
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 23
“Kaori, ada apa? Sepertinya kamu tidak senang,”
tanya Renata.
“Nggak apa-apa, aunty Renata. Mungkin aku masih
capek karena perjalanan kesini,” ucap Kaori tidak ingin membuat siapapun
kuatir.
“Apa kamu kangen sama Ken?” tanya Renata.
Tentu saja kangen berat. Pria itu pergi membawa
hatinya dan sampai sekarang mereka belum bertemu lagi. Kaori ingin sekali
berteriak kalau ia sangat merindukan Ken, tapi Kaori lebih memilih diam karena
malu. Untuk menenangkan Renata, Kaori akhirnya menggeleng dan mengatakan kalau
ia ingin beristirahat di kamarnya dulu.
Renata memberi kode pada Reynold untuk mengikutinya
ke kamar gadis itu. Reynold tentu saja semangat sekali dan berpikir kalau
Renata ingin melakukan sesuatu yang gila. Setelah Renata menutup pintu
kamarnya, Reynold segera mengukung gadis itu dan mendekatkan wajah mereka.
“Kak Rey, serius sedikit. Aku perlu bicara penting,”
kata Renata cuek.
“Ada apa, aunty? Masih kangen ya sama aku?” tanya
Reynold geer duluan.
Renata menarik Reynold agar duduk di pinggir tempat
duduknya. Ketika Renata ingin duduk di samping Reynold, pria itu menggeser duduknya
hingga Renata terduduk diatas pangkuan Reynold.
“Kak! Iseng banget sich. Geser, kak. Aku mau duduk,”
kata Renata hampir bangkit dari pangkuan Reynold, tapi pria itu tidak
mengijinkan Renata beranjak.
“Udah, ngomong aja, aunty. Biasanya juga begini,
aunty biasa aja. Kenapa sekarang beda?” tanya Reynold.
“Teman-temanku berpikir kalau kita pacaran, kak
Rey. Mereka tahu kalau kak Rey itu keponakanku. Masa iya, tante pacaran sama
keponakan sendiri. Kayaknya kita harus lebih jauh dech, kak,” kata Renata
membuat Reynold ingin mengeliminasi semua teman-teman Renata.
“Kenapa sich aunty mikirin kata-kata mereka, keluarga
kita saja tidak keberatan. Mereka hanya ingin mengejarku, aunty. Ayolah, masa
aunty nggak mau bantu aku. Aunty kan tahu aku nggak suka dikejar-kejar para
wanita itu. Cuma aunty yang bisa bantu aku tanpa baper,” rengek Reynold seperti
anak kecil.
Renata paling tidak bisa melihat Reynold merengek
seperti itu. Ia akan langsung mengiyakan apapun permintaan Reynold yang masuk
diakalnya. Reynold tersenyum manis ketika Renata mengangguk. Ia mengambil
kesempatan memeluk pinggang Renata sambil menggosokkan hidungnya ke pundak
Renata.
“Eh, jadi lupa kan. Aku mau bahas sesuatu yang
penting, kak. Kakak tau nggak dimana Ken sekarang?” tanya Renata.
Reynold menggeleng, tapi ia bisa mencari tahu kalau
memang Renata ingin tahu. Mendengar nama Ken disebut-sebut, Reynold auto
cemburu. Meskipun tahu kalau Ken bukan saingannya, Reynold tidak suka kalau
Renata menanyakan pria lain pada Reynold.
Renata merangkul leher Reynold dan memintanya
mencari tahu dimana Ken sekarang. Ia ingin mengirimkan sesuatu pada Ken sebagai
hadiah ulang tahunnya. Reynold mengambil ponselnya, ia mengaktifkan software ‘SPIKE’
miliknya yang langsung mencari keberadaan Ken. Pria itu sedang ada di pesawat
jet-nya dengan arah menuju negara A.
“Sepertinya Ken akan pulang. Dia lagi di pesawat menuju
kesini. Tapi ini pesawat jet, bisa mendarat dimana saja. Coba setengah jam lagi
ya. Emangnya mau ngasih kado apa sich?” tanya Reynold kepo.
“Aku mau kasi Kaori. Masukkin ke boks besar, trus
suruh Ken buka. Pasti seru,” kata Renata bersemangat.
“Wah, kalau itu aku juga mau. Aunty Renata dibungkus
__ADS_1
boks, trus aku unboxing. Ultahku tahun depan kadonya kayak gitu ya. Ya, aunty.
Ya, ya, ya...,” rengek Reynold lagi.
