
Lili : “Apa salahku?”
Dion menatap mata Lili yang sudah memerah menahan tangisannya. Lili memalingkan
wajahnya saat Dion hampir mencium bibirnya. Tubuh Lili menegang, saat Dion
mencium lehernya.
Lili : “Ja... jangan... Apa salahku?”
Dion : "Kau berani bersama pria lain didepanku.”
Lili : “Apa? Aku nggak... Jangan. Dion, aku mohon.”
Pria itu
hampir membuka handuk yang menutupi tubuh Lili. Ia sedikit terlena dengan aroma
wangi yang keluar dari tubuh Lili. Seperti wangi bunga Lili yang menjerat Dion.
Saat Dion melepaskan tangannya, Lili langsung duduk dan menjauh sampai ke pojok
tempat tidurnya.
Tubuh
Lili tersentak saat ia merasakan dinginnya dinding kamar itu menyentuh punggung
dan lengannya. Dion masih menatapnya membuat Lili berpaling. Ia sangat malu karena
sebagian tubuhnya sudah dilihat Dion.
Lili :
“Keluar...”
Dion :
“Gak, sampai kamu ngerti. Kamu milikku.”
Lili :
“Kamu sudah gila. Aku bukan milik siapa-siapa.”
Lili
mengusap pipinya yang basah karena air matanya menetes. Ia tidak mengerti
kenapa Dion berubah-ubah sikap.
Lili :
“Ka...kamu kalau cuma mau tubuhku, lebih baik kamu cari perempuan lain. Aku
bukan perempuan murahan.”
Dion :
“Apa kamu buta? Kamu gak lihat wajahku? Siapa yang mau melihat wajahku seburuk
ini? Jangan mengejekku.”
Lili :
“Kamu gak seburuk itu. Diluar sana pasti ada perempuan yang bisa menerima
kekuranganmu.”
Dion :
“Gimana dengan kamu? Apa kamu gak jijik melihat wajahku?”
Lili
menatap mata Dion yang terlihat sedih. Mengertilah ia apa yang terjadi
sebenarnya.
Lili :
“Apa karena wajahmu, kamu mengacuhkan aku?”
Dion :
“Kita bicara logika aja, gak ada yang mau menerima wajahku yang buruk, kalau
bukan karena kasihan.”
Lili :
“Aku nggak! Wajahmu tidak seburuk itu.”
Dion
tiba-tiba menerjang Lili, memegang erat kedua lengannya dengan wajah yang
sangat dekat. Lili menelan salivanya yang seperti tersangkut di tenggorokannya.
Ia memalingkan wajahnya,
Dion :
“Kau berbohong. Kamu gak mau melihat wajahku yang buruk, kan? Katakan!”
Lili : “Ak...
aku malu.”
Dion :
“Kau malu? Malu melihat wajahku?!”
Lili
menaikkan tangannya menyentuh pipi Dion dan menutup mata pria itu dengan
tangannya.
Lili : “Jangan
melihatku. Apa aku boleh pakai baju dulu?” bisik Lili di telinga Dion.
Dion :
“Gak boleh.”
__ADS_1
Lili
memukul dada Dion, ia mengibaskan tangannya karena dada Dion sangat keras
seperti batu. Dio tersenyum melihat wajah Lili yang merona. Ia duduk tegak di
depan Lili yang sibuk menutupi dada dan pahanya dengan bantal.
Dion :
“Apa kau sungguh-sungguh mengatakan itu?”
Lili :
“Semuanya? Ya. Bisa gak kamu balik badan, jangan ngliatin aku gitu.”
Dion
menggeleng, ia menyukai apa yang dilihatnya dan masih ingin melihat lebih
jelas. Lili jelas menimpuk wajah Dion dengan bantal dan mengatai pria itu
cabul. Dion tertawa dikatai seperti itu.
Dion :
“Kau tidak akan mengatakan itu lagi kalau kita sudah menikah nanti.”
Lili :
“Aku gak mau nikah sama kamu. Kau menyebalkan.”
Dion :
“Jadi kau tidak mau menikah denganku?”
Lili :
“Dion, kamu mau apa? Jangan tarik... Dion, ampun... Jangan...”
Lili
menahan bantal yang ditarik Dion, pria itu menariknya sangat kuat sampai Lili
tertarik dan jatuh menimpa Dion.
Lili :
“Jangan lihat!”
Lili
sibuk menutup mata Dion dengan tangannya. Ia sudah mau bangun, tapi tangan Dion
memeluknya erat.
