
Jodi mendekatkan
layar ponsel ke telinganya dan mendengar suara seorang pria,
Papa Katty : “Halo,
Katty?”
Jodi : “Selamat
siang, pak. Perkenalkan saya Jodi.”
Papa Katty : “Kamu
siapa? Dimana Katty?”
Jodi : “Saya
pacarnya Katty, pak.”
Hening lagi. Jodi
sampai melihat ke layar ponsel, memastikan telpon masih tersambung.
Jodi : “Halo? Pak?”
Papa Katty : “Bisa
saya bicara dengan Katty?”
Jodi : “Sepertinya
tidak bisa, pak.”
Papa Katty :
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
Jodi : “Katty
sangat takut mendengar suara anda, pak.”
Papa Katty : “Bisa
tolong bantu saya, bisa loudspeaker panggilan ini.”
Jodi : “Baik, pak.”
Jodi menjauhkan
layar ponsel Katty dan menekan tombol loudspeaker.
Papa Katty :
“Katty? Nak... Papa tahu kamu dengar suara papa...”
Jodi : “Katty,
ngomong sesuatu dong... Papamu nunggu nich...” Jodi mengulurkan tangannya agar
Katty mau mendekatinya.
Papa Katty : “Nak,
papa dengar dari mamamu, kau mau menikah. Apa pria ini orangnya?”
Katty : “I... Iya,
pah.”
Hening. Katty
semakin mengeratkan pegangannya pada Jodi. Ia tidak mau memicu pertengkaran
atau mendengar papanya berteriak lagi. Sudah cukup selama hidupnya ia mendengar
bentakan papanya.
Papa Katty : “Apa
dia baik?”
Katty : “Iya, pah.”
Papa Katty : “Sudah
bekerja?”
Katty : “Sudah, pah.”
Papa Katty : “Apa
dia sudah punya rumah sendiri?
Katty : “...” Katty
menatap Jodi, ia bingung harus menjawab apa. Katty bingung kalau harus
menyebutkan beberapa properti yang dimiliki Jodi. Pria itu sudah memberikan
daftar aset miliknya sendiri sebagai jaminan kalau Katty menikah dengannya.
Papa Katty : “Tunggu...
Lupakan pertanyaan papa. Kalian bisa tinggal bersama kami, tidak apa-apa.”
Katty : “Kami akan
tinggal sendiri meskipun harus ngontrak, pah.”
Papa Katty :
“Baik... papa gak akan maksa... Kapan kalian ke rumah?”
Jodi : “Maaf, pak.
Bisa nanti malam?”
Papa Katty :
“...Saya tunggu.”
Panggilan terputus
dan Katty langsung memeluk Jodi. Jodi merasakan tubuh Katty menggigil dan
tangannya basah karena keringat dingin.
Jodi : “Kamu kenapa
sich? Papamu gak galak, kok kamu gemetar seperti ini.”
Katty : “Aku
takut... Gimana kalau papa gak kasi restu?”
Jodi : “Kenapa
papamu gak ngasih restu? Aku cukup mapan untuk jadi menantunya, kan?”
Katty : “Tapi aku
tadi bilang kita bakalan ngontrak rumah. Kenapa aku bodoh banget sich?”
Jodi : “Kalau gitu,
kita ikutin aja alurnya dulu. Aku juga mau lihat seberapa sayang orang tuamu
sama kamu.”
Katty : “Mereka gak
__ADS_1
sayang sama aku dan Kaori. Sama aku di tuntut terus harus sempurna, sedangkan
Kaori bebas melakukan apapun tapi tetap aja gak dapat kasih sayang mereka.
Kadang aku bingung sama orang tuaku kenapa mereka punya anak kalau
ujung-ujungnya hanya hidup berdua saja.”
Jodi : “Kamu gak
boleh ngomong gitu. Buktinya kamu bisa tumbuh besar dan bahenol gini, kalau gak
orang tuamu yang jagain, siapa lagi?”
Katty : “Ya, kalau
membayar baby sister termasuk jagain juga, aku bahkan pernah memanggil baby
sisterku mama.”
Katty melepas
pelukannya pada Jodi dan memilih berbaring diatas ranjang. Lingerienya
tersingkap saat ia melakukan itu dan membuat hasrat Jodi naik lagi. Tangan Jodi
dengan nakal menyusuri paha Katty, membuatnya memukul tangan Jodi.
Jodi : “Aduch!”
Katty : “Kamu mau
ngapain lagi?”
Jodi : “Istriku
sayang, suamimu ini ingin memakanmu lagi.”
Katty : “Baru
calon, belum tentu papaku setuju.”
Jodi : “Aku akan
membawamu lari kalau papamu gak setuju.”
Katty : “Kamu nekat
banget.”
Jodi : “Gak susah
melakukannya, papaku ahli untuk urusan itu.”
Katty : “Kamu
gila.”
Jodi : “Aku gila
karena kamu, sayang.”
Jodi mendekat dan
menciumi wajah Katty sampai Katty tertawa geli.
Jodi : “Tapi kalau
papamu lihat daftar asetku, masa masih nolak?”
Katty : “Memangnya
papaku matre? Kalau papa tau, kita sudah tinggal bersama dan sudah melakukan
itu, siap-siap aja dimarahin.”