Renata mencubit pinggang Reynold sampai pria itu
jatuh terlentang diatas tempat tidur Renata. Gadis itu kesal sekali karena
Reynold terus menggodanya. Renata ingin Reynold membantunya mewujudkan
rencananya untuk Ken dan Kaori. Tapi Reynold masih memohon agar Renata melakukan
hal yang sama untuknya. Setelah Renata berjanji akan melakukannya, Reynold
menelpon seseorang untuk membantunya.
Setengah jam kemudian, Reynold mendapatkan lokasi
Ken yang terbaru. Ken memang ada di negara A, tapi bukan di bagian kota tempat
mansion Steven berada. Ken masih ada meeting di kantor cabangnya disana dan
sepertinya akan tetap disana sampai besok pagi.
Renata meminta ijin pada Alex untuk membawa Kaori
keluar untuk makan malam bertiga dengan Reynold juga. Mereka juga akan menonton
pertunjukan kembang api dan live musik juga, dan mungkin akan kembali setelah
tengah malam. Melihat Alex sedikit keberatan, Renata berbisik kalau mereka akan
menemui Ken dan memberikan kejutan ulang tahun untuk Ken. Alex akhirnya setuju demi
kebahagiaan Ken dan Kaori.
Untuk menghemat waktu, Reynold mengajak Renata dan
Kaori untuk naik helikopter menuju hotel tempat Ken menginap. Mereka harus
cepat sampai disana agar bisa tiba tepat waktu sebelum Ken kembali ke hotel.
Untuk memudahkan mereka bertiga masuk ke kamar hotel Ken, Reynold menghubungi
Melisa untuk membantu menyiapkan kejutan ulang tahun Ken.
Ketika Reynold, Kaori, dan Renata mendarat di
helipad milik hotel, Ken baru saja sampai di lobby hotel. Melisa membuka pintu
penthouse lalu menunjuk boks besar agar Kaori bisa duduk disana. Renata dan
Reynold menitipkan Kaori pada Melisa dan mereka akan kembali setelah Ken dan
Kaori selesai melepas rindu.
Lift penthouse terbuka setelah Renata dan Reynold
pergi dari sana. Ken keluar dari dalam lift, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Ia sudah sangat kebelet ketika masih di dalam mobil tadi. Melisa yang sudah
besar.
Ketika Ken keluar dari kamar mandi hanya berbalut
handuk dengan rambut yang masih basah, ia baru menyadari kehadiran boks besar
itu. Ken mendekat sambil melihat sekeliling yang sunyi. Tidak ada siapapun di
penthouse itu kecuali dirinya.
Alih-alih mendekat, Ken mengambil sesuatu dari
balik jasnya yang tergeletak diatas tempat tidur. Sebuah pistol berwarna silver
menemani Ken berjalan mendekati boks itu. Melisa yang melihat bahaya mendekati
Kaori, berdehem untuk menyadarkan Ken kalau ia tidak seorang diri di penthouse itu.
Ken berbalik cepat lalu menodongkan pistolnya kepada Melisa.
“Lo ngapain ngendap-ngendap kesini,” tegur Ken yang
tidak menyangka Melisa ada di kamar itu.
“Sorry, tuan muda. Saya kira tuan muda perlu teman
untuk merayakan ulang tahun. Kalau gitu saya siapkan makan malam dulu ya,” kata
Melisa sambil beranjak hampir masuk ke dalam lift.
“Tunggu, ini boks apa? Kenapa bisa ada disini?”
tanya Ken sambil menyimpan pistolnya kembali ke dalam tasnya.
“Seseorang mengirimnya barusan. Silakan dibuka,
tuan muda. Saya ke bawah dulu,” kata Melisa buru-buru masuk ke dalam lift.
Ken jadi penasaran apa isi boks itu. Ia mendekat
lalu menarik pita yang mengikat boks itu sampai terlepas. Boks terbuka lebar
dan mata Ken terbelalak melihat Kaori duduk di dalam boks itu. Kepala gadis itu
mengangguk-angguk sepertinya sedang mendengarkan musik melalui headset yang
terhubung dengan ponsel di tangannya.
Jelas Kaori tidak tahu kalau Ken berdiri di
depannya. Gerakan kepala Kaori berhenti, ia mengendus bau sabun mandi khas
pria yang cukup menyengat. Tiba-tiba
Kaori merasakan kehadiran seseorang di depannya.
__ADS_1
“Siapa disitu? Kak Melisa? Kak? Tolong jawab, kak,”
kata Kaori sambil melepas headset dari telinganya.
“Kaori? Ini beneran kamu?” tanya Ken tidak percaya.
