelas menimpuk wajah Dion dengan bantal dan mengatai pria itu


cabul. Dion tertawa dikatai seperti itu.


Dion :


“Kau tidak akan mengatakan itu lagi kalau kita sudah menikah nanti.”


Lili :


“Aku gak mau nikah sama kamu. Kau menyebalkan.”


Dion :


“Jadi kau tidak mau menikah denganku?”


Lili :


“Dion, kamu mau apa? Jangan tarik... Dion, ampun... Jangan...”


Lili


menahan bantal yang ditarik Dion, pria itu menariknya sangat kuat sampai Lili


tertarik dan jatuh menimpa Dion.


Lili :


“Jangan lihat!”


Lili


sibuk menutup mata Dion dengan tangannya. Ia sudah mau bangun, tapi tangan Dion


memeluknya erat.


Lili :


“Dion, lepasin aku. Aku harus cepat balik ke rumah besar. Nona pasti menunggu


aku.”


Dion :


Lili :


“Tapi...”


Dion :


“Nonamu yang memintaku melakukan ini.”


Lili :


“Melakukan apa?”


Flash


back...


Saat Elo


dan Dion sedang bermain game sepakbola, Lili membantu Riri luluran. Riri


menelpon ke ponsel Elo dan membiarkan pembicaraannya dengan Riri didengar


keduanya.


Riri :


“Lili, apa kau menyukai laki-laki tadi? Siapa namanya?”


Lili :


“Leo, nona. Saya tidak merasa nyaman bicara dengannya.”


Riri :


“Tapi aku lihat kau sangat senang bersamanya tadi.”


Lili : “Saya


hanya bersikap sopan, nona.”


Riri :


“Apa ada pria yang kau sukai?”


Lili :


“Pria yang gak punya hati. Eh... maksud saya, gak ada, nona.”


Elo


menyikut Dion saat mendengar Lili mengatakan perasaannya. Dion pura-pura cuek,


padahal ia memasang telinganya dengan baik.


Riri :


“Apa dia kak Dion?”


Lili : “...


Iya, nona. Tapi tolong jangan katakan pada siapapun. Saya sudah berhenti suka

__ADS_1


sama dia.”


Elo dan


Dion mendengar suara kucuran air dan sepertinya Riri masuk ke dalam bathup.


Lili :


“Apa airnya sudah cukup, nona? Terlalu panas?”


Riri :


“Tidak, ini pas sekali. Tolong pijat pundakku.”


Lili :


“Baik, nona.”


Riri :


“Kenapa berhenti? Tunggu dulu, apa kau mencintai Dion?”


Lili :


“Nona... Iya, saya mencintai dia, tapi sikapnya dingin lagi. Saya bingung


sebenarnya dia kenapa. Saya pikir Dion hanya mempermainkan saya saja. Tidak


serius. Nona tahu, kami pernah ciuman padahal belum ada status yang jelas. Saya


sungguh bodoh sekali.”


Elo


menepuk pundak Dion dengan keras, ia menambahkan jitakan di kepala dengan


pandangan mata seolah bertanya apa kau bodoh?


Riri :


“Apa kau sudah bertanya padanya?”


Lili :


“Saya... dia saja bersikap dingin. Saya ajak bicara tapi saya diabaikan. Masa


saya harus ngejar dia. Lebih baik saya melayani nona saja. Nona mau sekalian


manicure?”


Riri :


“Tidak, besok saja ya. Bagaimana kalau kita ke salon? Apa jadwalku besok?”


Elo


menggeleng kepalanya, ia ingin sekali memarahi Dion tapi takut suaranya


terdengar di seberang sana. Diam-diam Riri mematikan sambungan telpon tanpa


sepengetahuan Lili.


Flash


back end...


Dion


mengatakan pada Lili kalau dia sudah mendengar semua kata-kata Lili. Wajah Lili


semakin merona mendengar pengakuannya didengar Dion dan Elo. Lili menggeser


tubuhnya dari atas tubuh Dion, ia menarik selimut menutupi tubuhnya.


Lili : “Pergi


sana. Aku mau pakai baju.”


Dion : “Jadi


kau mau menikah denganku?”


Lili terdiam,


ia takut Dion akan berubah dingin lagi. Lili tidak mau hatinya sakit lagi


karena itu. Ia meminta Dion memikirkan lagi keputusannya. Mereka baru saja


dekat dan untuk menikah rasanya masih sangat jauh. Lili meminta waktu pada Dion


untuk memikirkan lamaran Dion.


Dion : “Kapan


kau siap menjawab?”


Lili : “Kasi


aku waktu sehari lagi. Besok malam, aku akan jawab. Sekarang kamu keluar sana.”


Dion


malah berbaring di atas tempat tidur Lili dan memejamkan matanya. Lili menyerah


mengusir Dion dari dalam kamarnya. Ia akhinya memakai pakaiannya sambil


sesekali menatap curiga kearah Dion yang diam tak bergeming. Dion menyembunyikan


rasa bahagia yang berkecamuk dalam hatinya setelah menemukan seseorang yang


bisa menerima dirinya apa adanya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Bakalan diterima


gak ya? Dion uda geer aja tuch.


Vote lg dong kk.


Ada yang mau tau gimana MP Katty dan Jodi, sudah share di GC ya.


#Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2