Jodi : “Kenapa
mengambil uangku.”
Katty : “Dih,
perhitungan banget sich.”
Jodi : “Tiap bulan aku
sudah transfer untuk kebutuhanmu. Rumah udah aku beliin, mobil kamu bilang
belum perlu, padahal kamu tinggal bilang mau merk apa. Aku kan cuma minta
hak-ku sebagai suami.
Jodi
menaik-turunkan alisnya, tangannya sudah masuk ke balik lingerie Katty. Katty
cemberut melihat Jodi menggodanya.
Jodi : “Jangan
cemberut gitu, dong. Kalau kamu uda jadi istriku nanti, kamu bisa pakai semua
uangku.”
Katty : “Beneran?”
Mata Katty berbinar saat Jodi menyebut kata uangnya bisa dipakai semua.
Jodi : “Matre...”
Katty : “Enak aja!
Itu kan uang suamiku, aku boleh dong memakai semuanya. Hehehehe...”
Jodi : “Puas banget
kamu ketawa. Mau buat suamimu bangkrut?!”
Katty : “Kalau kamu
bangkrut, aku masih punya papa mertua yang kaya. Hahahahaha...”
Jodi menggelitiki
Katty hingga lingerienya terbuka, ia tahu Katty tidak serius dengan ucapannya.
Kalau Katty sematre itu, sudah sejak awal ia setuju menerima tawaran Jodi untuk
mengalihkan beberapa property Jodi atas nama Katty. Tapi sampai saat ini, Katty
tetap menolaknya.
*****
Sore harinya,
Guntur membawakan pakaian untuk Jodi dan Katty. Ia senyum-senyum melihat Jodi
membuka pintu penthouse cuma pakai handuk yang melilit di pinggangnya.
Jodi : “Masuk.
Kenapa kamu senyum-senyum gitu?”
Guntur : “Apa sudah
berhasil?” Guntur menyerahkan paper bag pada Jodi.
Jodi : “Sukses
besar, tau. Akhirnya Katty mengaku kalau dia mencintaiku. Hehe...”
__ADS_1
Guntur : “Baguslah,
pak.”
Jodi : “Gimana
lamaranmu?”
Guntur : “Sama.
Sukses juga. Meskipun ada sedikit drama.”
Jodi : “Drama apa?”
Jodi mengajak
Guntur duduk di sofa. Ia mengambilkan soft drink untuk Guntur.
Guntur : “Waktu saya
kesana bersama orang tua saya, ada pria lain yang datang untuk mengunjungi
Anisa.”
Jodi : “Apa? Trus?
Tunggu, sepertinya Katty juga ingin mendengar ceritamu ini.”
Jodi masuk ke dalam
kamar membawa paper bag yang tadi diberikan Guntur. Tak lama mereka berdua
keluar sudah berpakaian lengkap.
Katty : “Hai,
Guntur. Cepat cerita!”
Guntur : “Jadi ada
pria lain yang datang untuk mengunjungi Anisa. Pria itu meminta Anisa jadi
pacarnya.”
Katty : “Siapa ya?
Tante gak pernah cerita kalau punya teman pria.”
Guntur : “Anisa
mengatakan kalau dia sudah punya calon suami dan pria itu langsung mengamuk,
marah-marah gak jelas. Saya hampir kena pukul.”
Katty : “Dih, trus
gimana lagi?”
Guntur menatap
kedua orang yang sedang menatapnya dengan antusias, kepo dengan kehidupan
pribadinya.
Guntur : “Anisa dengan
sigap memiting pria itu dan mendorongnya keluar dari rumah. Keren sekali.”
Katty saling
pandang dengan Jodi, harusnya Guntur yang melakukan itu, kenapa jadi Anisa yang
melakukan perlawanan.
Katty : “Tapi Tante
Anisa gak ada hubungannya dengan orang itu kan?”
Guntur : “Anisa
langsung cerita kalau pria itu teman kerjanya di tempat kerja yang dulu. Ia
mengejar-ngejar Anisa, ingin Anisa jadi pacarnya. Padahal pria itu sudah punya
istri dan anak, sampai tega mau menceraikan istrinya kalau Anisa mau jadi pacarnya.
Karena itu Anisa berhenti kerja.”
Katty : “Laki-laki
brengsek!”
Kedua pria di dekat
Katty spontan menjauh sedikit karena Katty sudah menggebrak meja dengan sadis.
Guntur : “Galak
amat.”
Jodi : “Kumat lagi
dech.”
Katty : “Apa? Aku
cuma kesal sama pria itu. Trus gimana lanjutannya?”
Guntur : “Ya gitu.
Lamaran berlangsung dengan lancar dan kami akan menikah bulan depan.”
Jodi : “Sayang,
kita nikah duluan ya.” Jodi menatap Katty dengan puppy eyes-nya.
Katty : “Cepet
banget sich. Kita nikah habis Guntur nikah aja. Gak enak ngelangkahin tanteku.”
Jodi : “Yah,
sayang...”
Guntur menahan
tawanya melihat kelakuan bosnya itu. Bos yang biasanya terlihat tegas dan
dingin, sekarang lebih mirip anak anjing yang merengek minta perhatian pada
pemiliknya.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para
reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1