“Ken? Tunggu! Jangan mendekat! Kak Melisa! Kak!”
teriak Kaori ketakutan. Ia ragu apa benar pria di depannya itu Ken atau bukan. Saat
ini Melisa adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya.
“Tenang, Kaori. Melisa lagi turun sebentar. Aku
telpon dia. Tenang ya. Aku nggak akan mendekat,” kata Ken mencari ponselnya. Ia
meminta Melisa segera naik ke penthouse karena Kaori panik.
Untung saja Melisa sudah di dalam lift, hendak naik
ke penthouse membawa makan malam untuk Ken dan Kaori. Ketika pintu lift
terbuka, Melisa masuk dan melihat Kaori tampak kebingungan dengan posisi masih
duduk di kursi semula. Sedangkan Ken duduk jauh di kursi yang ada di dekat
balkon. Pria itu masih belum memakai pakaiannya. Dilihat dari ekspresi
keduanya, mereka sama-sama terkejut dengan kejutan ini.
“Nona Kaori, ada apa?” tanya Melisa mencoba menahan
senyumnya. Sesungguhnya ia ingin tertawa ngakak melihat Ken tidak berani
menyergap Kaori.
“Kak Melisa, aku dimana sich? Ada laki-laki disini,
apa benar itu Ken?” tanya Kaori setelah ia memegang tangan Melisa.
“Ini di penthouse hotel tempat tuan muda Ken
menginap. Laki-laki itu adalah tuan muda Ken, nona Kaori,” kata Melisa.
Setelah Kaori tampak lebih tenang. Melisa
memerintahkan pelayan untuk mengatur makanan diatas meja dan juga menghidupkan
lilin. Ken perlahan mendekat lalu berlutut di samping Kaori.
“Kaori, ini aku, Ken. Pegang wajahku. Sini,” pinta
Ken sambil menarik perlahan tangan Kaori dan menempelkannya di wajahnya.
Kaori meraba-raba wajah Ken lalu tersenyum manis. “Ken,
ini beneran kamu? Kenapa lama sekali baru pulang?” kata Kaori dengan mata
berkaca-kaca.
Ken menciumi tangan Kaori, menyampaikan
kerinduannya dengan memeluk tubuh Kaori erat. “Aku minta maaf, Kaori. Terlalu
banyak hal yang harus aku pelajari. Banyak hal yang harus aku kerjakan. Selama
aku jauh dari kamu, tidak sedetik pun aku lupa sama kamu, Kaori,” ucap Ken.
Kaori mengelus belakang kepala Ken, ia menurunkan
tangannya dan menyadari kalau pria itu tidak memakai pakaian. “K—Ken, bajumu
mana?” tanya Kaori gugup.
“Aku baru habis mandi, mana sempat pake baju.
Kaori, boleh minta cium?” tanya Ken kebelet.
“P—pake baju dulu, Ken. Nanti kamu masuk...
mmmppp....” Kaori merasakan bibirnya dibungkam dengan sesuatu yang lembut.
Ken sudah tidak sabar lagi untuk menunggu jawaban
dari Kaori. Pria itu mencium kekasihnya dengan sangat agresif sampai Kaori tidak
punya kesempatan menghindar. Perlahan Ken mengangkat tubuh Kaori lalu
membaringkannya diatas tempat tidur. Sekali lagi, Ken mencium bibir Kaori,
mengukung tubuh gadis itu dengan kedua tangan dan tubuh Ken.
“Kaori, aku sangat merindukanmu. Kaori...,” lirih
Ken disela-sela ciuman mereka.
“Ach! Ken... ja... jangan....” Kaori merasakan retsleting
dressnya terbuka di punggungnya. Ken menciumi leher Kaori, akal sehatnya
tertutup kerinduan yang mendalam pada gadis itu. “Hiks... Ken... hiks...
jangan... hiks...,” isak tangis Kaori mulai terdengar mengusik telinga Ken.
Ken menjauhkan tubuhnya menatap wajah Kaori yang
sudah menangis sesenggukan. Dress gadis itu hampir terbuka dibagian depannya.
Ken tersentak menyadari perbuatannya sudah kelewatan. Ia menarik selimut
menutupi tubuh Kaori, lalu membuka lemari dan memakai pakaiannya dengan cepat.
Ketika Ken mendekati Kaori lagi, gadis itu berusaha menjauh. Tapi Ken menarik
tangan Kaori lalu memeluk tubuh gadis itu.
“Kaori, maafkan aku. Aku khilaf. Aku bantu perbaiki
__ADS_1
dressmu ya.” Ken berkata selembut mungkin untuk menenangkan Kaori.