Lili :
“Dion, lepasin aku. Aku harus cepat balik ke rumah besar. Nona pasti menunggu
aku.”
Dion :
Lili :
“Tapi...”
Dion :
“Nonamu yang memintaku melakukan ini.”
Lili :
“Melakukan apa?”
Flash
back...
Saat Elo
dan Dion sedang bermain game sepakbola, Lili membantu Riri luluran. Riri
menelpon ke ponsel Elo dan membiarkan pembicaraannya dengan Riri didengar
keduanya.
Riri :
“Lili, apa kau menyukai laki-laki tadi? Siapa namanya?”
Lili :
“Leo, nona. Saya tidak merasa nyaman bicara dengannya.”
Riri :
“Tapi aku lihat kau sangat senang bersamanya tadi.”
Lili : “Saya
hanya bersikap sopan, nona.”
Riri :
“Apa ada pria yang kau sukai?”
Lili :
“Pria yang gak punya hati. Eh... maksud saya, gak ada, nona.”
Elo
menyikut Dion saat mendengar Lili mengatakan perasaannya. Dion pura-pura cuek,
padahal ia memasang telinganya dengan baik.
Riri :
“Apa dia kak Dion?”
Lili : “...
Iya, nona. Tapi tolong jangan katakan pada siapapun. Saya sudah berhenti suka
__ADS_1
sama dia.”
Elo dan
Dion mendengar suara kucuran air dan sepertinya Riri masuk ke dalam bathup.
Lili :
“Apa airnya sudah cukup, nona? Terlalu panas?”
Riri :
“Tidak, ini pas sekali. Tolong pijat pundakku.”
Lili :
“Baik, nona.”
Riri :
“Kenapa berhenti? Tunggu dulu, apa kau mencintai Dion?”
Lili :
“Nona... Iya, saya mencintai dia, tapi sikapnya dingin lagi. Saya bingung
sebenarnya dia kenapa. Saya pikir Dion hanya mempermainkan saya saja. Tidak
serius. Nona tahu, kami pernah ciuman padahal belum ada status yang jelas. Saya
sungguh bodoh sekali.”
Elo
menepuk pundak Dion dengan keras, ia menambahkan jitakan di kepala dengan
pandangan mata seolah bertanya apa kau bodoh?
Riri :
“Apa kau sudah bertanya padanya?”
Lili :
“Saya... dia saja bersikap dingin. Saya ajak bicara tapi saya diabaikan. Masa
saya harus ngejar dia. Lebih baik saya melayani nona saja. Nona mau sekalian
manicure?”
Riri :
“Tidak, besok saja ya. Bagaimana kalau kita ke salon? Apa jadwalku besok?”
Elo
menggeleng kepalanya, ia ingin sekali memarahi Dion tapi takut suaranya
terdengar di seberang sana. Diam-diam Riri mematikan sambungan telpon tanpa
sepengetahuan Lili.
Flash
back end...
Dion
mengatakan pada Lili kalau dia sudah mendengar semua kata-kata Lili. Wajah Lili
semakin merona mendengar pengakuannya didengar Dion dan Elo. Lili menggeser
tubuhnya dari atas tubuh Dion, ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
Lili : “Pergi
sana. Aku mau pakai baju.”
Dion : “Jadi
kau mau menikah denganku?”
Lili terdiam,
ia takut Dion akan berubah dingin lagi. Lili tidak mau hatinya sakit lagi
karena itu. Ia meminta Dion memikirkan lagi keputusannya. Mereka baru saja
dekat dan untuk menikah rasanya masih sangat jauh. Lili meminta waktu pada Dion
untuk memikirkan lamaran Dion.
Dion : “Kapan
kau siap menjawab?”
Lili : “Kasi
aku waktu sehari lagi. Besok malam, aku akan jawab. Sekarang kamu keluar sana.”
Dion
malah berbaring di atas tempat tidur Lili dan memejamkan matanya. Lili menyerah
mengusir Dion dari dalam kamarnya. Ia akhinya memakai pakaiannya sambil
sesekali menatap curiga kearah Dion yang diam tak bergeming. Dion menyembunyikan
rasa bahagia yang berkecamuk dalam hatinya setelah menemukan seseorang yang
bisa menerima dirinya apa adanya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Bakalan diterima
gak ya? Dion uda geer aja tuch.
Vote lg dong kk.
Ada yang mau tau gimana MP Katty dan Jodi, sudah share di GC ya.
#Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1